Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
S2 #23


Hari sudah semakin larut. Dan Chan baru pulang habis bekerja. Lelah. Itu yang dirasakan oleh Chan. Dan ketika membuka rumah ia diberikan tontonan gratis keuwuan orang tuanya yang sedang menonton TV berdua saling berpelukan.


Chan hanya bisa menghela nafas melihatnya. "Udah pulang, Chan?" tanya mama Chan yang melihat anaknya sudah pulang.


"Sudah, ma" ucap Chan lesu dan segera masuk kedalam kamar untuk mandi.


Beberapa menit kemudian Chan sudah terlihat segar. Dan dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering di atas nakas. Membuat Chan dengan malas bangkit.


Chan mengerjitkan dahinya melihat sebuah nomor tidak dikenalnya menelpon "Halo?" ucap Chan membuat disebrang diam. Merasa tidak ada respon dengan segera Chan mematikannya.


Namun, sebuah panggil dari nomor yang sama kembali. Membuat Chan diam. "Halo,,,?" ucap disebrang membuat jiwa Chan menegang dan langsung terduduk.


"Kenapa?" tanya Chan membuat disebrang diam. "Kamu kangen ya?" ucap Chan membuat disebrang mendengus.


"Ini bapak mau ngomong" ucap orang itu dengan cepat. Dan setelahnya suara bapak tua terdengar. "Hallo nak, Chan. Ini Fiolanya katanya kangen. Tapi malu buat ngomong" ucap Pak Surat yang terdengar menjahili anaknya.


Mendengar itu membuat Chan tertawa. "Saya juga kangen pak" ucap Chan dengan nada manjanya.


Dengan cepat Chan mengalihkan panggilannya kedalam video yang terpang-panglah wajah sang calon mertua. "Nak Chan habis pulang dari kerja?" tanya bapak yang matanya terlihat menelisik Chan.


"Iya, pak. Kerjaan dikantor banyak banget" ucap Chan yang merebahkan tubuhnya lalu memiringkan badannya.


"Aduh,,bapak kebelet. Kamu kangen-kangenan dulu ya, sama Fiolanya" ucap pak surat yang terlihat berbohong karena makanya berkedip kepada Chan. Membuat Chan mengangguk.


"Kenapa?" tanya Fiola yang terlihat wajahnya ditekuk.


Chan tersenyum melihatnya "Eh,,kan kata bapak tadi kamu yang kangen" goda Chan membuat Fiola mendengus.


"Eh,,,kenapa nggak pakai baju?" tanya Fiola yang menutup matanya ketika melihat Chan tidak memakai pakaian atasnya. Karena posisinya ponsel nya diletakan di meja nakas, Dan Chan sedang memangku laptop nya.


"Lagi panas, Fi. Lagian aku juga kalau tidur nggak pernah pakai baju" ucap Chan dengan mata pokus pada laptop.


"Udah deh, matiin aja ya?" tanya Fiola membuat Chan menatapnya dan Fiola yang ditatap seolah salah tingkah.


"Jangan dong. Ih,,kamu ini cemburu banget sih" ucap Chan menggoda Fiola membuat Fiola melototkan matanya.


"Ih,,,siapa juga yang cemburu. Ngawur" ucap Fiola yang beranjak dari duduknya dan kini sedang berjalan menuju kamarnya yang terlihat di depan layar Chan.


Chan hanya memandang wajah Fiola dengan penuh kekaguman "Besok kata mama kita butik, Fi!" ucap Chan membuat Fiola terduduk diatas ranjangnya dan menatap Chan dengan tatapan sulit diartikan.


"Jam berapa?" tanya Fiola membuat Chan tersenyum.


"Setelah kamu pulang dari ngajar aja, Fi" ucap Chan membuat Fiola mengangguk.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka mengakhiri obrolan karena waktunya untuk istirahat dan Fiola yang sejak tadi sudah menguap karena mengantuk.


...#####...


Tanpa terasa pagi menyerang kini Chan sudah berada di rumah sahabat nya untuk mengantarkan bocah perempuan itu karena setelah berbicara dengan Fiola dirinya mendapatkan telepon. Dan disinilah dia saat ini duduk manis di meja makan.


"Mommy,,mau itu" ucap Cia dengan tangan mengarah pada buah apel. Dan dengan cepat Cira memberikannya.


Suasana dirumah sahabat Chan memang selalu ramai apalagi waktu sarapan karena bocah kembar itu ketika ikut duduk kursi makan khususnya sangatlah ramai dengan segala celoteh nya dan kejahilannya.


Pugh..


Mainan si kembar jatuh di sup ayam mereka. Siapa lagi yang bikin ulah ngelempar mainan kalau bukan Gio. Enatah kenapa anak itu sangat aktif. "Gio,,,,,nggak boleh" ucap Cira yang langsung disambut tepuk tangan dan tawa dari bayi itu. Sementara si Jeo anteng aja, yang cenderung malas untuk bergerak. Sehingga Jeo terlihat lebih gemuk dari pada Gio.


"Makanya nanti kalau nikah jangan mau langsung punya dua. Buat yang pertama satu saja. Sebagai latihan. Nah kalau yang kedua, ketiga bolehlah" ucap Cira membuat Chan mengangguk.


"Siapa yang nikah, mom?" tanya Cia yang menatap Mommy penuh tanya.


"Itu om Chan mau nikah. Kamu sih kemarin mainnya lama jadi kan tidak tau" ucap Cira membuat Cia mendengus.


"Yah,,,terus ibu gurunya Cia, gimana?. Padahal Cia udah lamar ibu guru buat Om Chan" ucap Cia lemas.


Mereka yang melihat itu terkekeh. Karena ingin memberikan kejutan untuk Cia. "Calonnya om Chan sangat cantik lho, sayang" ucap Cira membuat Cia mendengus.


"No,,,ibu guru Cia yang paling cantik" tegas Cia membuat mereka tersenyum. "Nanti bakalan Cia ganggu. Kalau om Chan nikah sama orang lain" ancam Cia lagi.


"Memang berani?" goda Chan menantang Cia.


"Berani. Nanti Cia suruh ibu guru cantik buat jewer telinga om Chan kalau berani nikah sama orang lain" ucap Cia yang menatap Chan bermusuhan.


"Terserah. Om tunggu kamu beraksi" ucap Chan tertawa.


"Makan. Masih kecil dilarang ikut masalah orang gede. Kamu main aja dulu" ucap Rey mengelus rambut Cira.


"Ish,,,tapi Cia nggak suka Daddy. Pokoknya Cia musuhan sama om Chan. Titik!!" ucap Cia yang bersidekap dada.


"Yakin mau musuhan dengan, Om Chan?" ucap Cira membuat Cia mencebikan bibirnya. Karena Cia udah lengket dengan Chan, dan kalau ada apa-apa pasti Chan yang mengurus. Sedang Rey hanya menunggu beres saja.


"Ish,,,mommy" rengek Cia membuat Cira gemas.


Brak..


Ucap benda jatuh membuat mereka menatap si kembar yang sudah basah tersiram susu milik mereka. Jeo kepalanya terkena tumpahan susu. Sedangkan Gio malah tertawa bahagia melihat adiknya yang sudah ikut tercampur susu.


Cira menarik nafas dalam dan menghembuskan nya "Gio,,,,,kamu itu masih kecil. Kenapa sudah jahil sekali. Sifat siapa yang kau ikuti" ucap Cira geram dengan tingkah anaknya.


"Daddy-nya" ucap Rey dan Chan bersamaan kemudian mereka tertawa.


Akhirnya mereka berangkat bersama seperti biasa Chan akan mengantar Cia. Dan Rey akan mengantar Cira ke cabang butiknya. Suasana di dalam mobil Chan sunyi. Karena Cia sedang marah.


"Cie,,,yang lagi marah" goda Chan dengan mencoel dagu Cia membuatnya segera ditepis.


Akhirnya mereka sampai gerbang sekolah. Cia dan Chan turun bersama. "Mana ibu guru yang kamu bilang itu?" tanya Chan yang membuat Cia mendengus dan meninggalkan Chan di gerbang sekolah.


"Nggak kerja?" ucap seseorang dari belakang Chan membuat Chan terkejut dan memandang orang itu dengan senyum bahagia nya.


"Nungguin kamu. Nanti kita makan siang bareng yuk?" ajak Chan membuat Fiola berpikir sejenak.


"Liat nanti aja. Kalau ada waktu aku kasih info" ucap Fiola yang hendak masuk ke sekolah namun ditahan oleh Chan.


"Hadiah selamat paginya pagi?" ucap Chan dengan menyentuh pipinya membuat Fiola menatapnya tajam. Karena ini adalah area sekolah.


"Belum SAH!" ucap Fiola kemudian berjalan memasuki lapangan sekolah. Sementara Chan tersenyum melihat nya.


"Bapak pacarnya ibu guru cantik, ya?" tanya ibu yang mengantarkan anaknya kesekolah.


"Iya, Bu" ucap Chan senang dan ramah.


"Oalah,,pantesan aja ibu guru cantik nggak mau sama anak saya. Ternyata pacarnya ganteng dan kaya" Ucap ibuk itu dengan terkekeh sedangkan Chan seolah senyum dipaksakan.