
Mereka duduk di sofa rumah sakit dan Cira yang berbaring di bed. Mereka akan ber kontribusi dalam rencana kedua kali ini.
"Cia, sayang. Oma punya misi lagi buat kamu" ucap Oma membuat Cia yang memang suka dengan hal yang menantang menjadi tertarik dengan misi yang Oma katakan.
"Apa, Oma. Cia mau" ucap Cia semangat. Baginya misi adalah hal yang sangat menantang apalagi misi menangkap capung yang sangat sulit untuk ditangkap.
"Jadi gini, Oma punya misi sembunyikan dedek bayi" ucap Oma membuat Cia mengerut kan dahinya bingung.
"Kan dedek bayi memang lagi sembunyi di perut mommy, Oma. Kenapa di sembunyiin lagi?" tanya Cia membuat Oma kembali berpikir.
Ini anak ada saja jawabannya batin Oma kesal sendiri.
"Gini sayang. Dedek bayi nya emang sudah sembunyi, jadi kita tidak boleh mengumbarnya atau memberitahu siapa pun termasuk Daddy" ucap Mama Shinta. Memberikan penjelasan.
"Tapi ini kan dedek bayinya Cia dan Daddy. Kenapa tidak kasih tahu Daddy?" ucap Cia lagi membuat orang yang melihatnya gemas ingin menggulungnya seperti kue dadar.
"Intinya kamu jangan kasih tau Daddy ataupun yang lainnya. Nanti dedek bayinya akan marah" ucap Oma geram. Dan membuat Cia mengangguk.
"Tapi, Cia kan pengen kasih tau teman Cia. Kalau Cia bakalan punya dedek bayi, Oma, Amma?" ucap Cia dengan wajah sedihnya.
Membuat semua orang menghela nafas. "Pilih mana, dedek bayi ngambek atau kasih tau teman?" ucap Oma lagi membuat Cia menggelengkan kepalanya.
Melihat itu membuat Cira terkikik geli melihat wajah Cia yang tadi tanpa dosa sekarang sudah sedih. "Yaudah, kalau gitu. Jangan kasih tau Daddy atau orang lain" ucap Oma membuat Cia yang sudah berlinang air mata segera naik ke bed Cira.
"Mommy!!" ucap Cia yang berusaha naik ke bed Cira akibat kakinya tidak bisa naik. Membuat Cira membantu nya.
"Kenapa?" tanya Cira
"Oma sama Amma larang Cia kasih tau Daddy dan semua orang. Kalau Cia udah punya adik" ucap Cia yang ada di pelukan Cira. Membuat Cira tertawa. Sedangkan yang lainnya sedang makan sosis yang dipesan Oma secara online.
"Kalau Mommy mintanya di sembunyiin, Cia mau?" tanya Cira membuat Cia menatapnya penuh tanya.
"Mau" ucap Cia semangat dan kembali memeluk Cira dengan sayang.
"Sayang, Mama sama papa mau balik ke kantor dulu. Karena ada meeting. Kamu disini sama Oma. Nanti kalau mau apa-apa lewat online aja, ya sayang. Jaga diri baik-baik kamu itu sedang hamil" ucap Mamanya menasehati membuat Cira mengangguk.
"Amma dan Appa mau pulang?" tanya Cia bangkit. Dan dibalas anggukan oleh mereka.
"Cia disini aja, temani, mommy" ucap Cia yang kembali merebahkan dirinya dengan kepala bertumpu di paha Cira.
"Siapa juga yang ngajak kamu pulang" sewot Oma, membuat Cia hanya menyulurkan lidahnya mengejek.
"Papa pulang, ya. Kamu banyakin makan biar kamu sama dedek bayi sehat" ucap Papa lalu mencium kening Cira dan juga Cia.
Mereka sudah pulang. Dan kini tinggal papa Aditama, Oma, Cia dan Cira. Sementara Andra dan suaminya sudah pulang karena Aidan menangis.
"Papa pulang, ya. Cira" ucap Papa Aditama. Bangkit dari duduknya di sofa yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya. "Cia, ikut?" tanya papa yang membuat Cia mengangguk. Karena ia tidak tahan juga dengan bau rumah sakit.
"Tadi aja bilangnya nggak mau pulang. Sekarang pulang juga" Sindir Oma membuat Cia cuek saja.
"Mommy, Cia pulang dulu." ucap Cia dengan mencium pipi Cira "Dedek bayi, kakak pulang dulu" ucap Cia dengan mencium perut Cira.
"Hati-hati" ucap Cira dan Oma ketika mereka pulang. Setelah berpamitan dengan Oma.
Kini di ruangan itu hanya ada Cira dan Oma. Oma duduk di samping bed Cira. Menatap Cira dengan tatapan bahagia dan jangan lupakan senyumannya. Membuat Cira salah tingkah dibuatnya.
"Kamu bahagia dengan pernikahan ini, sayang?" ucap Oma dengan tatapan serius. Mendengar itu membuat Cira sedikit terkejut. Karena kalau dirinya tidak bahagia maka janin yang ada di dalam perut Cira tidak akan ada.
"Kenapa Oma, baru sekarang mengatakan itu, setelah semua ini terjadi. Oma ragu dengan Cira?" ucap Cira membuat Oma tersenyum bahagia.
"Oma hanya ingin melihat kalian bahagia. Jika kalian tidak bahagia maka Oma akan menceraikan kalian. Dan Oma juga lihat dari berita bahwa mantan tunangan Rey juga datang" ucap Oma membuat Cira sedikit kesal. Mengingat ia belum bisa melampiaskan kesalnya pada wanita itu.
"Oma, tau tidak. Wanita itu lemes banget ngomongnya. 'Jadikan aku yang kedua'. Idih enak banget dia ngomong" ucap Cira kesal membuat Oma tertawa. "Terus Oma pas Cira mau balas ucapannya. Eh, Si Reyong bolong itu nyiram dia. Kan Cira jadi kesal, Oma" ucap Cira lagi dengan tangan seolah mengulek wanita itu, membuat Oma terbahak.
"Oma, kenapa ketawa, sih. Cira kan kesal banget sama wanita itu!!" ucap Cira yang menahan amarahnya.
"Oma teringat lagu yang baru-baru ini Oma sering dengar penyanyinya Astrid- jadikan aku yang kedua" ucap Oma sembari menyanyikan lagu itu membuat Cira tertawa mendengar suara Oma.
Mood Cira sekarang mudah sekali naik dan turun. Mungkin karena kehamilan nya. Oma mengambil ponselnya lalu mencari lagu itu. Dan mereka bernyanyi bersama. Untungnya fasilitas rumah sakit ini sangat terjamin, sehingga suara dari kamar lain tidak terdengar begitu pun sebaliknya. Karena rumah sakit ini menjunjung private individual.
"Permisi, ibu Cira saatnya kita keruang Obgyn. Untuk pemeriksaan lebih lanjut"ucap perawat yang datang. Membuat mereka menghentikan nyanyiannya.
Mereka akhirnya sampai di ruang Obgyn dan Cira berbaring di bed. Dokter itu mengucapkan berbagai pertanyaan seputar kehamilan dan kondisi Cira. Hingga dokter itu mengoleskan jelly ke alat USG.
"Kondisi janinnya baik. Namun, belum terlihat jelas. bisa di lihat pada usia kehamilan menginjak 4 Minggu. Jadi ibu Cira harus banyak mengkonsumsi makan yang baik untuk ibu hamil. Dan jangan terlalu banyak mengerjakan hal yang berat. Saya tidak akan memberikan informasi lagi. Karena kelihatan Oma. Lebih berpengalaman dan bisa menjadi dokter siaga menjaga ibu Cira." ucap dokter itu yang mengetahui wajah binar Oma. Yang terlihat siap siaga menjaga dan merawat Cira.
"Kamu ini, Yo. Bisa aja. Ini adalah hasil perjodohan. Jadi harus dijaga dengan baik" ucap Oma membuat Cira malu.
Karena pikiran Oma dan Cira berbeda. Oma berpikir tentang pernikahan yang dilakukan karena perjodohan. Namun, Cira memikirkan pergulatan panas yang mengakibatkan terjadi perjodohan antara kecebong Rey dengan telur Cira.
"Kenapa malu?" tanya Oma bingung ketika melihat cucu menantu nya yang sedang memerah seperti tomat.
Sementara dokter itu sudah tertawa karena ia tau apa yang sedang dipikirkan Cira.
"Tidak Oma" ucap Cira.
"Sudahlah Oma, gimana dengan Rey. Apakah dia tau?" tanya dokter itu. Dokter Tio anak dari teman Oma Ida yang sekarang sudah almarhum.
"Kita mau kasih pelajaran buat dia. Karena tidak peka terhadap istrinya" ucap Oma dengan membantu Cira turun dari bed. Dan duduk di kursi depan dokter.
"Ide bagus, Oma. Gimana kalau dalam 3 bulan ini dia kasih pekerjaan yang banyak di luar negeri. Kan kalau dia pulang liat istrinya bunting kan terkejut" ucap Dokter Tio itu membuat Cira membulatkan matanya.
Sementara Oma sedang berpikir tentang ide gila yang diusulkan itu " Ide bagus" ucap Oma kembali membuat Cira syok.
"Tapi, Oma. Nanti Rey marah, Oma. Cira nggak mau nanti timbul masalah lagi" ucap Cira membuat Oma menggeleng kan kepalanya.
"Tidak, sayang. Tenang saja ada Oma" ucap Oma menenangkan Cira. Namun pikiran dan hati Cira khawatir tentang nantinya akan muncul masalah baru.
Setelah dokter memberikan obat untuk penguat kandungan dan vitamin. Kemudian mereka keluar dari ruangan itu dan pulang karena Cira tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.
Semenjak ide gila itu disetujui Cira merasa tidak nyaman. Maka pulang ke rumah sendiri adalah pilihannya.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" ucap Oma, ketika mereka sudah sampai dirumah Cira dan Rey. Namun, masih di dalam mobil.
"Oma, bisa tidak. Kita kasih tau saja Rey. Dia adalah ayah dari anak ini. Jika dia tahu dari orang lain maka dia akan merasa sedih, Oma" ucap Cira membuat Oma menghela nafas.
"Kita bicarakan ini, didalam" ucap Oma membuat Cira keluar dari mobil.
.
.
.
.
.
Mohon maaf jika ada kekeliruan dalam penjelasan atau apapun yang berkaitan dengan cerita ini.
Walau begitu silakan lakukan registrasi dengan mengirimkan bunga dan kopi agar Cira dan Rey bisa menghasilkan banyak anak.
Karena banyak anak banyak rezeki dan banyak masalah juga. Hahaha...Bercanda gyus...
Pokoknya tetap semangat dalam memahami cerita ini. Kalaupun tidak paham ya usahakan dipahami lagi.
.
.
.
"Seperti perasaan jika belum paham maka pahami lah karena akan membawa kebahagian."
.
.
.
.