Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Apa Kabar Claudya?


Kegiatan di pagi hari bersama dengan istrinya sudah usai, Ariel seperti mendapat vitamin yang membuatnya lebih semangat beraktifitas, tapi itu membuatnya malas untuk pergi ke kantor. Ariel memutuskan untuk mengajak istri dan anaknya ke luar rumah dan ini untuk pertama kali Aarik keluar rumah.


Tampak Baby Aarick mengoceh di pangkuan Anggun, suaranya mendominasi kendaraan roda empat ini dan sesekali Anggun juga mengajaknya bicara, sedangkan Ariel hanya tersenyum seraya menjalankan mobilnya.


Mobil itu telah sampai di parkiran, tempat ini selalu ramai pengunjung, Ariel mengitari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Kini mereka sudah berjalan beriringan masuk ke dalam Mall dengan Ariel yang terus merangkul Anggun yang sedang menggendong Aarick. Sedangkan pengasuh Aariel mengikuti mereka dari belakang dengan membawa keperluan Aarick.


"Jadi ingat jaman dulu ya, berduaan sama kamu di tempat ini, siapa sangka sekarang sudah bertiga, dan mungkin besok kita sudah berempat," ucap Ariel saat berada di dalam Mall.


"Dari kemarin ngomongnya berempat terus, aku gak mau hamil lagi, kasian jagoanku ini masih kecil. Iya kan sayang," Anggun menoel pipi Aarick dengan gemas.


"Kita lihat aja nanti," jawab Ariel dengan santai, keluarga kecil ini memasuki wahana permainan, Aarick yang masih belum tau apapun terlihat antusias dan senang melihat Ariel yang lebih banyak memainkan beberapa permainan di sana.


Selang beberapa saat, mereka menikmati makan siang, Anggun menitipkan bayi Aarick kepada pengasuhnya namun tetap di bawah pengawasan Ariel, kemudian ia menuju toilet.


Saat Anggun keluar dari toilet, di depan pintu ia tidak sengaja melihat Claudya yang juga terpaku melihatnya.


"Hai Anggun!" Claudya menyapa Anggun terlebih dulu, raut wajahnya memancarkan ketulusan tidak jutek seperti dulu, ia lebih mendekati Anggun.


"Claudya, apa kabar?" Anggun menjawab dengan melemparkan senyuman.


"Baik, sudah lama ya kita tidak bertemu, dan aku dengar kamu sudah menjadi istri Ariel ya? Di mana dia?"


"Menjaga anakku, kamu sendiri gimana? Apa kamu sudah menikah?"


Claudya membuang napas dengan berat, ia terlihat enggan menjawab, kemudian Claudya memegang tangan Anggun, "ini pertemuan pertama kita setelah beberapa tahun ini, jadi aku tidak mau buang waktu, Anggun tolong maafkan kesalahan yang sudah aku buat, aku terlalu jahat Anggun dan aku menyesal," ucap Claudya dengan tulus.


"Sudahlah, aku susah melupakan semua kejadian itu, itu sudah menjadi bagian dari takdir hidupku, yang penting sekarang aku sudah kembali bersama Ariel lagi."


Claudya memeluk Anggun dengan mata yang berkaca-kaca, "terima kasih Anggun. Aku tahu kamu orang yang baik, aku berdo'a untuk kebahagiaan kalian," ucap Alisa.


"Hmm sudahlah, jangan diungkit lagi .Terima kasih doanya, aku harap kamu juga hidup bahagia Claudya." Anggun melepaskan pelukannya, "maaf aku harus pergi, aku takut anakku rewel," ucap Anggun.


"Baiklah, aku harap suatu saat nanti kita punya waktu lebih untuk ngobrol ya," jawab Claudya.


Anggun tersenyum dan pergi menemui Ariel, ia duduk di depan Ariel yang sedang mengunyah makan siangnya, Anggun tetlihat memperhatikannya.


"Kenapa?" tanya Ariel.


"Aku ketemu Claudya," jawab Anggun. Raut wajah Ariel berubah ia tidak suka mendengar nama Claudya, Ariel meletakkan sendoknya, mendadak selera makannya menjadi hilang.


"Cepat makan!" titahnya, Anggun hanya menurut tanpa bicara lagi, sedangkan Ariel menyandarkan punggungnya dan menatap.ke sembarangan arah.


"Lain kali, kalau kamu lihat Claudya, jangan mau bicara sama dia, aku gak mau kamu dapat pengaruh buruk darinya." ucap Ariel sembari merogoh kunci mobilnya.


"Apa salahnya, cuma ngobrol aja, lagian dia udah minta maaf, Mas," jawab Anggun yang sudah menggendong Aarick.


"Aku gak mau berdebat masalah dia, kita pulang sekarang," ajak Ariel, "ada yang harus aku beli, kamu tunggu aku di mobil aja," ucap Ariel mberikan kunci mobil.


"Anggun kita ketemu lagi. Ini anakmu ya? Lucu banget sih, siapa namanya?" tanya Claudya sembari memegang tangan Aarick yang tersenyum kepadanya.


"Namanya Aarick, Onty," jawab Anggun, menirukan suara anak kecil.


"Nama yang bagus, lucu banget kamu sayang!" seru Claudya.


Disaat keduanya sedang bercanda, dari jauh Ariel sudah menahan emosi, ia marah saat melihat Claudya yang mengobrol dengan istrinya bahkan wanita jahat itu sudah berani memegang tangan anaknya, dan dengan langkah kaki yang cepat ia mendekati Anggun.


"Berani sekali kau menampakkan diri!" Ariel menatap Claudya dengan penuh kebencian, membuat senyum wanita itu memudar, Claudya melepaskan tangan Aarick karena takut melihat lirikan mata Ariel.


"Mas...."


"Ayo, jagoan Papa kita pulang ya," Ariel tidak menghiraukan Anggun, ia menggendong Aarick dan masuk ke dalam mobil, meninggalkan Anggun dan Claudya.


"Maaf ya, Claudya, aku harus pulang dan maaf untuk sikap Ariel tadi ya," ucap Anggun merasa tidak enak hati.


"Aku maklum Anggun, aku tahu Ariel belum bisa memaafkan aku, karena kejahatanku di masa lalu," jawab Claudya yang hanya bisa tersenyum masam.


Tin...Tin...Tin...


Suara klakson yang dibunyikan Ariel mengejutkan keduanya, tanpa bicara lagi Anggun masuk ke dalam mobil, sudah ada pengasuhnya yang duduk di belakang. Melihat raut wajah Ariel yang dingin, Anggun tidak berani bersuara, ia hanya mengambil Aarick dari pangkuan Ariel, kemudian Ariel melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara, sesekali Anggun melirik Ariel. Kalau ia mengajak suaminya bicara dengan keadaan seperti ini, yang ada Ariel akan marah dan itu bisa membuat pengasuh Aarick takut, jadi Anggun memutuskan untuk menahan diri.


Beberapa saat kemudian sampailah mereka di halaman rumah, Ariel membuka pintu untuk Anggun dan merebut Aarick dari gendongannya, kening Anggun mengerut melihat tingkah Ariel yang masih enggan bicara, kemudian ia mengikuti Ariel dari belakang.


"Mas, pelan-pelan jalannya, kasian Aarick," ucap Anggun, namun Ariel hanya diam dan membawa Aarick masuk ke dalam kamar.


Ariel merebahkan Aarick di atas tempat tidurnya, lalu ia ikut berbaring dan memeluk Aarick dengan posesif, dan memunggungi Anggun yang mengajaknya bicara.


Anggun duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping Ariel, ia memandang punggung Ariel dengan penuh tanda tanya, Anggun tahu suaminya marah karena melihatnya bicara dengan Claudya.


"Mas, jangan seperti ini, cuma masalah kecil kamu cuekin aku."


Anggun merayu, ia terus mengelus punggung kokoh Ariel yang dibalut kaos warna hitam, namun suaminya ini masih merajuk.


Anggun berpindah tempat, ia duduk di samping Aarick dan memainkan jari anaknya, namun tanpa di duga Aariel memindahkan anaknya di sisinya membuat Anggun tidak bisa melihat Aarick karena tertutup punggung Ariel.


"Kamu kenapa sih Mas...?" Anggun mengeraskan suaranya.


*****


Kapan-kapan lagi😅 Bukan konflik, tapi bumbu cinta, ngambek, merajuk dan bermesraan wkwkwkwkwk✌✌✌