Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Ih, jorok


"Pengantin baru, datang" ucap Chan ketika menyadari kedatangan Rey dan Cira.


Mereka hanya bisa nyengir dan duduk di samping Oma. "Lho, belum pulang, juga?" tanya Rey.


"Owh, kak Chan menginap disini, juga?" ucap Cira yang sedang menyendokan nasi goreng untuk Rey dan dirinya.


"Gimana, permasalah disana, Rey" tanya Oma dengan memasukan makan ke mulutnya.


"Beres, Oma." ucap Rey dengan mengangkat ibu jarinya. Membuat Oma mengangguk.


Mereka makan dengan sangat khidmat walau terkadang di isi dengan keromantisan pengantin baru.


"Kamu nggak ke kantor, Rey?" tanya Oma yang melihat Cucunya tidak berpakaian formal.


"Capek, Oma. Mau bermanja-manja dulu sama istri" ucap Rey dengan merangkul Cira. Membuat Cira malu.


"Oma,,,,Chan juga libur, ya?" rengek Chan membuat Oma mendengus.


"Kalau mau libur kawin, dong. Tapi jangan kawinnya sama tunangan kamu. Pokoknya Oma tidak setuju dengan tunangan kamu itu" ucap Oma kesal.


"Memangnya kenapa Oma tidak suka dengan tunangan, kak Chan" tanya Cira yang kepo.


"Dia itu siluman berbulu angsa" ucap Oma marah. "Oma pernah beberapa kali lihat dia ke hotel dengan berbagai cowok. Dan Oma juga sudah kasih tau Chantong ini. Malah nggak percaya!. Kesal, Oma. Mau bukti apalagi coba. Buat menyadarkan Chantong ini" ucap Oma menggebu-gebu.


Chan yang mendengarnya tidak perduli. Dan kembali memakan puding yang disediakan. Sementara Rey sudah ngacir ke kamar mandi akibat mualnya.


"Oma, dia itu tidak begitu" bela Chan membuat Oma berdecih.


"Sampai kapan kamu buta dengan sekitar. Kamu itu sudah Oma anggap cucu. Jadi sudah seharusnya Oma memberitahu yang terbaik untuk kamu" ucap Oma. "Kalau gitu kamu nikah aja sama Gea. Kan sekalian tuh, dapat sepaket" ucap Oma membuat Cira dan Chan terkejut hingga tersedak puding.


"Gea, hamil, Oma?" tanya Cira tidak percaya. Dan Chan yang sudah tau hanya acuh saja.


"Iya, kayaknya lebih dulu, dari kamu" ucap Oma. Membuat Cira berpikir.


"Berarti waktu itu hasilnya positif, dong. Soalnya Cira pernah menyuruh dia buat test pack" ucap Cira membuat Oma menggangguk. "Terus, yang ngehamilinya siapa, Oma?" tanya Cira.


"Entahlah, tidak diketahui." ucap Oma.


"Kasihan sekali. Sudah disiksa sama orang tua. Eh,, sekarang malah hamil. Apalagi hamil muda tidak didampingi sosok suami akan lebih menyiksa" ucap Cira dengan wajah sedihnya.


"Sudah takdirnya" ucap Chan menimpali membuat Oma menoyor kepalanya.


"Takdir apa nya. Laki-laki kurang asem kayak dia itu seharusnya di gantung burung perkutut nya supaya tidak berkicau lagi" ucap Oma seolah mere*mas burung perkutut itu.


"Terus sekarang dia ada dimana, Oma" ucap Cira yang sudah menumpahkan air mata. Membuat Chan dan Oma melihatnya sedikit kelimpungan.


"Lho, kok malah nangis" ucap Chan.


"Kamu jangan nangis, kasian dedek bayinya. Gea baik-baik saja. Kan sudah ditangani oleh Papa Aditama. Jadi dia sudah aman sekarang" ucap Oma menenangkan Cira.


Rey yang baru selesai muntah, dan melihat istrinya menangis pun menghampiri nya dengan berlari. "Kamu kenapa?" tanya Rey dengan duduk disamping Cira.


Membuat Cira dengan segera memeluk tubuh Rey "Mas, kasihan Gea. Kita harus nolongin dia" ucap Cira membuat Rey memandang Oma dan Chan mencari jawaban.


"Itu, Masalah Gea" ucap Oma.


"Owh,, udah jangan nangis. Kan udah ada papa" ucap Rey membuat Cira sedikit tenang.


"Alah, pakai nangis segala. Salah dia juga ngapain mau di ajak enak-enak" ucap Chan santai membuat Cira melemparnya dengan tisu bekasnya. "Ih,, jorok, Cira" ucap Chan membuat Cira kembali melempar tisu bekas ingusnya. Membuat Rey dan Oma melihatnya tertawa.


"Udah jangan nangis lagi" ucap Rey menghentikan aksi lempar melempar ingus. Eh, tisu bekas ingus, maksudnya.


"Dasar jorok" ucap Chan lagi ketika Cira dan Rey beranjak.


Membuat Cira ingin melempari nya lagi. Namun, ditahan oleh Rey. "Udah jangan diladeni. Mendingan kita main kuda-kudaan" ucap Rey membuatnya dilempari tisu oleh Oma dan Chan.


Mendengar itu membuat Cira bingung harus menjawab apa. "Mungkin aku lagi mau menstruasi, mas" ucap Cira membuat Rey menelisik matanya.


Akan aku pancing kamu, sayang batin Rey dengan tersenyum jahil.


Aduh, gimana nih, semoga Rey percaya batin Cira takut dan gelisah.


"Owh,, berarti aku boleh dong sekarang?" ucap Rey yang membuat Cira membelakkan matanya.


Tuh,kan. Pasti nagih main kuda-kudaan. Ini gara-gara Oma minta disembunyikan. Kan jadi berdosa dan salah batin Cira.


"Mas, jangan sekarang, ya. Aku lagi nggak mood" ucap Cira membuat Rey tersenyum.


"Yaudah, kalau gitu, mas ke kantor aja" ucap Rey yang hendak bangkit namun segera dicegah oleh Cira.


"Aku ikut!!" ucap Cira membuat Rey menggeleng kemudian berbaring lagi dengan memeluk Cira.


"Mas, kenapa nggak Oma jodohkan saja Kak Chan dengan Gea" ucap Cira mendongak menatap Rey.


"Yah, kamu pikir aja. Masa iya. Dia mau nikah dengan adiknya sendiri. Chan itu menganggap Gea itu adiknya. Nggak lebih" ucap Rey membuat Cira cemberut.


"Mas, ini kenapa ada kumisnya, sih. Geli tahu." ucap Cira yang mengelus wajah Rey.


"Lah, kenapa baru nyadar. Kan tadi malam dicium nggak kerasa?" tanya Rey membuat Cira mencebikkan bibirnya.


"Emangnya, Mas ada cium aku. Kan mas baru tadi malam datangnya" ucap Cira membuat Rey mencium Cira dan menempelkan dan menggosokkan kumis tipisnya ke wajah Cira. Membuat Cira geli.


"Mas, tau nggak?" tanya Cira membuat Rey menghentikan aksi nya. Dan membuat Rey menggeleng.


"Aku pengen deh, lihat mas. Kalau ke kantor pakai pakaian pemain baseball tapi yang pakai penutup wajah itu, lho, mas." ucap Cira menggebu membuat Rey tertegun mendengar ucapan istrinya.


"Kamu, mau aku pakai itu?" tanya Rey memastikan membuat Rey menghela nafas.


"Iya. Dan ayo, kita beli bajunya sekarang, mas!!" ajak Cira semangat yang sudah bangkit dari ranjang dengan menarik-narik tangan Rey.


Nak, Daddy tau kamu, marah karena Daddy tidak berbohong. Tapi kenapa kau hukum Daddy dengan ngidam yang sangat memalukan batin Rey menangis megerutui calon anaknya.


"Iya, tapi pelan-pelan, yang" ucap Rey membuat Cira tersentak kaget.


Pelan-pelan? dia tau aku hamil? batin Cira bertanya.


Melihat Cira terbengong membuat Rey mencium bibirnya sekilas. "Nggak jadi?" tanya Rey membuat Cira menggeleng dan mereka berganti pakaian.


Mereka memilih untuk pergi ke pusat pembelanjaan. Cira dari tadi di dalam mobil tak berhenti mengoceh tentang kegiatannya selama Rey di luar kota.


Hingga mereka sampai pada tempat yang dituju. Cira dan Rey segera turun setelah memarkirkan mobilnya.


Mereka bergandengan tangan memasuki mall tersebut membuat orang-orang memandangnya. "Mas, kenapa sih. Setiap kita ke mall. Pasti di tatap sama orang-orang. Pakaian aku jelek, ya?. Ada yang kotor, ya?" tanya Cira dengan membenamkan wajahnya di lengan Rey.


Melihat tingkah gemas istrinya membuat Rey mencium pucuk kepala nya "Itu karena kamu sangat cantik" ucap Rey membuat Cira mencubit lengannya.


"Aw, sakit, yang." ucap Rey membuat semua orang menatapnya berbinar kagum.


Mereka masuk kedalam toko yang menyediakan perlengkapan olahraga. Dan dari mata Cira sudah terlihat berbinar terang menatap berbagai perlengkapan olahraga.


"Mas, aku mau beli perlengkapan tinju. Nanti kalau mas, berbuat macam-macam aku bisa langsung gebukin pakai sarung tinju" ucap Cira membuat Rey melongo dan pegawai disana tertawa.


"Kamu nggak sekalian beli tongkat baseball nya?" tanya Rey karena ia sudah memilih pakai olahraga baseball berserta penutup wajahnya.


"Boleh, mas. Biar nanti kalau ada maling bisa langsung. Puyeng" ucap Cira membuat Rey menggeleng kan kepalanya. Para pegawai hanya tersenyum melihat tingkah Cira.


Bukan cuma puyeng, tapi bakalan pergi ke surga kalau kamu pentong dia pakai tongkat baseball batin Rey.