
Rey lebih dulu selesai mandi karena Cira sedang berendam untuk merelaxkan tenaganya akibat terkuras oleh perbuatan Rey yang tidak ada hentinya memompa Cira dengan berbagai gaya di kamar mandi.
"Yang, color ku mana?" teriak Rey didalam ruang ganti. Yang tidak menemukan colornya.
Cira yang baru selesai mandi pun menghampiri nya. "Kamu ini, mas. Belum seminggu kita nikah. Udah tidak tau tempat color mu, mas. Padahal, kan kamu yang menaruhnya!"ucap Cira berjengking pinggang membuat Rey hanya menggaruk kepalanya.
"Ini apa?!"ucap Cira yang membuka laci lemari yang menampilkan berbagai warna color yang dimiliki Rey.
"Yah,,mana aku tau kalau ada disana"ucap Rey merasa tidak bersalah dan mengambil colornya. Membuat Cira mendengus kesal.
Ini baru sehari bagaimana kalau sudah bertahun-tahun. Bisa mati pusing, gue ngurusin dia batin Cira kesal terhadap Rey.
"Mommy!!" ucap Cia dengan menggedor pintu kamar mereka.
Rey yang sudah berpakaian lengkap menghampiri Cia "kenapa, sayang?"ucap Rey mengendong Cia menuju ke sofa.
"Mommy mana, dad?" tanya mengedarkan pandangannya.
"Mommy kamu lagi di ruang ganti" ucap Rey. Mendudukan Cia.
"Eh,,anak mommy udah bangun?" ucap Cira yang baru datang.
"Udah, mom. Daddy sama Mommy mau kemana?" tanya Cia melihat mommy dan Daddy nya berpakaian rapi.
"Kan katanya Cia. Pengen ke rumah Appa?"ucap Cira membuat Cira mengingatnya.
"Owh,,,tadi appa sudah nelpon katanya mau kesini aja"ucap Cia dengan mengayunkan kakinya.
"Kalau gitu, mandi dulu, oke" ucap Rey membuat Cia yang menguap itu mengangguk. Rey menuntun Cia ke kamarnya.
"Mas, aku mau lihat Gea dulu" ucap Cira yang diangguki oleh Rey.
Cira sudah berada didepan pintu kamar Gea. Dan mengetuk nya pelan. Ternyata pintunya tidak terkunci membuat Cira dengan leluasa masuk ke kamar tersebut.
Kenapa tidak dikunci batin Cira.
Cira melihat ternyata Gea masih tertidur dengan tenang dan nyenyak dengan selimut menutupi tubuhnya. Mengetahui Gea tertidur pulas membuat Cira keluar dari kamar tersebut dan menutupnya.
Cira menghampiri kamar Cia. Dan mendengar suara gelak tawa dari Rey dan Cia.
Kemana aura dingin nya batin Cira ketika mendengar Rey tertawa.
"Sudah selesai mandi nya?" tanya Cira ketika masuk kamar dan melihat Rey sedang memberikan bedak baby ke wajah Cia yang banyak sehingga terlihat seperti hantu.
Membuat mereka tertawa terbahak-bahak. "huuuuuuu"ucap Cia meniru suara hantu dengan tangan melambai-lambai.
Kemarin papanya. Sekarang Daddy nya. Ini anak mau aja jadi bahan kejahilan batin Cira menggelengkan kepala.
Setelah acara hantu-hantu versi Cia. Akhirnya mereka duduk di ruang keluarga sembari menunggu kedatangan Papa dan mama Cira.
Dering telepon membuat Rey. Segera mengangkatnya. Cira bertanya dengan gerakan alisnya yang di naikan.
Dan Rey hanya memberikan isyarat di bibirnya dengan gerakan berkata 'Papa'. "Halo, pa?"ucap Rey.
*Kalian bersama Gea, kan?* tanya disebrang Dengan wajah yang khawatir.
"Iya, pa. Ada apa?" tanya Rey sembari menjauh dari Cia dan Cira.
*Kamu sembunyikan dulu, Gea. Karena Om Ardi sedang mengamuk. Akibat dia tau anaknya sudah di perawani* ucap Papa Rey.
"Iya, pa"ucap Rey.
*Kalian jangan keluar rumah dulu. Papa untung tidak kasih tau alamat rumah kalian. Jadi Gea masih aman dan tolong kamu check apakah Gea hamil atau tidak* ucap Papa Rey ketika hendak mematikan sambungan telepon. Dan membuat Rey terkejut ketika mendengar ucapan Papanya.
Hamil? jadi Cira menyuruhku membeli test pack itu, untuk Gea. Yah,,,kayaknya aku harus berusaha lagi dengan Cira batin Rey. Dan tersenyum penuh semangat. Melupakan sejenak kondisi Gea. Sang adik sepupu.
Rey menghampiri mereka ketika sudah selesai berbicara dengan Papanya. Di ruang tersebut sudah ada Cia, Cira dan Gea yang sudah terbangun dari tidurnya. Mereka bermain puzzle.
"Papa kenapa?"tanya Cira ketika Rey sudah ikut bergabung.
"Masalah kantor. Jadi hari ini kalian tidak boleh kemana-mana ya!" ucap Rey membuat mereka menganggukan kepalanya kompak, sembari memasang puzzle.
Mereka bermain dengan sangat seru. Tidak dengan Rey yang lebih memilih untuk memeriksa pekerjaannya di ruang kerja.
Tanpa mereka sadari suara bel berbunyi membuat mereka saling pandang akibat tidak tau siapa yang bertamu.
"Siapa?" tanya Cira sembari mengecek dibalik jendela.
"Ma, mereka dirumah kan?" tanya Pak Nugraha. Membuat Mamanya mengangguk.
Cira yang mengetahui orang tuanya datang pun membuka pintu dan memeluknya.
"Kangen!!" ucap Cira yang memeluk papa mamanya. Dan dibales oleh mereka.
"Masuk. Cia udah nunggu lama"ucap Cira membuat orang tuanya masuk dengan berbagai tas belanjaan yang isinya cemilan dan mainan untuk Cia.
Orang tuanya sangat sayang dengan Cia seperti pada cucunya sendiri. Riski dan Riska. Bahkan lebih sehingga membuat Riski sering mengadu padanya karena Kakek Neneknya lebih sayang pada Cia. Padahal mah, sama saja. Cuma pemikiran dan perasaan mereka aja.
"Cia,, Appa Amma come back!!"teriak Pak Nugraha tanpa malu.
Mendengar suara teriakannya membuat Cia berlari dan memeluk Appa nya. Sementara Gea mengikutinya dari belakang.
"Lho, Nak Gea disini?" tanya Mama Cira ketika melihat Gea.
"Iya Tante."ucap Gea sembari bersalin terhadap orang tua Cira. Kakak iparnya.
Mereka pun masuk dan bermain serta makan cemilan diruang keluarga. "Suami mu mana, Ra?" ucap Pak Nugraha. Kemudian menyusul Rey.
Mereka berkumpul bersama ketika makan malam. Kini dirumah itu hanya tinggal mereka berdua saja. Cia dan Gea ikut menginap di rumah orang tuanya Cira. Akibat Cia merengek pada Gea agar ikut menemaninya.
Di rumah yang bergaya klasik modern itu tinggal Rey dan Cira sedang berbaring di atas ranjang. Dengan Rey memeluk tubuh Cira.
"Mas, aku mau nanya?"ucap Cira di dalam pelukan sang suami.
"Nanya apa sih?" ucap Rey seraya mencium pucuk kepala Cira.
"Mas, boleh nggak aku dengar kisah Cia?" tanya Cira pelan membuat Rey memandang Cira penuh selidik.
"Boleh. Tapi ada syaratnya" ucap Rey seraya memeluk Cira erat.
"Apa-apaan pakai syarat segala!"ucap Cira tidak terima.
"Yaudah."Ucap Rey malah memejamkan matanya.
"Lho mas. Jangan tidur. Iya deh, apa Syaratnya" ucap Cira mengalah. Membuat Rey tersenyum jahil.
"Baiklah. Syaratnya. Pertama, kamu kalau tidur jangan pakai bra. " ucap Rey membuat Cira terbelalak akibat ucapan Rey.
"Nggak bisa gitu, dong. Syarat macam apa itu!" ucap Cira tak terima. Berusaha melepaskan diri dari pelukan Rey.
"Yaudah kalau nggak mau!"ucap Rey ngambek.
Ini sih, kesempatan dalam kemesuman batin Cira.
"Yang kedua"ucap Cira ketus.
Rey tersenyum dengan jahil "Kedua. setiap baru bangun ataupun mau tidur kamu harus cium aku. Di bibir. No debat!" ucap Rey tidak terbantahkan.
Cira hanya bisa mendengus kesal. Enak di lho. Nggak enaknya di gue batin Cira.
"Ketiga. Kalau kita sedang berdua begini panggilannya sayang. Bukan 'Mas'." ucap Rey membuat Cira kembali mencibirnya.
"Sayang-sayang mata mu penyok"ucap Cira. Kesal karena Rey banyak syarat.
"Keempat"ucap Rey membuat Cira tersentak karena banyaknya permintaan dari Rey.
"Kok banyak!. Tiga aja cukup!" protes Cira membuat Rey tertawa.
"Baiklah. Jadi sekarang jalankan syarat yang kedua"ucap Rey membuat Cira mencubitnya.
"Kalau gini aja. Kapan cerita nya" kesal Cira karena Rey tidak juga bercerita.
Rey tertawa kemudian mencubit gemas pipi Cira. Membuat Cira mengaduh dan kembali mencubit pinggangnya.
"Baiklah. Aku cerita dari awal pernikahan papa dan mama. Eh, kayaknya dari Cia lahir aja deh?" ucap Rey bingung membuat Cira menggeram tertahan. Sabar, Cira. Sayang suami batin Cira menguatkan dirinya.
"Cerita singkatnya. Mama hamil waktu aku 20 tahun. Karena mama memiliki riwayat penyakit dan kehamilannya yang berisiko. Membuat kami khawatir. Papa pernah menyuruh mama buat gugurin saja. Namun mama kekeh ingin mempertahan ya. Hingga saat melahirkan. Jantung Mama kumat dan tidak tertolong. Aku merawat Cia dari sejak lahir. Karena papa hampir depresi akibat kematian mama. Sedangkan Andra sudah menikah. Jadi hanya aku dan Oma Ida yang mengurus Cia. Sehingga karena hal itu Cia menjadi gadis kecil yang memiliki pemikiran dewasa sebelum waktunya. Sudah." cerita Rey, yang justru membuat Cira merasa tidak puas.
"Aku belum puas. Seperti ceritanya ada yang kurang deh" ucap Cira membuat Rey mencium bibirnya.
"Mas!"ucap Cira ketika tangan jahil Rey masuk kedalam bajunya.
"Kan aku udah cerita. Jadi sekarang waktunya untuk buat adik untuk Cia" ucap Rey tanpa rasa bersalahnya.
Nyesel, gue nyuruh dia cerita batin Cira kesal akibat ulah Rey.
"Mas kamu mau buat aku mati bercinta, ya?" ucap Cira mencebikkan bibirnya.
"Emangnya kenapa?" tanya Rey.
"Kamu terus aja minta. Punggung ku terasa mati, mas" keluh Cira. Membuat Rey sedikit kasihan. Tapi misi punya adik untuk Cia sudah menggebu-gebu.
"Kalau gitu kamu aja yang diatas"usul Rey membuat Cira membelakkan matanya.
"Ta- "ucap Cira terpotong akibat bibirnya di lu*mat oleh Rey.