
Sementara di kota besar Farida yang tak lain Mama Angkat anggun sedang menyiram bunga yang belakangan ini viral di dunia maya, bunga cantik dengan berbagai warna tersusun rapi di taman rumahnya, bagi orang yang tidak hobi dengan tanaman hias, mereka akan menganggap bunga ini hanya sebagai daun Lompong biasa, tapi bagi mereka yang pecinta tanaman pasti tidak akan sayang mengeluarkan uang hanya untuk membeli tanaman hias dengan berbagai corak yang cantik.
Gerakannya terhenti ketika ia melihat sebuah mobil berwarna hitam yang perlahan masuk ke pekarangan rumahnya, ia melihat seorang wanita muda cantik keluar dari pintu bagian supir dan langsung membuka kacamata yang menghiasi wajahnya ketika menyadari Farida yang memperhatikannya.
Perlahan wanita cantik ini, berjalan ke arah Farida mendekatinya dengan senyan ramah yang menghiasi wajahnya. " Tante apa kabar?"
tanya Alisa yang sudah memeluk Farida.
"Baik sayang, kamu semakin cantik ya?" jawab Farida yang sudah melepas pelukannya dan memegang kedua tangan Alisa.
"Selama ini kamu kemana saja? jarang main ke rumah?" tanyanya ramah.
"Maaf Tante, Alisa sibuk pemotretan, ini juga Alisa sempetin untuk mengunjungi Tante,"
"Kamu ini, sudah cantik, terkenal, gak pernah sombong," seru Farida menyentil halus hidung mancung Alisa.
"Ah Tante bisa aja sih? Oh iya beberapa hari ini Alisa tidak bisa menghubungi Manda, di Butik juga tidak ada, kata Hani dia pulang kampung ya Tan?" tanya Alisa penasaran, ia juga berusaha mengulik informasi tentang masa lalu Manda.
"Iya, Manda masih di kampung,"
"Oh gitu, pantes saja Hpnya gak aktif terus,"
Alisa mengalihkan pandanganya saat melihat Fery yang baru saja keluar dari rumah.
"Kak Fery,?" lembayan tangan Alisa membuat Fery tersenyum dan mendekati Alisa dan Mamanya.
"Sejak kapan ada di sini? tumben sepagi ini Mama kedatangan tamu,"
Alisa cemberut membuat Fery tersenyum "Jadi, Alisa gak boleh main ke rumah ini?
"Bukan gitu tapi....
"Sudah jangan berdebat, Alisa kita masuk ke dalam rumah ya sayang," ajak Farida yang menggandeng manja tangan Alisa, membuat Alisa menjulurkan lidahnya mengejek Fery.
Fery tersenyum dan menggeleng kepala.
" Anak itu memang gak pernah berubah," ucapnya menatap punggung Alisa yang sudah hilang dan masuk ke dalam rumah.
.
.
. Di dalam rumah
Alisa memperhatikan setiap sudut ruang tamu yang tersusun rapi, dengan furniture mewah yang menghiasinya juga terkesan friendly untuk penghuni rumah, dengan berbagai hiasan dinding yang memenuhi ruangan ini, sampai bola matanya menangkap satu bingkai foto wanita muda yang cantik tersenyum senang menghadap camera.
Alisa semakin mendekatinya ia menjulurkan tangannya menyentuh bingkai foto itu, Alisa tidak pernah mengenali wajah ini.
"Itu Foto Manda," Farida datang membawa nampan berisi minuman dan cemilan kecil untuk Alisa teman lama Anggun yang dulu sempat dekat dengannya.
Alisa menjadi tertegun, ia memutar tubuhnya mengalihkan pandanganya menatap Farida dengan penuh tanda tanya, seingatnya dulu sebelum Alisa pergi keluar negri Alisa tidak pernah mengenali sosok wanita muda ini, tapi di perhatikan lagi, wanita dalam foto ini masih remaja saat pengambilan gambarnya.
"Manda siapa?"
"Anak Tante," Farida diam sejenak mendekati Alisa, " Dia sudah meninggal sudah lama sekali," serunya lagi tapi suda tidak ada air mata di wajahnya." Sudah lama Foto ini Tante simpan, selama ini tidak ada Foto Manda yang menghiasi rumah ini," ucapnya menyentuh wajah mendiang anak gadisnya.
"Tante jadi Manda itu....
" Memangnya kamu belum tau? kamu ini kan temen dekatnya Manda, kenapa kamu terkejut gitu?"
"Tante memang Alisa kenal Manda dan kak Fery dari beberapa tahun yang lalu, tapi itu juga gak lama, Alisa pergi keluar Negri waktu itu Tan." Alisa mengikuti Farida duduk di sofa, ia duduk tepat di samping Farida, memegang erat tangan Farida.
"Tante, boleh Alisa tanya sesuatu?" tanyanya ragu, sembari terus memperhatikan wajah Farida yang masih diam.
"Tante...." Alisa melepaskan tangannya menggantinya dengan pelukan hangat untuk Farida.
"Tante....Sebentar lagi Alisa akan menikah, tapi Alisa ragu Tante," ucapnya manja, membuat Farida tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Kamu masih manja seperti dulu ya, apa yang membuat kamu ragu?"
" Manda yang membuat Alisa ragu, "
"Anak Tante? memangnya ada apa sama dia?"
"Siapa Manda yang sebenarnya Tante? "
"Tante, jadi bener kalau kak Fery dan Manda akan menikah?"
"Iya, kedua anak Tante itu bukan sedarah, jadi gak masalahkan?"
Alisa menarik dalam nafaanya, perasaanya sedikit lega, " Siapa Manda yang sekarang? "
"Apa yang mau kamu tau tentang Manda Alisa?" Fery datang membawa koran di tangannya, ternyata dari tadi ia di luar rumah menunggu kang koran langganannya setiap pagi, Fery duduk di depan Mamanya dan Alisa.
"Mama mau lanjut ke taman ya," Farida berdiri meninggalkan urusan anak muda.
"Apa yang mau kamu tau dari Mama?" tanya Fery serius, ia melemparkan lipatan koran di atas meja.
"Semuanya tentang masa lalu Manda,"
Fery menarik dalam nafasnya. "ini tujuanmu datang ke sini?"
"Kakak tau perasaanku kan? coba kakak bayangkan pernikahan yang sudah di depan mata terancam karena adanya pihak ketiga, itulah yang aku rasakan sekarang kak, apa yang akan kakak lakukan kalau ini terjadi pada diri kakak sendiri?"
Fery menjadi tercekat, ia teringan pada pesta dimana pertunangan Alisa hampir saja terjadi, saat itu Anggun menghilang beberapa menit, Fery terus mencarinya sampai ia melihat Anggun keluar dari salah satu ruangan yang ia yakini Ariel juga ada di dalamnya.
"Aku akan berlapang dada Alisa," jawabnya lembut, membuat Alisa terheran .
"Apa kakak tidak mencintai Manda? kakak rela kalau pernikahan kalian tidak pernah terjadi?
"Apa yang kamu takutkan Alisa,?"
"Anggun, aku meragukan dia, dia pasti sudah menggoda Ariel, sampai Ariel ragu dengan hubungan kami ini kak, apa benar Manda itu adalah Anggun mantan Ariel?"
"Apa kau mencintai Ariel?"
"Sudah pasti aku sangat mencintai Ariel kak, tidak seperti kakak yang mencintai Manda dengan setengah setengah, jadi jawab pertanyaan ku tadi kak,"
"Alisa, kamu harus bisa membedakan antara cinta dan obsesi semata, aku tau kamu orang yang berambisi , apa yang kamu inginkan harus kamu dapatkan, aku tau itu, tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu benar benar mencintai Ariel? atau hanya obsesi semata ,"
Alisa terdiam, keduanya beradu pandang.
"Aku mencintainya,"
"Apa Ariel mencintaimu?"
"Tentu, dia sangat mencintai aku,"
Fery tersenyum sinis padahal hatinya juga merasakan ketakutan yang sama.
"Kau mau tau yang sebenarnya?"
Alisa menganggukan kepala.
"Baiklah, dengarkan aku baik baik, beberapa tahun yang lalu, Anggun dan Ariel saling mencintai, karena suatu hal yang aku sendiri tidak tau masalahnya , mereka mengakhiri hubungan ini, Ariel pergi jauh meninggalkan Anggun, dan beberapa waktu lalu takdir mempertemukan mereka lagi,"
"Jadi benar, Anggun memang menggoda Ariel?
"Dia tidak pernah menggodanya, kita tidak tau seperti apa perasaanya,"
"Jadi benar, kalau Manda itu adalah Anggun?"
Fery menganggukan kepala, membuat Alisa gemetar." Apa kakak akan diam saja?"
"Maksudmu?"
"Bagaimana kalau mereka kembali bersama kak?"
"Aku tidak akan memaksakan perasaan Anggun, biar dia menentukan hidupnya sendiri, aku tidak mau menyiksanya Alisa,"
Alisa semakin gemetar mendengar jawaban yang di berikan Fery.
Bersambung.......
.
.
.