Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Janji Suci untuk Fery


Fery terus berusaha mengendalikian diri, ia mewanti-wanti agar tidak menyentuh gadis polos ini, tapi hati kecilnya sangat ingin mendekap wanita yang sudah mulai masuk ke dalam hatinya. Fery semakin mendekat, ia semakin menunduk, sementara Suci masih tidak mengerti dengan keadaan, ia berharap ini bukanlah mimpi, bagaimana bisa manik mata yang biasa terlihat dingin dan tegas itu terlihat sayu dan sangat teduh?


Grep.....


Dalam sekali gerakan Fery membawa Suci kedalam pelukannya, ia merangkul Suci dengan tubuh yang gemetar, seakan ada aliran listrik yang mengalir disekujur tubuhnya. Katakanlah ia berlebihan, katakanlah ia kolot, karena kenyataannya sudah lama Fery tidak mendekap wanita lain selain Mamanya. Fery merasa ada yang lain di dalam dirinya, perasaannya benar-benar tenang tanpa beban dan ketakutan ataupun halusinasi seperti sebelumnya.


"Kak ..." lirih Suci. Kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca, pangeran impian yang pernah menyelamatkan nyawanya ini tidak lagi menjaga jarak, Suci berharap waktu berhenti saat ini juga, Suci berharap jarum jam berhenti berputar, Suci berharap wajahnya selalu bisa berlindung di dada bidang yang kokoh ini.


"Tetaplah disisiku, bersabarlah menghadapiku, jangan pernah mencoba berhenti mencintaiku!"


Cukup sudah, benteng kokoh yang dibangunnya perlahan diruntuhkan juga, bayangan saat Dika memohon, menatap dan menggenggam tangan Suci membuat Fery berfikir dua kali untuk tidak membuka hatinya.


"Maksudnya apa?" Suci memastikan kalau ia tidak salah dengar.


Perlahhan Fery melepaskan pelukannya dan memandang manik mata indah Suci, dengan lembut ia menyingkap rambut halus Suci yang hampir menutupi wajahnya, sudut bibirnya kini sudah membentuk senyuman.


"Apa masih ada kesempatan untukku?" Fery bertanya dengan nada suara yang lembut, seraya membelai pipi Suci.


"Kesempatan untuk apa?" Suci tidak tau harus berkata apa.


"Kesempatan untuk memiliki cintamu seutuhnya, kesempatan untuk aku bertahta di dalam hatimu, kesempatan untuk aku menjadikanmu milikku!"


Tar..........................


Suci menjadi linglung, ini hari apa? saat ini jam berapa? mimpi apa ia tadi malam? kenapa bisa Fery mengucapkan semua itu untuknya?


Gelas yang digenggamnya sudah jatuh di lantai, berubah menjadi serpihan beling yang tajam, dan tidak akan pernah bisa dikembalikan seperti bentuknya yang semula.


Cepat-cepat Suci menekuk lututnya, jari jemari lentiknya sudah mulai memungut satu persatu serpihan itu, sementara jantungnya masih berdetak kencang. Siapa pun katakan kalau ini bukan mimpi.


"Akhhh!" Suci meringis saat jari telunjuknya, tertusuk benda tajam itu.


"Hati, hati!" Fery juga ikut berjongkok dan meraih tangan Suci, dengan spontan ia membersihkan setitik darah di jari telunjuk Suci dengan mulutnya.


"Ja-jangan!" Suci menarik tangannya, ia menjadi semakin salah tingkah.


"Apa cuma dia yang boleh memegang tanganmu?" wajah Fery sudah kembali datar, ternyata ia masih belum bisa mengontrol diri.


"Kakak cemburu? kali ini cemburu'kan?" Suci memastikan, jangan sampai ia salah sangka lagi.


Fery berdiri ia melangkah dan memunggungi Suci, ia berkacak pinggang dengan perasaan yang menggebu, cemburu? mungkinkah dirinya cemburu? yang sebenarnya adalah ia hanya ingin memastikan perasaannya, memastikan semua ucapan Maya dan ternyata senjata sudah memakan tuannya.


"Apa aku tidak boleh cemburu?" Fery bergumam namun terdengar jelas di telinga Suci.


"Tetaplah cemburu kak, teruslah cemburu, dengan begitu aku merasa dicintai, dengan begitu cintaku tidak akan bertepuk sebelah tangan lagi," Suci yang polos memeluk tubuh Fery dari belakang.


Fery terpaku sejenak, ia menunduk untuk melihat tangan mungil yang melingkar di perutnya, Fery tersenyum dan berharap ini adalah keputusan yang benar, perlahan ia memutar tubuhnya.


"Berjanjilah satu hal, apapun yang terjadi jangan pernah pergi, jangan pernah tinggalkan aku," Fery memelas dengan menggenggam erat tangan Suci.


"Suci janji ... apapun yang terjadi, Suci gak akan pernah pergi, Suci akan terus ada untuk mencintai Kakak, Suci janji...."


Janji Suci sudah terucap, selamanya ia akan mengingat dan menepatinya, semua itu membuat Fery tenang, namun ia lupa membalas janji Suci dengan Janjinya. Fery mendekap Suci ke dalam pelukannya.


"Terima kasih ... terima kasih."


Fery mengecup puncak kepala Suci, membuat Suci tersenyum dan terus menikmati kenyamanan di dalam dekapan Fery. Serpihan gelas itu sudah menjadi saksi bahwa CINTA SUCI FERY sudah dimulai dari sini.


Maafkan aku Suci, aku harus melakukan ini


Fery membatin sembari mengencangkan pelukannya, ia sudah merasa lebih tenang, tanpa aba-aba Fery mendudukan Suci di atas meja, membuat keduanya leluasa saling memandang.


"Apa sih kak ih, turunin!" dengan wajah yang bersemu merah Suci memukul lengan Fery yang masih melingkar di pinggangnya.


"Jawab dulu! sejak kapan suka sama aku?"


"Kenapa masih ditanya?"


"Heran aja, kamu ngebet banget ngejar aku, gak mampu cari kandidat yang lain?"


"Oh, Kakak mau aku sama Dika ja---


"Jangan sebut namanya, kamu mau lihat aku marah?" kesal Fery.


"Oh sayangku...ternyata cemburu juga!" dengan gemas Suci memainkan hidung Fery.


Fery tersenyum dan memegang tangan Suci "Panggil apa barusan? coba ulangi!" perintahnya.


"Apasih ... kenapa jadi lebay?"


"Panggil aku apa?"


"Sayang," ucap Suci tersenyum malu,"ini gak mimpikan?" Suci terlihat begitu polos.


"Mimpi yang jadi kenyataan, seneng gak?"


"Bangetlah! berasa menang undian. Tapi kenapa secepat ini Kak Fery berubah? bukannya Kakak gak suka sama Suci?"


"Cinta gak butuh alasankan? ya anggap saja aku sudah membuka hati, untuk anak kecil yang banyak bicara kayak kamu," Fery mengacak rambut Suci.


"Makasih ya Kak, makasih karena udah mau buka hati untuk Suci. Suci janji apapun akan Suci lakuin untuk kebahagiaan Kak Fery, Suci janji Kak..." lirih Suci.


Fery memeluk erat dan mengecup puncak kepala Suci, setelah melihat ada ketulusan dari sorot mata gadis yang saat ini sudah menjadi kekasihnya.


Aku harap kamu satu-satunya wanita yang bisa menghilangkan traumaku Ci.


*****


Bukan dihotel mewah, bukan juga di pulau pribadi yang indah, tapi rumah Alisa lah yang menjadi tempat berlangsungnya acara pernikahan Alisa dan Endi. Pagi tadi mereka sudah resmi menjadi suami istri yang sah, semua berjalan seperti yang diharapkan, tepat sesuai rencana.


Jadwal Alisa yang padat dan masih terikat kontrak itu, terpaksa membuat mereka mengurungkan niat untuk mengadakan resepsi, pernikahan ini hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan juga para sahabat.


Semua berkumpul di Rooftop dengan ditemani bintang dan dinginnya malam.


"Aku tidak menyangka, kalau kalian yang lebih dulu menyusulku," Ariel memeluk dan menepuk punggung Endi sahabat yang sudah lama ada dan selalu mengalah untuknya.


"Bahkan kami sudah berencana untuk menjadikan Aarick menantu kami!" seru Endi setelah melepaskan pelukannya.


"Sama sekali tidak! tapi kau harus berjanji akan menikahkan anakmu dengan anakku nanti," Alisa menimpali.


"Hahahah kalian ada-ada saja,"


"Kami serius Riel, Aarick harus menjadi menantu kami, ayolah anggap ini sebagai hadiah pernikahan kami!" seru Endi.


"Terserahlah! kalian pasangan gila!" Ariel menjawab dengan malas.


"Hei ! untuk apa semua ini, apa kalian tidak mau menikmatinya?" Yusri masih belum bisa melepaskan candunya dari minuman keras ini.


"No! aku sudah streril," Jangan sampai gara-gara ini Anggun mengamuk, Ariel bergidik membayangkan kemarahan istrinya.


"Sedikit saja tidak masalah," Yusri sengaja menggoyangkan gelas berisi minuman itu,"hanya untuk malam ini."


"Pengecualian untuk malam ini, hanya sedikit saja Riel," Fery ikut menimpali, sementara Suci masih permisi ke kamar mandi.


"Hei Pak Dr. bolehkan dia minum ini?" Yusri masih belum menyerah.


"Untuk malam ini boleh, tapi lain kali jangan, dan minumlah secukupnya! tidak baik mengonsumsi minuman itu secara berlebihan," demi pernikahan ini boleh-boleh saja, harusnya Endi bilang begitu saja ya!


"Tidak! aku tetap tidak mau," Ariel masih bersikeras untuk menolak.


"Ariel, kau kan masih puasa, masih menjaga jarak dari istrimu, jadi tidak mungkin dia tahu kau minum ini, lagi pula hanya sedikit saja," Yusri bicara seperti orang yang berpengalaman.


"Minumlah!" Fery menawarkan segelas minuman itu untuk Ariel, dengan berat hati Ariel menerimanya.


"Bersulang! ayo bersulang! kita rayakan malam ini hm," Yusri semakin memprofokasi.


Ting......


Bunyi dari tiga gelas itu saling bersentuhan.


"Argkkh," lidah Ariel sudah bereaksi, lagi dan lagi,"aku berharap Anggun tidak membunuhku!" Ariel memikirkan nasibnya setelah ini.


"Kak ..." tiba-tiba Suci datang menghampiri. Suci duduk di samping Fery, membuat Fery meletakan gelasnya diatas meja.


"Kak in--


"Sudah malam ayo kita pulang, udara dingin tidak bagus untukmu," Fery merangkul Suci.


"Kalian manis sekali, seperti tikus dan kucing mencari cinta," ujar Alisa.


"Itu pujian atau sindiran huh, tidak terjadi apapun diantara kami, aku menganggapnya sebagai adik," Fery menaikan satu alisnya memberi kode untuk Suci.


"Oh, i-ia !" jawab Suci terbata.


"Ya sudah ayo kita pulang," Fery beranjak dan menggandeng tangan Suci, membawa gadis itu pergi.


***


"Kak, kenapa mereka gak boleh tahu status kita?" tanya Suci, saat ini keduanya menuju mobil yang terparkir lumayan jauh dari halaman rumah Alisa.


"Demi kebaikan, saat ini perusahaan kita sedang bekerja sama, aku gak mau Ariel khawatir dan berfikir kalau kita akan mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan!"


"Oh, gitu jadi kita pacarannya diam-diam?"


"Hm ... kamu gak keberatan kan?"


"Gak kok, yang penting Kakak udah buka hati untuk Suci," Suci bergelayut manja di lengan Fery," aduh," Suci menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


"High hellsnya putus...."


"Kok bisa, coba lihat," Fery berjongkok di hadapan Suci,"ini sudah tidak bisa dipakai, kaki kamu kaki gajah, jadi gak pantas pakai ginian!" Fery memperhatikan bagian yang putus.


"Sembarangan, memang sudah waktunya rusak kok!" Suci memukul pundak Fery.


Fery tersenyum dan memutar badan,"ayo naik! biar aku gendong sampai mobil!" perintahnya.


"Serius...?"


"Iya, cepetan naik!"


"Terima kasih sayangku!" Suci mulai melingkarkan tangannya di leher Fery.


"Berat juga kamu, pantesan high hellsnya putus," Fery mulai berjalan dengan menggendong Suci di punggungnya.


"Bukan badannya yang berat, tapi Cinta Suci untuk Kak Fery yang berat," Suci berbisik di telinga Fery.


"Jangan mulai lagi, ada berapa sih rayuanmu?"


"Meman iya kok, Kak Fery seperti seorang pangeran, udah kasih nafas buatan untuk Suci, udah terima cinta suci, dan sekarang lagi gendong Suci, pokoknya Suci janji, selalu nurut dan berusaha buat Kak Fery bahagia,"


Suci sudah mulai banyak bicara dan menunjukan dua jarinyadi depan Fery.


"Mau aku kasih nafas buatan lagi gak?" goda Fery dengan senyuman liciknya.


"Eh.....


*****


Maaf kalau ceritanya sudah mulai membosankan ya☺


Terima kasih sudah setia di Mantan Tercinta ya


Like


komentar


Rate5


Terima kasih votenya kak😍