Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Menjadi Istri Simpanan


Readers sayang! Maaf Vio promosi lagi.


"Gue udah janji bikin hidup Moza menderita seperti apa yang udah dia lakuian sama Sasa, dengan bertunangan sama dia, gue lebih leluasa nyiksa batinnya sampai dia mati secara perlahan."


Tubuh Tiara gemetaran mendengar percakapan Daniel dan Andre. Daniel adalah laki-laki yang baru saja menyematkan cincin di jari manis kakaknya, sedangkan laki-laki muda yang berdiri di sampingnya merupakan sahabat sekaligus sekretaris Daniel.


"Udah gue duga, kalau tujuan loe deketin Moza cuma karena mau balas dendam."


"Jelaslah! Gue nggak pernah cinta sama dia. Moza perempuan paling menjijikan yang pernah gue kenal karena dia udah buat sahabat kita hancur dan sekarang giliran gue yang kasih dia pelajaran!"


Telinga Tiara menjadi panas, ia yang awalnya berniat masuk ke dalam lift tidak menyangka akan melihat Daniel di depan salah satu kamar hotel tempat kakaknya melangsungkan acara pertunangan. Tiara tidak menyangka kalau Daniel yang selama ini dikenalnya selalu perhatian dan menyayangi kakaknya, ternyata memiliki sisi lain yang kejam dan menakutkan. Beruntung ia sempat merekam bukti percakapan Daniel di dalam ponselnya, Tiara harus segera menemui Moza agar Moza tau seperti apa calon suaminya.


'Daniel brengs*k, aku nggak akan biarin rencanamu berhasil.'


Andai saja gaun yang ia pakai tidak menghambat pergerakannya, Tiara pasti sudah berlari dari tempat ini sebelum Daniel melihatnya.


Daniel memicingkan mata ketika melihat siluet wanita bergaun hitam seperti tergesa-gesa menjauhinya, dari jarak yang sudah semakin jauh barulah ia menyadari siapa pemilik bahu halus itu.


"Sial! Tiara, tunggu!"


Tiara menoleh melihatnya, raut wajah wanita bertubuh mungil itu seperti menahan amarah, bahkan Daniel hampir tidak mengenali wajah yang biasanya dihiasi senyuman manis itu. Apa Tiara mendengar semuanya? Dengan langkah tegap ia mendekati Tiara, tetapi wanita itu semakin menjauhinya.


Rahang Daniel mengeras melihat benda pipih di tangan Tiara. "Tunggu atau loe akan menyesal!" Namun Tiara tetap tidak menghiraukan peringatannya, ia pun mengejar Tiara sampai berhasil mencekal tangan Tiara.


"Gue bilang berhenti!" Daniel merampas ponsel Tiara. "Sebaiknya loe jangan ikut campur urusan gue, anggap aja loe nggak dengar apapun yang barusan loe dengar." Daniel membanting ponsel Tiara sampai hancur.


"Dasar laki-laki jahat! Kamu pikir aku takut, huh! Aku akan bilang sama semua orang siapa kamu sebenarnya, biar kak Moza dan orang-orang tau kalau ternyata Daniel laki-laki pengecut dan brengs*!"


"Cukup, Tiara!" bentak Daniel. Mereka saling bersitatap. "Jangan buat gue ngelakuin sesuatu yang bisa buat loe hidup dalam penyesalan!"


"Kamu pikir aku takut? Aku rela ngelakuin apapun demi kebahagiaan kakakku, dan kamu nggak bisa hentikan aku!"


"Kalau gitu, jangan salahkan gue!" Daniel tidak pernah main-main, dengan gerakan cepat ia menggendong Tiara.


"Dasar kurang ajar! Turunkan aku, Daniel!"


Tiara meronta dan memukul bahu Daniel, tetapi laki-laki ini tetap tidak perduli.


"Perempuan ini biar jadi urusan gue. Loe urus bagian, loe," ucap Daniel setelah Andre membukakan pintu kamarnya.


"Jangan loe sakiti dia!"


"Gue cuma mau main-main sama dia!"


"Lepasin, aku! Kak Andre tolong aku!" teriak Tiara meminta tolong sebelum Daniel menutup pintu.


Andre masih berdiri di tempatnya, ia bingung harus melakukan apa, ingin menolong Tiara, tetapi ia tidak memiliki kuasa apapun, akhirnya Andre menjalankan perintah Daniel untuk menghapus bukti rekaman CCTV yang bisa menjerat Daniel.


Begitu masuk ke kamar, Daniel menghempaskan Tiara di atas ranjang lalu merobek gaun malamnya.


"Daniel gila, sampah! Lepaskan aku!" Tiara menutupi bagian dada yang sudah terekspose. Daniel benar-benar sudah melecehkannya, ia menangis tetapi calon kakak iparnya sama sekali tidak menghiraukannya.


"Tolong jangan lakuin ini, kak ... tolong lepaskan aku dan kak Moza," ucap Tiara lirih di bawah kungkuhan Daniel.


"Nggak bisa! Baik Moza atau pun Tiara harus ngerasain apa yang dirasakan Sasa, dia hampir depresi karena perbuatan kakak loe yang pernah ngerebut tunangan Sasa, dan sekarang giliran gue yang hancurin kalian!"


"Kakak salah paham, Sasa yang udhmmmpp


Daniel tidak membiarkan Tiara bicara, ia mencium Tiara dan bermain-main di sana. "Buka mulut loe!" Daniel memaksa gadis ini membuka mulutnya, tetapi Tiara menggigit bibirnya.


"Akh Tiara!" Daniel menghapus darah segar di sudut bibirnya. Melihat perlawanann Tiara membuat nafsunya semakin menggelora.


"Kamu menjijikan, kak!"


"Dan elo menggairahkan."


Daniel tetap melanjutkan aksinya, ia membuka satu persatu pakaiannya, ketika Daniel membuka celananya, Tiara mengambil kesempatan melarikan diri sampai berhasil memegang handle pintu, namun sayang pintu tidak bisa dibuka.


"Loe nggak bisa lari dari gue, nggak sekarang ataupun selamanya." Dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, ia mendekati Tiara.


"Daniel sampah, biarkan aku pergi!"


"Mimpi!"


Daniel menarik pinggang Tiara lalu kembali menghempaskannya di atas ranjang, ia mencium Tiara tanpa membiarkan gadis ini membantahnya, tangan Daniel pun sudah menjelajahi setiap permukaan kulit Tiara.


Air mata Tiara semakin deras, ntah sejak kapan Daniel berhasil melepas gaunnya, ia memukul dan mencakar Daniel, tetapi percuma sebab Daniel tetap berhasil menguasai tubuhnya.


"Kamu masih perawan?" Daniel tercekat ketika kesulitan melakukannya, tetapi nafsu sudah tidak bisa ia bendung lagi.


Tiara sudah ternoda ketika Daniel berhasil menyatukan tubuh mereka. Tiara bagaikan boneka yang tidak memiliki hak apapun di bawah kungkuhan Daniel.


Daniel meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya di sana, setelah tuntas dan puas melakukannya ia mengambil gambar Tiara dengan kamera ponsel miliknya.


"Laki-laki brengs*k dengan begini aku memiliki bukti untuk mengungkap kebusukanmu!" Tiara menutupi tubuhnya dengan selimut putih yang sudah ternoda bercak merah.


"Sebelum itu terjadi gue yang akan lebih dulu nyebarin foto-foto loe ini. Gue pastikan wajah loe akan terpampang nyata di berbagai media, otomatis nama baik Moza akan hancur di hari itu juga."


"Sialan kamu, Daniel! Kenapa kamu sejahat ini!"


"Karena loe yang mau! Jangan salahkan gue Tiara!" Daniel mengambil gaun Tiara yang sudah tidak layak pakai. "Gue kasih loe pilihan, keluar dari sini pakai gaun jelek ini biar mereka tau apa yang udah kita lakuin di sini, atau loe tetap di sini sampai besok ada orang yang ngantar pakaian buat, loe!" Daniel memakai pakaiannya di depan Tiara.


"Kamu licik! Aku membencimu seumur hidupku!" Tiara melempar bantal tepat mengenai wajah Daniel. Laki-laki berhati iblis ini benar-benar sudah berhasil menjebaknya.


Daniel tertawa. "Kamu yang mau sayang." Tanpa meminta ijin Tiara, ia mengecup kening calon adik iparnya. "Terima kasih, sayang. Aku harus pergi karena kakakmu sudah menunggu."


"Pergilah kau ke neraka Daniel! Maafkan aku, kak ... maafkan aku," lirih Tiara menatap nanar pintu yang baru saja ditutup Daniel.