Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Sosis dan telur


Cira begitu terkejut akan ucapan wanita itu.


Dan Rey yang mendengar ucapan wanita itu pun menyiramnya dengan air. Membuat Cira dan yang lainnya terkejut. Seharusnya aku yang menyiramnya. Kenapa menjadi dia, sih. Kan aku yang tersakiti disini batin Cira kesal.


Terkadang sebuah pikiran jahat akan muncul ketika kamu merasa marah dan iri. Begitu pun Rena. Ia gelap mata melihat sosok mantannya yang hidup bahagia dengan bergelimang harta sementara dirinya hidup di luar negeri dengan hidup berkecukupan.


Menyesal sudah pasti, oleh karena itu ia menurunkan harga dengan menjadi istri kedua.


Rey yang memang moodnya naik turun terpancing lah emosinya. Membuat para pengunjung toko menatap Rena jijik dan tajam. Karena terlalu menurunkan harga.


Toko semakin ramai ketika jam makan siang. Membuat mereka menjadi tontonan. Melihat sekeliling yang menatap mereka membuat Cira merasa kasihan. "Pulang lah. Dan kembalilah keluar negeri. Karena disini kamu akan di jadikan bahan gunjingan" ucap Cira lembut merasa kasihan.


Rena yang melihat kelembutan dari Cira merasa malu telah berbuat seperti itu " Maaf" ucapnya. Kemudian keluar dari toko dengan air mata yang mengalir.


"Kamu ini, mas. Kasihan tahu!" ucap Cira kembali duduk.


"Habisnya aku kesal, yang. Masa iya, minta dia jadi istri kedua. Makan kamu aja belum habis. Dan aku juga belum kenyang" ucap Rey sembari meraba paha Cira. Membuat Cira mencubit tangannya.


"Kebiasaan!" ucap Cira kemudian bangkit dan menaiki tangan untuk menghampiri Cia.


Rey pun mengikuti langkah Cira. Para pelanggan toko pun tersenyum melihat tingkah bos terkaya di kalangan pembisnis.


"Bos yang tadi seperti serigala sekarang sudah seperti anak ayam" ucap Pelayanan melihat tingkah bos mereka.


Sudah dipastikan berita saat ini akan berjudul 'Mantan minta jadi istri kedua' lucu sih. Tapi ngeri juga di bayangin. Bikin makan hati aja setiap hari.


"Mas, lain kali, jangan gitu lah. Kasihan. Kamu seharusnya menolaknya dengan sopan, dan memberikan pengertian yang baik. Bukan main asal siram. Kamu itu manusia ciptaan Tuhan, Lho, mas. Ngerendahin ciptaannya" ceramah Cira ketika mereka sudah berada di lantai 2.


Rey yang mendengarnya hanya mendung kesal "Iya, tapi nggak minta jadi istri kedua juga dong. Itu namanya mengibarkan bendera peperangan" balas Rey tak suka duduk di kursi sofa.


Cia mulai terusik dari tidurnya akibat suara decitan sofa dan suara tegas mereka. "Mommy?" ucap Cia membuka matanya. Melihat kearah Mommynya yang sedang duduk di karpet bulu disamping Cia.


Cia membawa kepalanya di pangkuan Cira. Kemudian mencium perut Cira. "Mommy, dedek bayinya kapan datang?" ucap Cia membuat Rey dan Cira membulatkan matanya mendengarnya.


Baru juga kemarin bulan madu, masa iya langsung jadi. Ada-ada saja. batin Cira tertawa menepis hal tersebut.


Dedek bayi?. Oke, nanti malam gempur lagi. Harus kerja rodi, di ranjang. batin Rey yang justru bersemangat. Mendengar kode an dari Cia yang meminta segera punya adik.


Namun, hal itu harus terganggu oleh kedatangan pegawainya Indah yang membawakan nasi kotak pesanan mereka. "Mau taruh dimana, Bu?" ucapnya dengan menenteng bungkusan nasi kotak.


"Di atas meja aja. Kamu udah beliin untuk yang lain kan?" tanya Cira dan Indah segera mengangguk. "Yaudah kalian bergantian makannya ya. Soalnya lagi jam makan siang" ucap Cira lagi.


"Baik, Bu. Terima kasih" ucap nya lalu pamit keluar dari ruangan tersebut.


"Mas, ini Chan. Nelpon kamu kok nggak di angkat?" tanya Cira ketika tidak sengaja matanya melihat kearah ponsel Rey yang berdering. Namun tidak dipedulikan oleh Rey.


"Wah,,,banyak banget ikan terinya" ucap Rey yang sejak tadi sudah tergoda untuk membuka kotak nasi tersebut. Ketika melihat isinya membuat Rey berbinar dengan banyaknya ikan teri di nasi kotaknya.


"Daddy, Cia juga mau" ucap Cia ketika melihat nasi kotak milik Daddy-nya membuatnya tergoda.


"Tidak, boleh. Ini punya Daddy" ucap Rey dengan menjauhkan nasi kotaknya dari pandangan Cia.


Membuat Cia terlihat sedih. Melihat tingkah konyol dan aneh suaminya membuat Cira bertanya-tanya. Suami gue tidak lagi sakit kan?. Atau tidak lagi amnesia, kan? batinnya bertanya.


"Cia, sayang. Ini milik kamu" ucap Cira sembari mengambilkan nasi kotak untuknya.


Melihat hal itu membuat wajah Cia sumbringah bahagia "Daddy pelit"ucap Cia seraya menjulurkan lidahnya mengejek Rey. Namun, di tidak di pedulikan oleh Rey yang sudah menyantap makanannya


Cira yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Keduanya memang terkadang ada kalanya mereka akur dan ada kalanya mereka bertengkar. Namun, akhir-akhir lebih ke sering bertengkar karena sikap Rey yang entah mengapa terlihat seperti anak kecil.


"Mommy tidak makan?" tanya Cia ketika melihat Mommynya tidak makan.


"Mommy tidak suka dengan nasi kotak isi ikan teri" ucap Cira membuat Rey yang sudah selesai makan melihatnya.


"Mommy, harus makan. Biar sehat" ucap Cia menasehatinya membuat Cira mencubit gemas pipi.


"Mommy, makannya nanti kalau udah lapar" ucap Cira. Yang mukanya terlihat pucat.


Dari tadi sebenarnya dia merasa mual akibat jijik melihat ikan teri yang kecil-kecil itu. Namun, dia tahan. Karena tidak enak rasanya muntah di hadapan orang makan.


"Yang, kamu kok pucat banget?" tanya Rey dengan membelai wajah Cira.


"Tidak mas, ini karena aku tidak memakai lipstik aja" ucap Cira yang memang dirinya tidak memakai lipstik ataupun lipbam.


"Tapi ini pucat banget, lho, yang" ucap Rey. Dengan menangkup wajah Cira. Membuat Cira membelali tangan Rey.


"Aku baik-baik saja, mas" ucap Cira menatap mata Rey. Yang terlihat khawatir.


"Kita pulang aja, yuk" ajak Rey membuat Cira mengangguk.


"Cia, sudah selesai makannya?" tanya Rey melihat kearah Cia yang sedang makan. Dan dibalas oleh gelengan dari Cia. Akibat mulutnya sudah penuh.


"Yaudah, pelan-pelan, aja. Mommy mau ke bawah dulu. Kamu temani Cia disini aja" ucap Cira ketika melihat Rey ingin ikut kebawah bersamanya.


Cira turun dari lantai 2 untuk kembali mengecek kekurangan dalam tokonya agar besok bisa di lengkapi lagi. Walau sudah memiliki penanggung jawab pada setiap bagian. Namun Cira tetap melakukannya.


Kenapa tadi aku rasanya mau muntah, ya?. Ketika melihat ikan teri yang kecil-kecil itu?. Biasanya juga tidak begitu batin Cira mengingat kejadian barusan. Yang terlihat bingung.


Namun, Cira tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia menganggap bahwa itu hanya perasaannya saja.


"Gimana, kalian sudah makan?" ucap Cira kepada para pegawai nya.


"Sudah, Bu. Terima kasih makanannya" ucap Para pegawai. Membuat Cira mengangguk.


Di toko Cira ini ada 10 orang pegawai yang terdiri dari 2 sift. Dengan pramusaji dua orang. Tukang masak kue ada 2 orang dan 1 orang bagian kasir. Tokonya buka dari jam 8 sampai jam 11 malam.


"Ibu, sudah makan?" tanya Indah selaku bagian pramusaji.


"Sudah, Indah." ucap Cira sembari masuk ke dalam ruangan masak.


"Kalian buat kue apa, kok aneh gitu?" ucap Cira ketika melihat bentukan kue yang aneh di matanya.


"Eh, ibu. Ini ada yang pesan kue dengan bentuk begini, Bu." ucapnya sembari menyerahkan gambar yang dari kue yang diinginkan pembeli.


"Untuk apa, dia memesan kue dengan bentuk seperti itu?" tanya Cira tidak suka melihat bentuk kue tersebut. Membuatnya mengingat pergulatan panas dengan suaminya.


Bagaimana tidak kue yang dipesannya adalah kue dengan berbentuk sosis dan telur milik para laki-laki.


"Mungkin untuk pacarnya, Bu." ucap nya lagi.


"Kamu tidak jijik, Fa?. Kan kamu belum nikah" ucap Cira membuat nya menggelengkan kepalanya.


"Udah biasa Bu," ucapnya.


"Jangan bilang kamu udah pernah liat dan rasa, Fa?" selidik Cira membuat Ulfa pegawainya tertawa.


"Ibu, seperti tidak tau anak muda saja" ucapnya santai membuat Cira membulatkan matanya.


"Ibu, kira kamu polos, Fa. Ternyata kamu nggak beres juga. Sama seperti yang lain" ucap Cira membuat Ulfa tertawa.


"Saya mah, masih di bawah mereka, Bu. Saya belum pernah ngerasain tapi sudah pernah pegang dan lihat. Kan dulu saya masuk sekolah kejuruan di bidang kesehatan, Bu" ucapnya membuat Cira mengangguk.


"Jangan coba-coba ngerasain kalau belum nikah, Fa." nasehat Cira membuat Ulfa mengangguk.


"Bu, gimana pak Rey di ranjang. Pasti ganas, ya?" ucap Ulfa membuat Cira membulatkan matanya terkejut akan pertanyaan pegawainya.