
Ariel yang hanya memakai celana training
Lotto pria berwarna hitam itu kini sudah berdiri di depan Anggun, membuat Anggun
semakin gugup karenanya, bagian dada bidang Ariel yang putih terpampang begitu nyata membuat pipi Anggun merah merona,
Anggun memalingkan wajahnya ke sembarang arah berharap Ariel tidak menyadari kegugupannya.
Ariel mengangkat satu tangannya " Apa tidak ada kaos lain selain ini?" tanya Ariel lagi yang belum juga menyadari kegugupan mantan tercintanya ini.
"Tidak ada kau lihat sendiri ukuran tubuhmu dan Paman memang jauh berbeda," seru Anggun yang sudah bersandar di dinding berusaha untuk menjauhi Ariel.
Ariel melemparkan kaos itu begitu saja di meja, dengan handuk kecil ditanganya ia mengeringkan rambut yang memang belum kering sepenuhnya, bahkan tetesan air dari rambutnya jatuh membasahi pundak Ariel.
Anggun masih terpana melihatnya " Kau memang semakin tampan, masih seperti dulu," batin Anggun yang diam diam memperhatikan Ariel mantan tercintanya ini.
"Lalu aku harus pakai apa?" Ariel sudah berkacak pinggang, ia mengerutkan keningnya saat melihat wajah Anggun yang memerah, wajahnya yang putih, bagian pipi yang berseri seperti di hiasi Blush-on , tanda apa ini? jelas Ariel masih ingat dengan tanda ini, pertanda Anggun sedang gugup karenanya.
Ariel teringat sesuatu, mantan tercintanya ini memanglah gadis polos, memanglah gadis lugu, dulu saja ketika mereka masih bersama Anggun memang selalu menghindarinya jika ia bertelanjang dada seperti sekarang, bahkan Anggun tidak segan segan memukulnya supaya Ariel kembali mengenakan bajunya.
Mengingat itu membuat Ariel sedih, kerena kesalahannya hubungan mereka berakhir, karena mulut jahatnya, Anggun menjadi sangat membencinya, bahkan sampai sekarang Anggun belum juga mengetahui fakta yang sebenarnya, biarkan saja jangan sampai Anggun mengetahuinya, sekarang jangankan bercanda dengan pukulan kecil dari Anggun, untuk menatapnya saja Anggun terlihat terpaksa.
Tapi itu tidak akan lama karena sebentar lagi Anggun akan menjadi milik Ariel hanya milik Ariel, begitulah yang ada di benaknya.
Ariel menarik pergelangan tangan Anggun ketika melihat gelagat Anggun yang seolah ingin keluar dari dapur kecil yang bahkan ukuranya tidak sebanding dengan kamar pribadi miliknya.
"Ap apa sih?" Anggun berusaha melepaskan tangannya, tapi Ariel semakin menariknya sampai Anggun lebih dekat dan menyentuh dada bidang Ariel, Anggun menengadah melihat Ariel, ia membulatkan matanya, irama jantungnya juga tidak bisa diajak kompromi.
Sungguh Anggun sudah terjebak dengan keadaan, sejauh apapun Anggun menghindar hatinya tetap akan tunduk untuk Ariel, karena Anggun masih menyimpan cinta untuknya.
Ariel menunduk dan tersenyum melihat tingkah Anggun, "Mau kemana?" tanya Ariel menggoda Anggun." Kau sudah tidak bisa menghindari aku lagi," ujar Ariel serius.
" Lepas!" ketus Anggun berusaha menjauhkan Ariel tapi Ariel tidak bergeser sedikitpun.
"Kau mau apa kalau aku tidak mau melepaskanmu? " tidak ada senyuman di wajahnya, yang Ariel tanyakan memang dari lubuk hatinya yang terdalam, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?
"Ariel jangan seperti ini,!" ucap Anggun yang tidak lagi memberontak, percuma saja karena ia tau dari sorot mata Ariel yang tidak main main dengan ucapannya.
"Kenapa? jawab saja kau mau apa kalau
aku tidak mau melepaskan mu? "
"Jangan buat aku salah paham dengan sikapmu ini Riel, jangan buat masalah,"
"Sikapku yang mana yang membuatmu
salah paham, coba jelaskan jangan terus menghindari aku,"
"Lepaskan tanganku, kalau tidak aku tidak mau menjawab pertanyaan mu itu,"
Ariel melepaskan tangan Anggun begitu saja,
Bola mata keduanya beradu pandang, sampai
Anggun menarik kursi, duduk membelakangi Ariel yang masih betah berdiri di tempatnya.
Anggun menautkan jemari tangannya di atas
meja, "Kau akan menikah, jadi jaga sikapmu,"
Ariel menjadi terpukul mengingat kenyataan ini, ia memandang punggung Anggun yang bergetar, " Uffhhhh,!" Ariel menarik dalam nafasnya, perlahan ia menarik kursi di samping duduk begitu saja, tidak ada yang mulai bicara, mereka sama sama terdiam.
"Aku yakin, Alisa tidak tau kalau kau datang kesini," ternyata Anggun yang terlebih dulu memecahkan keheningan diantara mereka.
Ariel mengusap wajahnya dengan gusar, "Bisakah kita tidak membahas orang lain?"
Ariel menaikan suaranya, melihat Anggun yang masih enggan menatap wajahnya.
Anggun menoleh ia memandang wajah Ariel yang menanti jawabannya.
"Aku ' lah orang lain itu Ariel, tidak seharusnya kau ada di sini, kenapa kau tidak sadar akan hal itu? kenapa kau selalu berbuat sesukamu"
"Aku bosan Anggun, aku bosan karena kau terus menghindari aku, dari awal kau sudah pura pura tidak mengenalku, kau tidak mau menyabut namaku, kau selalu menjauhi aku,"
Anggun menggelengkan kepala
"Kau....kau memang masih seperti dulu," Anggun diam sejenak, " Emosimu yang tak pernah kau jaga itulah awal dari segalanya, tidak ada yang perlu kita bahas lagi,"
Ariel menangkap pergelangan tangan Anggun ketika hendak berdiri, " Duduk !" perintahnya membuat Anggun tidak punya pilihan lain.
"Kau yang melarang aku menyebut namamu, kau yang menyuruh aku pergi jauh darimu, kau yang menyuruh aku untuk tidak pernah menunjukan wajahku di hadapanmu, aku menuruti semua perintah mu, tidak ada yang aku bantah sedikitpun, sampai aku bisa melupakanmu, tapi apa? kau sendiri yang datang, dan kau datang untuk menghina aku,
kau memang datang untuk menghina aku kan? "
"Harus dengan cara apa lagi aku bisa membuatmu menjadi milikku lagi?"
Kedua mantan tercinta ini terdiam, Ariel menggenggam erat jemari tangan Anggun di atas meja, keduanya saling memandang.
"Maaf....maafkan aku Anggun, aku tau aku sudah terlalu dalam menyakitimu, aku tau tidak akan mudah untuk memaafkan aku, tapi Anggun aku menyesali semua yang terjadi diantara kita,"
"Kenapa? bukankah kau sangat membenci aku? bukankah selama ini kita sudah menjadi orang asing? Lalu kenapa sekarang kau seperti ini? apa kau lupa kenapa kau pergi? apa kau lupa kalau pria asing itu..."
Ariel membawa Anggun kedalam pelukannya, membiarkan air mata Anggun membasahi dada bidangnya." Maafkan aku Anggun, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, aku tidak mau kau akan semakin menjauhi aku,"
Ariel melepaskan pelukannya ketika Anggun sudah lebih tenang, mata Ariel juga memerah melihat air mata Anggun, dengan lembut ia menghapus air mata yang membasahi pipi Anggun, anggun menggelengkan kepala.
"Teruslah membenciku Ariel, jangan buat aku salah paham dengan perhatianmu ini," Air mata Anggun kembali menetes.
"Ariel...."
"Suttttt " Ariel menutup bibir Anggun dengan jari telunjuknya, tanpa sadar ia terus memperhatikan bibir tipis Anggun yang merah seperti buah Cherry, keduanya saling terdiam, dengan berani Ariel mencondongkan badannya, mendekati wajah Anggun yang juga masih belum berpaling, Ariel semakin mengarahkan dan mendekati bibir Anggun, sampai semakin dekat, dan hampir tidak ada jarak di antara keduanya, satu detik, dua detik , tiga detik, masih aman aman saja, Ariel terus mendekatinya sampai akhirnya
"Anggun...." Suara keras Bibi terdengar jelas mengembalikan kesadaran Anggun, dengan cepat ia mendorong tubuh.
Brug....
" Awh....Anggun,"
Dorongan Anggun membuatnya jatuh dan terduduk di lantai, sementara Anggun sudah berlalu keluar dari dapur.
Bersambung.....
❤️Terima kasih sudah meninggalkan jejak❤️
Sabar ya...sebentar lagi Ariel dan Anggun akan menjadi pengantin baru🤭
Bagaimana dengan Alisa dan Fery?