
Sementara perusahaan peninggalan papa Fery yang ia kelola hampir berada dalam kehancuran, karena keadaan pailit yang mengancam. Pailit adalah suatu keadaan dimana seorang yang oleh suatu pengadilan dinyatakan bangkrut dan yang aktivanya atau
warisannya telah di peruntukan untuk membayar hutang.
Keadaan pailit menjadi ancaman yang sangat mungkin terjadi bagi siapa saja termasuk bagi perusahaan yang baru didirikan tapi juga yang sudah puluhan tahun berdiri. Setiap perusahaan memang berpotensi mengalami pailit meskipun kemungkinannya hanya 0,01%.
Bahkan sebagian para investor juga sudah menarik kembali saham mereka, keadaan ini semakin membuat Fery terjepit. Bagaikan telur berada di ujung tanduk.
Keadaan ini juga membuat kondisi Farida memburuk, bagaimana tidak, perusahaan peninggalan suami yang didirikan sendiri dengan penuh perjuangan itu, kini terancam musnah.
Setelah mengetahui kenyataan pahit ini, tiba tiba saja tubuh Farida menjadi lemah, tubuhnya demam jantungnya terasa nyeri, sesak yang dia rasakan di bagian dada, membuat Farida harus dilarikan ke rumah sakit.
Dokter sendiri sudah menyatakan bahwa Farida mengalami gejala penyakit jantung.
Bukan cuma Fery ,bahkan Anggun juga merasakan kesedihan yang mendalam.
Bayangan ketika ibunya pergi meninggalkan dia kembali terlihat dengan jelas, Anggun kembali menginjakan kakinya dirumah sakit,
melihat kondisi tubuh Farida yang terlihat dipenuhi selang di setiap bagian tubuhnya membuat Anggun semakin sesak.
Anggun masih berdiri di koridor rumah sakit, tepat di depan ruangan Mamanya dirawat. Ia menunggu kondisi sang Mama yang masih belum sadarkan diri. Anggun terus menangisi
keadaan ini, ia takut akan merasakan kehilangan untuk yang kedua kali.
Sementara Fery, ia masih terus berusaha meminjam uang dari para pengusaha yang lain, sayangnya mereka sudah tidak percaya kepada Fery yang sudah dipastikan akan mengalami kebangkrutan. Apa lagi Fery meminjam uang dalam jumlah yang banyak, tentu saja tidak ada yang percaya padanya.
Mau dengan apa dia membayar hutangnya nanti? Begitulah yang mereka pikirkan.
Yang tersisa hanya satu perusahaan, yang Fery sendiri memang tidak mau berhubungan dengannya , sejak dulu mereka sudah berada di dalam lingkaran permusuhan.
Perusahaan itu adalah perusahaan terbesar, yang dipimpin Ariel Erlangga yang terkenal kejam di dunia bisnis. Yang tidak akan pernah mengampuni lawannya.
"Sudah Anggun, tenangkan dirimu, jangan terus menangis seperti ini...." Dokter muda yang tidak lain teman masa kecil Anggun terus berusaha untuk menenangkan Anggun.
"Aku takut....Aku takut Ky...." Air mata Anggun sudah membasahi jas putih yang dikenakan Rizky, karena Anggun terus menangis dalam pelukannya.
"Mama mu akan baik baik saja, Dokter disini sudah melakukan yang terbaik, percayalah semua akan baik baik saja, " Ucap Rizky dia terus membelai rambut Anggun, sesekali juga tangannya menepuk pelan punggung Anggun.
"Aku tidak mau kehilangan untuk yang kedua kali Ky....Ibu sudah lama pergi, aku gak mau Ky , aku takut huhuhu!" Anggun masih saja menangis.
"Kamu tidak sendiri, kami para Dokter disini akan terus berusaha, sudah tenangkan dirimu, hari sudah menjelang petang, kamu belum makan apapun juga dari siang tadi kan....?" Ucap Rizky, ia menghapus air mata di pipi Anggun.
"Aku gak nafsu makan Ky...." Tolaknya dengan wajah yang sendu, bahkan suaranya sudah nyaris tak terdengar.
"Ikut lah keruangan ku, istirahat disana aku akan membelikan makananmu."
"Rizky, aku gak mau, biarkan aku disini...."
"Aku memaksa mu Anggun, " Rizky merangkul Anggun untuk mengikuti langkahnya menuju ruangannya .
Di ujung koridor rumah sakit, ada sepasang mata yang menyaksikan interaksi antara Anggun dan Rizky, yang terlihat saling menyayangi. Dia mengeluarkan Hp dari saku jas putih khas Dokter yang setiap hari ia pakai, kemudian ia menghubungi seseorang.
"Gimana kak? Apa sudah ada jalan keluarnya?" Anggun bisa melihat dengan jelas kecemasan di raut wajah Fery. Pria ini duduk di meja kerjanya, terlihat serius membaca beberapa berkas perusahaannya. Ia menoleh sebentar melihat Anggun yang berdiri didepan pintu ruang kerjanya yang ada di lantai satu rumahnya.
"Masuklah, " Fery menarik kedua sudut bibirnya, ia mencoba untuk tetap tenang didepan Anggun, adik angkat yang diam diam sudah mencuri hatinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Fery mulai tertarik kepada Anggun.
"Apa kakak berhasil mendapatkan pinjaman itu....?" ucap Anggun, setelah ia duduk di kursi tunggal tepat di depan meja Fery, sehingga mereka saling berhadapan.
"Belum...." Fery menggelengkan kepalanya ,ia merapikan berkas berkas yang tampak berserak di atas mejanya.
"Kenapa tidak ada yang mau memberi Kakak pinjaman uang itu....?"
"Jumlahnya terlalu banyak Anggun,di dalam dunia bisnis semua diperhitungkan, mereka takut kita tidak bisa mengembalikan uang yang kita pinjam nanti,"
"Apa kakak sudah menemui semua pengusaha yang ada di sini....?"
Fery terdiam lama ia memandang Anggun yang menatapnya menanti jawabannya.
"Sudah, " ucapnya bohong.
"Termasuk Ariel ya, aku lupa dia tidak mungkin mau membantu kak Fery kan? dari dulu Ariel memang membenci kak Fery kan?"
Batin Anggun, ia sudah tidak semangat membahas masalah ini, melihat wajah Fery yang sendu membuatnya kembali sedih.
"Kakak yang sabar ya, kalau gitu Anggun ke rumah sakit ya kak, mau jenguk Mama, Suci juga pasti sudah lelah disana kak...." Ucap Anggun, ia hendak berdiri dan menarik tangannya dari atas meja.
"Anggun...." Fery memegang tangan Anggun, membuat Anggun kembali duduk.
"Maaf....Semua ini karena kakak yang gagal mengelola perusahaan dengan baik, karena kakak, Mama jadi terkena serangan jantung."
"Jangan menyalahkan diri kakak seperti ini, semua pasti akan baik baik saja kak, " Angin juga mencoba untuk tetap tegar.
"Kamu pergi sendiri dulu ya, setelah urusan kakak selesai, kakak pasti ke rumah sakit."
"Iya kak, " Ucap Anggun, ia meninggalkan Fery yang sudah kembali sibuk dengan berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
*****
Tentu saja Ariel sudah mendengar tentang perusahaan Fery yang diambang kehancuran,
Terbesit pertanyaan di dalam hatinya.
"Kenapa Fery tidak menemui aku? Baiklah lihat saja sampai kapan dia mempertahankan
harga dirinya itu? jangan salahkan aku, kalau kali ini aku akan memanfaatkan kelemahan mu ini, Anggun....aku akan pastikan kali ini kau tidak akan bisa menghindari ku lagi, akan aku pastikan, kau akan kembali lagi ke dalam pelukan ku, aku sendiri yang akan membuatmu memohon pada ku,!"
Ariel yang hatinya sempat luluh ini, kembali memanas setelah mendapatkan informasi dari rumah sakit yang menyatakan kedekatan Anggun dengan seorang Dokter muda. Rasa cemburunya kembali muncul, dia cemburu di waktu yang salah. Dimana Ariel sudah tidak punya hak atas Anggun.
Ariel membuka jas hitamnya, menyisakan kemeja yang kemudian ia gulung sampai siku,
Ariel berniat menemui Anggun di rumah sakit.