Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Hamil


Keduanya masih terdiam, Anggun menunduk ia meremas bantal yang ada di pangkuannya, seakan tidak rela Ariel pergi, kebersamaan yang singkat, membuatnya terlena dan lupa akan kesalahan Ariel. Sedangkan Ariel masih saja memandangi Anggun , ia meletakan Hp di atas nakas tempat tidur ia melangkah dan duduk di samping Anggun.


Ariel meraih dan mencium tangan Anggun.


" Sayang , boleh aku meminta sesuatu ? "


Anggun menoleh " Katakanlah ! " seru Anggun dengan senyuman manisnya.


Ariel menarik nafas dan ia menghembuskan secara perlahan, " Aku cuma minta, apapun yang terjadi tetaplah percaya dengan apa yang aku katakan , jangan pernah meragukan aku ! " pinta Ariel dengan penuh harap.


Anggun menarik tanganya "Pergilah, jangan membuat orang menunggu ! " seru Anggun setelah ia memalingkan wajah dari Ariel.


Ariel menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, ia baru teringat kalau Anggun sudah berubah menjadi gadis yang pembangkang, mana mungkin dia mau menurutinya lagi, menikah saja karena dijebak.


"Baiklah ! " Ariel mencoba mengalah, ia berdiri "Aku mau mandi, apa kamu mau ikut ? " goda


Ariel di pagi hari, sering sering dicicil pasti akan hilang traumanya, begitulah pikiran Ariel.


Anggun juga berdiri "Jangan mulai lagi, sudah sana ! " seru Anggun mendorong Ariel sampai masuk kedalam kamar mandi, dan menutup pintunya.


Ariel hanya tersenyum, sebenarnya ia ingin terus menggoda Anggun, tapi keadaan yang tidak mendukung membuatnya harus tetap pergi.


Anggun membuka lemari pakaian Ariel, dan memilihkan pakaian kantor untuknya, entah kenapa nalurinya datang tiba tiba, dengan gesit ia menyiapkan semua keperluan Ariel.


Hp Ariel kembali berdering, tanpa sengaja Anggun melirik dan membaca nama yang tertera di layarnya " Alisa ? " lirih Anggun.


Anggun menjadi semakin takut, entah kenapa ia merasa seperti seorang pengkhianat dan pelakor yang sedang laris dan terkenal di stasiun tv ikan terbang.


Hp itu terus berdering , Anggun meletakan baju Ariel di atas tempat tidur dan keluar dari ruangan yang baru satu malam dia tempati.


.


.


.


.


.


" Maaf Bi ! ada yang bisa saya bantu ? " tanya Anggun kepada seorang pelayan paruh baya yang ada di dapur.


"Nyonya sudah bangun? sudah jangan ke dapur , serahkan semua sama bibi ! " jawab


Bi jum sembari meracik bahan makanan.


"Jangan panggil Nonya Bi ! panggil nama saja ! Bibi mau masak apa ? " tanya Anggun lagi.


"Biasa Tuan sarapan nasi goreng Nya ! "


"Jangan panggil Nyonya Bi , panggil nama saja ya ! " seru Anggun lagi, ia meraih pisau untuk mengupas mentimun yang ada di atas meja.


"Nyonya jangan di sini, sudah jangan bantu di dapur ! " panik pelayan yang lebih muda, ia mencoba merebut pisau dari tangan Anggun, tapi Anggun menahannya.


"Memangnya kenapa sih ? saya sudah biasa kok di dapur ! " seru Anggun mengencangkan


pisau yang ia pegang, sehingga membuat keduanya saling berebut.


"Sayang kenapa kamu ada di dapur ? " suara Ariel, membuat Anggun terkejut.


"Auh !" rintihan Anggun saat merasakan jari telunjuknya tergores pisau.


" Sudah aku bilang jangan biarkan istriku masuk ke dapur, kenapa kalian melakukan kesalahan seperti ini ? " teriak Ariel meraih tangan Anggun " Jarimu terluka, apa ini sakit ? " panik Ariel, memasukan jari Anggun yang berdarah kedalam mulutnya.


"Tidak ! aku tidak apa apa ! " jawab Anggun sembari melirik para pelayan yang sudah menundukan kepala. " Jangan seperti ini ! " Anggun menarik tangannya, tapi Ariel memegang pergelangan tanganya.


"Dengarkan aku ! aku tidak mau kejadian ini terulang lagi, jangan biarkan istriku masuk dan datang ke sini, dan jauhkan apapun yang bisa membahayakannya ! kalian mengerti ? "


Perintah Ariel dengan suara yang menakutkan


bahkan Anggun saja cuma bisa terdiam. Ariel membawa Anggun ke ruang keluarga, dan membalut lukanya dengan plester kecil.


" Jangan memarahi mereka seperti itu ! " ucap Anggun saat Ariel merapikan kotak obat.


"Aku akan memecat mereka, berani sekali membuatmu terluka ! " kesal Ariel dengan wajah cemberut.


"Cuma luka kecil, kenapa kau semarah ini?"


"Cuma luka kecil ? tapi aku tidak mau ada yang menyakiti istriku ini ! " jawab Ariel menyentuh hidung mancung Anggun.


Anggun tersenyum dan ia mengalungkan tangannya di leher Ariel, merapikan dasi Ariel " Kau bisa menyembuhkan luka yang ada di fisikku, tapi apa kau bisa menyembuhkan luka di hatiku ? " keduanya beradu pandang.


"Selesai ! " Anggun mengakhiri pandangan keduanya .


"Aku yakin, aku bisa menyembuhkan luka yang sudah aku buat Anggun ! " jawab Ariel dan ia membenamkan kecupan di kening Anggun." Aku pergi ya ! jaga dirimu baik baik, jangan lakukan hal yang membahayakanmu!"


Ariel membuka dompetnya dan mengambil ATM dan diletakan di telapak tangan Anggun.


"Pakai ini untuk memenuhi kebutuhanmu! "


"Jangan membantah, aku suamimu biarkan aku memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami ! " jawab Ariel, ia melirik jam yang melingkar di pergelangannya , " Aku pergi ya, tunggu aku di sini, jangan keluar rumah tanpa seijinku ! " perintahnya.


Anggun hanya diam, dan keduanya berjalan menuju pintu utama , Ariel mencium mesra kening Anggun sebelum ia meninggalkan rumah, Anggun hanya tersenyum kaku saat melihat Ariel yang perlahan hilang dari pandangannya.


" Aku seperti seorang istri yang merelakan suamiku pergi menemui wanita lain ! " Anggun tersenyum sinis dan meremas kartu ATM pemberian Ariel.


.


.


.


.


.


.


"Sayang kenapa kamu baru datang ?" Alisa bergelayut manja dilengan kekar Ariel.


"Alisa jangan seperti ini ! " Ariel berusaha menjauhkan tangan Alisa, tapi Alisa semakin mengeratkan pegangannya dan membawa Ariel masuk ke ruang rawat Mamanya.


"Mama....! coba lihat siapa yang datang ! " ucap Alisa bahagia, di depan ranjang pasien Mama Alisa yang sedang berbaring lemah.


"Maaf Tante, Ariel baru bisa datang kesini!" ucap Ariel sembari mengecup punggung tangan calon mertuanya. Rani hanya diam saja, melihat Alisa bahagia di samping Ariel.


"Duduklah Nak !" kali ini Widia Mama Ariel yang bersuara, sedari tadi ia selalu memantau keadaan besannya.


Ariel dan Alisa duduk berdampingan di kusi tepat di samping tempat tidur pasien.


"Kapan kalian akan menikah ? " suara lemah Nyonya Rani terdengar jelas di telinga Ariel.


"Menikah ? " tanya Ariel yang terlalu terkejut dengan pertanyaan Nyonya Rani.


"Kita akan menikah hari ini juga Ariel, ! " ucap Alisa bahagia.


"Alisa, kita sudah pernah bahas masalah ini bukan ? kenapa kau tidak mengerti juga ? "


" Aku sudah terima dan aku sudah mencoba untuk setuju dengan pilihanmu, tapi semua itu sudah terlambat ! "


"Apa makaudmu....? "


"Sudahlah Riel, kalian akan menikah hari ini juga ! " seru Nyonya Widia yang tidak punya pilihan.


" Tapi Ma....kami sudah pernah bahas ini sebelumnya ma, apapun alasannya Ariel sudah tidak mungkinenikahi Alisa ! "


"Hiks hiks hiks hiks kenapa kamu jadi seperti ini? kenapa kamu berubah? apa karena perempuan penggoda itu yang selalu menggodamu? "


"Anggun bukan wanita penggoda ! " tanpa sadar Ariel menyebut nama Anggun.


"Jadi benar, kalau Anggun yang membuatmu seperti ini ? " tanya Alisa dengan linangan air mata.


Widia hanya bisa diam dan berusaha menahan air matanya, ketika mendengar Ariel menyebut nama Anggun, ia merasa benar benar bersalah.


"Kamu sudah tidak bisa menghindar lagi Ariel, karena aku hamil anakmu ! " teriak Alisa.


Deg.............


Jantung Ariel seakan berhenti berdetak, aliran darah tidak mengalir di tubuhnya, membuat wajah Ariel pucat pasi.


" Ap apa ? "


"Aku hamil anakmu ! "


Sekali lagi jantung Ariel berhenti berfungsi.


Bersambung.......


Terima kasih sudah mendukung.


Tinggalkan jejak yes.....


🙄 Thor gak asik lah kok lama lama mirip sama ku menangissssssss yang ada di tv ikan terbang sih🤔


😱 Oh Bu Tejo ini aja mikirnya udah pusing bu jangan di samakan dong ah,


😯Si otor kebangetan gitu aja ngambek


😴Bukan ngambek, tapi lelah ini ngetiknya tengah malam bu Tejo midunnn


😏Alesan aja kamu Thor aku gak suka ya sama ceritamu ini


😲Jangan ngambek dong buk Tejo, serah dah bu kumenangisssss😭😭😭😭


Happy reading ya iklan hanyalah iklan


Sayang banyak banyak 🤗🤗🤗🤗