Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Chan


Mereka akhirnya sampai di sebuah resto yang menyediakan makan dengan olahan seafood. Mereka duduk di bangku paling dekat dengan pintu.


"Mas, aku mau ikan gurame asam manis, ya?" ucap Cira ketika pelayan datang memberikan sebuah kertas berisi menu makanan.


"Gue mau cumi crispy dan pepes ikan dan gulai sama es lemon nya dua" ucap Chan membuat Cira melongo karena Chan memesan makanan melebihi dirinya.


"Aku juga mau udah mas" ucap Cira membuat Rey Mengerutkan dahi.


"Nanti makannya bareng-bareng sama, mas, ya?" tanya Rey membuat Cira mengangguk.


Pelayan itu pun mengatakan makanan yang mereka pesan.


"Mas, anterin ke toilet, dong?" ucap Cira membuat Rey mengangguk. Sementara Chan masih pokus dengan ponselnya.


"Gue antar Cira ke toilet dulu" ucap Rey yang diangguki oleh Chan tanpa memalingkan pandangan pada ponsel.


Chan mengedarkan pandangannya dan melihat sosok yang tadi dia hubungi namun tidak membalasnya. Ternyata orang itu sedang bercumbu dengan seseorang.


Hal itu justru membuat hati Chan terluka. Padahal dia sudah menerima sosok itu dengan tulus. Tapi ia malah tersakiti.


Chan dengan cepat memfotonya lalu menjadikannya status di media sosial nya dengan caption 'Bersama dia kamu bahagia. Bersamamu aku sakit' tulisnya kemudian mematikan ponselnya.


Dan makanannnya pun datang berbarengan dengan Rey dan Cira. Melihat itu membuat wajah Cira berbinar.


"Kak Chan, boleh minta pepes ikannya, nggak?" ucap Cira yang malu-malu membuat Chan yang melihatnya sedikit mengurangi rasa sakit di hatinya.


"Boleh, tapi gue suapi, gimana?" tanya Chan membuat Cira mengangguk senang dan Rey yang kesal.


"Wow, mas ini enak banget" ucap Cira dengan mengunyah makanan yang matanya sudah berbinar. Rey hanya mendengus.


"Chan?" panggil seseorang membuat Chan, Rey dan Cira menatap seseorang yang memanggilnya. Ia adalah tunangan dari Chan.


Chan memandang tidak suka dengan orang itu. "Ngapain kesini?" tanya Chan kembali makan tanpa memperdulikan orang itu.


Rey dan Cira saling pandang. Kemudian Cira mengerjitkan alisnya membuat Rey mengangkat bahunya tidak tau.


"Chan, boleh aku bicara. Ini bisa dijelasin dengan baik-baik, Chan" ucap sosok itu dengan segera menyentuh tangan Chan. Namun, segera ditepisnya.


Rey dan Cira tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka. Sehingga memilih menikmati makanannya dengan sesekali melirik ke arah Chan dan tunangannya.


"Chan, please" ucap tunangannya dengan menakupkan tangannya membuat Chan menghela nafas.


"Baiklah" ucap Chan lalu bangkit. Lalu memandang kearah Cira dan Rey dan langsung diangguki oleh mereka.


"Ada apa?" tanya Chan dingin. Mereka berada di sebuah taman yang ada didekat resto tersebut. Dan duduk di kursi taman.


Suasana yang sudah mulai gelap ditambah dengan lampu taman dan semilir angin membuat suasana menjadi canggung antar keduanya.


"Aku sama dia tidak ada hubungan apa-apa, Chan" ucap Wanita itu memulai percakapan. Chan hanya mendengarkan saja.


"Kita tidak sedang ciuman, Chan. Itu karena posisi nya saja yang mendukung" ucapnya lagi membuat Chan memandang wanita itu dengan tatapan jijik.


"Apa boleh aku tanya sesuatu?" tanya Chan membuat wanita itu mengangguk.


"Apa dia yang mengambil kepera*wanan mu?" tanya Chan membuat wanita itu mengangguk pelan. Membuat Chan tersenyum sinis.


"Baiklah, aku sudah putuskan. Lebih baik kita akhiri saja pertunangan ini. Karena lelaki yang kau tunggu bertahun-tahun sudah kembali." ucap Chan bangkit. "Maaf jika foto, itu aku sebarkan. Dan nanti akan aku hapus. Masalah orang tua kita. Kamu tenang aja nanti aku akan kasih tau keluarga ku tentang berakhir pertunangan kita" ucap Chan lalu pergi meninggalkan wanita itu yang terus memanggil namanya tanpa berniat mengejarnya.


"Maafkan aku Chan. Aku terlalu kotor. Untuk kamu jadikan berlian" gumam wanita itu dengan berderai air mata. Meratapi nasibnya yang buruk.


"Terima kasih atas lukanya" gumam Chan lalu dengan cepat mengubah raut wajahnya.


"Kalian sudah selesai bicaranya?" tanya Rey ketika melihat Chan duduk di kursinya.


"Sudah" ucap Chan dengan kembali memakan makanannya.


"Mas, pesankan pepes ikan pedas level 5 mas" ucap Cira membuat Rey membulatkan matanya.


"Buat apa, yang?" tanya Rey.


"Pesankan saja, mas." ucap Cira membuat Rey dengan pasrah memesan kan makanan itu.


Mereka akhirnya pulang ke rumah. Sesuai keinginannya Chan menginap dirumah Cira Rey. Mereka sampai dirumah yang sepi. Tapi untungnya Mbak Ijah belum pulang. Sehingga rumah tidak terlalu kosong.


"Mbak ijah?" teriak Cira mencari sosok itu yang keluar dari bilik dapur. "Tara......Cira belikan makanan buat mbak Ijah" ucap Cira senang dan memberikan bungkusan makanan kepada Mbak Ijah.


"Terima Kasih, ya. Nyonya" ucapnya membuat Cira mengangguk.


"Cira mau keatas dulu, ya Mbak. Mau mandi bau acem. Dan ini tolong dipanaskan." ucap Cira memberikan bungkusan makanan lainnya.


Cira masuk kedalam kamar dan melihat Rey sedang ingin mandi membuat Cira juga ikut mandi bersama.


"Lho, yang" ucap Rey melihat Cira masuk kedalam kamar mandi.


"Mau ikut mandi, mas. Gerah." ucapnya lalu masuk ke dalam buthtube dengan hanya memakai cel*ana dal*am. Membuat Rey menelan salivanya.


Mereka mandi biasa tanpa ada rasa panas dingin meriang. Kemudian setelah berpakaian Cira turun kebawah untuk melihat Chan.


"Kak Chan?!" teriak Cira dengan menggedor pintu kamar yang ditempati oleh Chan.


"Kenapa?" tanya Chan yang membuka pintu kamarnya. Untungnya dia sudah mandi dan berpakaian lengkap.


"Main game yuk" ucap Cira dengan nada manja.


Rey yang melihat istrinya sedang bersama Chan pun menghampiri nya. "Ngapain ke sini, yang?" tanya Rey yang membawa teko Aladin.


"Mau ngajak main, kak Chan. Mas, mau keluarin jin, ya?" tanya Cira membuat Rey mengangkat tekonya.


"Iya, biar istrinya mas tidak lari" ucap Rey dengan mencium sekilas bibir Cira di depan mata Chan.


"Kalau mau enak-enak di kamar" sindir Chan membuat mereka tersenyum kikuk.


"Ayo, kak. Kita main game. Sambil makan pepes yang aku beli tadi" ucap Cira dengan mengaitkan tangannya di lengan Chan.


Dan itu membuat Rey cemburu dan segera melepaskannya. "Mas, kenapa, sih?" ucap Cira kesal.


"Jangan sentuh dia. Cukup aku aja suamimu yang kamu sentuh" ucap Rey dengan membawa tangan Cira untuk mengaitkan di lengannya. Chan yang melihat nya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mereka sampai di depan ruang keluarga dan pepes ikan beserta cemilan pun ada disana. Mereka tidak jadi main game karena stik permainannya cuma ada satu. Sehingga mereka memilih untuk menonton TV.


"Chan," panggil Rey yang melihat Chan melamun. Membuat Cira yang tadi pokus dengan tv menjadi memandang kearah Chan.


"Kak Chan. Kalau aku lagi kesal atau marah atau gimana, aku akan banyak memakan makanan pedas biar kesalnya itu hilang" ucap Cira membuat Chan dan Rey tersenyum. "Ayo kak, makan pepes ikan. Aku tau kalau kak Chan lagi sakit hati makanya aku beliin makanan pepes ikan yang pedas biar cepat plong hatinya" ucap Cira lagi dengan menyodorkan pepes ikan kepada Chan.


"Bukan biasanya coklat, ya?" tanya Chan membuat Cira menggeleng.


"Boleh juga. Tapi kalau pedas rasanya lebih wow, kak" ucapnya semangat dengan mata berbinar.


"Kamu jangan makan pepes itu" ucap Rey dengan mengemil cemilan. Membuat Cira mengangguk.


"Ayo, kak. Dimakan. Habis itu kita curhat" ucapnya lagi membuat Chan mengikuti permintaan Cira.


"Jadi setelah sampai di resto gue coba telepon dan chat tunangan gue namun tidak dibalasnya. Singkat cerita pas gue mengedarkan padangan melihat sekeliling. Gue melihat sosok yang gue sangat kenal sedang bercumbu dengan seseorang pria. Dan ya, itu adalah tunangan gue dengan mantan pacarnya." ucapnya dengan kembali memakan pepes ikan pedas itu dengan wajah memerah.


"Gue kenal dia dari salah satu bar. Dia sedang menangis di sana. Nah, dari situ gue dekat terus akhirnya pacaran dan tunangan kemudian tidur bareng. Dan ketika tidur bareng dia mengajak gue buat melakukan hal itu. Dan yah, gue sebagai laki-laki normal tergoda dong. Dan betapa terkejutnya gue. Dia sudah tidak pera*wan. Gue tanya lah dan katanya keperaw*anan diambil oleh mantannya ketika masih SMA. Gue sih tidak mempermasalah hal itu, selagi dia setia dan membuat gue nyaman. Yaudah gue pertahankan. Namun, ketika melihat dia bercumbu membuat hati gue sadar. Bahwa dia memang bahagia bersama orang lain." ucapnya lagi panjang lebar dengan sesekali makan pepes pedas itu dan sekarang dia kepedasan ketika cerita sudah selesai. Bahkan saking pedasnya bagai ada api yang keluar dari mulutnya.


Membuat Cira dan Rey yang sejak tadi mendengarkan dan memandang Chan yang terus makan pepes itu menahan tawanya. Dan diakhir cerita nya lah tawa mereka pecah. Ketika Chan kebingungan mencari air.