
Alisa menyandarkan punggungnya di sofa, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar, bola matanya menatap lurus pada langit langit ruangan yang terasa panas ini. Alisa mengabaikan keberadaan Fery yang masih memperhatikan kegelisahannya .
"Jadi apa keputusanmu?" Fery memecahkan keheningan diantara keduanya.
Perlahan Alisa menegakan kembali tubuhnya pada posisi semula, ia kembali menatap Fery
" Sama seperti Anggun, jadi kakak tidak bisa memaksakan perasaanku," jawabnya dingin.
Kali ini giliran Fery yang menyandarkan punggungnya di sofa, ia melipat kedua tangannya di depan dada menatap tajam wanita cantik yang ada di depan matanya ini.
"Aku tidak memaksamu, aku tidak punya hak untuk itu, aku mengerti apa yang kau rasakan ini, tapi Alisa sekali lagi tanyakan kepada dirimu sendiri, cari jawaban untuk dirimu sendiri, apa bedanya antara cinta dan obsesi, lagi pula sejauh apapun mereka terpisah, kalau keduanya ditakdirkan bersatu, maka kita tidak bisa menghalanginya, Ariel dan Anggun sudah terikat dalam hubungan yang lebih dalam yang kau sendiri tidak pernah tau itu Alisa."
Alisa kembali tercengang pria tampan yang ada di depannya ini memanglah pria yang dewasa, bagaimana bisa ia memikirkan perasaan orang lain, ia membela laki laki lain, ia menyerahkan wanitanya untuk laki laki lain, Alisa berusaha mencerna ucapan Fery, sampai ia menangkap ada satu hal yang mengganjal dari semua penjelasan Fery.
"Hubungan yang lebih dalam? hubungan yang seperti apa?" tanya Alisa bibirnya gemetar, suaranya tercekat hampir tidak bisa lolos dari mulut manisnya.
Fery menyadari satu hal, ia hampir saja kelepasan bicara, dengan cepat Fery meraih koran di atas meja, menutupi wajahnya dan berpura pura membaca berharap Alisa tidak lagi menanyakan hal yang sama.
Tapi Alisa tidak tinggal diam, ia meraih koran dari tangan Fery dan menghempaskannya di sembarang tempat, membuat Feri terkejut dan mendongak melihat Alisa yang sudah berdiri di depannya.
"Hubungan dalam seperti apa? apa yang mereka sudah lakukan? jawab kak?" Alisa sudah kehilangan kesabarannya, ia sudah mengeraskan suaranya, tidak perduli apakah Farida di luar sana mendengarnya atau tidak.
Fery yang masih mengira kalau Ariel yang sudah menodai Anggun berusaha tetap tenang, tidak mungkin ia menceritakan aib wanita yang sudah mengisi hidupnya selama lima tahun ini, hal ini lah yang membuat Fery berlapang dada kembali merelakan Anggun untuk Ariel, perlahan Fery berdiri berhadapan dengan Alisa.
"Lupakan apa yang aku katakan, pulanglah aku harus segera ke kantor, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,"
Alisa menarik lengan Fery ketika hendak melewati Alisa," Kakak menyembunyikan sesuatu?, apa yang aku tidak tau?" tanyanya lantang, perlahan Fery menjatuhkan tangan Alisa dari lengannya, kedua orang yang sedang diambang keraguan ini saling beradu pandang dalam jarak yang sangat dekat.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri Alisa, kau gadis yang baik, jangan cari tau apapun lagi tentang mereka, aku tidak memintamu untuk melepaskan Ariel, tapi aku memintamu untuk memikirkan dirimu sendiri, jangan sampai kau merasa tersakiti lebih dari ini."
Fery berlalu melangkah meninggalkan Alisa tapi Alisa kembali menarik lengan Fery.
"Baik aku akan menganggap kita tidak pernah membahas ini, anggap saja aku tidak tau hubungan antara mereka berdua, bukankah itu adil?"
Dengan cepat Alisa meraih tas mahalnya di atas meja dan pergi meninggalkan Fery yang masih mematung di tempatnya.
.
.
.
Sementara di kampung nan jauh di mata, tidak beda dengan Alisa dan Fery, Ariel dan Anggun juga masih memperdebatkan perihal kaus yang belum usai.
"Kenapa kau pilih kaus yang ini tadi?" Ariel memperhatikan tubuhnya di depan cermin yang ada di ruang tamu, tubuh kekarnya yang biasa memakai pakaian mahal ini, kini hanya di balut kaus oblong biasa warna hitam yang baru saja di beli Anggun di pasar yang cuma buka sekali dalam seminggu di kampungnya.
"Kenapa kau masih tidak terima juga? aku sudah lelah mencari kaus itu, dan aku sudah menawarnya untukmu,"
"Kau menawar kaus ini?" tanya Ariel tidak percaya.
"Iya ." jawab Anggun bangga.
Ariel menyentil pelan kening Anggun.
"Kau seorang Designer ternama, tapi untuk kaus biasa seperti ini kau menawarnya?"
Anggun mengusap keningnya.
"Apa salahnya bukankah bisa terjadi interaksi tawar menawar harga antara penjual dan pembeli? lagi pula ini di pasar Ariel, semua pembeli pasti akan melakukan hal yang sama, dan para pedagang tidak akan melepaskan dagangannya kalau mereka merasa rugi, bukankah itu afdol? "
"Kau keterlaluan ya, kenapa kau jadi pelit begini sih?"
Drttttttt
Ponsel Anggun yang tadi baru saja ia aktifkan berdering di saku celananya, ia melirik Ariel sekilas ketika melihat nama yang tertera di layar Hpnya, Anggun menjauhi Ariel tapi Ariel terus mengikutinya dari belakang.
"Baik kak...." jawab Anggun pada seseorang yang ada di sebrang sana.
"Apa urusanmu sudah selesai?"
" Iya kak sudah, Anggun sudah ziarah kemarin," Anggun melirik lagi wajah Ariel yang sudah berdiri disampingnya.
"Jadi kapan kembali ke kota? aku takut kamu akan lebih betah di sana,"
"Kakak gak perlu khawatir, mungkin lusa Anggun sudah sampai Bandara,"
"Baiklah kakak nanti yang akan menjemputmu di Bandara ."
"Kenapa?"
"Biar Hani saja yang menjemput aku kak,"
Anggun melihat wajah Ariel yang datar tanpa ekspresi, Anggun jadi merasa seperti seorang istri yang ketahuan suami sedang menerima telfon dari selingkuhan.
"Baiklah, cepatlah pulang aku merindukanmu,"
"Iya kak...." jawab Anggun ragu.
"Iya apa?" Fery menggodanya di ujung telefon.
"Iya aku juga merindukan kak Fery," jawabnya terbata ia sedikit takut saat melihat mata Ariel yang sudah memerah.
"Yasudah, kakak harus ke kantor, jaga dirimu baik baik ya, sampaikan salam kakak untuk Paman dan Bibimu," Ucap Fery mengakhiri telfonnya.
Anggun kembali menyimpan Hpnya ke dalam saku celananya, tersenyum saat Ariel lebih dulu tersenyum untuknya.
"Dia merindukanmu?" tanya Ariel dan dijawab anggukan kepala oleh Anggun.
"Dan kau juga merindukannya?"
"Iya aku merindukannya," jawab Anggun cepat ia menunduk dan berjalan melewati Ariel.
"Tunggu Anggun,!"
Anggun menghentikan langkahnya.
"Apa kau tau apa tujuanku datang kesini?"
"Tidak,"
"Bawa aku Anggun, aku ingin ziarah dan
menemui ibumu," ucapnya pelan.
Anggun membalikan tubuhnya menghadap Ariel, tapi Ariel masih membelakanginya.
"Apa kau kesini untuk....
"Iya....Aku tau aku sudah sangat terlambat, maukah kau mengantarkan aku ke makam orang tuamu?"
Anggun terdiam memperhatikan punggung Ariel " Tentu bersiaplah," jawabnya .
.
.
.
Beberapa menit kemudian.
Ariel dan Anggun sudah berada di depan makam orang tua Anggun yang memeng berdampingan, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara, Ariel melangkah lebih maju ia menekuk lututnya dan tangan kanannya memegang batu nisan yang bertuliskan nama Almarhumah Ibu Anggun, seketika matanya memerah, tubuhnya juga bergetar hebat, seakan ia merasakan kesedihan yang mendalam.
"Maafkan Ariel Bu, Ariel sudah terlalu dalam menyakiti perasaan anak Ibu, Ariel tau tidak mudah membuatnya maafkan kesalahanku Bu, tapi Ariel sungguh menyesali semua apa yang sudah terjadi di antara kami, Ariel janji akan selalu menjaganya, Ariel akan berusaha untuk merebut hatinya lagi, beri restu Ibu untuk Ariel ya." batin Ariel ia tangan kirinya mengusap air mata yang sempat menetes di pipinya.
Sementara Anggun masih berdiri di belakang Ariel, ia bisa melihat dengan jelas punggung Ariel yang bergetar.
"Dia lah laki laki baik itu Bu, laki laki yang dulu ingin Anggun perkenalkan sama ibu, dia masih menjadi laki laki yang baik Bu, Maaf kalau Anggun tidak bisa menjaga hubungan ini Bu," batin Anggun.
Beberapa menit kemudian Ariel bangkit ia berdiri memutar tubuhnya, Ariel dan Anggun berhadapan di depan makam kedua orang tua Anggun.
Desiran Angin membuat selendang Anggun terbuka menampakan sebagian rambutnya.
Ariel melangkah maju mendekati Anggun memandang wajah cantik Anggun dan kembali memasangkan selendang itu sampai menutupi rambut Anggun dengan sempurna.
.
.
.
Bersambung....
Ada yang punya tisuš¤§