
Dari dalam rumah, tepat di balik jendela Farida dan Ibu Suci tersenyum dan menggelengkan kepala saat melihat tingkah anak mereka. Samar samar suara tertawa keduanya terdengar ditelinga mereka. Farida nampak sangat bahagia melihat Fery tertawa lepas tidak seperti biasanya.
"Saya sangat berharap Suci jadi menantu saya," ucap Farida. Sudah lama sekali ia ingin melihat Fery menikah, selama ini Fery terlalu sibuk dengan masalah di kantor, yang tidak kunjung usai.
"Masalahnya mereka gak mau dijodohkan ya Mbak," jawab Ibu Suci yang juga diam-diam menginginkan Fery untuk menjadi menantunya.
"Gimana caranya supaya keinginan kita ini menjadi nyata ya?" Farida nampak berpikir, sepertinya saat ini ia harus bertindak.
"Gak mungkin jadi kenyataan Mbak. mereka'kan gak saling cinta," jawab ibu Suci.
"Cinta bisa datang karena terbiasa, kalau sudah menikah, cinta akan datang dengan sendirinya," Farida masih saja ngeyel dengan keinginannya ini "ah saya tau!" semangat Farida.
"Tau apa?" Ibu Suci heran melihat Farida yang berjingkrak kegirangan, lalu Farida berbisik ditelinga Ibu Suci.
"Saya gak berani," ucap Ibu Suci, dahinya mengkerut saat mendengar rencana yang disusun Farida, yang menututnya tidak masuk akal.
"Tenang saja! serahkan sama saya, yang penting Ibu setuju'kan kalau Fery menikahi Suci?"
"Saya sih gak masalah tapi---
""Ssttt ini rahasia kita berdua saja ya, yang penting mereka menikah. Ibu Suci mau punya cucu'gak? "
"Ya sudah pasti mau dong Mbak,"
"Bagus, serahkan saja sama saya, nanti biar saya yang atur rencana." ucapnya bahagia.
*****
"Hahah Kak udah, berhenti..." teriak Suci lagi.
Fery memutar kran air dan menjauhkannya dari jangkauan Suci. Saat ini keduanya sudah basah kuyup. Kaos putih yang dipakai Fery melekat dan membentuk sempurna tubuh tegapnya. Membuat Suci semakin terpesona dan salah tingkah, cepat-cepat ia berlalu melewati Fery, tapi tidak sengaja suci menginjak sabun dan membuatnya hampir terjatuh, dengan sigap Fery menarik pinggang ramping Suci, dan membuat jarak keduanya semakin dekat.
Jantung suci berdetak sangat kencang, tetesan air yang jatuh dari rambut Fery, semakin membasahi wajah Suci. Suci mendongak sementara Fery sedikit menunduk. Sudah tidak ada jarak diantara mereka, wajah suci yang polos dan putih bersih terekam jelas di mata Fery.
"Hati-hati..." ucap Fery dan menarik tangannya saat sudah memastikan Suci berdiri tegak.
"Iya Kak, terima kasih," ucapnya tersenyum sampai ginsul manisnya terlihat.
"Hm..." Fery memutar tubuhnya, ia membuka pintu mobil sengaja menghindari Suci.
Tanpa bicara lagi, Suci melanjutkan langkahnya.
"Jangan lagi pergi dengan sembarangan orang, apa lagi laki-laki," ucapan Fery menghentikan langkah Suci, yang sudah kembali melihatnya.
Suci tersenyum"Kakak cemburu?" tanya Suci percaya diri.
"Mimpi...! kamu lupa pesan Ibumu? kamu dan Anggun menjadi tanggung jawabku, sekarang sudah ada Ariel yang menjaga Anggun, dan saat ini tugasku hanya menjagamu, jadi jangan buat masalah," ucapnya.
Dengan kesal Suci menghentakan kaki menuju rumah Ariel "kak Fery kepala batu," gumamnya.
*****
"Perasaan di luar gak hujan, kenapa kamu basah kuyup gitu?" tanya Airin yang saat itu sedang menyiapkan beberapa cemilan untuk para tamu.
"Oh ini, diluar cuacanya panas Mbak, jadi aku nyiram badan aja biar seger," jawab Suci bohong.
Airin mengangguk"kamu bawa baju gak? kalau gak bawa, pakai baju aku aja," ucanya.
"Ada kok Mbak, rencananya juga malam ini mau nginap disini, jadi aku sengaja bawa baju ganti,"
"Ya sudah sana ganti, nanti masuk angin loh," ucap Airin dan kembali ke ruang tamu.
"Mbak Airin, udah cantik, baik, dewasa, ramah, sudah pasti banyak yang suka sama dia. Apa aku harus berubah seperti Mbak Airin ya, supaya Kak Fery suka sama aku?" gumam Suci yang sudah semakin menggigil.
*****
Hari itu rumah Ariel kedatangan banyak tamu, Widia, Farida dan Ibu Suci yang menyiapkan semua keperluan untuk acara syukuran Aarick.
Ratusan anak-anak panti asuhan juga ikut hadir disana, mereka sangat antusias dan bahagia saat Ariel menyantuni mereka. Acara demi acara terus berlangsung, untung saja saat ini Aarick tidak rewel sehingga acara bisa berjalan sesuai rencana.
Menjelang petang acarapun selesai, para tamu juga sudah meninggalkan rumah itu. Saat ini keluarga berkumpul di ruang keluarga. Aarick tidur lelap dibuayan Erlangga, yang sedari tadi terus saja mencium pipi cucu pertamanya.
"Cucu Kakek memang tampan, mirip sekali dengan Ariel kecil, jangan cepat dewasa ya, Kakek belum puas gendongnya," atas permintaan Anggun, Erlangga harus rela dipanggil Kakek, meskipun ia sangat ingin dipanggil Opa.
"Harus cepat besar dong Pa, biar nanti Aarick bisa meneruskan perusahaan kita," jawab Ariel.
"Kamu ini, anak masih kecil sudah dikasih beban, biarkan Aarick berkembang sesuai umurnya," Widia mengomel dan mengambil Aarick dari gendongan suaminya.
"Ariel ngerti Ma, tapi kelak Aarick dewasa dia tetap akan tumbuh sesuai keinginan Ariel," ucap Ariel yang sepertinya sudah punya rencana untuk anaknya.
"Papa ikut Ma...!" Erlangga berdiri dari duduknya dan mengikuti istrinya.
"Apa ada yang merindukan aku?" Endi baru datang dengan menggandeng mesra tangan Alisa, hubungan mereka berjalan mulus tanpa kendala.
"Dari mana saja?acaranya sudah selesai," Yusri menggeser sedikit duduknya agar Endi duduk disampingnya. Sedangkan Alisa sudah duduk lebih dulu di samping Airin.
"Aku punya kejutan untuk kalian. Minggu depan kami akan menikah," ucap Endi.
"Menikah?" semua menjawab serentak.
"Ck, kenapa kalian terkejut?" tanya Endi.
"Alisa tentukan pilihanmu. Kau masih bisa menolaknya, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari," ucap Yusri.
"Jangan jadi profokasi ya, keputusan ini sudah tidak bisa diganggu gugat," ucap Endi.
"Aku yakin dengan pilihanku, selama ini aku salah karena telah mengabaikan cintanya," jawab Alisa malu-malu.
"Bukannya kalian akan menikah bulan depan?" tanya Ariel.
"Aku masih terikat kontrak Riel, jadi tidak bisa membatalkannya begitu saja, itu sebabnya pernikahan ini dimajukan," jawab Alisa.
"Dan kami juga tidak mengundang banyak orang, cukup keluarga inti termasuk kalian, jadi pastikan kalian menghadiri pernikahan kami ya," ucap Endi.
"Ya, baiklah. Bagaimana kalau sekarang kita rayakan kebahagiaan ini," ajak Yusri.
"Merayakan? maksudnya?" tanya Alisa.
"Aku punya permainan, gimana kalau sekarang kita cari tempat yang lebih santai," Yusri sudah berdiri dan memandang wajah-wajah yang masih kebingungan"ayolah!hanya permainan kecil,"
"Waktuku sudah habis, jadi maaf...aku harus menemani Istri dan anakku tercinta!" ucap Ariel dan pergi tanpa menghiraukan yang lain.
"Dia semakin banyak perubahan!" ucap Endi.
"Biarkan saja dia, kita saja yang merayakannya, dan tidak ada yang boleh menolaknya," Yusri terus meyakinkan.
****
Hari mulai gelap, tepat di pinggir kolam, dengan dihiasi lampu taman, Endi, Yusri dan Fery duduk di atas kursi melingkari meja yang terdapat sebuah botol kosong diatasnya. Mereka yang terpilih diharuskan menjawab pertanyaan jika menolak, maka akan mendapatkan hukuman.
"Hahaha ini sangat tidak adil, kenapa cuma kita yang bermain? dimana yang lain?" Endi tidak terima.
"Sudah cukup, tidak ada orang lain lagi," jawab Fery tanpa mengalihkan perhatian dari handphone-nya.
"Apa permainannya sudah dimulai?" tanya Alisa yang baru bergabung.
"Belum sayang, sini duduk!" menepuk kursi disampingnya.
"Airin, Suci, kalian juga duduk disini ya," ajak Alisa.
Mendengar nama Suci membuat Fery menoleh melihatnya, dan melihat Airin membuat Yusri menyesali adanya permainan ini.
*****
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca novel online yang banyak kekurangannya ini ya😌 Saya masih belajar nulis, jadi ya begitulah. Maklum ya😄ceritanya gak nyambung😄
Terima kasih sudah mendukung😍🤗
Like
komen
Rate5
Dan
Kak Muthi nna
Kak Siu Lien Lo
Kak Siti Masitoh
Kak Novi Cahyani
Terima kasih vote😍😍🤗