Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Penolakan Suci


"Kita gak boleh menikah? Suci gak mau menikah sama Kak Fery! " Suci yang masih terkejut ini sudah membulatkan matanya dan berteriak sampai suaranya menggema di ruangan ini.


Melihat kepanikan Suci membuat Fery hampir tersenyum, ternyata tindakannya menggertak Suci beberapa saat yang lalu sudah berhasil, terbukti Suci menolak pernikahan ini.


...Dasar rubah kecil, kalau saja tadi aku tidak menakutimu, kau pasti dengan senang hati menerima pernikahan ini, mana mungkin aku benar-benar akan membuatmu menderita....


Fery membatin dengan terus melihat Suci.


"Kenapa kamu menolak niat baikku?" tanya Fery yang sudah bersedekap dada.


"Suci gak mau menikah sama orang yang gak cinta sama Suci. Suci gak mau menderita Bu ..." lirih Suci memelas kepada Ibunya.


"Siapa yang bilang kalau kamu akan menderita sayang, justru hidupmu akan bahagia, Fery akan menjamin semua kebutuhan kamu, calon suamimu ini mapan, hidupnya kecukupan, sudah punya rumah sendiri, apa yang kurang?"


"Suci gak butuh itu Tante ... Suci juga gak butuh kedudukan. untuk apa bergelimang harta kalau kita gak bahagia! untuk apa Suci tinggal disangkar emas kalau tidak ada cinta di dalamnya Tante? Suci gak butuh semua itu!" penjelasan Suci membuat semua orang terdiam, terlebih Fery yang sudah menegakkan duduknya.


Suci mendekati Erlangga, ia menekuk lututnya dan memegang tangan Erlangga, "Om ...Jangan nikahkan kami, Suci mohon Om ..." lirihnya.


Erlangga tidak tega melihat mata Suci yang memelas, setelah mendengar penjelasan Suci, Erlangga mengambil kesimpulan kalau benar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan diantara keduanya, dengan lembut Erlangga memegang bahu Suci dan mendudukkan di sampingnya.


"Jangan salah paham ... kami orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mungkin kami menunjukannya dengan cara yang salah. Suci, kami tidak akan memaksakan kamu untuk menerima pernikahan ini. Semua pilihan ada di tanganmu," ucapnya lembut, " kami akan mendukung apapun keputusanmu," Erlangga membelai halus rambut Suci dengan penuh kasih sayang.


Farida, Widia, dan Ibu Suci juga cuma bisa diam. Sedangkan Fery masih belum juga mengalihkan perhatiannya dari Suci, sampai tatapan keduanya terkunci satu sama lain.


"Suci menolak pernikahan ini! " Suci kembali meyakinkan semua orang, membuat Fery terlebih dulu memalingkan wajahnya.


******


Pagi kembali datang, setelah mendengar penolakan Suci, Fery dan Farida memilih kembali ke rumah mereka. Sebenarnya Farida terlihat sangat kecewa karena rencana untuk menikahkan Fery dan Suci berakhir begitu saja.


Semenjak kelahiran Aarick, Fery lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Ariel. Terhitung sudah hampir dua minggu Fery tidak memantau perusahaannya, dan hari ini Fery sudah kembali siap untuk menjalankan aktifitasnya. Sudah hampir satu jam Fery mencari dokumen penting miliknya, kamar pribadi dan ruang kerjanya sudah sangat berantakan bahkan entah sudah ada berapa lembar kertas yang beserak di lantai.


Fery mencoba mengingat di mana terakhir kali ia meletakan map warna biru itu, namun semakin ia mencoba mengingatnya, semakin kesal karena tak kunjung menemukan apa yang dicarinya.


"Mama, lihat map biru yang ada di kamar Fery gak?" tanya Fery kepada Mama Farida yang saat itu sedang memasak di dapur.


"Mama gak lihat ... kenapa kamu ngurusin hal-hal kecil seperti itu? di mana sekretarismu? tanya Farida.


"Dia cuti melahirkan dan Fery belum dapat sekretaris baru." jawab Fery sembari melilitkan dasi di kerah kemeja kerjanya.


"Ya sudah nanti Mama bantu ya, itu anak temen Mama banyak yang nganggur, mereka juga sarjana, tapi Mama lupa jurusan apa,"


"Mama jangan mikirin masalah kantor, biar Fery aja yang cari. Kalau gitu Fery pergi dulu ya Ma, ada meeting penting,"


"Gak sarapan dulu? atau kamu mau Mama bawakan bekal biar bisa makan di sana,"


"Fery bukan anak TK Ma ... ya sudah Fery pergi ya," Fery mengecup pipi Mamanya dan pergi ke luar rumah.


*****


Suci baru saja menutup pintu kamarnya, seperti biasa dia sudah siap dengan penampilanya untuk kembali beraktifitas di butik yang semakin banyak pengunjungnya, bahkan entah sudah berapa kali ia mengabaikan panggilan Hani yang sedari kemarin menyuruhnya untuk secepatnya kembali ke butik.


Suci mulai naik ke lantai dua, perlahan ia menapaki anak tangga menuju kamar Aarick baby lutunya.


"Kamu mau ke mana Ci? kok udah rapi aja?" tanya Airin yang baru saja keluar dari kamar Aarick.


"Oh ... eh Ci, kenapa sih kamu nolak Kak Fery? katanya kamu suka sama dia? tapi kenapa kamu gak mau nikah sama dia? padahal ini tuh kesempatan kamu loh!"


"Gimana ya Mbak ... cinta sih cinta Mbak. Tapi aku gak mau menikah karena terpaksa, ya mungkin Kak Fery memang bukan jodohku!"


"Jodoh siapa yang tahu Ci? mungkin ini memang jalannya, udahlah Ci terima aja,"


"Suci punya impian sendiri Mbak, dilamar sama orang yang mencintai Suci di malam yang romantis, pasti seru ya Mbak ! Suci pernah loh baca adegan ini di novel !"


"Aku pikir kamu bakal nangis satu malaman, ternyata kamu malah asik baca novel," kesal Airin yang kembali turun ke lantai dasar.


*****


"Sudah Mas, nanti kamu telat loh ke kantornya, bukannya kamu ada meeting ya?" Anggun mengambil Aarick dari gendongan Ariel.


"Sebentar sayang, Mas masih pengen di sini sama kalian berdua!" Ariel memainkan pipi Aarick yang semakin embul.


"Ya sudah kalau gitu sekalian aja pindahkan kantornya ke rumah,"


"Hmmm ide yang bagus!"


"Apa sih Mas ... udah sana pergi!"


"Ya sudah Mas pergi dulu ya, tapi sini cium dulu! " Ariel menecup semua bagian dari wajah Anggun, tak lupa juga mencium Aarick yang masih tidur.


"Kenapa Aarick tidur aja sih?"


"Anak bayi memang gitu Mas, ada saatnya dia ngoceh, tapi untuk sekarang Aarick akan lebih banyak tidur, udah sana pergi!" Anggun menolak Ariel yang sudah mencium pipinya lagi.


"Suci? sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Anggun saat melihat Suci berdiri di depan pintu.


"Baru aja kok Mbak!"


"Kamu mau ke mana?" tanya Ariel.


"Ke butik Kak,"


"Kebetulan, kamu bisa ikut ke kantor sebentar?"


"Mau ngapain?" tanya Suci.


"Udah ikut aja dulu," ucap Ariel.


"Tapi Suci harus ke butik Kak,"


"Udah gak apa-apa Ci. Nanti Mbak yang bicara sama Hani, biar dia cari orang untuk gantiin kamu di sana." ucap Anggun.


"Ya sudah, Suci ikut Kak Ariel ke kantor, tapi sebentar ya Kak, Suci mau cium keponakan lutu ini,"


"Jangan lama-lama, Kakak tunggu di bawah!" seru Ariel kemudian ia keluar dari kamar Aarick.


"Sayang ... sini Onty gendong," Suci mulai menimang Aarick dan mencium pipi embulnya.


"Kenapa kamu menolak Kak Fery?" tanya Anggun.