Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Apa yang terjadi?


Hay Gais.....


Mungkin banyak yang lupa kalau waktu Anggun pergi ponselnya hilang, terus waktu Ariel marah karena gak tau Anggun ada di mana, dia juga banting ponselnya, jadi otomatis mereka gak bisa saling menghubungi. Ariel gak punya sosmed secara dunia dia cuma Anggun dan sebaliknya, maklum Mr. Posesif.Ok kita lanjut baca ya 😉


Pagi itu Widia memperhatikan Ariel yang tidak semangat menghabiskan sarapannya.


Ruang makan yang luas itu cuma ditempati tiga orang penghuni rumah. Dia duduk tepat di depan putranya, sementara Airin adik Ariel duduk di sampingnya.


"Sudah Riel perempuan itu memang sengaja meninggalkanmu, lupakan saja dia," Widia mulai membuka suaranya untuk mempengaruhi anaknya.


"Namanya Anggun Ma!" Ariel menjawab dengan malas


"Pergilah ke Luar Negri kamu bisa lebih baik di sana..."


"Hmm" ucap Ariel sembari menghempaskan sendok yang dipegangnya dengan kasar, perlahan ia bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu.


Ariel keluar rumah dan langsung menuju garasi mobilnya, ia merogoh saku celananya dan mengambil kunci mobilnya, tapi belum sempat ia membuka pintu mobil, Satpam penjaga rumahnya datang membawa amplop berwarna coklat.


"Mas Ariel mau pergi?" tanya satpam dengan ragu.


"Iya...." jawab Ariel malas.


"Ini mas tadi ada kurir yang mengantar, dia bilang untuk Mas Ariel,"


"Dari siapa?"


"Maaf saya tidak tau Mas!"


"Berikan!"


"Iya mas, kalau begitu saya kembali ke pos Mas," pamitnya.


Satpam itu pergi setelah menyerahkan sebuah amplop coklat dan Ariel langsung melanjutkan langkahnya ia masuk ke dalam mobil.


Setelah ia duduk dibangku kemudi, ia terus membolak balikan amplop coklat itu untuk mencari nama si pengirim, tapi tidak tertulis apapun di sana.


Dengan tidak sabar ia membukanya dan ia mengambil sepotong kertas yang berisikan alamat, setelah dibacanya ,barulah diambil kertas berikutnya.


"Brengs*k" umpatnya keras.


Bug bug bug


Ariel memukul stir kemudi dengan rasa emosi yang membuncah, raut wajahnya merah, buku buku putih tangannya terlihat jelas.


"Aku akan membunuhnya , aku akan membunuhnya...." teriak Ariel di dalam mobil.


Tes , air mata mengalir dipipinya, sakit yang dirasakan di dalam hatinya, ia terus saja mengumpat dan memaki pada objek yang ada di tangannya. Semua amarahnya keluar memandang apa yang ada di genggamannya.


"Tunggu...tunggu aku, aku tidak akan melepasnya brengs*k!"


Bug Bug Bug


Ariel mengemudikan mobilnya diiringi dengan semua emosi yang ada,makian,cacian,bahkan sesekali ia menghapus air matanya.


"Bodoh ,bodoh,bodoh,bodoh kau Ariel,hahahah!"


Sepanjang jalan perasaannya tidak karuan. Betapa bodohnya ia bisa tertawa disaat air matanya mengalir. Ariel menertawakan kebodohannya sendiri. Setelah ini lihatlah apa yang akan ia lakukan.


Sementara dilain tempat seorang wanita duduk dengan angkuhnya di dalam mobil, tersenyum senang dengan keberhasilannya. Dia hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sedangkan pagi itu juga Anggun terbangun di ruangan yang sangat asing untuknya, Anggun masih berbaring di atas kasur yang kecil, ia mengucek kedua matanya dengan telapak tangannya. Anggun memperhatikan sekelilingnya.


Anggun menyingkap selimut yang menutupi bagian tubuhnya, ia duduk dan terus memperhatikan kamar itu, Anggun tidak ingat apapun sekarang, kepalanya terasa pusing.


Perlahan ia jalan ke toilet yang ada di dalam kamar, berdiri di depan cermin membasuh wajahnya dengan air, dan ia terus mencoba mengingat kenapa ia ada di kamar ini.


Samar samar ia mendengar orang memanggil namanya, ia masih berdiri dan mematung di depan cermin berharap ini bukan mimpi, semakin lama suara itu semakin dekat, ia seperti mengenali suara ini.


Suara ini semakin keras memangil namanya, suara orang yang di rindukannya. Ini pasti Arielnya. Senyum mengembang di wajahnya yang cantik.


BRUK....


"Anggun....!"


Teriakan itu membuatnya terkejut, senyuman di wajahnya berubah menjadi takut, gadis polos ini ketakutan ia kenal dengan amarah ini. Tapi kenapa Ariel bisa semarah ini?


Perlahan ia membuka pintu dan keluar, ia terkejut ketika mendapati Ariel yang berdiri dihadapannya,ia mematung melihat raut wajah Ariel yang emosi.


"A riel...." ucap Anggun pelan.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ariel lembut,ia masih mencoba menahan amarah.


"A a k ku"


"Kau mau mencari alasan untuk menipuku lagi?" teriakan suara Ariel memenuhi kamar itu. Anggun berusaha mencerna ucapan Ariel.


"Jawab!" Bentakan itu membuat Anggun melangkah mundur .


"A riel"


"Jangan sebut namaku!" Aril kembali merendahkan suaranya dan berjalan perlahan mendekati Anggun, sementara Anggun yang ketakutan semakin melangkah mundur hingga kini tubuhnya menyandar di dinding.


"Kau menghancurkan semuanya


mimpiku, cintaku, hidupku, harapanku Anggun, kau menghancurkannya!"


Ariel berusaha bicara sambil terus menahan emosinya bicara pelan tepat diwajah Anggun dan jarinya terus menunjuk bahu Anggun yang sekarang sedang menangis.


"A a pa mak-sud mu?"


"Katakan dimana laki laki itu?"


Ariel mencoba tidak terpengaruh dengan air mata anggun,air mata ini masih menjadi kelemahannya, tapi mengingat apa yang sudah ia lihat membuatnya semakin emosi.


"Rieel"


"Aku bilang jangan pernah sebut namaku!"


Bentakan itu keluar lagi, Ariel menarik erat tangan Anggun dan menghempaskannya dengan kasar ke atas kasur. Anggun masih belum mengerti apa yang terjadi.


"Kau menolak menikah denganku, hanya karena takut kehilangan kebebasanmu ini?"


Byar.........


"Selama ini kau menghilang hanya untuk ini kan?" Bentaknya.


Dengan emosi Ariel melemparkan beberapa foto tepat di wajah Anggun. Perlahan Anggun duduk ia mengambil foto itu, raut wajahnya berubah, matanya membulat sempurna ia menangis dan terus menggelengkan kepala.


"I i ni ap-pa?" tanyanya lirih.


"Dimana pria itu aku akan membunuhnya!" tanyanya pelan.


"Apa maksudmu?"


"Jangan sok polos, apa sekarang kau sudah menjadi wanita m***han huh?"


Ariel terus membentak Anggun yang sedang menangis, baru kali ini Ariel membentaknya.


Perlahan Anggun berdiri dan mendekati Ariel. Mereka saling memandang, yang satu memandang dengan kebencian, dan yang satu memandang dengan perasaan memelas.


"Kam-kamu per-percaya ini?" tanya anggun takut.


"Iya aku percaya, " tegas Ariel.


"Kamu tidak percaya aku lagi?" lirih anggun


"Tidak, kau tau artinyakan? Saat kepercayaan yang aku berikan itu sudah hilang, maka hubungan ini tidak ada artinya lagi!" ucap Ariel tepat di wajah Anggun.


Mendengar itu Anggun semakin menangis sambil menatap Ariel, ia menggelengkan kepalanya, memohon agar ariel percaya padanya. Dan melihat itu Ariel sedikit luluh.


Perlahan diangkatnya tangannya, mengusap kepala anggun dengan lembut, menghapus air mata dipipi anggun dengan ibu jarinya.


"Anggun!"


Suara Ariel nyaris tidak terdengar, ia menatap mata wanita yang dicintainya, memandang semua bagian dari wajahnya, seakan akan merekam apa yang ada didepan matanya ini.


Sementara Anggun terus saja menangis memohon agar Ariel tidak melanjutkan bicaranya.


Ariel menarik nafas dalam dan sejenak memejamkan matanya, menahan air mata yang hampir mengalir itu, ia bicara dengan nada yang lembut dihadapan Anggun.


"Anggun, setelah ini pergilah sejauh mungkin, jangan pernah berani tunjukan wajahmu di hadapanku!"


Setelah mengatakan itu Ariel pergi tanpa menoleh kebelakang, ia pergi meninggalkan Anggun yang sudah terduduk lemas di lantai, sambil memegang foto yang diberikan Ariel.