
Setelah menyebut nama Marissa, keadaan menjadi hening, Ariel menghela napas saat teringat semua ucapan Anggun beberapa saat yang lalu, Ariel tidak menyangka kalau sikap dan sifatnya yang posesif selama ini sudah membuat istrinya tertekan, namun ia sadar semua itu dilakukannya karena begitu mencintai istri dan anaknya, Ariel masih memandang punggung Anggun yang gemetar seperti menahan tangisan. Tapi yang mengganggu pikirannya, darimana Anggun tau kalau ia makan siang dengan Marissa?
"Sayang ... Maafkan aku, ya. Lihat aku," Ariel menyesal karena sempat marah dan membentak Anggun, ia mengusap punggung Anggun berusaha mendinginkan hati istrinya ini, tapi istrinya ini masih bungkam, tak hilang akal Ariel juga ikut berbaring disamping Anggun, "kamu boleh marah, kamu boleh pukul aku, kamu boleh teriak dan hancurkan rumah ini, tapi jangan diamkan aku seperti ini," Ariel semakin memeluk Anggun dengan erat.
"Marissa ... Dia mantanmu juga?"
Anggun kesal, suaranya terdengar gemetar ini tidak adil, suaminya punya banyak mantan dan itu membuatnya cemburu, sementara dirinya tidak punya mantan, mana mungkin Ariel cemburu dengannya, kasihan sekali.
Ariel tersenyum karena ia tahu kalau Anggun sedang cemburu, Ariel benar- benar bersyukur karena sudah lama sekali tidak dapat momen seperti ini, maka sekalian saja dipanasi istrinya ini, Ariel terlentang ia menatap langit-langit kamarnya, seakan mengingat masa lalu, mumpung Anggun tidak melihat senyumnya.
"Marissa ... Dia cantik, dia manja, dia sangat berambisi untuk memiliki apa yang diinginkannya, dia juga pernah buat aku tergila-gila, kamu benar Marissa itu mantanku," Ariel melirik Anggun, terbukti pancingannya berhasil saat itu juga Anggun menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya bahkan sehelai rambutnya pun tidak terlihat.
Sementara tepat dibalik selimut Anggun semakin geram, telinganya terasa panas seperti ada kepulan asap yang keluar dari sarangnya, lihatlah berani sekali suaminya ini mengenang mantan tercinta di depannya, bahkan saat menyebut nama Marissa terdengar sangat indah.
Ariel memiringkan badan, ia menumpu kepala dengan tangannya, "Anggun, lihat aku. Kamu mau tanya apa lagi, hmmmm...?" Ariel sengaja menyebut nama Anggun, tidak ada sayang seperti sebelumnya, sengaja menggoda istrinya, Ariel memegang bahu Anggun dan menarik selimut Anggun.
"Keluar!! Sana pergi ... Temui Marissamu itu!"
Anggun berteriak wajahnya memerah, ia menutupi wajahnya dengan bantal tidak sudi melihat wajah Ariel yang lagi kesemsem mantannya. Sementara Ariel berusaha menahan tawa, masih belum cukup juga, ia mengambil dan menghempaskan bantal itu hingga jatuh di lantai, membuatnya leluasa memandang wajah Anggun yang memerah.
"Aku bilang pergi...!" Anggun memukul dan menendang Ariel, wajahnya cemberut, kalau saja kuku-kuku di jarinya masih panjang, sudah pasti saat ini wajah Ariel yang tampan ini akan tergores.
"Hey dengarkan dulu ... Kenapa marah? Tadi kamu sendiri yang tanya tentang Marissa, sudah aku jawab kalau Marissa memang mantanku," jawab Ariel santai, ia rela sebagian tubuhnya dipukuli Anggun, mendadak tenaga istinya seperti samson wati, benar-benar The power of istri yang cemburu.
"Jangan sebut nama perempuan itu! Jangan bahas mantanmy! Atau kamu mau balikan sama dia? Kamu mau menduakan aku? Kamu mau selingkuh? Kamu mau ninggalin aku??! Jahat ... Ariel jahat!! huuuu." Anggun benci air mata ini, kenapa cengengnya tidak bisa hilang?
Ariel merasa bersalah sebenarnya dari dulu ia tidak bisa melihat Anggun menangis, lalu ia mendekap Anggun ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya dan menerima pukulan, cubitan di dada, lengan dan perutnya.
"Lepasin...."
"Tidak akan aku lepaskan sebelum kamu berhenti menangis."
"Siapa yang buat aku nangis huh...? Mantanmu itu'kan?" Anggun masih cemburu bahkan ia menjambak rambut Ariel, tidak perduli kalau saat ini suaminya meringis merasakan sakit, "ya dia cantik, dia baik, kamu masih tergila-gila sama dia, kalian makan siang berdua di restoran tanpa ijin dariku, bahkan kamu gak ada bahas ini dari kemarin, iya kamu mau reunian sama dia 'kan? Apa namanya? CLBK...?"
"Hahahahahah," Ariel tergelak, "kamu cemburu sama Marissa...?"
"Aku bilang jangan sebut namanya, Ariel!"
"Haha aduh-aduh iya, lepasin sayang, kamu gak perlu cemburu," Ariel menggenggam tangan Anggun sampai Anggun lebih tenang, "buang jauh pikiranmu ini, mana mungkin aku selingkuh darimu, setelah mengenalmu aku tidak tertarik dengan wanita manapun, kita pernah berpisah selama lima tahun, aku pastikan sampai sekarang cintaku masih begitu besar untukmu, ingat saat ini kamu sudah menjadi istri dan melahirkan anak untukku, aku begitu bersyukur memilikimu dan juga Aarick. Percayalah, aku ingin kita menua bersama."
"Huuuuu hiks," Anggun semakin histeris ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ariel.
"Sudah diam ya, jujur aku suka kamu cemburu, karena dengan begini aku merasa dicintai," sekilas mengecup kening Anggun.
"Tapi aku juga pengen lihat kamu cemburu samaku," sudah mulai tenang, sudah tidak menangis lagi.
"Jangan berani buat aku cemburu, aku pastikan siapapun dia akan menghilang dari kehidupanmu."
Sifat posesif yang sudah mendarah daging, kalau sudah seperti ini Anggun selalu mengalah, kini keduanya sama-sama tersenyum dan damai, sungguh ini adalah pertengkaran yang konyol, Ariel menyatukan kening mereka, mumpung anak masih tidur, ia tidak mau melepaskan istrinya.
Anggun panik, ia mendorong Ariel sampai Ariel terjatuh dari tempat tidur.
Brakkk
"Sayang, kamu masih cemburu...?"
"Maaf, Mas aku gak sengaja. Aku ke kamar Aarick sebentar, ya," lari begitu saja.
"Ck, tidak mungkin aku cemburu dengan anakku sendiri' kan?" Ariel pasrah tunggu saja kalau Aarick dewasa, ia akan mengirim anaknya ke luar negri agar ia leluasa berduaan dengan istrinya.
****
Sementara Marissa, saat ini masih berada di dalam mobil, ia sudah mendapatkan informasi tentang Yusri, sudah dua jam ia menunggu Yusri di depan apartmen miliknya. Mobil sedan warna hitam yang baru saja terparkir di tempat yang tidak jauh darinya, membuat Marissa tersenyum.
"Permainan dimulai, kau dan Ariel tidak ada bedanya, kalian sudah meninggalkan luka di hatiku, karena kalian berdua aku hampir kehilangan kakakku, kalian tidak tahu apa yang terjadi setelah malam itu, kalau saja dulu kau tidak menolakku, maka kehidupanku tidak akan hancur seperti ini, jadi kau harus membayarnya."
Marissa memakai kaca matanya, ia keluar dari mobil setelah melihat Yusri masuk ke dalam apartmen ini.
***
Ting! tong!
Yusri yang saat itu sedang menyiapkan makan malam, segera membuka pintu.
Ceklek (pintu dibuka)
"Hai...."
"Marissa...?"
Yusri hampir tidak percaya, ia terkejut dan linglung saat melihat Marissa ada di depannya.
"Dari mana kau tau tempat ini?"
Marissa tersenyum, tanpa dipersilahkan sebelumnya, Marissa melangkah dan melewati Yusri yang masih berdiri di depan pintu.
"Tempat yang cukup nyaman," semakin tidak tau malu, matanya mengekori setiap sudut ruangan.
"Marissa keluar!" Yusri memegang erat lengan Marissa sampai ia meringis.
"Yusri dengarkan aku sebentar saja," Marissa mulai memberontak, namun Yusri semakin menariknya, jarak keduanya sangat dekat.
Disaat yang bersamaan, Airin datang dan terkejut dengan kehadiran wanita lain di dalam apartmen kekasihnya.
***
Nunggu lama, ya✌