
Aku memilih visual untuk Ariel akoh yang posesif ituāŗ Temen-temen bisa cari yang lain ya, yang lebih sesuai dengan tingkat kehaluan mentemenš
ARIEL ERLANGGA
ANGGUN ANGGRAINI
Ini pilihan saya ya, boleh cari yang lain,karena sebenarnya saya paling tidak pandai memilih visualš
Teringat Ariel yang posesif itu.
Malam itu Yusri dan Ariel masuk ke dalam rumah dengan cara mengendap-endap, lebih tepatnya Ariel takut ketauan istrinya karena pulang dalam keadaan yang kacau. Mereka baru saja merayakan masa lajang Endi yang sudah berakhir, dengan cara meresap minuman yang mengandung alkohol itu.
Plak....
Ariel memukul kepala Yusri sampai anak itu meringis,"cepat buka pintu kamarmu, malam ini aku akan tidur di sini," Ariel berbisik sangat halus di telinga Yusri.
"Apa kau mabuk? atau kau sudah gila? aku masih waras, aku masih normal, aku tidak mau kau tidur di sini," Yusri menolak Ariel sampai Ariel mundur dua langkah membuatnya berdecih kesal dan sebal.
"Ini rumahku, lancang sekali kau menolakku," Ariel melirik anak tangga, saat samar-samar mendengar suara kaki yang turun menuju lantai dasar. Tidak mungkin ini istrinya karena setelah melahirkan Ariel melarang Anggun untuk ke luar dari kamar, Ariel menjadi semakin panik, sudah pasti ini Airin adiknya yang menyebalkan, Airin pasti akan mengadukannya kepada Anggun.
"Terserahlah, pergi kammpppppppp
Ariel membungkam mulut Yusri dengan telapak tangannya, seketika Yusri menginjak kuat kaki Ariel dan berhasil menarik diri.
"Kau gila dan ka---
"Ssstttttttt diamlah! kau dengar tidak? itu pasti suara kaki Airin," Ariel maju dan menutup mulut Yusri dengan jari telunjuknya
Yusri memasang telinga, Airin tidak boleh melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini, dengan rambut yang acak-acakan, dua kancing kemejanya tertinggal di rumah Alisa, aroma tubuhnya sangat berbeda, tidak ada wangi parfum yang biasa menyeruak dari tubuhnya, hilang sudah ketampanan yang selama ini dijaga dan dibanggakannya, jangan sampai gasis manis itu melihat penampilannya yang kacau.
"Cepat buka pintunya," Ariel berbisik dalam keadaan panik, untung saja saat ini lampu di ruangan itu sudah redup, kecil kemungkinan kalau Airin akan melihat mereka.
Tanpa membuang waktu, Yusri merogoh kunci dari saku celananya, mulai dari dua saku bagian belakang, sampai di saku depan celana jeans yang dikenakannya,"ini dia," Yusri sudah memegang kunci kecil itu dan hendak membuka pintu kamarnya.
"Cepat Yusri, Airin sudah menuju dapur, habislah kita kalau anak itu memutar arah," Ariel semakin resah dan menghentakan kakinya.
Yusri terdiam, ia merasa enggan untuk memutar kunci itu, padahal tangannya sudah memegang handle pintu, senyum kemenangan tersungging di wajahnya, kapan lagi Ariel memohon kepadanya? ini kesempatan yang bagus untuknya, Yusri kembali lagi menarik kunci dan menggenggamnya.
"Gila! kau mau cari mati ya huh?" Ariel menendang kaki Yusri, dan Yusri juga kembali membalasnya.
"Kita buat kesepakatan, aku akan membuka dan mengijinkanmu tidur di atas kasurku yang empuk tapi dengan satu syarat," Yusri berdiri di depan pitu dengan merentangkan tangan, seolah dialah pemilik rumah ini,"setuju?" Yusri mengangkat satu alisnya.
Ariel semakin kesal dan terus mengekori penampilan Yusri dari atas kepala sampai jari kakinya, seingatnya mereka minum sedikit, dan tidak sampai membuat mereka kehilangan kesadaran, tapi kenapa Yusri terlihat gila dan tidak tahu diri?
"Minggir ... berikan kunci itu!"
Yusri menggelang dan semakin mendekap kunci itu, di dalam kepalan tangannya,"tidak kali ini kau juga harus menguntungkan aku."
"Apa? kau mau apa? cepat katakan! rumah? mobil? uang? kau mau apa kenapa menggeleng terus?" siapapun coba katakan bagaimana caranya menahan emosi? Ariel semakin kesal melihat Yusri yang unjuk gigi.
"Adikmu, aku mau adikmu!" pintanya dengan penuh kemenangan, masuk jurang pun dia rela demi mendapatkan restu dari sahabat gilanya ini.
"Gila," Ariel berkacak pinggang, telinganya menjadi berdengung, ternyata benar kalau musuh yang sebenarnya itu adalah orang terdekatnya, Ariel tersenyum mengejek Yusri, berani-beraninya dia minta itu lagi.
"Bagaimana kau setuju?" tanpa ada rasa takut Yusri menunujukkan kunci itu di depan mata Ariel.
Ariel maju satu langkah,"kau belum berhasil memenuhi syarat yang aku berikan, jadi buang jauh mimpimu itu!" ucapnya menunjuk dada Yusri.
"Teman yang seperti ini enaknya diapa' kan ya?" Ariel melipat tangan di atas dada, dan berdiri tegak dengan satu kaki yang berulang kali menghentak lantai, tatapan mata ini membuat nyali Yusri sedikit luntur.
"Lihat, Airin menuju ke sini!" Yusri panik dan menunjuk arah belakang Ariel sampai Ariel memutar badannya.
"Sial! apa Airin melihat kita? cepat buka pintunya!" perintah Ariel namun ia tidak mendengar suara Yusri.
Brak....(pintu kamar tertutup)
Ariel kembali memutar badan, darahnya mendidih saat melihat Yusri hilang dari pandanganya,"berani sekali dia, ada berapa nyawa anak ini," Ariel yang kesal menendang pintu kamar Yusri.
Tok...tok...tok...
"Yusri buka pintunya," Ariel terus mengetuk pintu itu, banyak kamar di rumah ini, tapi sayangnya semua kunci ada di dalam kamar yang ditempati istrinya, masuk ke dalam kamar dan mengambil kunci sama saja mengantarkan nyawanya.
Sementara Airin yang sudah menapaki tiga anak tangga itu, berhenti di tempat saat mendengar suara ketukan pintu, dengan memegang gelas yang berisikan air minum itu, Airin memutar arah untuk mencari sumber suara,"apa itu hantu?" Airin memicingkan mata saat melihat bayangan putih diantara kegelapan, karena sudah terlanjur penasaran Airin terus mendekatinya.
"Kalau itu hantu ... tidak mungkin dia bisa mengetuk pintu. Harusnya dia bisa menembus pintu itu kan?" Airin bertanya kepada diri sendiri.
Tok...tok...tok....
Airin semakin mendekat,"kalau itu kak Yusri, tidak mungkin dia mengetuk pintu kamarnya sendiri, tidak mungkin juga itu kak Ariel kan? orang yang menyebalkan itu pasti sudah tidur," Airin terus mendekat, "maling? apa itu maling?" Airin menutup mulutnya, sementara satu tanganya memegang erat gelas yang lumayan besar itu.
Byurrrrrr
Tanpa membuang waktu, Airin menyiram kepala maling yang sudah mencuri hati Anggun itu sampai air dari gelas yang digenggamnya habis tak tersisa,"dasar kau maling ... rasakan ini! pergi kau! pergi!" Airin memukul punggung Ariel sampai Ariel memutar badan dan mencekal tangan Airin.
"Mana mungkin aku menjadi maling di rumahku sendiri!" teriak Ariel yang semakin kesal apa lagi saat ini rambutnya sudah basah.
Airin menutup mulutnya, saat mengenali suara yang terdengar mengerikan ini, habislah dia, bisa dipotong habis uang jajannya.
"Cepat hidupkan lampunya!" perintah Ariel yang sudah tertangkap basah, menghindar pun sudah tidak ada artinya, dengan kesal ia melepaskan tangan Airin.
klak( lampu menyala)
"Ka-kakak..." lirih Airin dengan menutup mulutnya dengan gelas yang tadi sempat menyentuh punggung kakaknya, ia bergetar melihat Ariel yang terlihat kesal dan menepis air dari bajunya.
"Kau gila Airin? sudah jam berapa ini? untuk apa kau keluar kamar? apa hanya untuk menyiram dan memukulku dengan gelas itu huh?" Ariel menunjuk gelas.
"Bu-bukan Kak, ak-aku cuma mau ambil minum," Airin menggeleng dan mengangkat gelas,"tapi kenapa Kakak ada di sini?"
"Bukan urusanmu, cepat kembali ke kamarmu, jangan adukan apa'pun kepada istriku!" tanpa sadar ia mengucapkan itu.
Airin merasa ada yang aneh, ia nekat mendekati Ariel dan mengendus kakaknya itu,"kakak minum ya? wah ini informasi yang bagus dan menguntungkan," Airin tersenyum jahat.
"Sudah aku bilang, kembali ke kamar dan tutup mulutmu!" Ariel panik mebayangkan mulut Airin akan membuat kehebohan di pagi hari.
"Tenang Kak, rahasia aman. Asalkan Kakak mau bekerja sama," Airin menaikan satu alisnya, membuat Ariel curiga.
"Apa? kau mau uang?"
"Tidak, uangku sudah banyak. Aku mau lebih dari itu."
"Cepat katakan kau mau apa!"
"Kak, apa Kak Yusri sudah punya kekasih? seperti apa orangnya? Kak ... apa Kakak bisa membuat Kak Yusri menjadi kekasihku?"
Ariel menghembuskan napas berat, ia sangat kesal karena dua manusia ini sudah menguji kesabarannya,"kalian berdua memang cocok, sama-sama licik," Ariel semakin geram.
"Kakak benar kami memang cocok, Kak apa Kak Yusri pernah tertarik kepadaku? apa Kakak bisa menjodohkan kami? rahasia dijamin aman kalau Kakak berhasil menjodohkan kami." Airin mencoba bernegoisasi, meskipun ia tahu hasilnya pahit.
"Kalian ... ah sudahlah! pasangan licik," Ariel masih kesal, menghindar' pun percuma, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke tempat yang benar di mana sudah ada istri dan anaknya yang tidur dengan di temani baby sister sementara Aarick.
"Pasangan? apa itu artinya aku dan Kak Yusri bisa jadi pasangan?" Airin masih belum bisa mencerna ucapan Ariel dengan baik.
Sementara di balik pintu kamar, Yari menempelkan telinganya di balik pintu dengan terus menahan tawa. Rasanya ia puas sudah berhasil membuat perhitungan dengan Ariel yang menyebalkan