
"Eh, modus ya? aku 'kan gak pingsan, jadi ya gak butuh napas buatan," dengan gemas Suci menarik daun telinga Feri, sampai laki-laki yang usianya terpaut hampir 9 tahun dengannya ini sedikit meringis.
"Selain banyak bicara, ternyata kamu kasar juga ya, aku' kan cuma menawarkan jasa,"
"Habisnya Kakak modus, itu namanya ciuman bukan?"
"Memangnya kamu gak pernah dicium?"
"A-aku gak pernah,"
"Sekalipun?"
"Iya!"
"Aku akan jadi orang pertama ya?"
"Nikah dulu, kak...."
"Iya, aku tau. Tapi mau dicoba gak?"
"Gak boleh! gak boleh! gak boleh!"
Suci berteriak dan memukul pundak Fery, sampai Fery lebih mengeratkan tangannya agar Suci yang terus bergerak tidak jatuh dari punggungnya, ia hanya tersenyum mendengarkan ocehan Suci sampai mereka sampai di mobil.
Fery menekuk lututnya, membuat telapak kaki suci menapak dan menopang tubuhnya dengan sempurna, kemudian ia merogoh kunci mobil dari saku jasnya dan membukakan pintu mobil untuk Suci.
"Ayo masuk, aku akan mengantarmu ke rumah Ariel,"
Bukan menurut, Suci justru memeluk dan membenamkan wajahnya di dada bidang Fery, rasanya ia tidak mau malam ini cepat berlalu.
"Terima kasih Kak, semoga kita bisa selamanya seperti ini," lirih Suci yang masih tidak percaya dengan perubahan sifat Fery yang semakin lembut kepadanya.
"Hm..." Feri hanya berdehem dan membelai halus rambut suci.
******
Pagi sudah kembali datang, saat ini Fery sudah kembali berurusan dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. Satu per satu Fery membuka dan membaca tiap detail laporan keuangan perusahaannya, semua terlihat berjalan stabil tanpa masalah, beberapa waktu yang lalu Ariel sudah mengakui kalau dialah yang membantu Fery membayar semua hutangnya.
Awalnya Ariel terus menghindar dan tidak mau membuka suara, tapi Fery yang sudah terlanjur curiga terus saja mendesaknya, membuat Ariel terpaksa mengakuinya. Fery tidak mau menerimanya begitu saja, ia memutuskan akan membantu Ariel dalam membangun villa yang sekarang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Fery menyandarkan punggung di kursi hitam miliknya, ia memejamkan mata seraya memegang pangkal hidungnya, Fery kembali merasa gelisah, ia mulai berhalusinasi takut tidak mampu memegang tanggung jawabnya, sementara sampai saat ini ia belum juga mendapatkan sekretaris yang bisa membantu pekerjaannya.
Fery membuka mata dan kembali menegakkan punggungnya, tangannya membuka laci dan meraba untuk mencari botol obat pemberian Maya.
"Aku sudah menyerah, aku tidak mungkin bisa berhenti mengonsumsi ini," lirih Fery yang melihat benda bulat di tangannya.
Perlahan Fery membuka tutup motol dan mengambil sebutir pil pahit yang bisa menenangkannya,"kau akan pergi juga, saat mengetahui siapa dan bagaimana keadaanku yang sebenarnya," gumam Fery sembari membayangkan wajah polos Suci.
"Huufff!"
Fery menghela napas berat, setelah pil pahit itu sudah berhasil melewati tenggorokannya, ia meletakan botol kecil itu disembarang tempat, setelah merasa lebih baik, ia kembali menyibukkan diri dengan kegiatannya.
Tok...Tok...Tok...(Pintu diketuk dari luar)
Bersamaan dengan itu, pintu yang berwarna coklat itu terbuka dari luar.
"Maaf kalau saya mengganggu Pak," wisnu asistennya berdiri dengan masih memegang hendle pintu.
"Ada apa?" tanya Fery dengan wajah yang datar.
"Perusahaan Erlangga mengirimkan seseorang untuk Bapak," ucapnya.
Dahi Fery terlihat mengkerut, seingatnya hari ini tidak ada jadwal pertemuan dengan kantor Erlangga, tapi sepagi ini Ariel sudah mengutus orang untuk datang menemuinya.
"Apa ada masalah?"
"Tidak Pak, hanya saja pak Ariel mengirimkan seorang sekretaris untuk Bapak,"
"Bahkan untuk sekretaris pribadiku saja, Ariel yang mengirimkannya untukku," Fery semakin merasa tidak percaya diri.
"Selamat pagi Pak," sapaan lembut yang terdengar begitu indah sudah terdengar di telinga Fery.
"Kamu?" Fery terkejut dan tidak percaya saat melihat Suci tersenyum dan berdiri dengan memakai seragam layaknya seorang sekretaris profesional.
"Saya diperintahkan pak Erlangga untuk menjadi sekretaris pribadi Bapak, dan mulai hari ini saya akan bekerja di kantor Pak Fery," Suci bicara dan sedikit membungkukkan badan.
Apa lagi ini?
Fery membatin frustasi sepertinya takdir memang sudah mengikat hubungan mereka, sementara ia sendiri belum bisa memastikan perasaan yang sesungguhnya kepada Suci.
"Pak...."
"Oh, iya," Fery beranjak dan berjalan mendekati Suci,"seharusnya ini tidak perlu," ucapnya saat sudah berhadapan dengan Suci.
"Kenapa? saya bisa kok jadi sekretaris Bapak."
"Sini," Fery menggandeng tangan Suci membawanya duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Bapak gak suka saya ada di sini?" Suci menjadi cemas saat melihat wajah Fery terlihat sedikit panik.
"Bukan itu, kamu gak tau pekerjaan di sini seperti apa, aku gak mau kamu kelelahan Ci, aku masih bisa menangani semuanya,"
"Aku bisa kok Kak, jangan khawatir, selama ini aku sudah belajar banyak dari kak Ariel, aku bahkan pernah ikut lembur juga, dan sampai sekarang tidak ada masalah,"
"Tapi Ci ka__
"Kak...percaya sama aku. Kakak gak perlu takut kalau aku gak profesional kerjanya, aku janji gak akan ada yang tahu status kita di sini," Suci menggenggam erat tangan Fery.
Masalahnya bukan itu Ci, seharusnya tetap ada jarak diantara kita, supaya aku bisa melatih hatiku, agar tidak kembali merasakan sakit saat kamu pergi nanti.
"Kak...."
"Oh, aku gak masalah kalau kamu gak keberatan,"
"Senangnya, setiap hari bisa deket sama Kak Fery, jadi kita bisa punya banyak waktu berduaan," Suci bergelayut manja dilengan Fery.
"Eits! katanya mau jadi sekretaris dadakan yang profesional,"
"Bukan sekretaris dadakan kak," Suci mengkrucutkan bibirnya, membuat Fery tersenyum.
"Yasudah, kamu mulai kerja dari sekarang, meja kamu ada di depan ruangan ini, kalau ada masalah kamu bisa bilang langsung sama aku ya,"
"Siap Pak!" Suci menganggat tangan layaknya menghormat dan memberi laporan kepada pemimpin, "selama itu masalah kecil, saya pasti bisa menanganinya sendiri dengan baik."
Fery gemas mengacak rambut Suci yang sudah dicepol dengan rapi,"aku bisa gak konsentrasi kalau ada kamu," ucapnya.
Pintu kembali diketuk dari luar, membuat keduanya menjaga jarak, Fery bergerak cepat kembali ke meja kerjanya, sementara Suci buru-buru merapikan rambutnya, dan berdiri di tempat semula.
"Maaf Pak, perwakilan dari kantor Admaja sudah menunggu Bapak,"
"Saya hampir lupa, ya sudah kita kesana sekarang, dan Suci kamu tolong rapikan meja saya ya, ada beberapa berkas yang tidak beraturan, saya mau kamu menyusun sesuai dengan tanggal ya!"
"Baik Pak," jawab Suci mengerlingkan mata.
"Ekhmmmm!" Fery berdehem memberikan peringatan sebelum keluar dari ruangannya.
Setelah Fery pergi, Suci bergegas dengan penuh semangat untuk menjalankan perintah pertama bos barunya, meja ini terlihat sangat berantakan, perlahan Suci memegang kertas, berkas, pena, yang tidak tersusun di tempat yang sudah di sediakan.
Suci sudah mulai memilah dan menyusun berkas ini, sesuai tanggal agar memudahkan pekerjaannya.
Klang.....
Botol kecil berisikan setengah obat, jatuh dari tumpukan berkas yang dipegangnya, jatuh tepat di bawah kakinya, Suci meletakkan berkas itu begitu saja di atas meja dan membungkukkan badan untuk mengambil botol berwarna coklat milik Fery.
Terima kasih untuk semua dukungannya😍
Aduh ceritanya semakin ambyar, aku rasa semakin gak maksimal, hambar rasanya, maklum ya saya masih belajar nulis, baru banget seperti anak ayam yang baru menetas tadi pagi🐣