
Di tengah dingin malam yang mencekam, iya mencekam, karena suara hujan deras diluar rumah yang turun membasahi bumi membuat penduduknya semakin larut, tarik selimut dan terlelap di atas ranjang yang terbawa ke alam mimpi masing masing.
Bukan cuma hujan, bahkan suara petir juga menggelegar, berlomba dan saling menyahut untuk menyapa dan membangunkan mereka yang sudah tidur pulas di atas bantal. Kenyamanan, kedinginan yang kini melanda,
membuat mereka mencari kehangatan tidur dibawah selimutnya yang tebal.
Sama halnya seperti pasangan suami istri ini terus berusaha mencari kehangatan, di setiap sentuhan yang diberikan Ariel untuk Anggun.
Naluri Ariel yang memang muncul begitu saja
membuatnya semakin semangat, ditambah suara parau Anggun, benar benar sangat menghipnotisnya, membuatnya lupa diri.
Ariel terus saja meresapi yang ada di depan matanya, tidak lupa ia juga meninggalkan jejaknya di bongkahan berharga ini, ini untuk yang pertama kali, ia datang dan menjelajahi tempat berharga ini.
"Ariel ja jangan....
Jeder.....Suara petir menutupi suara Anggun, sehingga Ariel tidak bisa mendengar lirihan yang keluar dari mulut istrinya. Ariel masih saja melakukan hoby barunya ini. Tidak melewatkan sejengkalpun bagian darinya.
"Ariel..." Tangan Anggun yang gemetar itu mencoba menyentuh kepala Ariel yang masih melanjutkan kegiatanya, Anggun meremas dan menjambak kuat rambut Ariel.
Ariel yang merasakan sentuhan Anggun itu, menjadi semakin lupa diri, bagaimana bisa rasanya msngalahkan candunya selama ini ?
Ia terus meresapi setiap bongkahan berharga ini. Sementara hujan rintik di luar sana masih terdengar jelas.
"Ariel ja ja jangan ak aku mohon ja jangan hiks hiks hiks ! "
Petir tidak lagi menyambar, sehingga Ariel bisa mendengar dengan jelas suara Anggun yang penuh dengan permohonan itu. Ariel menghentikan aksinya, ia terkejut ketika melihat wajah istrinya yang sudah berlinang air mata, membuatnya panik.
"Anggun sayang ! kamu kenapa ? " panik Ariel saat ia sudah merengkuh wajah Anggun dengan kedua tangannya.
Anggun menggeleng pelan dengan wajahnya yang ketakutan "Aku takut hiks hiks hiks Ariel aku takut hiks hiks hiks ! "
Ariel berbaring di samping Anggun,membawa Anggun kedalam pelukannya, ia membelai lembut rambut Anggun, dan mencoba untuk menenangkan istrinya yang masih menangis.
"Sstt tenang sayang, ada aku disini! apa yang kamu takutkan ? " tanya Ariel sembari mengecup kening Anggun.
Anggun membenamkan wajahnya di dada bidang Ariel, yang masih di tutupi kaos itu, tanganya memeluk erat pinggang Ariel, dan berusaha mencari perlindungan.
" Ariel hiks hiks hiks aku tidak melakukan itu, aku tidak melakukanya ! percayalah hiks ! "
Anggun masih saja menggelengkan kepala,
Ariel tercekat, seakan akan ada benda lancip yang menancap di jantungnya, ketika ia sudah mengerti maksud dari ucapan Anggun, dan ternyata selama ini Anggun menyimpan dan mengalami trauma yang mendalam atas peristiwa lima tahun silam.
Mengingat itu, Ariel semakin mengencangkan pelukanya,dan ia terus mengecup kening istrinya, air mata Anggun melemahkannya, tanpa sadar, air matanya juga audah menetes, suaranya pun bergetar " Anggun tenanglah, aku ada di sini ! jangan takut sayang ! " seru Ariel mengusap lembut punggung Ariel.
"Ariel ! aku mohon jangan lakukan itu." pinta Anggun lagi, setelah ia sudah sedikit lebih tenang di dalam pelukan Ariel, namun Anggun juga enggan menarik tangannya, bahkan ia juga semakin menguatkan pelukannya.
" Maafkan aku sayang! apa kau takut? ma'af aku sudah membuatmu takut ! " seru Ariel, sembari berusaha menetralkan gejolaknya yang sedari tadi masih mengganjal, karena tidak disalurkan.
"Anggun , boleh aku mengatakan sesuatu? boleh aku jujur ? Anggun, mungkin setelah ini kau akan membenci aku, tapi aku akan menerimanya, asalkan kau tetap bertahan di sampingku ! "
Arile mengecup kepala Angun yang masih berada dalam pelukannya. "Aku tidak sengaja bertemu dengan laki laki itu, entah apa yang dia lakukan dulu, aku sudah menerimanya, aku tidak bisa mastikan ucapanya, sebelum kita memastikanya terlebih dulu, apapun itu Anggun aku menerimanya, maaf karena aku sudah meninggalkanmu karena masalah ini!"
Ariel diam menunggu reaksi Anggun, setelah mendengar apa yang baru saja ia katakan. Tapi sampai beberapa saat, Anggun belum juga membuka suaranya.
Ariel merenggangkan pelukannya, kemudian ia menyingkap suir rambut Anggun yang menutupi wajahnya, Ariel tersenyum ketika mendapati Anggun yang sudah tertidur di pelukannya .
"Jadi, kau tidak mendengarkan apa yang baru saja aku katakan ya? " satu kecupan mendarat di kening Anggun, ia terus menatap wajah Anggun yang teduh, dan menyeka air mata disudut mata Anggun.
Perlahan Ariel merebahkan Anggun di atas bantal empuk yang semula, wajah Anggun yang tertidur pulas menyejukan hatinya. Ariel terus memandanginya, sampai tatapan mata Ariel terkunci pada sesuatu yang sempat di jelajahinya. Rasanya sangat tidak nyaman, membuatnya tersiksa, ketika hasratnya belum juga di salurkan, tapi ia tampak berpikir.
"Cintaku lebih besar dari nafsuku . " Ariel mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, dan perlahan ia kembali mengaitkan kain penutup bongkahan Anggun dan kembali mengaitkan kancing baju tidurnya, sampai tertutup sempurna seperti semula.
Ariel menarik nafas dalam dan kemudian, ia menutupi sebagian tubuh Anggun, dengan selimut untuk menghangatkan tubuh istrinya.
Suara hujan di luar sana kembali terdengar, rasa dingin menusuk tubuh Ariel, dengan gusar ia mengusap wajahnya, namun rasa ini masih saja mengganjal di dirinya.
Dengan cepat, Ariel bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap cara ini dapat meredam nafsunya yang sempat melonjak.
Trauma di malam pertama, sungguh ironis .
Seharusnya malam pertama ini menjadi malam yang bersejarah untuknya, dimana ia bisa merengguh dan menghisap madunya, tapi ternyata ia sendiri terjebak dan berakhir di dalam kamar mandi, dan itu tidak nyaman sekali.
Beberapa saat kemudian, Ariel sudah tuntas dengan urusannya di kamar mandi, denganemakai boxer hitam dan telanjang dada, Ariel kembali merebahkan tubuhnya di samping Anggun.
Ariel masuk ke dalam selimut, dan kembali membawa Anggun kedalam pelukannya.
"Perlahan, aku akan menghilangkan trauma mu ini sayang ! dan setelah itu, aku akan mengatakan kebenaran yang sebenarnya."
Ariel kembali memeluk erat tubuh Anggun dengan posesif, dengan lembut dan perlahan ia juga menciumi seluruh wajah istrinya, ia merasa besyukur karena sudah menjadikan Anggun istrinya, perlahan Ariel ikut tidur di samping istri tercintanya. Kini keduanya sudah berada di dalam mimpi. Sementara di luar sana, rintik hujan masih terus turun dan membasahi bumi.