
Menyelam ke masa lalu adalah hal yang perlu kita lakukan namun, jangan sampai tenggelam, menyelam kemudian kembalilah lagi ke daratan karena kamu hidup bukan dimasa lalu tapi di masa sekarang.
Kesalahan yang dulu cobalah untuk membayarnya dengan tidak melakukannya ke dua kalinya.
Sebuah ketokan pintu menyadarkan lamunan Rey membuat ia segera memakai pakaiannya lalu membuka pintu kamar.
Nampak lah pria paruh baya yang terlihat masih muda walau keriput menyelimuti tubuhnya namun tidak membuatnya terlihat berumur.
"Rey,"ucap Papa dengan memasuki kamar Rey lalu duduk di sofa.
Rey pun mengikuti duduk disampingnya "Ada apa Pa?" ucap Rey.
"Nenek Ega" ucap Papanya dengan raut wajah sendu.
"Rey udah tau Pa, keputusan Nenek tidak bisa diajak banding" Bagaimana tidak setiap tindakannya bagaikan batu karang. Kokoh. Pengadilan saja kalah tegaknya. Nenek Ega dulu adalah seorang Advokat dengan masa kejayaan yang luar biasa. Sehingga setiap keputusan dan tindakannya ia sudah pikirkan matang-matang. Jadi ya kita tinggal menerimanya saja.
"Jadi gimana Rey?" sebenarnya Papanya tidak masalah mengingat ia laki-laki mana mungkin nantinya mengerti kebutuhan dan kemauan perempuan dan dirinya juga sibuk bekerja takutnya nanti Cia salah pergaulan.
"Mau gimana lagi Pa, ini demi kebaikan Cia" mungkin nanti Cia akan mendapatkan pelatihan menjaga diri karena ia seorang perempuan dan dengan sikap Cia yang keras perlu perlindungan diri yang kuat.
"Udah malam kamu tidur gih, Papa mau ke kamar Cia dulu" ucap nya beranjak dari sofa "Owh Iya Rey, Besok malam ulang tahun perusahaan Pak Nugraha"ucapnya saat sampai didepan pintu dengan mata di kedipkan tanda menggoda membuat Rey menggelengkan kepalanya lalu menutup pintu.
"Rey... Rey... hidupmu sungguh tragis" monolognya merebahkan diri lalu tanpa disadari ngantuk sudah merasukinya dan tertidur.
Tanpa dirasa pagi menyambut, sinar mentari berlomba menerobos masuk lewat cela - cela jendela yang tertutup tirai. Burung bersenandung gurau menyapa langit cerah. Pepohonan mulai berlomba mencari sinar untuk bekerja yang nantinya menghasilkan banyak oksigen.
Rey sudah rapi dengan setelan kerja berwarna hitamnya dengan dasi yang disampirkan di bahunya turun dari tangga dengan langkah tergesa-gesa membuat semua orang dimeja makan khawatir.
"Rey pelan-pelan" ucap Papanya saat Rey mencomot roti yang sudah diisi selai.
"Daddy pernah dengar nggak sih kalau ada yang ngomong kalau makan itu harus duduk? "ucapan Cia membuat kunyahan dimulutnya Rey berhenti.
"Iya maaf, Daddy buru-buru mau meeting" ucap Rey mengambil susunya dan meminumnya sekali tegak.
"Pa, Cia aku berangkat" ucapnya langsung pergi dengan dasi yang masih tersampir di bahunya.
Cia yang menyadari itu langsung berlari mengejar Rey "Daddy dasinya! "teriak Cia yang melihat Rey hendak membuka pintu mobil.
Rey yang mendengarnya langsung berhenti dan melihat kearah Cia yang kini sedang berjalan kearahnya dengan tangan dilipat di depan dadanya dan memasang wajah ingin marah. "Gini nih, kalau Daddy nggak punya istri, jadi nggak ke urus masa iya harus Cia, kan Cia juga punya kesibukan juga" Mendengar ucapan dari Cia membuat Rey merasa ternohok menancap pas dihatinya.
"Ya kan lagi berusaha"ucap Rey lalu mengangkat tubuh Cia dan digendongnya agar mempermudah Cia memasangkan dasinya.
"Berusaha apa? Berusaha di alam mimpi? yang ada jodoh Daddy itu udah kadaluarsa atau exp karena nungguin Daddy yang tak bertindak"ucap Cia kesal dan diakhir kalimatnya Ia mengeratkan ikatan simpul dasinya dengan keras membuat Rey teriak karena tercekik.
"Cia!!!, kau mau buat Daddy mati tak beristri! "ucap Rey menurunkan Cia lalu melonggarkan dasinya yang dicekik oleh Cia.
"Drama"ucap Cia dengan membuang pandangannya seolah pengen muntah dengan gaya dramatisme Daddy-nya.
Rey memasuki mobilnya lalu melambaikan tangannya"Dad berangkat ya" lalu mobilnya meninggal perkarangan rumah. Cia melambaikan tangannya lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah beberapa menit membelah jalanan Rey kini sudah berada di kantor ditemani sekretarisnya Chan yang sedang menerangkan jadwalnya dan pembahasan tentang meeting hari ini.
Mereka memasuki ruang meeting yang sudah kedatangan kliennya. "Maaf saya terlambat Pak Santa" ucap Rey sambil berjabat tangan dan duduk dibarengi oleh Pak Santa"Tidak apa-apa Rey, santai aja" ucap Pak Santa rekan bisnisnya yang menyuruh Rey agar tidak terlalu formal.
Mereka larut dalam percakapan bisnis sampai satu jam lamanya dan berakhir dengan saling berjabat tangan. "Senang bisa bekerjasama denganmu Rey" ucap Pak Santa tersenyum bahagia dan disambut dengan anggukan oleh Rey.
Rey kembali ke ruangannya dan dilihatnya meja Sekretaris yang kosong karena ia sudah memecat sekretarisnya sedangkan Chan adalah asistennya dan tangan kanannya sehingga sementara selama sekretaris masih kosong ia yang menempati.
"Rey ini berkas yang harus di periksa dan ditanda tangani hari ini"ucap Chan menyerahkan setumpuk kertas yang banyak membuat Rey menghela nafas berat.
"Pengen gua makan kertas ini"monolognya dan melakukan kegiatan memeriksa dan menanda tangani berkas tersebut sampai jam makan siang.
Membuat Chan segera masuk ke ruangan Rey lalu memberitahukan jam makan siang. "Rey udah jam makan siang"ucap nya.
"Nanti aja Chan nanggung lagi dikit"ucapnya masih fokus terhadap berkas dimeja ya.
"Oke gue makan, Lo kayak orang miskin aja Chan" dumel Rey kesal lalu merapikan berkasnya.
"Lah kan emang gue miskin makanya gue minta ditraktir sama lo Rey" ucapnya berbangga diri membuat Rey membuang wajahnya.
"Gue yang miskin lo yang kaya be*go, miskin? terus hotel sama cafe lo dimana kemana odeng"ucap Rey kesal lalu berjalan meninggalkan Chan.
Chan segera berlari dan berjalan beringin dengan Rey dan mengubah wajah ke mode datar dan dingin. Agar para kaum adam di perusahaannya tidak suka, namun nyata itu tidak berpengaruh karena justru bagi mereka itu adalah yang mereka inginkan dingin segar menyejukkan pikiran mereka.
"Rey cari sekretaris kek gue capek tau nggak udah jadi asisten lo ditambah jadi sekretaris, jiwa santai gue hilang Rey" ucapnya saat sudah duduk di kantin restoran khusus para penjabat tinggi.
"Iya besok gue usaha cari deh"ucap Rey yang fokus ke ponselnya.
"Rey, nanti malam lo pergi kan?" ucap Chan membuat Rey mengalihkan perhatian dari ponsel.
"Pergi bareng Bokap"ucapnya santai
"Nggak ngajak pasangan Rey?" pancing Chan membuat Rey menatapnya tajam, karena ucapnya seolah mengisyaratkan bahwa ia jomblo.
"Nanti ketemu disana" ucap Rey ngasal lalu meminum minumannya yang baru saja diantar oleh pramusaji.
"Wih,,, nggak sabar" ucapnya dengan wajah penasaran.
"Hem" balas Rey.
Mereka makan bersama dengan diselingi oleh celotehan Chan, yang absurd. Membuat Rey hanya mendengarkan saja dan terkadang menjawab iya, tidak, dan hem saja.
Kini mereka sudah kembali berkutat dengan berkas dan pulpen serta cap.
"Rey nanti Bajaj juga kesana ke pesta pak Nugraha sekalian yuk... nanti kita reuni udah lama nggak ketemu" ucap Chan yang sedang berada depan Rey untuk membantu memeriksa agar cepat selesai.
"Udah Rey? "tanya Chan karena berkas ditangannya sudah selesai.
"Lagi dua Chan"ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Rey, masih inget nggak sama cewek yang nolak lo itu"ucap Chan membuat Rey menghentikan aksinya lalu menatap dalam Chan yang sedang mengenadahkan kepalanya.
Rey tidak menjawab karena ia pun masih inget betul kejadian tersebut bahkan setiap adegan yang terjadi masih di ingatnya.
"Chan! "ucap Rey di depan telinga Chan keras ternyata dari tadi ia tertidur pantesan tidak bertanya lagi.
Chan langsung bangkit dengan sikap tegap dan hormat kepada Rey seperti layaknya prajurit.
"Lo nggak mau pulang? Pacar lo nanti neror gue Odading mang saleh" ucap Rey memukul lengan Chan lalu meninggalkan Chan diruangannya. Membuat Chan tersenyum akan tingkah mereka.
"Rey, nanti kita cari cewek yang bohai yuk" ucap Chan menghasut Rey.
"Lo mau gue kebiri!" ucap Rey membuat Chan mematung dan mengamankan pusaka beranaknya.
"Gue udah seminggu puasa Rey, karena istri gue lagi mestruasi" ucapnya membuat Rey memutar bola matanya jengah.
"Istri? nikah sono, kasian anak orang lo udah kawinin berkali-kali tapi nggak lo nikahi gue laporin juga lo sama Bokapnya karena anaknya sudah dicoblos sama koceng gareng kayak lo" ucap Rey menabok kepala Chan.
"Habis gue nggak tahan tidur berduan sama dia" ucap dengan cengiran nya.
"Awas aja kalau lo nggak nikahin dia gue potong-potong adik lo kemudian gue kasih makan anjing dijalanan" ucap Rey melihat kearah adik Chan dengan seringai tajam membuat Chan merinding ngeri.
"Iya, nunggu dia hamil baru gue nikahin biar nggak percuma nantinya" ucal Chan segera memasuki mobilnya karena agar Rey tidak memukulnya.
Memang Chan anaknya seperti itu tapi dia sangat setiap buktinya pacarnya saat ini adalah pacar yang sudah 8 tahun bersamanya dan akan menikah 4 bulan kedepan.
Sedangkan Rey jangan ditanya kapan nilah bahkan pasangan aja ia harus menunggu sampai bulan terlewat berkali-kali mengelilingi bumi.