
Matahari sudah berada tepat di kepala. Dengan cepat Cira keluar dari mobil dan memasuki perkantoran milik Rey. Cira disambut oleh resepsionis dengan senyuman manis. Karena mereka tau siapa Cira. Yang notabennya adalah mantan sekretaris Rey dan anak dari sahabat Bos mereka. Aditama.
Pernikahan Cira dan Rey belum di publikasikan karena keduanya ingin menjalani masa pacaran tanpa di ganggu oleh media.
Cira memasuki ruang Rey dengan membawa kue berserta makanan untuk makan siang.
"Sayang!!"ucap Cira tanpa mengetuk pintu ruangan Rey.
Cira terpaku di depan pintu akibat tidak mengetahui bahwa ada tamu didalam ruang itu.
Mereka yang mendengar ucapan Cira melongo akibat Rey terkenal dingin dan cuek terhadap yang namanya perempuan kecuali keluarganya.
"Maaf mengganggu, permisi"ucap Cira merasa malu dengan tersenyum kikuk. Lalu melangkah keruangan Chan.
Malu banget batin Cira.
Di ruang Rey terlihat biasa aja. Malahan tamunya yang pikiran kemana-mana. "Besok kita lanjutkan" ucap Rey membuat tamunya mengangguk setuju.
"Pak, boleh saya bertanya?" ucap tamu tersebut akibat sudah tidak bisa menahan ke kepoannya.
"Dia istri saya" ucap Rey singkat membuat tamu tersebut bagai di tertembak pistol. Karena yang banyak orang tau bahwa Rey adalah duda dan belum menikah.
"Sejak kapan, pak?" tanya nya lagi membuat Rey geram dan menatapnya tajam. Membuat tamu tersebut takut. "Baik, pak. Selamat atas pernikahan nya" ucap tamu tersebut yang diangguki oleh Rey dan melenggang pergi.
Akhirnya pergi juga. Banyak pertanyaan. Gue udah kangen tau sama istriku batin Rey kemudian menyusul Cira keruangan Chan.
Rey mendengar Cira tertawa akibat perkataan Chan yang sedang membicarakan tunangannya yang ingin segera di nikahkan.
"Wajar lah cewek pengen segera nikah. Apalagi kamu udah kawini dia duluan"ucap Cira tertawa melihat kelakuan kesal Chan yang lucu dengan wajah bebeknya.
"Iya, apalagi kalau udah legal. Rasanya beda bro"ucap Rey masuk ke ruangan tersebut.
Mereka memandang Rey terkejut. "Itu sih kamu, mas!"ucap Cira kesal.
Cup...
"Adeh,,pengantin baru. panas!."ucap Chan seraya dengan mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Yuk, yang. Keruangan ku aja, disini sumpek"ucap Rey memeluk pinggang Cira dari belakang.
"Idih, es batu tersiram air panas"ucap Chan merasa panas dan keluar dari ruangannya.
Cira dan Rey segera keluar dari ruang Chan dan masuk kedalam kamar yang ada di ruangannya.
"Ngapain kita kesini, yang?. Aku udah bawa kue dan makan siangnya"ucap Cira yang justru dihiraukan oleh Rey yang kini sudah duduk di atas ranjang dengan melonggarkan dasi kerjanya.
"Aku lapar yang lain, yang" ucap Rey seraya memeluk tubuh Cira dan membenamkan wajahnya di dada Cira.
Cira yang masih berdiri. Pun meletakan makanan yang dibawanya ke nakas dekat ranjang. "Maksudnya?" ucap Cira seraya membelai rambut halus dan lembut milik Rey.
"Aku mau ini"ucapnya seraya mere*mas dada Cira. Membuat Cira terkejut.
"Mas!!"ucap Cira membuat Rey hanya terkikik.
"Yang, sudah bersihkan?" ucap Rey memandang Cira.
"Kayanya sih udah, mas." ucap Cira sedikit ragu. Namun Rey justru semangat.
"Kalau gitu, ayo.!"ajak Rey seraya membuka kancing baju Cira. Namun segera di cegah oleh Cira.
"Ini di kantor, mas. Nanti ketahuan sama karyawan kamu gimana?" ucap Cira takut digrebek.
"Tidak akan, yang. Lagian kan ini suasana baru, yang. Nanti aku kasih tau Chan untuk mengundur meeting nanti dan kamu lupa kalau ruangan ku kedap suara dan memiliki pengaman yang modern."ucap Rey membuat Cira mengangguk. Karena itu tugas menjadi seorang istri yang siap sedia memenuhi keinginan suami.
Melihat Cira mengangguk membuat Rey mencium lembut bibir Cira. Dan melu*mat dengan penuh sayang. Rey merebahkan tubuhnya sehingga Cira berada diatasnya.
"Mas!!"ucap Cira disela ciiumannya akibat kekurangan oksigen. Sehingga Rey harus melepaskannya.
Cira menghirup oksigen dengan terengah-engah. Melihat hal itu membuat Rey mencium kening Cira lama.
"Mas mendingan kita makan dulu, ya?" tawar Cira membuat Rey kembali mencium bibir Cira dan memutarkan posisi mereka.
Ciuman Rey turun ke leher dan tangannya membuka baju Cira. Sehingga terlihat lah, dua gundukan yang sudah mengeras. Dan dengan lahap Rey mengisapnya. Namun, beberapa menit perutnya berbunyi.
Bunyi perut Rey yang lapar membuat Cira dan Rey diam sesaat kemudian Cira tertawa. Dan Rey menenggelamkan wajahnya di dada Cira.
Perut kamu lebih besar daripada hasratmu batin Cira tertawa.
Ini perut nggak bisa diajak kompromi batin Rey malu.
"Kan, aku udah bilang. Makan dulu."ucap Cira mengusap punggung Rey. Cira tau Rey sudah sangat terangsang namun apa boleh buat perutnya terlalu jujur.
"Lanjutin aja, yang" cegah Rey. Namun perutnya kembali berbunyi.
"Yakin?. Pilih cacing atau baby gold mu itu?" ucap Cira membuat Rey menghela nafas.
"Cacing. Tapi nanti baby gold nya makannya nambah ya?" ucap Rey membuat Cira mengangguk.
Kemudian Rey bangkit dari tubuh Cira dan merapikan baju Cira yang terbuka akibat ulahnya.
Mereka sudah di sofa ruangan Rey. Dengan Cira sudah membuka makanannya. "Suapi, yang." ucap Rey manja.
Sabar Cira. Tugas istri batin Cira.
"Akk"ucap Cira menyuapi Rey yang sudah membuka mulutnya.
"Enak"ucap Rey yang sedang mengunyah makannya. "Kamu makan juga dong, yang"ucap Rey ketika hanya dirinya saja yang makan.
"Aku udah makan tadi bersama Wati" ucap Cira sembari kembali menyuapi Rey.
"Gimana?. Dapat tokonya?" ucap Rey. Sembari mencomot daging ayam.
"Ada, tapi kemahalan, mas"ucap Cira.
"Beli aja. Kalau kamu suka. Kan aku udah kasih uangnya" ucap Rey. Kembali mencomot daging ayam. "Itu ada jahenya, yang"ucap Rey ketika melihat Cira salah menyendokan daging.
"Eh. Tapi itu kemahalan, mas" ucap Cira menyuapi Rey lagi.
"Tidak masalah, yang. Lagian uang ku banyak. Tidak akan habis hanya untuk membeli 1 toko. Bahkan 1 pulau bisa aku belikan untuk mu"ucap Rey membuat Cira mendengus.
Sombong batin Cira.
"Iya, tau." ucap Cira. Membuat Rey mengecup bibirnya.
"Ish,, mas. Bau!" ucap Cira ketika mendapatkan Ciuman dari Rey. Yang hanya tertawa.
Cira terus menyuapi Rey sampai makanan yang di bawanya habis. Mereka makan dengan canda tawa dan berdebat.
"Kenyang"ucap Rey mengelus perutnya. Dan kembali bersendawa. Lalu menyikat giginya supaya tidak bau.
Cira membersihkan sisa makanan mereka. Kemudian duduk di sofa. Rey kembali ke kursi kerja dan mengecek berkas-berkas.
Rey lupa akan kegiatan yang tadi. Dan kembali bekerja. Dan itu membuat Cira lega. Mungkin akibat kekenyangan membuatnya lupa.
Tok...tok...tok....
Suara pintu di ketok, membuat Rey dan Cira memandang ke arah pintu. "Masuk" ucap Rey.
Dan terpampang lah makhluk hidup dengan senyum yang lebar yang menampilkan deretan gigi.
"Maaf, ganggu. Ini berkas buat meeting nanti jam setengah 2" ucap Chan yang menyerahkan berkas ke arah Rey.
"Kue nya udah dimakan, Chan?" ucap Cira. Menghampiri Chan dan Rey di meja kerja.
"Udah, Ra. Kue nya enak banget beli dimana?. Nanti mau bawa pulang buat Mommy" ucap Chan semangat dengan mata berbinar.
Cira hanya terkikik mendengarnya "Itu buatan ku, Chan. Yah, walau masih pemula, sih." ucap Cira membuat Chan melongo tak percaya.
"Rey. Ini beneran kan?" tanya Chan memastikannya dan Rey mengangguk kan kepala.
"Ayo. Udah jam nya ini." ajak Rey pada Chan supaya perbincangan mereka selesai karena Rey kesal melihat interaksi mereka yang terlihat akrab.
"Kamu jangan kemana-mana, ya. Aku tidak lama" ucap Rey pamit dan mencium seluruh wajah Cira membuat Chan yang melihatnya berpura-pura menutup matanya.
"Aku tunggu. Semangat." ucap Cira memberikan semangat dengan wajah yang lucu.