
👉Adegan kekerasan jangan di tiru👌
Dana hampir kehilangan keseimbangannya, ia hampir kehilangan kesadarannya, guncangan kuat yang diberikan Ariel membuat tubuhnya kembali merasakan sakit, matanya sudah hampir terpejam, nafasnya hampir berhenti, wajahnya hampir tidak bisa dikenali.
Kedua tangan Ariel masih mencengkram kerah bajunya, bahkan Ariel juga hampir mencekik lehernya, tidak ada yang bisa mencegah dan menghentikannya, kedua Bodyguard yang berdiri di belakangnya juga hanya bisa diam menyaksikan kemarahan The Big Bos yang dikenal tangguh ini.
Hanya saja mereka tidak menyadari setiap kerapuhan yang ada di dalam jiwa Ariel, bagaimana pun juga Bos mereka adalah seorang manusia biasa. Kelemahannya ada pada seorang wanita kecil yang bernama Anggun.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?" tatapan membunuh terlihat jelas, raut wajah Ariel memerah, guratan urat kecil terlihat nyata di keningnya.
"Uhuk...uhuk...uhuk le lepaskan aku uhuk uhuk uhuk," ucap Dana terbata, nafasnya tercekat hampir tidak bisa lolos.
"Jangan harap kau bisa lepas dariku, aku pastikan kau tidak akan bisa keluar dari sini, sebelum kau mengatakan yang sebenarnya, jangan coba coba untuk mengecohku," Ariel menghempaskan tubuh Dana dengan kasar.
"Uhuk....Tidak aku tidak membohongimu, Claudya ya....Claudya yang menyuruh aku melakukan itu," ucap Dana, ia tidak berani menatap wajah Ariel.
Untuk pertama kalinya Ariel merasakan linglung, ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar . "Claudya? benar Claudya yang menyuruhmu?" teriaknya lagi.
"Iya...." Dana mencoba mengatur nafasnya, ia mengusap darah yang mengalir dari mulutnya dengan telapak tangannya.
"Aku butuh uang, kebetulan Claudya datang dan menawarkan pekerjaan ini, ia membayar aku dengan mahal," Dana melihat jelas wajah Ariel yang sudah berubah, Dana menjadi semakin takut karena Ariel terlihat menahan emosi, ia takut seketika emosi itu meledak dan kembali membuatnya babak belur.
"Pagi itu....Aku mengikuti gadis itu dari Bandara, kami mengikutinya di Bandara dan....
"Bandara? untuk apa Anggun ada di sana, katakan apa yang kalian lakukan setelah itu, cepat katakan?" Ariel kembali membentak, ia tidak sabar dengan kelanjutannya, padahal sudah jelas ia sendiri yang memotong penjelasan Dana, Bodyguard di belakangnya cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Ariel.
"Aku mencegah taksi yang ia tumpangi di tengah jalan, awalnya supir itu mencegahku mendekati taksinya, tapi Claudya membuat supir itu mengalihkan pandangannya, dan aku membius wanita itu dan....
Bug.....
"Kau membiusnya? kau berani melakukan itu kepada wanitaku ?" Amarah Ariel sudah tidak bisa dibendung lagi. Benar dugaan Dana, ia kembali babak belur lagi di tangan pria yang sudah membawanya masuk ke kandang singa ini.
"Percayalah, tidak terjadi apapun setelah itu, Claudya hanya mengambil beberapa foto saja, yang aku sendiri tidak tau untuk apa, uhuk uhuk uhuk...." Dana merasakan lagi tangan Ariel yang mencengkram kuat lehernya.
"Bawa laki laki ini jangan sampai aku membunuhnya di sini.!" Perintah Ariel, ia menghempaskan Dana begitu saja, dengan cepat kedua Bodyguard Ariel mengambil tindakan. Mereka sudah membopong Dana untuk menjauhkannya dari Ariel.
"Tunggu...." Suara ariel menghentikan langkah keduanya. " Pastikan pengobatan untuknya, anak dan istrinya menunggunya,!" perintah Ariel yang tidak bisa mereka abaikan.
"Maaf terima kasih, " ucap Dana di tengah kesaktiannya. Ternyata Singa berwujud manusia ini masih punya hati nurani itulah yang ada di pikirannya.
Prang....Prang....Prang....
Ariel menghancurkan setiap benda yang ada di rumah mewahnya. Rumah pribadi yang sempat ia persiapkan dulu untuk di tempati bersama Anggun.
"Claudya....Aku tidak akan memaafkan mu,!" teriak Ariel lagi. Kedua kaki Ariel sudah tidak dapat menopang tubuh kekarnya, ia duduk berlutut begitu saja di lantai.
Kenangan indah bersama Anggun kembali terlintas, membuatnya tersenyum mengingat kenyataan yang baru saja ia ketahui, Anggun tidak pernah mengkhianatinya.
Tapi senyuman itu hilang begitu saja ketika ia mengingat kebodohan yang sudah ia lakukan, waktunya yang berharga terlewat begitu saja, bahkan dirinya sendiri yang menghancurkan mimpinya.
" Aaarggghhh Bodoh....Bodoh....Bodoh, Bodoh kau Ariel, !" teriaknya frustasi ia menjambak kuat rambutnya. Mengingat ulahnya yang sudah menyakiti Anggun.
"Apa yang sudah aku lakukan Anggun....Aku sudah menghinamu, aku menuduh mu, aku mencaci mu, aku membenci mu, aku....aku yang meninggalkan mu, dan aku...." Ariel menggantungkan ucapannya, ia membiarkan air mata lolos dari kedua matanya, lolos begitu saja membasahi kedua pipinya.
"Aku menyebutmu sebagai wanita murahan, aku mengatakannya, aku sendiri yang membuatmu menangis, Anggun maafkan aku, aku tidak percaya padamu . Bahakan Alisa....Apa yang sudah aku lakukan?"
Bug....Bug....Bug....
*****
Tar....
Gelas yang di genggam Anggun lolos begitu saja dari tangannya, membuat seluruh isinya membasahi lantai yang ia pijak, dengan gerakan cepat Anggun menekuk lututnya dan mengutip satu persatu bagiannya.
"Aww....." Anggun meringis merasakan sedikit perih ketika serpihan kaca itu menggores jari manisnya.
"Anggun, kamu kenapa ?" ucap Fery yang baru masuk ke dalam ruangan Mamanya, ia membantu Anggun untuk kembali berdiri dan membawanya duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Kenapa bisa terluka seperti ini....?" ucap Fery cemas, ia meraih kotak P3K dan mulai menutupi luka Anggun dengan plester kecil berwarna coklat.
"Cuma luka kecil kak, gak perlu khawatir," ucap Anggun sembari menarik tangannya yang masih di pegang Fery, membuat Fery sedikit tersenyum.
"Hari ini aku lingkarkan ini di jari manis mu, tapi ketika Mama sudah pulih nanti, aku akan melingkarkan cincin di jari manis mu ini,! " ucap Fery yang sudah kembali memegang tangan Anggun.
"Kenapa diam saja....? Apa kamu keberatan?" tanya Fery dengan terus mengamati wajah Anggun.
"Apa tidak terlalu cepat kak?" tanya Anggun sedikit ragu. Tiba tiba saja ia ragu dengan keputusannya, padahal ia sendiri yang sudah menyetujuinya.
"Aku tau, kamu masih belum menerima aku dengan sepenuh hatimu, tapi aku tidak mempermasalahkan itu, tapi kamu harus ingat, demi Mama setidaknya berpura pura lah menerima aku, maka nanti kamu akan terbiasa." ucap Fery ia tau kelemahan Anggun adalah Mamanya, Anggun tidak akan bisa menolaknya.
"Iya kak, Anggun siap kapanpun itu, asalkan kakak tidak pernah lelah menghadapi sikap Anggun ya," ucap Anggun sedikit tersenyum.
"Kalau begitu kita mulai dari sekarang,!" ucap Fery semangat.
"Mulai apa?"
"Mulai dari hal kecil saja, panggil aku Mas," ucap Fery tersenyum.
"Hah....?"
"Kenapa? kamu mau aku lelah menghadapi sikap mu ini?"
Anggun menggelengkan kepala, membuat Fery kembali tersenyum.
"Panggil aku Mas," ucapnya lagi
"Tapi....
"Tidak ada tapi, coba panggil apa?"
"Hahaha Mas, kan jadi lucu," ucap Anggun malu.
"Apanya yang lucu? Bagus kok, aku gak mau ya kamu panggil kakak lagi, " ucap Fery serius.
"Mas, Mas , Mas, iya deh iya." ucap Anggun karena malu, ia keluar dari ruangan Mamanya.
"Nanti juga kamu akan terbiasa Anggun," Batin Fery tersenyum melihat tingkah malu malu Anggun.
Bersambung....
Jangan lupa jejak ya, 🤗
Terima kasih untuk semua dukungannya.