Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Kecewa


"Masuk!" perintah Ariel yang sudah membuka pintu mobil untuk Anggun.


"Ini mobil siapa Riel ...? " Anggun heran melihat mobil mewah ini, karena ini pertama kali Ariel membawa mobil di hadapan Anggun.


"Masuk dulu Anggun ... jangan banyak bertanya!" Ariel menjawab dengan wajah yang cemberut, Anggun memilih diam dan menuruti Ariel. Sepanjang perjalanan keduanya terdiam, Anggun masih takut melihat wajah Ariel saat sedang menahan emosi.


"Sudah menjadi resiko punya pacar posesif sepertimu."


Anggun cuma bisa membatin.


Hari menjelang petang saat mobil memasuki kawasan rumah elit. Anggun sangat asing dengan tempat Ini. Perlahan mobil itu berhenti di depan rumah minimalis dengan warna putih yang mendominasi.


Tidak lama kemudian seorang pelayan yang masih muda membuka pintu untuk mereka.


"Kau sudah menyiapkan apa yang aku perintahkan?" tanya Ariel setelah ia duduk di sofa, sementara Anggun masih berdiri di dekat pelayan itu.


"Sudah Tuan," jawabnya singkat.


"Hmmm bawa dia masuk, aku menunggu di sini!" perintah Ariel.


"Baik tuan,mari nona," ajak pelayan Itu dengan ramah.


"Kita mau kemana?" tanya Anggun ia tidak mau melangkahkan kakinya.


"Ikuti saja dia Anggun," Ariel menatap tajam pada Anggun.


"Aku mau pulang Riel!"


"Ini rumahku, dan akan menjadi rumahmu juga!" tegas Ariel.


"Tapi Ini bukan tempatku Riel?"


"Kenapa kau semakin tidak menuruti aku hah?" bentak Ariel yang sudah berjalan mendekati Anggun, pelayan yang ada di antara keduanya perlahan menuju dapur, meninggalkan Ariel dan juga Anggun.


" Kau kenapa Riel? kenapa jadi seperti ini?" Tanya Anggun yang berusaha menahan rasa takut melihat kemarahan Ariel.


"Kau yang kenapa, apa selama aku tidak ada kau sering pergi dengannya?" tanya Ariel dengan rahang yang mengeras.


"Apa maksudmu Riel?"


"Lihat penampilanmu Ini, sejak kapan kau memakai gaun seperti ini? sejak kapan kau memoles wajahmu itu?" tanya Ariel sembari menyentuh gaun dan pipi anggun.


"Kau mau bilang kalau aku menggoda dia bukan? lalu bagaimana denganmu? selama ini kau sibuk dengan Claudia itu bukan?" kali ini Anggun sudah mulai mengeraskan suaranya.


"Mama menyuruh aku mengambil perhiasan Itu,dan mengantarkan Claudia ke tempat arisan mama, cuma Itu saja!"


"Kalian sedekat Itu? bahkan kau sudah mengenalkan dia kepada mamamu!"


"Papa Claudia bekerja di perusahaan keluargaku!"


"Orang seperti apa kau Ini Riel? Siapa kau sebenarnya?"


"Nanti akan aku jelaskan Anggun, sekarang ganti pakaianmu ini, aku sudah meminta pelayan menyiapkan keperluanmu."


"Antar aku pulang sekarang, kalau tidak aku akan pulang sendiri!"


Anggun membantah bahkan ia menghindar ketika Ariel ingin memegang tangannya, melihat penolakan Anggun membuat Ariel mengalah, ia memilih menurutinya dan mengantar kembali ke rumahnya.


"Maaf ..." lirih Ariel ketika sudah sampai di depan rumah Anggun. Ia menggenggam tangan Anggun yang ingin membuka sabuk pengaman.


"Pulanglah Riel, biar aku sendiri untuk beberapa hari Ini!" jawab Anggun tanpa melihat Ariel.


"Tidak ... dengar dulu jangan seperti ini!" ucap Ariel sembari mencium sekilas tangan Anggun.


"Dengar sayang ... aku tidak punya niat untuk membohongimu, aku tidak ada urusan lagi dengan Claudya itu!" Ariel masih mencoba menjelaskan akan tetapi kejadian siang tadi masih menari di kepalanya.


"Kamu panggil dia apa tadi? kakak? sejak kapan dia jadi kakakmu?" tanyanya lagi dengan nada suara yang lembut agar Anggun tidak tersulut amarah.


"Siapa yang salah di sini? memangnya kenapa kalau aku manggil kakak?"


Jawaban Anggun membuat Ariel gusar, ia hanya bisa mengusap wajahnya sembari menghembuskan napasnya bersamaan dengan emosi yang sudah kembali terpancing, Ariel tidak suka jika Anggun bersikap ramah tamah dengan laki-laki lain.


"Dengarkan aku Anggun, kalian tidak sedekat itu, jadi tetap jaga jarak dengan dia," nada suara Ariel terdengar seperti tidak ingin di bantah.


Anggun mencoba mengalah lalu dilihatnya wajah Ariel dengan seksama dan kembali berkata, "baiklah ... sekarang jawab ini mobil siapa?" Tanya Anggun mengintimidasi.


"Terus?"


"Terus apa?"


"kamu ini siapa sebenarnya? Dari mana mobil ini? Basa juga kamu naik motor."


"Ini milik keluargaku, apa masalahnya?"


"Salah Ariel, selama ini aku tidak tau apa-apa tentang kamu, kenapa aku gak boleh tau?"


"Astaga cerewetnya! Karena aku tau akan seperti ini jadinya, kenapa perempuan itu selalu suka mempersulit?


"Cerewet katamu!" Anggun memukul lengan Ariel, "perempuan mana? Siapa yang mempersulit?" Anggun menarik baju Ariel.


"Sudahlah sayang, kenapa kamu semakin cerewet?" Ariel merendahkan suaranya.


"kamu menipu aku Riel?"


"Tidak ... kapan aku menipumu?"


"Apa kamu orang kaya? Sdkaya apa?" tanya Anggun polos.


"Riel kamu takut aku memanfaatkanmu begitu?" lanjutnya lagi.


"Kenapa kita jadi bahas ini sih?" gusar Ariel.


"Iya apa salahnya kamu jawab?"


"Kamu mulai ragu sama aku Anggun?"


"Tidak, tapi apa salah kalau aku tau semua tentangmu?" tanya Anggun yang terus mempethatika Ariel yang terdiam dan enggan menatapnya.


"Apa karena Ibumu yang tidak menyukai aku, apa Ibumu tidak menerima hubungan kita?"


Pertanyaan Anggun membuat Ariel menoleh ia tidak suka dengan kesimpulan yang baru saja diucapkan Anggun.


"Mamaku orang baik Anggun, kau belum pernah bertemu dengannya, jadi jangan pernah menilai salah tentangnya!" ucapnya tegas.


Jawaban yang diberikan Ariel membuat Anggun kecewa, padahal kenyataannya Mama Ariel memang sudah menentang hubungan mereka.


"Ya maaf, aku masuk dulu, tunggu lah aku sampai menghubungimu ya." Anggun sembari membuka sabuk pengamannya, dan keluar dari mobil tanpa mendengar apapun lagi dari Ariel.


Ariel masih memperhatikan punggung Anggun yang perlahan masuk rumah dan hilang dari pandangannya.


Begitu juga Anggun, ia memperhatikan sekilas mobil Ariel dari jendela rumahnya, sampai mobil itu meninggalkan pekarangan rumahnya. "Maafkan aku Riel" lirihnya..


*****


Selama satu Minggu, Ariel tidak datang menemui Anggun, bahkan ia juga tidak pernah menghubunginya, Ariel benar benar membiarkan Anggun untuk menenangkan diri sampai emosinya reda.


Sementara Anggun, ia masih melakukan aktifitasnya dan bekerja seperti biasa, tetap semangat menjalani hari harinya. Sebenarnya ia juga sangat merindukan Ariel, tapi karena rasa kecewanya, Anggun menahan diri untuk menghubungi Ariel.


Anggun merasa kalau Ariel belum sepenuhnya percaya dengan hubungan ini, karena Ariel terkesan menutup jati dirinya, belum lagi dia masih mengingat jelas semua perkataan Nyonya Widia.


cetar......


Suara pecahan piring membuat seorang wanita marah, sehingga semua mata tertuju padanya, di hadapannya sudah ada Anggun yang tidak sengaja menjatuhkan piring yang berisi makanan itu.


"Apa kau tidak bisa bekerja dengan baik hah?bagaimana bisa tempat Ini mempekerjakan orang ceroboh sepertimu?" teriaknya.


"Maafkan aku Nona Claudya ,aku tidak melihat kakimu tadi!"


"Jadi kau menyalahkan aku? Apa kau tau kau sudah mengotori pakaian mahal yang aku pakai Ini!"


"Maafkan aku Nona!"


"Hanya maaf? Iya aku tau kau tidak akan mampu membeli pakaian mahal yang sudah kau rusak ini!" ucapnya lantang.


"Ada apa ini?" suara Ariel mengejutkan keduanya.


" Ariel? kamu disini?" ucap Claudya ketakutan.


"Keributan apa yang terjadi di sini Anggun?" tanya Ariel yang sudah berdiri di samping Anggun. Ia memperhatikan pecahan piring yang bercecer di lantai.