Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Pemberi Harapan Palsu


Prok! Prok! Prok !


Semua tepuk tangan setelah Suci selesai melakukan presentasi, Suci terlihat seperti seorang yang sudah berpengalaman,mereka tidak menyangka dengan kecekatan yang dimiliki Suci, setelah sebelumnya Suci sempat mengatakan kalau ini pengalaman pertama untuknya. Suci tersenyum dan menjadi semakin canggung setelah mendengar pujian yang dilayangkan untuknya, dan sejurus kemudian Suci kembali duduk di tempatnya.


Fery sendiri sudah kembali lagi memasang wajah datar seperti biasa, tatapan dingin dari laki-laki tampan ini sudah kembali dilayangkan kepada orang-orang yang secara terang-terangan memuji kecerdasan Suci, tidak seorangpun tau apa yang sedang dipikirkannya, setelah Suci duduk di tempatnya, Fery berdiri untuk mengakhiri presentasi ini.


"Baiklah ... saya rasa pertemuan ini cukup sampai di sini, kita akan segera melakukan pembangunannya setelah meninjau beberapa lokasi yang sudah kita sepakati bersama, jadi pertemuan ini di bubarkan! "


Semua orang berdiri setelah Fery mengetuk meja sebagai pertanda pertemuan ini sudah berakhir. Kemudian ia keluar begitu saja dari ruangan dan disusul beberapa orang lainnya, sementara Suci menarik nafas dalam karena lega bisa pura-pura tidak menghiraukan Fery, kemudian ia kembali duduk untuk menyusun beberapa berkas yang dibawanya dari kantor Ariel.


Ponsel Suci bergetar pertanda ada pesan masuk untuknya, tangannya mencari benda pipih itu di dalam tas.


"Maaf Bu, bisa ikut saya sebentar?" seorang wanita muda mengetuk pintu, membuat Suci mengalihkan pandangannya.


"Ada apa? apa saya melakukan kesalahan di sini?"tanya Suci yang sudah mengurungkan niat untuk mengambil ponselnya.


"Tidak Bu, hanya saja saat ini pak Fery sedang menunggu Anda di ruangannya," ucapnya ramah.


Kalau aja aku tau ini kantor kak Fery, sudah pasti aku gak akan mau datang ke sini, kak Ariel memang keterlaluan


Suci mengutuk Ariel, tentu cuma didalam hati. Tanpa basa-basi Suci beranjak dan mengikuti karyawan yang terlihat sangat cantik ini


***


"Bapak panggil saya?" Suci sudah berada di dalam ruangan Fery, setelah karyawan yang membawanya sudah menutup pintu dari luar.


"Hmm ya !" Fery melipat laptopnya dan menegakan punggungnya dan memandang Suci yang masih berdiri," duduklah!" perintahnya.


Suci meletakan tasnya di atas meja, kemudian ia duduk berhadapan dengan Fery, lagi-lagi aroma parfum Fery menusuk hidungnya, membuat perasaannya kembali bergejolak.


"Kenapa kamu yang datang ke sini?" tanya Fery menatap manik mata Suci.


"Untuk beberapa hari ini, saya akan menggantikan pekerjaan Pak Yusri," jawab Suci dengan bahasa yang formal.


Fery menaikan satu alisnya ia memperhatikan raut wajah Suci yang terlihat biasa saja, "Jadi kamu sudah siap untuk hari ini ?" tanya Fery lagi.


"Hari ini ...? memangnya ada apa dengan hari ini ?" seingatnya Ariel hanya mengutusnya untuk presentasi.


"Bukankah kita akan meninjau lokasinya?"


"Memangnya hari ini ya Pak? apa saya harus ikut juga?" kalau seperti ini kapan dia bisa move on?


"Apa bosmu tidak mengatakannya?"


Suci menggelengkan kepala.


"Agenda ini sudah lama direncanakan, jadi aku tidak menerima adanya penolakan! aku tidak mau proyek ini ditunda lagi!" Fery beranjak dan berdiri di samping Suci, membuat Suci mendongak melihatnya," ikut aku!" tegasnya.


***


"Pak Darma bisa pulang lebih dulu, biar saya yang mengantarkan Suci pulang!" perintah Fery kepada supir yang sudah lama menunggu Suci di luar gedung kantor.


"Ja-jangan Pak! saya pulang diantar Pak Darma saja," tolak Suci.


"Aku baru tau, ada orang yang berani membantah perintah Ariel," Fery mencibikan bibirnya.


"Pak Ariel bilang kalau saya hanya datang ke kantor ini saja, dan sekarang urusan saya sudah selesai, jadi saya akan pergi sekarang!" seperti biasa Suci sudah mulai banyak bicara.


"Cek ponselmu!" tegas Fery.


Suci merogoh ponsel dan membuka pesannya, ia kembali mengutuk Ariel yang mengiriminya perintah lewat pesan singkat. Suci menatap Fery dengan kesal karena laki-laki itu sudah tersenyum mengejeknya.


Pak Darma menatap bingung karena dua manusia ini terlihat seperti kucing dan tikus. Kemudian ia pergi setelah mendapat kode dari Fery.


"Ayo masuk," ajak Fery setelah membuka pintu mobil, Suci menghentakkan kakinya masuk ke dalam mobil Fery.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Fery fokus menyetir sedangkan Suci menatap nanar ke luar jendela, tidak ada yang membuka suara, hanya nyanyian dari audio yang terdengar mengisi perjalanan mereka.


****


"Ini tempatnya?" tanya Suci saat Fery sudah memarkirkan mobilnya.


"Pak Fery, akhirnya datang juga. Kami sudah lama menunggu Bapak disini," seorang kontraktor menyapa Fery dan semua orang yang ada di sana bergantian menjabat tangannya.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama," jawab Fery tersenyum ramah.


"Biasa saja Pak, kalau begitu langsung saja kita cek lokasi!" ajak wanita cantik dengan polesan makeup diwajahnya.


"Baiklah!" seru Fery sesaat ia menoleh melihat Suci yang sudah keluar dari mobil.


Lahan yang masih kosong ini terlihat begitu luas. Fery dengan detail memperhatikan setiap jengkal dari bagiannya, ditemani beberapa orang yang lain, sementara Suci terlihat menyendiri di tempat lain, mengambil beberapa gambar untuk diserahkan kepada Ariel, sesekali Suci melirik Fery yang terlihat sangat akrab dengan wanita dewasa yang terus tersenyum saat bicara dengan Fery.


"Tenang Suci, tenag ya, kamu baik-baik aja. Jangan cemburu ya, jangan cemburu," gumam Suci saat melihat wanita cantik disana berada di bawah payung yang sama dengan Fery, sedangkan dirinya hanya memakai pelindung kepala seadanya, cepat-cepat ia berbalik arah saat Fery melihatnya.


Di bawah teriknya matahari, Suci merasa asing sendiri, ingin berbaur dengan yang lain, tapi Suci merasa tidak percaya diri, sementara peluh sudah mulai memenuhi dahinya.


"Kenapa sendiri di sini?" tanya Fery, dengan memegang payung ia berdiri melindungi Suci dari sengatan matahari.


"Kenapa Bapak kesini? pergi sana!" Suci menyenggol lengan Fery tapi tidak membuat payung itu bergeser dari atas kepalanya.


"Yakin ... mau ditinggal disini?" tanya Fery.


"Iya! Saya sudah mengumpulkan beberapa gambar untuk saya laporkan kepada pak Ariel," suci menjawab dengan wajah cemberut.


"Kamu cemburu ya?" tanya Fery, ia merogoh sapu tangan kecil dari saku celananya.


"Ap-apa sih?" Suci memalingkan muka.


Fery tersenyum, dengan lembut Fery mengusap peluh yang ada di kening Suci dengan sapu tangannya, membuat Suci kembali melihatnya, "kamu tidak pandai berbohong, aku bisa lihat dari raut wajahmu ini," ucapnya.


"Memang kelihatan ya?" tanya Suci saat Fery sudah menjatuhkan tangannya.


"Hmm cuma aku yang bisa lihat," jawabnya tersenyum.


"Dasar pemberi harapan palsu!"


Mendengar itu raut wajah Fery kembali datar, tidak ada yang tau hati kecilnya menyimpan ketakutan yang luar biasa, takut kembali merasakan kehilangan. Fery sudah kehilangan orang-orang yang dicintainya.


Manda pergi dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Anggun meninggalkannya disaat wanita itu dulu sempat memberikan harapan untuknya. Tidak ada yang tau kalau hatinya masih menyimpan sedikit luka, walaupun Fery sudah merelakan Anggun bahagia dengan Ariel, tapi trauma itu masih ada. Fery tidak mau lagi merasakan sakitnya ditinggalkan wanita yang dicintainya.


"Kakak juga cemburu'kan kalau aku dekat sama laki-laki lain?" tanya Suci.


Keduanya menatap dalam, di bawah payung yang sama, berlindung dari terik matahari.


***


Terima kasih tetap setia di Novel remahan rengginang, krenyekan rempeyek ini ya😅


Terima kasih yang sudah


like


komen


rate5


Kak St Asiyah😍


Kak Nurlika😍


Kak Marya Emlysokar😍


Kak Shanty Fadilah( Author juga bagus karyanya bisa cek profil😍)


Kak Hana Fuziwara( Author juga bagus karyanya cek profil😍)


Dan semua yang kasih vote, maaf kalau ada yang tidak tercatat ya😍😍 Terima kasih.


kritik dan saran di terima