Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Menikah???


"Ap-apa yang Ibu bilang barusan?" tanya Ibu Suci yang sudah memasang wajah terkejut yang dirancang sedemikian rupa, tidak sia-sia ia berlatih di dapur beberapa menit yang lalu.


"Anak saya ini Bu, sudah terlalu lama menjomblo, jadi Fery khilaf Bu Suci ... " ucapnya lirih.


"Mama berlebihan Ma!" Fery tidak terima status jomblonya dibawa-bawa, meskipun itu sudah menjadi rahasia umum. Jangan sebut Anggun sebagai mantannya, kerena kenyataannya hubungan mereka cuma sebatas status saja.


"Suci ... kenapa ini bisa terjadi Nak, ini semua salah Ibu. Kalau tadi Ibu gak ninggalin kamu, semua ini gak akan terjadi..." lirih Ibu Suci pura-pura menghapus air mata. Untung saja ia menghadap Farida. Kalau saja menghadap Fery sudah dipastikan drama mereka akan END saat ini juga.


"Gak gitu ceritanya Bu ..." Suci sudah lebih mendekati ibunya. Ia menghusap halus punggung Ibunya yang bergetar.


"Kamu tau'kan kenapa Ibu kasih kamu nama Suci...?" Suci mengangguk kepala.


"Gimana kalau nanti Ayahmu tahu Nak?" tanya Ibu Suci lagi.


"Gak terjadi apa'pun Bu ... Ibu percayakan sama Suci?" tanya Suci panik.


"Ibu mana yang tidak percaya sama anaknya? semua percaya, tapi tadi Tante liat sendiri Fery yan---


"Ma ... jangan ambil kesimpulan seperti itu, kami gak ngelakuin apapun, Suci tidak sengaja narik Fery sampai Fery terjatuh dan hampir menimpa Suci Ma," Fery masih berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Kamu masih mau ngelak ya? sejak kapan kamu lari dari tanggung jawab? Mama benar-benar kecewa sama kamu !" teriaknya, lupakan soal wibawa, saat ini umurnya sudah tua, memiliki cucu adalah impian yang terindah. Tenang, sebentar lagi batinnya.


"Ada apa sih di sini? kok pada ngumpul semua?" tanya Widia saat keluar dari dapur, rasa penasaran membuatnya mengorbankan masker bengkoang yang masih melekat di wajahnya, bahkan ia masih memegang mentimun yang baru dipotongnya.


Semua mata tertuju padanya. Widia nenek pertama ini berjalan mendekati mereka, dengan gaya seperti ibu kos yang menagih tunggakan rumah sewa, dengan wajah yang dilapisi masker putih, memakai piyama untuk tidur, dan rambutnya entah ada berapa gulungan di atas sana.


"Ada apa di sini? kok rame? sudah malam bukannya istrahat," gumamnya, masker ini membuatnya susah bicara.


Ibu Suci dan Mama Farida, berusaha untuk menahan tawa, jangan sampai drama ini terbongkar di tempatnya, karena mereka lupa mengajak Widia kerja sama, cepat-cepat Farida melanjutkan dramanya.


"Apa yang harus saya katakan Jeng? saya malu ... sangat malu." ucapnya lagi.


"Malu kenapa?" rusaklah sudah maskernya.


"Tante, jangan dengarkan Mama saya Tan ... Mama ngawur," Fery menyanggah dengan cepat.


"Ad-aduh jan-jantung Mama kambuh ..." lirih Farida.


Ibu Suci meraih satu tangan Farida yang hampir memegang kepalanya, " sakit jantung tapi kenapa kepala yang dipegang Mbak?" bisik Ibu Suci yang sudah meletakan tangan Farida di atas dadanya.


Farida gelagapan, namun kembali mengubah eksresinya," jantung Mama ..." ucapnya lirih.


"Ya sudah sini, Mama istrahat di sini," Fery meraih tangan Mamanya, sementara Suci mengekori gerakan Fery, anak ini juga menjadi panik.


"Ti-tidak, Jeng Widia tolong panggilkan pak Erlangga ya, bilang saya menunggu di ruang keluarga," Farida lancar bicara.


Widia yang memang tidak mengerti dengan keadaan, hanya ikut membantu Ibu Suci untuk memapah Farida keluar dari kamar.


"Kak, gimana nih ... kenapa jadi begini?" Suci yang gusar duduk di tepi tempat tidur dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu puas'kan? ini'kan yang kamu," Fery memegang kedua sisi pundak Suci, dan menatap mata Suci dengan sorotan penuh amarah.


"Maksud Kakak apa? kenapa bicaranya gitu?"


"Semua ini gak akan terjadi, kalau kamu gak kecentilan!" seru Fery sembari menekan kedua bahu Suci.


"Bukan salah Suci! semua ini salah Kakak karena kakak sendiri yang datang ke kamar ini!" Suci berusaha menepis tangan Fery tapi Fery semakin menekannya sampai Suci meringis.


"Tapi kau memanfaatkan keadaan, atau kau sengaja menjebak aku ya?" Fery bicara sembari menggoyangkan bahu Suci.


"Jangan harap aku mau menikahimu Suci!" Fery menekankan setiap ucapannya dengan sorot mata yang memerah karena menahan amarah, dan itu berhasil membuat Suci takut, ia memilih untuk diam dan menghindari tatapan Fery.


"Kau harus bisa meyakinkan mereka kalau tidak terjadi apapun diantara kita. Jika kau gagal aku pastikan pernikahan ini akan membuatmu menderita!" ancam Fery seraya menyentuh dagu Suci sampai ia mendongak.


"Suci ...!"


Fery menjauhi Suci saat mendengar teriakan Airin.


"Ditungguin papa tuh, cepetan keluar!" ucap Airin saat sudah di depan pintu, Airin melihat ada kecanggungan antara Suci dan Fery memilih diam tanpa melanjutkan kalimatnya dan pergi meninggalkan mereka.


"Ikut aku ..." Fery menarik paksa tangan Suci dan membawanya menuju ruang keluarga," Ingat semua perkataanku Suci, jangan sampai mereka menikahkan kita!"


Suci yang berajalan tergesa-gesa mengikuti langkah kaki fery yang besar, sesekali ia menghapus air mata yang sempat menetes dari di wajahnya, sesakit inikah cinta yang bertepuk sebelah tangan? baru sekarang Suci merasa takut melihat kemarahan Fery.


Ayah Suci sudah lebih dulu kembali ke kampung, Jadi Farida meminta Erlangga untuk mengadili perkara yang sedang terjadi karena Erlangga Orang tua yang disegani di rumah ini. Satu rumah menjadi heboh karena kejadian ini, hanya Ariel dan Anggun yang masih setia menemani baby Aarick di kamarnya.


****


"Om tidak tahu, apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua, terlepas benar atau tidak, tapi sebagai Orang tua Om tidak terima dengan kelakuan kalian, itu tidak baik dan sangat menyakiti hati Orang tua kalian masing-masing," ucap Erlangga.


"Kami tidak melakukan apapun Om, ini semua cuma salah paham," Suci membuka suara.


"Kamu ini anak gadis, pikirkan masa depanmu Nak, kamu tidak perlu menutupi kesalahan Fery, Om juga punya anak gadis, jadi Om tau perasaan Ibumu," ucap Erlangga.


"Tapi semua ini memanglah salah paham Om," Suci sudah putus asa, ia tidak tahu harus dengan apa meyakinkan semua orang.


"Suci, jangan buat Tante menanggung perbuatan anak Tante. Tante juga sempat punya anak gadis Nak, jadi Tante bisa merasakan perasaan Ibumu yang hancur, biarkan Fery tanggung jawab dengan cara menikahimu," ucap Farida.


Fery dan Suci hanya diam dan menundukan kepala, sementara di dalam batin Ibu Suci menyesali drama yang sudah dibuatnya, hingga membuat anaknya malu.


"Fery ... saat ini kamu sudah dewasa. Kamu sudah bisa mengambil keputusan, jadi apa yang akan kamu lakukan? kamu mau tanggung jawab, atau membiarkan Suci menanggung beban?" tanya Erlangga lagi.


"Saya akan tanggung jawab, dan saya akan menikahi Suci. Tapi biarkan kami sendiri yang menentukan hari dan tanggal pernikahannya," Fery menjawab dengan pasti.


"Menikah?" Suci yang terkejut mengeraskan suaranya.


Terima kasih sudah mendukung dengan tetap setia di MT ya:-)


Like


komen


Rate 5


Kak Youmi Noor (Author karya bagus dan terpilih sebagia 10 terbaik NWA season 1 bisa dicek profilnya)


Kak Shanty Fadilah( Author karya bagus dan bikin ngakak, bisa cek profilnya)


kak Mak mak doyan novel


Kak Fina silaban tio


Kak Ria marisha


Kak Lis Nurhidayah


Terima kasih Votenya:-)