
Sepanjang perjalanan ke butik, tubuh Anggun semakin gemetar. Jantungnya berdetak lebih cepat, karena pertemuan yang tidak disengaja dengan pria yang sudah lama ingin ia lupakan.
Pria yang berdiri di hadapannya tadi semakin terlihat dewasa, mapan, matang, dan tampan, tidak ada yang berubah, hanya saja tubuhnya terlihat semakin tegap.
Rasanya seperti mimpi, setelah 5 tahun lamanya, barulah tadi Anggun mendengar lagi suara yang pernah menyebut namanya dengan penuh cinta.
Kalau saja tadi Anggun tidak memakai masker. Mungkin Pria itu bisa melihat jelas bahwa Anggun sempat tersenyum untuknya.
Namun...Suara itu mengingatkanya saat
terakhir kali mereka bertemu, suara itu yang
membentaknya, memarahinya, menuduhnya,
menghinanya, bahkan menyebutnya sebagai wanita murahan.
Suara itu yang memintanya untuk tidak lagi menemuinya, suara itu yang menyuruhnya untuk pergi jauh, dan suara itu juga yang membuatnya sakit hati.
Untunglah masker yang ia pakai menutupi sebagian wajahnya, sehingga pria itu tidak bisa mengenalinya. Anggun tersadar kalau ia harus menghindari mantannya.
Karena ntah apa yang akan pria itu lakukan padanya kalau sampai mereka bertemu lagi.
Yang Anggun yakin, pria itu pasti akan menghinanya lag, yang Anggun tau, pria itu sudah sangat membencinya.
"Mamamu benar! Kamu hidup lebih baik, ketika jauh dariku," ucap Anggun sembari terus berusaha untuk meyakinkan dirinya.
Kalau saja Anggun belum ternoda, mungkin ia tidak akan merasa ketakutan, mungkin saja ia sudah bisa membuka hatinya untuk laki laki lain. Tapi sayangnya Anggun merasa sudah dinodai oleh pria yang bahkan sampai sekarang belum pernah ia temukan.
Anggun merasa ia tidak pantas untuk pria manapun. Anggun masih trauma dengan masa lalunya. Tidak ada yang tau kalau selama ini Anggun hidup dalam ketakutan.
Setelah hampir setengah jam perjalanan.
Perlahan Anggun memarkirkan mobilnya di halaman Butiknya yang cukup luas. Setelah ia merasa lebih baik, Anggun turun dari mobil dan berjalan dengan gontai masuk kedalam Butik.
"Kamu sudah datang...dari mana saja sih? dari tadi aku menunggumu, bahkan hpmu juga tidak bisa di hubungi." Alisa menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Maaf membuatmu menunggu," jawab Anggun sambil berjalan mendekati Alisa yang berdiri di dekat anak tangga.
"Wajahmu pucat, apa kamu sakit?" Alisa memperhatikan wajah Anggun dari dekat.
"Tidak, aku baik baik saja! dimana Hani? Aku tidak melihatnya."
"Ada di ruang kerjamu, ayo kita siapkan gaunku."
Kini keduanya naik ke lantai dua di mana anggun akan merancang gaun pengantin Alisa dan calon suaminya.
Setelah 2 Jam, Alisa menjatuhkan pilihannya pada sketsa yang baru disiapkan Anggun untuknya.
Pilihannya jatuh pada rancangan Anggun dengan gaun yang bergaya classy Modern, gaun yang bermodel V neck dan terbuat dari bahan Lace dan berwarna Blushing pink.
"Manda cobalah gaunmu ini!" perintah Alisa sambil menyerahkan gaun yang kemarin sempat menjadi rebutan.
"Tidak, kamu yang akan menikah, kenapa aku yang harus mencoba gaun pengantin itu ?"
"Ayo lah Manda ... aku ingin sekali melihatmu memakainya, cepat bantu Manda memakai gaun ini." menyerahkan gaun itu kepada Hani.
"Boleh saja , aku juga penasaran apa sih yang membuat Manda begitu menyukai gaun ini?"
Hani antusias membawa Anggun ke ruang ganti.
"Baik lah...karena kalian yang meminta, aku akan mencobanya sekali ini, padahal gaun ini masih belum selesai loh!" seru Anggun sambil tersenyum. Anggun dan Hani masuk keruang ganti yang ada di dalam ruang kerja Anggun.
Sementara di lantai bawah, Suci hampir tidak berkedip melihat seorang Pria tampan yang baru masuk ke dalam butiknya.
Pria yang memakai kemeja hitam ini, i pandangannya terlihat mengawasi setiap sudut ruangan, seperti sedang mencari seseorang.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Suci heran karena seingatnya pria ini tidak pernah datang ke Butik ini, jadi sudah pasti ia tidak mengenal mbaknya.
"Alisa ...Aku mencari Alisa" jawabnya singkat.
"Oh calon suami mbak Alisa ya Mas? oh ada kok Mbak Alisa ada dilantai atas, tadi mbak Alisa pesan katanya kalau Mas datang disuruh langsung naik saja Mas!" Suci menunjuk lantai atas.
"Hm ya sudah...kalau begitu aku langsung temui dia ya," jawabnya dan melangkah menapaki anak tangga.
Kakinya jenjangnya mengajak tubuh tegapnya berjalan memasuki ruangan yang terlihat seperti ruang kerja seorang designer. Dia lupa kalau hpnya tertinggal di dalam mobil, harus kemana dia mencari Alisa?
Sementara Anggun dan Hani terlihat begitu takjub dengan penampilan Anggun. Anggun menjelma bak seorang putri, seperti seorang pengantin wanita yang dihujani ribuan cinta.
"Ternyata ini alasanmu, berat melepas gaun ini untuk orang lain ya? Kamu benar benar cantik, semua yang ada terlihat sempurna."
"Bukan karena itu alasannya." Mengingat alasannya membuat wajah Anggun terlihat sedih.
"Sudah lah...Alisa sudah menunggu, jangan sampai dia marah karena menunggu terlalu lama!" seru Hani yang melihat perubahan raut wajah Anggun.
"Hmmm ya...."
Sretttttttt Hani menyingkap tirai yang menjadi pembatas antara ruang ganti dan ruang kerjanya.
" Alisa...gimana ga..
DEG....................
Anggun tidak dapat melanjutkan bicaranya, matanya membulat dengan sempurna, tubuhnya semakin lemas, dan jantungnya berdetak lebih kencang.
Mereka berdua tidak berani melangkah dan juga terus menatap lama pada seorang pria yang berdiri tegap yang juga sedang terpaku menatap Anggun.
Kedua mata itu saling terkunci, tersirat makna yang sangat mendalam, setelah lima tahun berpisah, kini keduanya saling memandang dan saling mengenali, jelas tergambar kerinduan yang sangat mendalam, ya ...sejujurnya mereka amat saling merindukan.
Ariel tidak bisa berkata, lututnya seakan lumpuh saat melihat Anggun ada didepan matanya berdiri dengan gaun pengantin yang persisi seperti pemberiannya dulu. Tapi mengingat lembaran foto lima tahun yang lalu, membuat Ariel mengepalkan tangannya, dan itu tidak luput dari mata Anggun.
Satu detik, dua detik, sampai lima menit, sepuluh menit, mereka terus menatap satu sama lain, jarak mereka tidak lah jauh. Tapi kaki keduanya tidak mau saling mendekat.
seperti ada benteng yang berdiri kokoh diantara keduanya.
"Sayang...." Alisa datang dari arah luar, dan ia langsung menggandeng manja tangan kekar kekasihnya ini. Kedatangan Alisa memutuskan sejenak pandangan mata antara Anggun dan kekasih Alisa.
"Sayang....kamu baru datang ya? Maaf ya aku tadi ke toilet!" seru Alisa sambil memeluk tubuh kekasihnya.
"Hm ya..." Jawabnya singkat, matanya tidak lepas dari Anggun.
"Manda....kamu cantik sekali, oh iya kenalkan dia Ariel calon suamiku," dengan bangga Alisa memperkenalkan calon suaminya.
"Manda..?" tanya Ariel sampai keningnya mengkerut,ia heran mendengar nama Manda, bukankah wanita ini Anggun. Pikirnya.
"Iya sayang! Manda yang sering aku ceritakan, dia yang akan merancang busana pengantin kita!" Alisa antusias mengingat pernikahannya.
"Senang bertemu dengan Anda Tuan ! " ucap Anggun sebelum Ariel menyebut namanya terlebih dulu.
Kata Tuan yang ditujukan Anggun untuknya membuat raut wajah Ariel memerah, karena Ariel tau bahwa Anggun menganggap seolah olah mereka tidak pernah saling mengenal.
Bersambung.......🤗
Nah loh....udah jumpa tuh si mantan tercinta😍
tinggalkan jejak ya...
mampir juga ke Cinta Raisa ya😊