Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Aku takut, mas


Hari terus berlanjut kehamilan Cira sudah memasuki usia 38 minggu. Dan sejak saat itu Rey pun sudah tidak bekerja di kantor nya melainkan bekerja dari rumah.


Karena pekerjaan nya sudah digantikan oleh Papa Chan yang sudah kembali bekerja setelah 2 Minggu mendapatkan kabar dari Chan.


Seperti biasa setiap pagi Rey akan mengajak Cira untuk jalan-jalan di depan komplek rumah mereka. Dan sorenya akan ada senam ibu hamil yang sejak memasuki trimester kedua diikutinya.


Sedangkan malamnya Rey akan menemani istrinya atau memijatkan pinggang dan kaki istrinya. Yang sudah tidak bisa bergerak secara bebas. Namun dengan itu membuat Rey senang bisa merawat dan membantu istrinya yang sedang mengandung buah hatinya.


"Mas, boleh minta tolong ambilkan minyaknya dimeja?" tanya Cira.


Memang sudah biasa hal seperti itu terjadi. Rey bekerja di kamarnya untuk mempermudah memantau pergerakan Cira. Apalagi akhir-akhir ini istrinya mengeluh sakit perut.


"Biar mas yang mengoleskan nya" ucap Rey membuat Cira mengangguk. Karena perut yang membesar membuat banyak stretch Mark muncul.


Dengan telaten Rey mengoleskannya ke perut Cira "Jelek ya. Perut aku udah tidak seindah dulu" ucap Cira merasa minder.


Mendengar itu membuat Rey yang tadi fokus menjadi menatap Cira dengan tatapan sulit diartikan. "Jangan bicara seperti itu. Kamu tetap cantik dan perut ini juga masih indah.Dan kamu seperti ini juga karena mengandung anak kita. Terima kasih ya. Sudah mau mengandung anak ku" ucap Rey yang mencium bibir Cira dengan lembut.


"Kamu jangan pernah minder ya. Apapun dan bagaimanapun kamu tetap cantik, manis, imut dan indah di mataku. Apalagi kamu semakin se*xy dan enak" bisik Rey diakhir ucapannya membuat Cira malu.


"Udah lah, aku mau pakai baju" ucap Cira membuat Rey tersenyum karena melihat istrinya yang malu.


"Mau pakai bra?" tanya Rey membuat Cira menggeleng kan kepalanya. Dengan telaten Rey memakai kan baju.


Semenjak usia kehamilan 30 Minggu Rey sudah tidak pernah meminta berhubungan suami istri karena ia takut anak kenapa-kenapa dan menurut penjelasan dokter bahwa usia kehamilan tersebut rentan akibat posisi kepala bayi sudah dibawah.


Walau kata orang dengan melakukan itu bisa memudahkan jalan lahir. Tapi bagi Rey itu terlalu berbahaya mengingat ketika sudah di bawah ***** mereka tidak akan ingat untuk pelan-pelan melakukan nya.


Sehingga untuk mengantisipasi nya lebih baik Rey yang menahannya. "Mas, boleh minta bantalnya nggak?" ucap Cira ketika mereka hendak tidur.


"Boleh, sayang" ucap Rey memberikan bantalnya dan mengatur kan posisi tidur Cira agar nyaman dan tidak sesak.


Rey tidur dengan berbantal kan bantal yang menyangga perut Cira sehingga dia dengan leluasa memeluk Cira dan anaknya. Begitupun Cira juga masih bisa memeluknya.


Posisi tidur yang seperti ini membuat mereka semua senang. Karena dapat menyalurkan kasih sayang mereka.


Hari pun semakin malam dan perut Cira terasa sakit membuatnya meringis. "Huh" ucap Cira menahan sakit akibat pergerakan yang dilakukan anaknya.


Mendengar itu membuat Rey membuka matanya dan mengusap lembut perut Cira "Anak Daddy, bobok ya. Kasian Mommy nya kesakitan jangan ditendang terus ya" ucap Rey dengan mengusap dan menciumi perut Cira.


Setelah mendengar hal tersebut membuat perut Cira mendingan. Namun, entah mengapa Cira tidak bisa tidur. "Tidak bisa tidur lagi?" tanya Rey membuat Cira mengangguk.


"Kamu mau apa?" tanya Rey bangkit dari tidurnya dan terduduk.


"Aku takut, mas" ucap Cira pelan membuat Rey mengangkat tubuh Cira untuk duduk bersender di sandaran ranjang. Dengan sudah dilapisi bantal.


"Takut kenapa?" tanya Rey duduk disamping Cira dengan menyandarkan kepala Cira dipundaknya.


"Aku takut tidak bisa melahirkan anak kita, mas. Lalu bagaimana nanti aku membesarkan mereka" ucap Cira dengan menangis.


Mendengar itu membuat Rey memeluk sang istri yang cemas "Kamu pasti bisa dan kuat sayang." ucap Rey dengan meyakinkan Cira.


Namun, itu justru membuat Cira menangis lebih keras "Sayang jangan nangis. Semuanya pasti akan baik-baik. Kamu kan Mommy yang hebat" ucap Rey membuat tangis Cira sedikit mengurang.


"Mas, nanti ketika melahirkan ada masalah, kamu pilih selamatkan anak-anak ya?" ucap Cira membuat Rey memeluk erat Cira dan mencium pelipisnya.


"Kamu dengarkan sayang. Mommy kamu lagi gelisah. Kamu hibur dia ya?" ucap Rey pada anak diperut Cira. Membuat Cira sedikit tersenyum. "Bilangin sama mommy kalau semuanya akan baik-baik saja" ucapnya lagi dengan mencium perut Cira kemudian seluruh wajah Cira.


...****...


Pagi ini Rey bersama Cira sedang melakukan aktivitas jalan santai di jalanan perumahan mereka. Dengan setia Rey menuntun Cira.


Para tetangga yang melihat mereka menyapanya. Bahkan ada yang sampai ikut lari santai.


Para tetangga mereka semuanya baik-baik bahkan mereka saling membantu ketika ada yang kesusahan. Walau yang menghuni perumahan ini adalah orang kelas atas namun kebersamaan antar tetangga masih terjalin dengan baik.


"Auh. Mas" desah Cira ketika merasakan perutnya terasa sakit.


Mendengar itu membuat Rey panik dan mengusap perut Cira. "Apa masih sakit?" tanya Rey membuat Cira menggeleng kan kepalanya.


Mereka belum membeli perlengkapan bayi. Karena sudah ada Mama Cira yang selalu excited membeli perlengkapan bayinya Cira. Namun karena belum diketahui jenis kelaminnya. Jadi mereka membelinya yang netral saja.


"Mas?" panggil Cira ketika suaminya itu tidak ada setelah mengantar air hangat untuknya.


"Mas disini, sayang?" ucapnya yang datang dari arah kamarnya.


"Mas, mau mandi" ucap Cira berjalan mendekati Rey.


"Ayok, kita mandi bersama, habis itu baru kita beli perlengkapan bayi nya" ucap Rey.


Mereka mandi bersama. Lebih tepatnya Rey yang membantu Cira mandi akibat kesusahan mandi untuk menggapai kakinya ataupun tubuh lainnya.


"Mas, nanti kita mampir ke toko dulu, ya" ucap Cira membuat Rey mengangguk. Rey dengan telaten menyabuni tubuh Cira.


Mereka akhirnya selesai mandi dan Rey juga sudah membantu Cira memakaikan pakaian nya. "Mau pakai kursi roda?" tanya Rey kepada Cira yang dibalas anggukan.


"Mas, tadi di celanaku kok bisa ada flek ya?" ucap Cira membuat Rey memandangnya.


"Setelah dari belanja, kita ke dokter, ya. Kan sekarang jadwalnya" ucap Rey dengan mengambil kursi roda disamping pintu kamar.


"Terima kasih suami ganteng ku" ucap Cira membuat Rey gemas dan mengusap rambutnya.


Tiba-tiba saja ada seseorang dari arah dapur datang membawa jus buah "Kalian mau kemana?" tanya orang itu membuat mereka tegang.


"Oma?" ucap mereka bersamaan. Ya, orang itu Oma yang baru datang dari Amerika. Karena sejak sudah lama Oma tidak pulang ke Indonesia.


Karena urusannya mengurus salah satu cucunya yang sedang mengalami badai kehidupan dan mereka baru bertemu setelah beberapa tahun berlalu.


"Kapan Oma datang?" tanya Rey menyalami Oma begitupun dengan Cira.


"Baru saja. Kata mbak Ijah kalian sedang mandi" ucap Oma. Kemudian menunduk menatap Cira.


"Sudah berapa Minggu?" tanya Oma. Dengan mengelus perut Cira.


"38 minggu, Oma." ucap Cira tersenyum.


"Kalian mau kemana?. Tidak baik dengan keadaan hamil tua begini berpergian jauh" nasehat Oma membuat mereka berdua mengangguk.


"Kita mau beli perlengkapan bayi. Setelah itu ke Dokter. Karena kata dokter menjelang kelahiran harus sering di periksa" ucap Rey membuat Oma mengangguk.


"Yaudah hati-hati dijalan" ucap Oma


Mereka akhirnya pamit untuk ke mall. Cira ke mall dengan memakai kursi roda. Seperti biasa mereka akan menjadi perhatian banyak orang. Apalagi Cira dengan perut besarnya.


"Mas, yang ini lucu. Beli yang ini aja" ucap Cira dengan memegang sepatu bayi yang terbuat dari bahan woll. Rey hanya mengangguk kan kepala.


"Mas, Kita belinya 2 set pakaian aja. Karena dirumah sudah banyak pemberian mama" ucap Cira dan Rey kembali mengangguk karena dengan melihat istrinya senang itu sudah cukup bagi Rey.


"Boleh aja. Mau apalagi?" tanya Rey dengan mendorong kursi roda Cira ke perlengkapan bayi lainnya.


"Aku mau beli itu boleh nggak, mas?" ucap Cira dengan menunjuk baju kembaran 1 keluarga.


"Boleh, itu sangat bagus. Tapi kita kan belum tau jenis kelamin anak-anak, sayang?" ucap Rey membuat Cira menghembuskan nafas.


.


.


.


.


.


.