Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Siapa yang kamu temui?


😌Bintang saya sudah mulai redup, yang belum dipincit ya rate 5 nya☺


Fery sudah hampir lepas kendali, sudah berulang kali ia menghubungi asisten namun tidak satu pun panggilannya terhubung, "apa dia masih tidur? harusnya dia cek Cctv itu sekarang!" Fery kesal dan meletakan ponselnya dengan kasar, sementara jam sudah mulai bergesar, "Suci ... kamu di mana?" Fery frustasi ia mengusap wajah dengan telapak tangannya, ia meyenderkan punggungnya dan sesaat memejamkan mata.


"Sial ! kenapa harus berhenti di sini?"


Fery yang semakin resah memukul keras strir mobilnya sampai menimbulkan suara, saat terjebak kemacetan yang sudah mengular, tanpa sadar ia memalingkan muka menatap jauh pada keramaian yang ada di lapangan tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Suci...?" berkali-kali Fery mengedipkan mata untuk memastikan gadis kecil yang ada di seberang jalan sana, hatinya menjadi lebih baik saat mendapati Suci ada di depan matanya, "tapi kenapa dia bisa ada di sini?" Fery terheran, karena jarak hotel dengan tempat ini cukup jauh, sementara Fery sempat melihat dompet Suci tertinggal di atas meja.


Fery memutar stirnya untuk berbalik arah, saat lalu lintas sudah kembali normal.


Suci sudah semakin lupa dengan masalahnya, ia mengambil foto aurora itu dan memegang dengan ke dua tangannya, kedua matanya sudah berbinar melihatnya, namun tiba-tiba ada seseorang yang memegang pergelangan tangannya, "mana ice crea---


Suci tidak melanjutkan bicaranya, ia begitu terkejut melihat Fery dengan wajah yang memerah.


"Pulang!" Fery berseru dengan wajah yang dingin, kekhawatirannya belum hilang sepenuhnya.


"Gak...!" Suci menjawabnya dengan ketus, ia menarik kuat tangannya sampai genggaman Fery terlepas,"aku gak mau pulang!" Suci berjalan dan meletakkan foto itu di tempat semula.


Penolakan Suci membuat Fery terdiam dan membiarkan Suci berjalan menjauhinya,"kenapa dia? kenapa tiba-tiba sikapnya seperti itu?" secara perlahan Fery mulai berjalan di sisi Suci.


"Pergi ! aku gak mau pulang!" Suci mengeraskan suaranya, sampai beberapa orang di sana melihat kearah mereka.


Fery menarik tangan Suci sampai membuat Suci hampir menabrak dada bidangnya, keduanya saling menatap dalam, "Kamu kenapa sih? keluar dari hotel gak kasih kabar, kamu sudah buat aku khawatir, tapi kenapa sekarang kenapa kamu gak mau pulang?" tanya Fery tepat di wajah Suci.


Suci berusaha menarik tangannya, namun semua sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan Fery, "aku bilang lepasin, aku gak mau pulang, biar' kan aku sendiri," ucap Suci bahkan gadis ini sudah meringis dan berusaha menahan emosi.


Melihat raut wajah Suci seperti ini, membuat Fery melepaakan tangannya, ia semakin tidak mengerti dengan tingkah Suci, "kenapa kamu pergi? sama siapa kamu di sini?" tanya Fery mengintimidasi.


"Itu bukan urusan Pak Fery, lagi pula ini hari bebas untuk saya, jadi terserah saya mau pergi kemana dan sama siapa, Pak Fery gak usah pura-pura khawatir sama saya!" Suci bicara dengan penuh rasa dendam, membuat Fery tidak sanggup membuka suara.


"Pulang!" hanya kata itu yang terucap, Fery sadar ini bukan waktunya untuk berdebat walaupun banyak pertanyaan di benaknya.


Suci hanya melongos dan memutar badan, tapi lagi-lagi Fery memegang kuat tangannya, "aku bilang pulang sekarang!" Fery semakin memasang wajah dingin.


"Aku mau pulang, tapi aku gak mau pulang sama Pak Fery," penolakan ini membuat Fery kehilangan kesabarannya, dengan satu kali gerakan ia menggendong Suci di pundaknya.


"Lepas! lepaskan aku!" Suci meronta dan berteriak, bahkan ia sudah memukul-mukul punggung Fery, namun Fery hanya diam dan semakin berjalan cepat menuju mobil yang terparkir di sembarang tempat.


"Tolong! lepasin aku Bapak jahat! " suara Suci menarik perhatian orang disekitar dan membuat Yogi melihatnya.


Ice cream yang sudah di pegang Yogi jatuh begitu saja, tubuhnya bergetar melihat Suci meronta dan dibawa secara paksa, namun sayang ia tidak melihat dengan jelas wajah laki-laki yang sedang menggendongnya.


"Bidadari...!"


Yogi berteriak dan mengejar Suci yang masih meronta, tapi langkah kakinya kalah karena Bidadarinya sudah dipaksa masuk ke dalam mobil, "Bidadari tunggu aku!" Yogi berteriak sangat kencang, ia mengabaikan orang-orang di sekitar yang melihatnya dengan kebingungan.


"Aku bilang aku gak mau pulang sama kak Fery, cepat buka pintunya?" Suci masih berteriak dan berusaha membuka pintu mobil yang sudah tertutup secara otomatis.


"Kamu ini kenapa sih huh? pagi-pagi sudah menghilang, dan sekarang sikap kamu seperti ini, jangan buat aku khawatir Suci...."


Suci lebih tenang, ia mencibik dan menatap sinis pada Fery yang fokus mengukur jalan.


Hanya pura-pura khawatir


"Stop! aku mau turun di sini, aku gak mau pulang sama Bapak, cepat hentikan mobilnya!" Suci kembali berteriak.


"Kalau kamu gak mau pulang sama aku, terus kamu mau pulang sama siapa huh?" suara Fery juga sudah mulai mendominasi.


Suci menutup mulut dengan kedua tangannya, ia menjadi terdiam dan menatap ke luar jendela dan itu berhasil membuat Fery curiga.


"Kamu mau pulang sama siapa?" tanya Fery dengan suara yang lembut, bahkan ia sudah mengurangi kecepatan mobilnya.


"Bukan siap-siapa," Suci menjawab dengan cepat.


Fery menepikan mobilnya di pinggir jalan dan tidak lupa mematikan mesin mobilnya, dengan cepat Fery membuka sabuk pengaman agar leluasa melihat Suci, "kamu mau pulang sama siapa? siapa yang kamu temui di sana hm?" tanya Fery sembari menarik lengan Suci sampai mereka saling berhadapan.


"Bu-bukan siapa-siapa..." lirih Suci.


"Jangan bohong, apa kamu sengaja meninggalkan ponsel di dalam kamar, supaya tidak ada orang yang mengganggumu? siapa yang kamu temui hm?" rahang Fery sudah mengeras, ia mencoba menahan emosi berusaha menyingkirkan pikiran negatifnya.


"Apa sih Pak! lepasin tangannya ini sakit!" Suci meringis, Fery yang tersadar menarik tangannya, namun masih tetap menatap Suci dengan curiga.


"Siapa yang kamu temui di sana?" tany Fery lagi saat sudah mengontrol emosinya.


"Bukan siapa-siapa," Suci masih enggan melihat Fery, ia mengelus tangan yang masih terasa sakit.


Fery menghembuskan napas secara kasar, dan kembali melajukan mobilnya, tidak ada lagi yang membuka suara sepenjang perjalanan menju hotel, kurang dari tiga puluh menit Fery sudah memarkirkan mobilnya, tanpa bicara apapun juga Suci keluar begitu saja dari mobil.


Fery memandang punggung Suci yang semakin menjauh, saat ini banyak pertanyaan dan kecurigaan di dalam dirinya, tanpa sadar Fery melihat benda asing saat ia menundukan kepala, dan secara perlahan Fery mengambil benda kecil tersebut.


"Siapa yang kamu temui?" perasaan Fery berkecamuk, saat menggenggam gantungan kunci setengah hati.


"Laki-laki tengil? siapa dia?" Fery menggenggam erat benda itu di kepalan tangannya.




Tikus dan kucing mencari cinta


Kak Fery ... kisah cintamu menggemaska ☺


Jangan tiru si Ariel ya, dia posesifnya parah, abang Fery cukup membuktikan cinta saja😍


Mau bilang, yang namanya konflik itu pasti selalu ada, justru ini bisa membuat kita lebih dewasa dan lebih bijak dalam menghadapi segala cobaan, sampai dimana kemampuan kita, menyerah dan menjadi pecundang, atau berusaha menghadapi dan keluar sebagai pemenang?


Aduh aku ini bicara apa ya 🤔🤔


Bukankah cinta perlu diperjuangankan?


atau


Apa cinta itu hanya sebatas di bibir saja?


Dan saya mau kasih kode, mungkin dalam minggu ini saya akan jarang update yes, tapi saya usahakan ya😅


Terima kasih masih setia di cerita saya ini ya.


Like


Vote


komentar dong, biar gak sepi😅