Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Cinta Suci Fery #Trauma psikologis#


Fery menghempaskan sendoknya, membuat Suci memperhatikannya, seketika tatapan mata keduanya saling terkunci.


Dika masih saja terlihat santai, umurnya setara dengan Suci, sifat dan sikapnya juga terlihat lebih santai, rambut sama hitam tapi niat dan hati hanya dialah yang tahu, berbeda dengan Fery yang terkadang sifatnya apa adanya, ia tetap mengatakan tidak untuk apa yang tidak disukainya meskipun itu akan menyakitkan orang lain.


"Kebetulan, aku ada urusan disekitar sini ... jadi jangan heran kalau aku bisa cepat sampai sini," Dika mengambil kentang goreng yang tersaji di atas meja,"enak ya," ucapnya.


Suci cuma tersenyum kaku, bukan wajah Dika yang menarik perhatiannya hanya saja sorot mata Fery yang sudah memerah itu yang membuat Suci menjadi salah tingkah. Tidak mungkin Fery cemburu'kan? pikirnya.


"Pekerjaanmu sudah selesai'kan?" tanya Dika tanpa memperhatikan keadaan disekitar, ia hanya terlalu fokus merekam wajah Suci yang sudah sering menolak cintanya, hanya mengatas namakan persahabatan, suci tidak tahu bagi Dika tidak ada persahabatan antara wanita dan pria dewasa.


"Hmm su-sudah," Suci menjawab pasrah.


"Kalian janjian?" Fery membuka suara, membuat Dika menyadari kehadirannya.


"Paman ...! Paman ada disini juga?" Dika memiringkan duduknya agar leluasa berhadapan dengan Fery.


"Pa-Paman?" tanya Suci tidak percaya, menurutnya Fery tidak setua itu, lihat saja wajah Fery yang terlihat seperti wajah bayi itu.


"Iya Paman, kita pernah bertemu di rumah sakit ya Paman! Paman masih mengingat aku'kan?" Dika sudah mulai sok akrab.


Fery benar-benar sudah kehilangan nafsu makan ia mengacuhkan Dika dan menggesar piring miliknya, Fery menopang dagu dengan kedua tangannya, tatapan tajam dilayangkan kepada Suci.


"Paman, aku kesini menjemput Suci. Paman tidak perlu khawatir Suci akan aman bersamaku!" ucapan Dika membuat Fery menoleh kepadanya.


"Hei anak kecil, kau bisa diam tidak?" Fery semakin kesal melihat anak muda yang tampan tapi tengil.


"Jangan panggil aku anak kecil Paman!aku Dika Paman!" Dika semakin menyolot.


"Sudahlah apa yang mau dibahas disini?" Mila bicara sebelum Fery kembali membuka suara.


"Apa kau yang menyuruhnya untuk datang dan menjemputmu?" tanya Fery kepada Suci.


Suci menganggukkan kepala, membuat Fery kesal ia menghembuskan nafasnya secara kasar dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Biarkan saja Pak Fery, lagi pula kita tidak searah dengan kantor Erlangga'kan? jadi saya pikir Pak Fery tidak perlu repot mengantarkannya!" ucap Mila mengambil kesempatan agar bisa berduaan dengan Fery.


"Aku pikir juga begitu, ide yang bagus Tante!" seru Dika, membuat Mila terdiam karena dipanggil Tante.


Fery masih diam, ia mengambil lembaran uang dari dompetnya dan meletakannya di atas meja, kemudian beranjak tanpa menghiraukan siapapun juga, hanya Mila yang tergesa menyusulnya.


"Paman itu kenapa? apa dia marah?" tanya Dika.


"Biarkan saja," terasa nyeri di hati Suci saat Fery tidak mencegahnya untuk pulang bersama Dika.


*****


"Tapi kenapa? bukannya awalnya Pak Fery mau mengantarkan aku?" tanya Mila yang heran dengan perubahan sikap Fery, padahal awalnya Fery bersikap ramah tapi saat ini Fery terlihat berbeda.


"Aku tidak punya waktu!" Fery membuka pintu mobilnya dan pergi meninggalkan Mila.


"Kita lihat saja, perlahan tapi pasti, kau yang akan mendekatiku, dan saat itu aku pastikan kau akan menjadi milikku!" Mila menyeringai licik, hingga beberapa saat kemudian, kendaraan yang dipesan Fery datang menjemputnya.


Fery menepikan mobilnya di rumah sakit yang diam-diam sering didatanginya, ia datang untuk menemui psikiater yang biasa menanganinya.


"Aku menyakitinya lagi, aku membuatnya sedih, aku yakin hatinya pasti terluka ... " Fery bicara lirih, ia duduk menyandarkan punggungnya seraya memejamkan mata.


"Kau selalu datang ke sini, untuk mengadukan ini! kapan kau akan mengubah keluhanmu itu?" tanya seorang psikiater wanita yang sudah biasa menangani Fery.


"Aku masih belum mampu melepaskan diri dari kejadian buruk di masa lampau Maya...."


"Aku sudah bilang, kalau kau mengalami trauma psikologis yang bersifat menyakitkan, dan jika tidak segera ditangani, maka dapat menimbulkan dampak negatif terhadap mentalmu," Maya melipat tangan di atas meja.


Fery membuka mata dan duduk tegak berhadapan dengan Maya yang memakai jas putih khas seorang Dokter, lebih tepat psikiater untuknya.


"Kau tahu'kan ... mamaku pernah menderita gangguan kejiwaan, mungkin aku menuruni genetiknya. Aku masih belum bisa mengendalikan perasaanku yang sering berubah diwaktu yang bersamaan, apa aku akan menjadi gila juga?" Fery tersenyum sinis.


"Aku akan tetap berusaha untuk membantumu, selagi kau rutin melakukan terapi, aku yakin kau pasti bisa keluar dari trauma psikis yang kau alami, aku tau ini tidak mudah, tapi cobalah untuk membuka hatimu untuk gadis itu," Maya memegang tangan Fery yang sudah lama menjadi sahabatnya.


"Kau yang tahu apa saja yang sudah aku lalui Maya, ketika kita masih sekolah, dia meninggalkanku tanpa pamit, bahkan sampai sekarang tidak ada kabarnya, lalu Papa dan adikku meninggal disaat yang bersamaan, mereka meninggal secara tragis


"semenjak itu Mamaku depresi, dan menjadi gila, aku harus mengurus semuanya, aku mengorbankan masa mudaku, aku masih berusaha mencari cintaku yang hilang, ketika aku sudah pasrah, Anggun datang dikehidupanku, disaat aku sudah menaruh harapan, Anggun memilih kembali kepada Ariel, dan sekarang aku harus bagaimana? aku menerima kebahagiaan mereka, tapi traumaku sudah sangat mendalam."


"Fery, kau jangan putus asa, aku yakin kau bisa mengendalikan fikiranmu, coba bukalah hatimu untuk gadis itu, bukankah kau juga menyukainya?" Maya terus merayu sembari menilai perkembangan emosi sahabat yang sudah menjadi pasiennya.


"Aku takut Maya, saat nanti aku sudah membuka hatiku, Suci akan pergi juga, maka aku akan kehilangan untuk yang kesekian kali," Fery menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, membuat bayangan Suci terlihat di balik matanya.


Maya bisa melihat dengan jelas bahu Fery yang bergetar, tanpa bicara lagi Maya menyiapkan beberapa tablet obat yang sudah biasa dikonsumsi Fery, untuk menenangkan diri.


"Sudahlah, lain kali kenalkan aku dengan gadis itu, aku ingin mengenalnya, aku yakin kau juga menyukainya," Maya memberikan obat kepada Fery.


"Kau tidak perlu mengenalnya, dia itu gadis yang banyak bicara," jawab Fery tersenyum.


"Lihatlah, kau menyukai Suci gadis yang sering kau ceritakan itu," ucap Maya sengaja mengulik isi hati Fery.


"Itu tidak akan terjadi, hatiku masih menyimpan luka," Fery menjawab sembari memperhatikan obat yang dipegangnya,"sampai kapan aku akan menelan pil pahit ini...?"


"Sampai kau bisa mengendalikan dan menyadari perasaanmu, teruslah berusaha menjadi dirimu sendiri, jangan sampai sifatmu berubah dalam waktu yang bersamaan, apa kau mengerti?" tanya Maya.


Fery hanya mengangguk pasrah, mungkinkah disaat Fery sudah berhasil dari trauma mendalam yang dialaminya, saat itu juga Fery menyadari perasaannya, tapi Cinta Suci bukan lagi untunya? Fery tersenyum sinis mengejek dirinya sendiri.