
Suci maju satu langkah membuat jarak keduanya semakin dekat, hanya tangan yang menggenggam tangkai payung itu yang menjadi batas pemisah antara mereka, ini adalah pertanyaan terakhir dari Suci, setelah ini Suci tidak akan menjatuhkan harga dirinya lagi, suci akan mencoba memendam dan melupakan cintanya, suci akan berpura-pura baik-baik saja, meskipun itu akan menyakitkan.
Cahaya matahari masih membakar kulit, panasnya menusuk sampai kedalam lubang pori-pori yang tidak kesat mata, dan efeknya selalu menggerahkan hati. sama dengan hati Suci yang sedari tadi terasa panas saat melihat Fery bercengkrama dengan seorang wanita dewasa cantik yang ada di ujung lahan sana, tidak ada yang bisa melihat ada bara cemburu di dalam hatinya.
Berada di dekat Fery dengan jarak seperti ini saja membuat Suci bangga, dengan leluasa ia bisa melihat wajah tampan dari laki-laki yang namanya sudah tertancap di dalam hatinya. Suci masih sedikit mendongak menanti jawaban.
Sementara Fery sedikit menunduk, memandang wajah mungil Suci yang terlihat menggemaskan, andaikan saja hatinya tidak rapuh, dan andaikan saja hatinya tidak trauma, andaikan saja hatinya tidak takut kehilangan lagi, sudah bisa dipastikan kalau Fery akan mencoba membuka perasaannya untuk Suci, apa lagi Suci sudah secara terbuka menunjukan perasaannya.
"Kak ... jawab," Suci memegang gumpalan tangan Fery yang sedang memegang payung.
Apa yang harus aku jawab, Anggun yang lebih dewasa darimu saja masih labil, apa lagi kamu? bagaimana kalau suatu hari nanti kamu juga akan pergi disaat aku sudah membuka hati untukmu???
Fery masih membatin sembari melirik tangan Suci.
"Kenapa? kenapa aku harus cemburu?!" bukan jawaban, melainkan pertanyaan.
Suci menjatuhkan tangannya, cukup sudah ini pertanyaan terakhir untuk Fery, laki-laki pemilik hati sedingin es, laki-laki dengan watak seperti batu, laki-laki seperti belut yang sangat sulit di genggam, Suci mundur satu langkah, membuang wajahnya kesembarangan arah.
Fery memejamkan mata sejenak, inilah yang terbaik, benteng yang sejak awal dibangunnya tidak boleh goyah, benteng itu harus tetap berdiri kokoh seperti biasa, agar tidak ada lagi hati yang tersakiti, terutama hatinya yang masih menyimpan trauma, meskipun saat ini Suci yang terluka, tapi Fery yakin semua karena jiwa Suci yang masih labil, Fery yakin Cinta Suci hanya sesaat untuknya.
"Aku sudah bilang, kalau aku suka wanita yang dewasa," ucap Fery dengan suara yang bergetar.
Suci kembali melihat Fery, ia menggenggam kuat ujung bajunya, mencoba menahan semua perasaannya, benar-benar Cinta yang bertepuk sebelah tangan pikirnya.
"Kamu lihat dia !" Fery menunjuk wanita yang tadi bersamanya, dan Suci mengikuti arah pandangan Fery,"aku suka wanita dewasa yang seperti dia," ucap Fery meyakinkan.
Mata suci sudah berkaca-kaca, tapi Suci masih bisa tersenyum, ia menghembuskan napasnya secara perlahan,"oh seperti itu!" jawabnya.
"Haha bodoh ya, mana mungkin aku bisa seperti dia, dia cantik, dewasa, sexy, lekuk tubuhnya itu sempurna, jauh banget sama aku, ehmm aku baru yakin ternyata Kak Fery memang tertarik dengan wanita yang seperti itu," Suci mencibikkan bibir, kemudian kembali melihat Fery.
"Mulai sekarang, aku akan berhenti berharap sesuatu yang tidak pasti," ucapnya, lalu Suci pergi dari lahan luas ini.
Fery tersenyum getir melihat Suci pergi dengan menyeka air mata.
***
"Pak Fery, boleh saya ikut mobil Pak Fery? kebetulan supir saya belum datang," Mila perempuan cantik dengan memakai pakaian yang mempertontonkan lekuk tubuhnya itu mencegah Fery saat hendak masuk ke dalam mobilnya.
Fery berfikir sejenak, tidak mungkin ia membiarkan Mila menunggu sendiri, sementara yang lain sudah pergi, dari jauh ia melihat Suci yang sudah semakin mendekat "masuklah!" ucapnya.
"Terima kasih," Mila tersenyum dan membuka pintu bagian depan.
Dari jauh Suci melihat keduanya, sampai Fery juga masuk kedalam mobil, perlahan Suci berjalan dan membuka pintu bagian belakang, kini ketiganya sudah berada di dalam mobil.
"Suci ... nama kamu Suci'kan? kamu perwakilan dari perusahaan Erlangga?" Mila memutar tubuhnya sejenak melihat Suci.
"Iya Mbak," Suci menjawab dengan ramah.
"Saya Mila, saya salah satu Arsitek yang ikut merancang Villa yang akan kita bangun ini," Mila memperkenalkan diri.
Suci menjadi canggung, ternyata wanita yang disukai Fery memang wanita yang cerdas dan dewasa, berbanding terbalik dengan dirinya, perlahan Suci menerima uluran tangan Mila.
"Jangan lupa pakai seatbelt !" perintah Fery yang kemudian dilakukan kedua wanita itu.
Fery sudah mulai melajukan mobilnya, Mila dan Fery sudah mulai bercengkrama seakan banyak topik menarik yang mereka bahas, sedangkan Suci sibuk dengan ponselnya sesekali pandangan keduanya bertemu melalui kaca film yang selalu menjadi pusat perhatian Fery.
****
"Ternyata cuma sama aku aja kak Fery ketus, oh aku lupa dia itukan perempuan yang disukai kak Fery," gumam Suci.
Fery dan Mila sudah duduk berhadapan, Fery menjulurkan tangannya memanggil Suci yang masih berdiri depan pintu, lalu ia menarik kursi yang ada di sampingnya.
"Duduk sini!" Fery menepuk kursi, namun suci menarik kursi lain dan duduk di samping Mila.
Fery tersenyum simpul, kemudian ia membuka daftar menu makanan, "kamu mau makan apa Ci...?" tanya Fery pada Suci.
"Apa aja," Suci menjawab malas.
"Hari ini biar aku saja yang pesankan menunya. Makanan favorit kamu belum berubah'kan?" tanya Mila, Fery menggelengkan kepala.
Kemudian Mila antusias menyebutkan satu persatu menu kepada waitres yang sangat cekatan mencatat pesanannya.
Bahkan semua makanan favorit kak Fery dia sudah hapal, pantas saja kak Fery suka dia
Beberapa saat kemudian makanan lezat sudah tersaji di atas meja, suara dentingan sendok dan garpu sudah terdengar, entah karena lapar atau rasanya memang enak, Suci menikmatinya tanpa menghiraukan Fery dan Mila yang sesekali mengobrol.
"Suci!" seseorang datang menepuk pelan punggung Suci, membuat Suci tersedak.
"Uhukk! uhuk! uhuk!"
Cepat-cepat Suci menenggak air minum yang disuguhkan orang yang menepuk punggungnya.
"Pelan, pelan Ci," ucapnya kembali meletakan gelas di atas meja, dan memberikan tisu kepada Suci.
Fery ternganga melihat interaksi keduanya, apa lagi saat Suci menerima dan mulai membersihkan mulutnya dengan tisu, anak ini kenapa ada di sini? pikirnya, selera makan Fery mendadak hilang.
"Dika? cepet banget kesininya!" ternyata mereka memang sudah janjian, pantas saja Suci sibuk dengan ponselnya.
Dengan santuy Dika menarik kursi yang ada di samping Fery, dan duduk dengan nyaman.
"Aku'kan sudah bilang, aku akan selalu ada untuk kamu," jawabnya mengerlingkan mata.
Ting.....Fery menghempaskan sendok dengan kasar.
****
Terima kasih sudah mendukungš¤
belum bisa disebut namanya ya
Like
komen
Rate5
vote.