
Anggun tetap menemui Fery, ia bersikap seperti biasa dan menyembunyikan
kekhawatirannya, ia bisa melihat jelas raut wajah Fery yang tertekan, walaupun Fery berusaha untuk menutupinya.
"Apa Mas butuh bantuan? " tanya Anggun sembari merapikan bekal makanan yang
tadi dibawanya.
"Ada, tapi nanti kamu keberatan,"
jawab Fery dengan wajah datarnya.
"Gak akan, memangnya apa yang
bisa Anggun bantu?"
"Sini duduk...." Fery menepuk kursi di sampingnya , "kamu keberatan?"
Anggun hanya diam, ia menggeleng pelan
dan melangkah duduk di samping Fery.
Fery menarik nafas sejenak, ia memandang wajah cantik Anggun, ia meraih tangan Anggun dan menggenggamnya erat.
" Kamu sudah membantu, dengan terus
ada dan tetap di sampingku, apapun yang terjadi, jangan pernah pergi dari kehidupan kami, Mama dan Mas sangat menyayangi kamu," ucapnya lembut.
Anggun hanya memandang sendu wajah
Fery, bagaimanapun juga ia tidak mungkin tega menyakiti hati dua orang yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya, entah ini cinta atau balas budi, Anggun akan tetap bertahan.
"Aku takut mengecewakan Mas suatu hari nanti, jadi Anggun gak bisa janji apapun,
tapi Mas jangan khawatir Anggun gak
berniat untuk menyakiti Mas sedikitpun,"
Jawaban Anggun menenangkan hati Fery,
ia tau jelas kalau masih ada sisa cinta di hati Anggun untuk Ariel, bagaimana kalau
sampai Anggun kembali kepelukan Ariel?
"Mas tau itu, Ayo Mas antar ke Bandara,
kamu sudah pesan tiket pesawat?"
"Iya sudah, semua sudah siap Mas,
sore ini penerbangannya,"
"Maaf ya ,Mas harus ke luar kota, jadi
gak bisa antar kamu sampai sana,"
Fery menyelipkan rambut halus yang menutupi mata Anggun kebelakang telinganya.
"Gak masalah kok Mas, ayo kita pulang,"
Anggun meraih tangan Fery dan
mengajaknya keluar dari kantor.
.
.
Di lain tempat
Seorang wanita cantik menggunakan
kaca mata hitam dan menutupi sebagian
wajahnya menggunakan masker sedang mengetuk pintu rumah minimalis yang terlihat sepi, beberapa saat kemudian
pintu rumah itu terbuka menampakan seorang pria yang masih terlihat sedikit memar di bagian wajahnya.
"Kenapa bisa kau bertemu dengan Ariel?"
Claudya frustasi ia masuk begitu saja mendahului tuan rumah, bahkan bahunya sempat menyenggol keras lengan Dana,
ia melemparkan tas jinjingnya di atas meja, dan duduk di sofa ruang tamu.
Dana terlihat acuh ia kembali menutup
pintu begitu saja dan berjalan santai
melewati ruang tamu.
"Kalau aku tau itu dia , tidak mungkin aku berani menentangnya,!" jawab Dana tanpa melihat Claudya, ia berjalan ke arah dapur
dan membuka kulkas, mengambil minuman dingin untuk tamunya ini.
" Aku sudah bilang, kau jangan kembali
lagi ke Kota ini, tapi lihatlah kau merusak semuanya.!"
Claudya masih terus menyalahkan Dana,
yang sedari tadi mengacuhkannya.
Dana duduk di depan Claudya ia meraih
pisau kecil di atas meja dan memotong
buah yang sempat ia ambil di lemari pendingin.
"Kau merusak semua rencana ku Dana, kenapa kau harus menyebutkan namaku?"
Teriakan Claudya membuat Dana kesal,
ia melemparkan pisau itu begitu saja raut wajahnya sudah berubah, ia menatap
Claudya yang terus gelisah.
"Kau jangan menyalahkan aku, aku
hanya mengikuti perintah mu Claudya,!"
Dana menaikan suaranya, ia tidak terima Claudya terus menyudutkannya.
"Aku sudah membayar mu mahal, bahkan
aku juga sudah mengirimkan uang setiap
bulan untuk menutup mulutmu itu, tapi
apa yang sudah kau lakukan?"
Claudya tidak mau kalah, ia tidak takut
pada kemarahan Dana, bahkan Claudya
lebih berani menaikan suaranya.
"Kau jangan menyalahkan aku, lagi pula sudah tidak ada masalah, Ariel sudah memaafkan aku," ucapnya bangga.
"Kau terlalu bodoh, dia tidak mungkin melepaskan mu begitu saja, aku yakin dia pasti merencanakan sesuatu,"
Keduanya terdiam sesaat, mereka saling memandang, sibuk dengan fikirannya
masing masing.
"Bagaimana kalau Ariel mencari ku juga?"
diantara mereka, keputusan Claudya
untuk kembali lagi ke Kota ini adalah
sebuah keputusan yang salah, awalnya
ia hanya ingin memeras Widia, tapi
Claudya terjebak permainya sendiri.
" Katakan yang sebenarnya kalau
Mamanya sendiri yang merencanakan ini,"
"Itu tidak mungkin, Papa menggelapkan
uang perusahaan, dan aku terpaksa harus membayar dengan tidak menyebutnya
dalam masalah ini, jadi aku tidak mau
mengambil resiko apapun juga.!"
"Terserah, aku tidak mau terlibat lagi dengan masalahmu, meskipun kau membayar ku,"
Brak...........
Pintu rumah Dana terbuka 3 pria asing berbadan kekar masuk membuat Dana dan Claudya terkejut, mereka berdua berdiri di tempatnya. Belum sempat tuan rumah mengeluarkan suaranya Ariel sudah muncul dengan tatapan mendendam. Claudya tidak bisa berkutik, tubuhnya di selimuti ketakutan. Ariel terus melangkah mendekatinya, Ariel berdiri tepat di hadapan Claudya, 3 orang Bodyguardnya mengelilingi mereka.
"Ariel, kenapa bisa dia ada disini? apa dia mendengar semuanya?"
"Tidak sia sia aku melepaskanmu," ucap Ariel, ia menoleh sebentar melihat Dana yang sudah diapit Bodyguardnya.
"Jelaskan....Atau aku yang akan
memulainya terlebih dahulu Claudya?"
Suara Ariel yang penuh dendam,
membuat Claudya semakin takut.
Brugggg......
Tubuh Claudya ambruk, ia berlutut , Ariel memutar tubuhnya ia duduk di sofa tunggal yang ukuranya tidak terlalu besar, Ariel menyatukan kedua tangannya menopang di kedua lututnya. Matanya terus menatap tajam Claudya yang sudah mengeluarkan air mata.
"Aku....Aku minta maaf Ariel, aku salah,"
suara Claudya bergetar, ia takut untuk
melihat Ariel.
"Kenapa aku harus memaafkanmu, memangnya apa kesalahanmu?"
Ariel masih berusaha tetap tenang, bagaimanapun juga lawannya kali ini
adalah seorang wanita. Tidak mungkin
dia menghajarnya seperti menghajar Dana.
"Aku hiks hiks hiks aku sudah menjebaknya,
aku yang melakukanya, hiks hiks hiks maafkan aku," Claudya mulai membuka suaranya.
Ariel menarik nafasnya dalam, ia mendongak sejenak memejamkan mata dan mengutuk dirinya sendiri, bayangan lima tahun lalu ketika ia menghempaskan tubuh Anggun di atas ranjang secara kasar kembali terlintas, air mata Anggun, ketakutan Anggun, tatapan memelas Anggun, tidak dipedulikannya.
prank.....
Ariel hanya bisa menyalurkan emosinya,
ia menendang meja sampai hancur bahkan pecahan kacanya hampir mengenai tangan
Claudya.
"Apa yang sudah kau lakukan Claudya?" teriakan Ariel menggema bahkan dua Bodyguard yang berjaga di luar rumah bisa mendengarnya dengan jelas.
"Jawab.!!" Bentakannya berhasil
membuat Claudya melihatnya.
"Aku tidak punya pilihan lain huhuhu Maaf Ariel, aku merekayasa semua itu, hiks hiks"
Karena terbawa emosi, Ariel mendekati Claudya dan menarik kuat rambutnya, membuat Claudya meringis kesakitan.
"Aku sudah pernah bilang, jangan pernah mengusik hubungan kami, tapi kau....
"Ampun Ariel, hiks hiks hiks tolong maafkan aku, hiks hiks, lepaskan aku hiks hiks"
Claudya berusaha melepaskan tangan Ariel yang menarik rambutnya, tapi Ariel semakin kuat menarik rambutnya.
Dana hanya bisa menelan ludah, ia baru menyadari ternyata Ariel melepaskannya hanya untuk umpan supaya Claudya keluar dari tempat persembunyiannya.
Ariel kembali berteriak.
"Kau sudah merusak semuanya, kau membuat aku menghinanya, kenapa kau lakukan itu?"
"Aku akan menebusnya apapun akan aku lakukan hiks hiks dulu aku melakukannya karena aku masih mencintaimu pagi itu
aku melihatnya di Bandara, hiks hiks hiks"
"Di Bandara? kau sudah terlambat,
aku tidak akan memaafkanmu,!"
"Tidak Ariel, aku mohon beri aku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku, aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Anggun, hiks hiks hiks,"
Claudya terus memohon, Ariel melepaskan cengkeramannya begitu saja, sampai
kening Claudya membentur lantai.
"Aku salah, aku percaya begitu saja,
tapi dengarkan aku baik baik Claudya, "
"Apapun itu Ariel, apapun akan aku
lakukan hiks hiks hiks"
"Kalian berada dalam pengawasanku, aku
tau apa yang kalian perbuat, mulai detik ini pergilah jangan pernah temui Anggun, Anggun tidak boleh tau kalau kalian sudah menjebaknya, jangan berani katakan kebenaran ini pada Anggun,!"
Perkataan Ariel membuat Claudya heran, kalau saja Anggun tau kebenarannya bukankah hubungan mereka bisa kembali membaik seperti semula?
"Kalian dengar? simpan kebenaran ini,
dan kau...."Ariel menunjuk Dana " Aku akan benar benar membunuhmu kalau kau berani muncul di hadapan Anggun."
"Iya...Aku akan pergi jauh," jawab Dana terbata.
"Aku tetap akan menyembunyikan fakta ini Anggun, biarkan aku egois, kau harus tetap merasa kalau dirimu sudah ternoda, supaya kau bisa terus menjaga jarak dengan laki laki manapun, dari awal kau adalah milikku, dan selamanya akan menjadi milikku, aku tidak akan melepaskan mu untuk yang kedua kalinya."
Bersambung....
😒Emaknya Ariel belom ketauan
🤨 Bakalan tamat ini cerita kalau emaknya ketauan sekarang, kan sayang
Mantan Tercinta belom berubah jadi CLBK💃
Maaf 1000 kata lebih, belum maksimal juga
Terima kasih sudah mendukung🤗