Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Ijinkan aku menggenggam hatimu


"lihat apa sih Mas...?" tanya Anggun yang sedang memberikan ASI untuk bayi Aarick. Ia duduk berselonjor di tempat tidur dan sesekali memperhatikan Ariel yang sedari tadi berdiri di balkon kamar.


"Kita belum menjodohkan mereka. Tapi sepertinya Fery sudah mencuri start," jawab Ariel tersenyum tapi tidak mengalihkan perhatiannya dari kolam renang.Ternyata Ariel sempat melihat Suci tercebur ke dalam air."kenapa dia bisa sepanik itu?"


"Mas gak jelas ih, yang ditanya apa, yang dijawab apa," Anggun kesal karena merasa dicueki Ariel.


"Oh sayangku...!" Ariel melihat wajah Anggun cemberut, kemudian ia mendekati istrinya, ia mengecup sekilas pipi Anggun membuat istrinya itu tersenyum."Suci hampir tenggelam," ucap Ariel.


"Apa...?"


"Oeeee ! Oeeeee!"


Baby Aarick menangis kencang saat Anggun tidak sengaja melepaskan sumber minuman Aarick.


"Sayang! cep, cep ya...Mama jahat ya?" Ariel mengambil baby Aarick dari pangkuan Anggun, dan menenangkannya.


"Terus itu Suci gimana Mas? " tanya Anggun.


"Sudah ada Fery, jadi kamu jangan khawatir, kita tidak perlu menjodohkan mereka, aku mau lihat seperti apa takdir cinta Fery," ucap Ariel.


Anggun mengangguk pertanda setuju, kemudian Ariel membaringkan baby Aarick yang sudah tidur ke dalam baby box.


******


Fery menutup hidung suci dengan ibu jari dan telunjuknya, kemudian ia meniup sekitar satu detik guna membuat dada Suci terangkat, dan melakukannya lagi. Fery menekan dada Suci lalu memberikan napas buatan untuknya. Tapi Suci masih belum memberikan respon apapun, sampai Fery memberikan napas buatan lagi.


"Uhuk! uhuk !" Suci terbatuk saat sudah merespon tindakan yang dilakukan Fery. Perlahan Suci sudah mulai bernapas dengan normal, membuat semua orang menjadi lebih tenang. Fery segera membalikkan atau memiringkan tubuh Suci kearahnya, lalu menengadahkan kepala Suci guna mempertahankan jalan napasnya.


"Suci kamu gak apa-apa'kan?" tanya Airin. Suci yang masih lemah hanya menggelengkan kepala.


"Suci..." dengan spontan Fery mengusap halus punggung Suci yang sudah mulai membuka mata dan menggigil karena kedinginan. Saat merasa Suci sudah lebih baik, Fery menggendong dan memindahkan Suci ke dalam rumah.


Suci yang masih lemas itu melingkarkan kedua tangannya di leher Fery, entah ini musibah atau anugerah Suci merasa keberuntungan dipihaknya. Sementara yang lain mengikuti dari belakang.


***


"Loh, Suci kenapa? kenapa kalian basah kuyup seperti ini?" panik Ibu Suci saat melihat Fery sudah membaringkan Suci di sofa. Ia meletakkan remot tv ke sembarang tempat dan mendekati anaknya.


"Suci habis berenang Bu..." lirih Suci.


"Berenang apa? sejak kapan kamu bisa berenang? lah selama ini aja kamu takut dan trauma sama air!" omel Ibu Suci.


"Sudah Bu, sebaiknya Suci kita bawa ke kamar saja, kasihan dia sudah kedinginan," ucap Fery, yang juga sedang menahan dingin disekujur tubuhnya.


"Oh, iya biar Ibu aja yang bawa Suci ke kamar. Nak Fery juga ganti baju ya, nanti masuk angin gak ada yang ngerokin lagi," Ibu Suci mengusap lembut lengan Fery.


"Kerokin?" dahi Fery mengkerut karena baru sekarang ia mendengar istilah itu.


"Ah iya. Ya sudah sana!" seru Ibu Suci yang sudah mulai membantu Suci untuk berdiri.


"Pelan-pelan Bu..." lirih Suci.


"Iya, ini juga sudah pelan-pelan," jawabnya.


Setelah memastikan Suci masuk ke dalam kamar tamu, Fery bergegas ke dalam kamar Yusri. Selama ini Ariel memang sudah menyiapkan kamar khusus untuk Yusri, karena mereka sering mengadakan meeting dadakan di rumah itu, jadi Yusri tidak perlu lagi pulang tengah malam ke rumahnya sendiri.


Fery sudah mengganti pakaian, ia memakai kaos yang membentuk otot-ototnya dengan sempurna. laki-laki berusia 32 tahun ini,saat ini sudah berdiri di depan cermin, ia mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil warna putih.


Sekelebet wajah pucat Suci terlintas dibenaknya, tanpa sengaja Fery menyentuh bibirnya yang beberapa saat lalu memberikan napas buatan untuk rubah kecilnya. Fery menghempaskan handuk itu begitu saja dan keluar dari kamar Yusri.


***


Setelah memastikan keadaan Suci baik-baik saja dan tidak perlu dirujuk ke rumah sakit, Endi dan Alisa meninggalkan rumah Ariel. Kini Suci sudah menyandar di atas tempat tidur, dengan tumpukan bantal yang menjadi penahan punggungnya.


"Jangan lupa, kalau tidur pakai selimut biar hangat badannya," ucap Ibu Suci seraya membentangkan selimut dan menutupi kaki anaknya.


"Ibu'kan tau, kalau Suci gak suka pakai selimut. Gak bebas geraknya bu, lagian lihat nih Suci udah pakai baju hangat." Suci merentangkan tangan dan memamerkan baju tidur lengan panjang dengan motif doraemon kesukaannya.


"Jangan ngeyel, nanti kamu tambah sakit," ucap Mama Farida, yang sedari tadi menemani Ibu Suci.


Tok...tok...tok....


Fery mengetuk pintu kamar yang memang sudah terbuka lebar, ia masih berdiri di depan pintu, dan melihat itu Mama Farida mengedipkan mata memberi kode kepada Ibu Suci.


"Aduh Bu Suci! saya lupa tadi matikan kompor," ucap Mama Farida memasang wajah panik,"saya ke dapur sebentar ya," ucapnya dengan setengah berlari.


"Mau kemana Ma...?" tanya Fery saat Mamanya sudah di depan pintu.


"Sebentar, nanti Mama balik lagi. Tolong kamu jaga Suci ya, jangan ditinggalkan sendirian," bisiknya.


"Belum Bu, masih jam 8." Fery menunjuk jam dinding, sembari melirik Suci yang sedari tadi juga melihatnya.


"Aduh...Perut Ibu kok jadi sakit ya? Ibu kebelakang sebentar ya. Nak Fery tolong tungguin Suci disini ya, nanti Ibu balik lagi." Ibu Suci meringis sembari memegang perutnya.


"Tapi Bu..." Suci menarik tangan Ibunya.


"Sebentar aja," Ibu melepas tangan Suci dan keluar dari kamar.


Fery menghembuskan napas berat, keputusannya datang ke kamar ini adalah keputusan yang salah. Sementara Suci menyingkap selimut yang tadi disematkan Ibunya.


"Kak..."


"Tetap di situ!" perintah Fery saat Suci hendak turun dari tempat tidur. Kemudian ia mendekat dan mengambil selimut yang tadi dijatuhkan Suci.


Dengan masih memegang selimut, Fery duduk di samping kaki Suci yang sudah kembali selonjor,"Apa sudah baikan?" tanya Fery tanpa suara ketus yang biasa ditunjukkan.


"Sudah, makasih ya kak," ucapnya tersipu malu.


"Hmm lain kali jangan ceroboh," ucapnya dan terus menatap manik mata Suci.


Suci tersenyum, ia merasa kalau akhir-akhir ini keberuntungan selalu ada dipihaknya,"perhatian banget sih sama aku," Suci melancarkan aksinya.


Fery hampir tersenyum, namun dengan cepat ia kembali mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar seperti biasa,"atau kamu memang sengaja jatuh ke kolam, untuk menarik perhatianku?" selidik Fery.


"Enak aja nuduh! aku tuh ngejar Kak Fery, untuk balikin hp, terus aku terpeleset jatoh dan nyebur ke kolam!" kesal Suci ia memukul lengan Fery.


"Terus mana hp-nya?"


"Ya mana aku tau, mungkin tenggelam di dalam kolam, lagian untuk apa aku genggam hp itu? mending aku genggam hati Kak Fery," jawab Suci tersenyum polos," ijinkan aku menggenggam hatimu!" suci kembali memulai dramanya.


****


Masih banyak kekurangan😊


Terima kasih untuk yang sudah setia di MT ya


Sudah Like, komen, Rate 5👍


Terima kasih sudah kasih Vote🤗


Kak Prima Tari


Kak Nurhanisah Sartika


Kak Muthi nna


Kak Xixi


Kak Luluk Lutfiani


Kak Yeni Maryani


Kak Rosdiana IIda Widya


Kak Novi Cahyani


Kak Mamas Azam


Kak Lin Frie


Kak Ria Marisha


Kak Siti Masitoh


Kak Kaisa Fakhira


Kak Ma Rahsya


Kak Nuryanti Lusi


Kak Dewa Ayu Erniathi


Kak Maylea (Author juga cek profil)


Selagi masih bisa dicatat, gas kennnn😅