
Pagi buta Cira sudah bangun, karena Rey kembali mengalami mual dan muntah. Menyebabkan Rey lemas dan perlu di papah.
"Yang," ucap Rey manja yang saat ini sedang berada di pelukan Cira yang sedang berbaring.
"Aku panggil dokter ya, mas. Biar mualnya hilang" ucap Cira dengan membelai rambut Rey. Yang tak kunjung tidur. Karena jam menunjukan masih jam 5.
Rey menggeleng kan kepalanya tanda tidak mau. Namun, sang dokter sudah tiba untuk mengadakan visit pagi bagi para pasien.
"Selamat pagi" ucap Dokter dengan mengetuk pintu membuat Cira dan Rey bangkit dan terduduk. Lalu Cira turun untuk membukakan pintunya.
"Selamat pagi, dokter" ucap Cira ketika melihat dokter dan masuk kedalam untuk memeriksa keadaan Rey.
"Selamat pagi, pak Rey. Bagaimana kondisinya?" ucap dokter dengan memeriksa suara perut Rey.
"Tadi pagi mual muntah dok" ucap Cira yang berada di samping Cira.
"Sudah berapa lama mengalami mual dan muntah?"tanya dokter.
"Sudah hampir sebulan dokter" ucap Cira membuat Rey mengangguk begitupun dengan dokter.
"Lambung pak Rey tidak apa-apa. Hanya saja kemarin asam lambungnya naik. Dan setelah saya cek hari ini sudah membaik. Tapi untuk seminggu ini makan makanan yang lunak dulu. Seperti bubur" ucap Dokter. Membuat merek mengangguk. "Untuk penjelasan lebih lanjut. Silakan kalian cek ke OBGYN biar lebih spesifik tentang kehamilan. Karena dalam kasus ini yang mengalami morning sickness adalah sang suami" ucap Dokter lalu berpamit pergi.
Setelah kepergian dokter. Rey menyuruh Cira untuk duduk lagi di sampingnya. Membuat Cira mengikuti kemauan sang suami. "Yang" ucap Rey yang menyandarkan kepalanya di pundak Cira.
"Hem.." ucap Cira yang sedang bermain game.
"Yang?" ucap Rey lagi dengan tangan tang sudah masuk kedalam baju Cira dan mere*mas pelan buah mangga yang ada pada Cira.
Membuat Cira mendesis pelan karena Rey meremasnya dengan pelan tapi pasti. "Mas?" ucap Cira dengan menggoyang-goyangkan badannya agar tangan Rey berhenti. Namun, pandangan Cira masih tetap pada ponselnya.
"Sayang,,," ucap Rey merengek seperti anak kecil. Membuat Cira menyudahi main gamenya. Dan mengeluarkan tangan Rey.
"Mas, kita di rumah sakit ini. Nanti ada dokter atau yang lain datang, gimana?" tanya Cira membuat Rey mendengus kesal.
"No!. Aku cuma mau mimik aja, yang?" ucap Rey dengan mengangkat-angkat baju yang dikenakan oleh Cira.
"Ish,, tapi ini di rumah sakit, mas" ucap Cira kesal. Karena suaminya ini memiliki otak yang tidak tau tempat.
"Tidak dengar!!" ucap Rey yang kepala sudah masuk kedalam baju Cira yang memakai baju kaos. Melihat tingkah Rey membuat Cira menahan kepala Rey agar tidak semakin masuk.
Namun, bukan Rey namanya jika tidak cepat. Dan Sekarang pengkait bra Cira sudah terlepas. "Wow, yang. Dia makin besar" ucap Rey di dalam baju Cira. Membuat Cira mendengus kesal sekaligus malu.
"Mas, nanti ada orang yang datang" ucap Cira yang berusaha menjauhkan kepala Rey. Namun, usahanya sia-sia karena Rey sudah duduk di pangkuan Cira.
"Hmm" gumam Rey yang sudah mengemut benda favorit nya. Membuat Cira mengusap kepala Rey. Karena Rey memberikan servis yang sangat lembut.
"Mas,," ucap Cira tertahan.
Hingga sebuah teriakan menghentikan mereka. "Daddy!!" teriak Cia yang menggedor pintu ruangannya.
"Cia, mas!!" ucap Cira gelagapan dan mendorong kepala Rey agar menjauh dan mengaitkan bra-nya kembali lalu merapikan pakaiannya.
Sedangkan Rey kembali duduk di samping Cira dengan mengusap bibirnya. Dan mengambil ponselnya. Agar tidak ketahuan oleh Cia.
Cira turun di ranjang lalu membukakan pintu. Dan terlihatlah Cia yang sudah bersidekap dada. Marah karena tidak di ajak tadi malam.
"Duh, anak mommy, kenapa?" tanya Cira yang menuntun Cia untuk ke Daddy-nya dan duduk di sampingnya.
"Terus kamu sama siapa kesini?" tanya Rey dengan menjawil pipi Cia.
"Dengan papa, lagi dibawah sama dokter cantik" ucap Cia membuat Rey dan Cira saling pandang. Kemudian kembali menatap Cia.
"Owh, iya. Mommy, selamat ulang tahun" ucap Cia dengan merentangkan tangannya. Meminta untuk di peluk.
Dan Cira pun memeluk Cia dengan erat "Terima kasih, sayang" ucap Cira dengan mencium pipi Cia.
Cia membuka tas kecil yang di bawanya. Lalu memberikan kotak kecil yang berpita pink kepada Cira. "Ini untuk mommy" ucap Cia dengan senyuman yang manis.
"Terima kasih banyak. Kesayangan mommy" ucap Cira kembali memberikan ciuman di pipi Cia.
"Daddy juga mau di cium" ucap Rey dengan mengarah kan pipinya. Membuat Cira dan Cia mencium pipi Rey bersamaan.
Dan Rey pun mencium pipi Cia dan Cira. "Boleh buka hadiahnya sekarang?" tanya Cira membuat Cia mengangguk semangat dengan senyuman lebarnya.
"Wah, cantik sekali" ucap Cira yang membuka kotak hadiah Cia yang isi nya adalah sebuah cincin yang terbuat dari tumbuhan.
"Iya, Cia buatnya dalam sehari. Dibantu dengan Papa." ucap Cia membuat Cira kembali mencium pipi dan kening Cia.
"Terima kasih" ucap Cira dan menyerahkan cincin itu kepada Cia untuk dipasangkan.
"Wah,, bagus banget" ucap Cira dengan memamerkan tangan yang sudah di masukan cincin.
"Cia sangat pintar. Bisa membuat cincin dari tumbuhan" ucap Rey membuat Cia tersenyum.
Mereka berbicara dan bercanda. Hingga papa Aditama datang bersama seorang dokter cantik. "Selamat pagi" ucap Papa Aditama dan dokter itu.
Mereka yang mendengarnya langsung memperhatikan Papa Aditama dan dokter cantik itu. "Sudah baikan, Rey" tanya Papa Aditama menghampiri anaknya. Membuat Rey mengangguk. Dan mereka berbincang dan Papa Aditama memberitahukan bahwa dokter OBGYN tidak hadir.
Cia dan Cira turun dari tempat tidur Rey dan duduk di sofa bersama dokter cantik itu. Cira tersenyum kikuk dengan dokter cantik itu.
"Perkenalkan saya Dina, teman papanya Rey, mertua kamu" ucapnya dengan mengulurkan tangannya. Dan disambut oleh Cira.
"Cira dan dia Cia anak kami" ucap Cira membuat Dokter Dina itu tersenyum.
"Saya sudah tau tentang Cia dari Papanya" ucap Dokter Dina itu membuat Cira mengangguk.
Wah,,jangan-jangan ini batin Cira tersenyum memikirkan segala hal yang akan terjadi.
"Cia, mau nggak punya Mama lagi?" bisik Cira pada Cia membuat Cia sedikit berpikir. Dan menggelengkan kepalanya.
"Cia sudah makan?" tanya Dokter Dina dengan mengusap pelan punggung Cia. Melihat hal itu membuat Cira tersenyum jahil.
"Ayo, kita pulang. Kata dokternya tadi Rey sudah boleh pulang." ucap Papa Aditama membuat mereka senang.
Bahkan Cia melupakan ucapan dari dokter Dina. Rey melihat dokter Dina itu dari bawah ke atas memandang dokter Dina. Membuat Dokter Dina yang di pandang merasa malu dan gugup.
"Owh, iya. Kenalkan Rey ini teman papa waktu kuliah satu universitas tapi beda fakultas. Namanya dokter Dina" ucap Papa Aditama yang mengerti arti tatap Rey yang menatap dokter Dina.
"Rey, Tante" ucap Rey.
Cira membereskan perlengkapan Rey yang dibawa nya. Dan kemudian mereka keluar dari rumah sakit itu dengan menaiki mobil Papa Aditama. Dimana Dokter Dina duduk di depan samping papa Aditama sementara Rey, Cira dan Cia duduk di belakang nya.
Mereka sudah seperti terlihat keluarga yang bahagia. Seperti biasanya suasana di dalam mobil akan diisi oleh tingkah Cia.