
Alisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan perasaan hancur mengingat Ariel yang terkesan meragukan semua yang dia ucapkan, bayangan ketika dia dulu pernah di khianati oleh kekasih dan teman dekatnya membuatnya semakin takut.
Bagaimana kalau kejadian itu akan terulang lagi? impiannya menikah dengan Ariel yang hampir terwujud terancam hanya rencana belaka, bagaimanapun Alisa sudah sangat mencintai Ariel, entah ini cinta atau obsesi semata yang jelas Alisa tidak akan pernah melepaskan Ariel begitu saja.
Sepanjang perjalanan Alisa mencoba mengingat ulang kejadian yang terjadi akhir akhir ini, dimana dia merasa Ariel sudah berubah, Ariel kembali ke dirinya yang dulu.
Ariel kembali mengacuhkannya.
Alisa memukul stir mobilnya ketika dia teringat satu kecurigaannya, jawaban yang bum sempat dia dengar dari mulut Manda.
"Mungkinkah,?"
Alisa tidak dapat melanjutkan ucapannya, dia menolak fakta yang dia sendiri sedikit ragu.
Manda yang dia kenal, tidak mungkin berani menusuknya dari belakang, Manda sendiri yang merancang busana pernikahan mereka.
Alisa akan menyelidiki lebih dalam lagi, kalau saja semua kecurigaannya benar, maka Alisa tidak akan melepaskan Manda begitu saja.
"Aku akan mengikuti permainanmu,
tunggu saja aku tidak akan membiarkan kalian kembali bersama, tidak akan pernah."
*******
Sementara Ariel sudah kembali bersiap untuk datang ke kantor, karena Alisa perasaanya menjadi kacau, tapi ketika mengingat Anggun dia kembali bersemangat, hari ini Anggun pasti sudah menunggunya di kantor.
Kerja sama antara butik Manda dan Ariel sudah berjalan, pagi ini seharusnya meeting sedang berlangsung, tapi Ariel masih terjebak di kamarnya.
"Aku harus bersiap, Anggun sudah menunggu,"
Dengan hati yang berbunga bunga, sepeti merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama dulu, Ariel menyempurnakan
penampilannya.
Dengan langkah yang cepat Ariel menuruni satu persatu anak tangga sampailah dia di lantai dasar, dia melewati Mamanya yang duduk si sofa ruang tamu.
"Ariel tunggu,"
Widia berjalan mendekati Ariel.
"Kenapa Alisa menangis? Mama melihat dia keluar dari kamarmu dalam keadaan yang kacau, bahkan dia mengabaikan Mama ,"
"Kenapa Mama membiarkan dia masuk kedalam kamarku Ma,?"
"Apa salahnya dia itu calon istrimu,"
"Itu tidak akan terjadi Ma, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi."
Perkataan itu mengejutkan Widia.
"Apa yang kamu katakan? apa karena ini Alisa menangis?"
Ariel hanya diam dan menganggukan kepala.
Widia memegang lengan Ariel, dan sedikit menggoyangkannya.
" Jangan mempermainkan dia Ariel, orang tuanya tidak akan terima dengan semua ini,"
"Cukup Ma, biarkan Ariel menentukan pilihan Ariel sendiri, Mama tidak perlu khawatir dengan semua ini,"
"Alisa itu seorang model yang terkenal, dia berasal dari keluarga yang terpandang, kalau saja kamu berani membatalkan pernikahan ini, sama saja kamu mempermalukan mereka."
Ariel menarik dalam nafasnya, mencoba mencerna semua ucapan Mamanya. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan pergi begitu saja.
*****"
Sesampainya Ariel di kantor, kehadirannya sudah di tunggu Yusri yang tak lain sahabat sekaligus seketarisnya di loby kantor, mereka berdua menuju lift yang dikhususkan untuknya.
"Biasanya kau selalu menghargai waktu, tapi lihatlah sekarang, kau sudah mulai melanggar
aturan yang kau buat sendiri." ucap Yusri ketika mereka berdua sudah berada di dalam lift.
"Baru sekali ini aku melakukannya, pikiranku sedang kacau,"
"Kau sendiri yang membuat masalah"
Yusri tersenyum sinis melihat Ariel yang gusar.
"Apa dia sudah datang?"
"Sudah satu jam yang lalu mereka menunggumu di ruang meeting"
"Bukan, maksud ku Anggun, dia pasti sudah menungguku, aku tidak sabar ingin bertemu dengan dia,"
Ariel menunjukan wajah yang bahagia.
"Tapi dia....
ting......
Bunyi lift membuat Ariel lebih semangat, dia keluar di ikuti Yusri dari belakang, langkah tegapnya, suara sepatunya terdengar jelas mengisi koridor kantornya, sampai masuklah dia kedalam ruangan yang di isi beberapa model cantik yang berdiri melihat kedatangannya.
Satu persatu wajah mereka di perhatikan Ariel, tiba tiba raut wajahnya berubah, desiran darahnya memanas ketika dia tidak melihat sosok Anggun ada disana.
Tanpa sadar Ariel memukul meja dengan kepalan tangannya, membuat orang yang ada di dalamnya menjadi tertunduk dan takut.
"Aku sudah bilang, aku tidak suka bekerja sama dengan orang yang tidak profesional,"
Ariel kecewa bukan karena meragukan kinerja Anggun, tapi dia kecewa karena tidak menemukan wanita yang dia rindukan.
"Bukankah sudah aku katakan sebelumnya?"
Ariel membentak, dia berjalan mendekati Hani yang berdiri di depan mejanya.
"Dimana bos mu itu? apa dia tidak sanggup menangani iklan ini?"
Hani hanya tertunduk, Yusri yang melihat itu mendekat, dan berdiri di samping Ariel.
"Ariel jangan marah, dengarkan penjelasannya
terlebih dulu,"
Ariel menoleh sebentar.
"Aku atasanmu, jadi jangan menggurui aku,"
"Dan kau, katakan kepada bos mu itu, sudah sehebat apa dia? sampai tidak menghadiri meeting ini? apa dia pikir ini tidak penting?"
Ariel memutar tubuhnya
"Aku tidak mau tau, cepat hubungi dia dan suruh secepatnya datang kesini, katakan kalau aku sudah lama menunggunya,"
"Tapi Manda tidak bisa datang,"
Ariel memutar kembali kembali tubuhnya
menatap tajam Hani yang masih tertunduk.
" kau bilang apa? "
"Maaf dia...
"Lihat aku,
Hani menengadah dia melihat wajah Ariel yang menunggu jawabannya.
"Hari ini dia tidak bisa datang, karena sesuatu hal yang sangat penting untuknya,"
"Sepenting apa? sampai dia melupakan tanggung jawabnya?"
Hani terlihat ragu untuk mengatakannya, tapi dia tidak mungkin menutupinya.
"Tepat hari ini ibu Anggun meninggalkannya,"
Deg.....
Lutut Ariel menjadi lemas, dia baru menyadari dia sudah terlalu banyak kehilangan waktunya
dengan Anggun.
"Katakan dimana dia sekarang?"
Suara Ariel sudah lebih tenang.
"Dia ada di kampungnya, kemarin kak Fery..
"Fery juga ikut menemaninya?"
"Aku tidak tau, tapi mereka pergi ke Bandara bersama dan sampai sekarang aku belum bisa menghubungi Anggun."
Ariel kembali duduk di tempatnya,
*****
Di lain tempat.
Anggun menekuk lututnya, menunduk dengan tatapan mata yang sendu, rambut panjang yang biasa tergerai indah, kali ini ditutupi dengan selendang panjang yang menghiasai kepalanya, selendang putih senada dengan warna baju yang dia pakai.
Tidak ada air mata yang mengalir di pipi cantiknya, karena Anggun berusaha menahan air matanya yang hampir saja lolos.
Anggun mencabut rumput rumput kecil
yang tumbuh liar di sekitar makam ibunya, sesekali juga dia mengusap halus nisan yang bertuliskan nama Almarhumah ibunya.
"Anggun datang Bu,!"
kalimat sederhana yang menggambarkan betapa Anggun merindukan ibunya, Anggun selalu menyempatkan untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya meskipun jaraknya cukup jauh, tapi dia tidak pernah melupakan hari ini.
****
Terima kasih sudah mendukung
Maaf baru up dan belum maksimal juga.
jadi gini masih banyak kesalahan di sini, aku berusaha untuk memperbaikinya.