
"Anak kecil gak boleh ikutan!" ucap Fery, ia meletakan handpone-nya di atas meja.
"Apa sih Kak? aku bukan anak kecil lagi." bukannya takut, Suci justru duduk di depan Fery, menyusul Airin yang sudah lebih dulu duduk di samping Alisa.
"Berapa umurmu?" tanya Fery, ia tersenyum mengejek Suci.
"24 tahun!" Suci menjawab dengan ketus.
"Dasar anak kecil," ejek Fery.
"Sudahlah, sampaikapan kalian bertengkar seperti ini?" tanya Yusri, ia sudah memegang botol kosong, dan menggeser gelas yang berisi minuman mereka.
"Ini permainan apa sih?" tanya Airin.
"Jadi begini, kita memutar botol ini.Kalau berhenti tepat dihadapan salah satu dari kita, maka dia wajib menjawab pertanyaan kalau tidak dia akan mendapatkan hukuman." Yusri menjelaskan seraya memutar botol kosong itu"Bagaimana? kalian setuju?" tanyanya lagi.
"Itusih gampang," jawab Alisa. Sedangkan Airin dan Suci cuma menganggukan kepala.
Botol pertama sudah mulai diputar, wajah-wajah penasaran sudah terlihat nyata. Siapakah yang akan di tunjuk botol ini? tepat berhenti di depan Airin, membuat gadis itu membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ok Airin, kebetulan aku punya satu pertanyaan untukmu, jadi dengarkan baik-baik. Aku sarankan kamu harus menjawabnya ya," ucap Endi sembari melirik Yusri"apakah kamu sudah melupakan cinta pertamamu?" tanya Endi tersenyum jahat, ia mengabaikan kaki Yusri yang menendangnya di bawah meja.
"Belum, aku tidak pernah melupakannya." Airin menunduk sengaja menghindari tatapan mata Yusri dan ia menjawab dengan pasti.
Yusri menyunggingkan senyumnya, mengingat dulu Airin pernah menyatakan cinta untuknya, tentu saja saat gadis ini masih SMP, dan tidak disangka sampai sekarang Yusri masih menjadi cinta pertamanya.
"Ok, karena kamu menjawabnya, jadi kamu bisa memutar botol ini," Endi memberikannya kepada Airin.
Airin menerima dan mulai memutarnya, dan tepat sasaran, botol itu menunjuk Yusri, membuat keduanya beradu pandang. Sementara yang lain terlihat sangat antusias, menggemaskan.
"Apa aku boleh bertanya ?" Airin ragu.
"Tentu," jawab Yusri.
"Ekhhm antara Cinta dan persahabatan, mana yang akan kamu pilih? dan berikan alasannya!" tanya Airin yang sebenarnya sudah lama menyimpan pertanyaan ini.
"Aku lebih memilih persahabatan, karena terkadang sahabat lebih tulus dari cinta." Yusri mengepalkan satu tangannya di bawah meja dan menjawab dengan lantang. Andaikan saja Ariel merestui hubungan mereka, sudah bisa dipastikan kalau Yusri akan membawa Airin ke penghulu hari ini juga.
Airin tersenyum kecut, ternyata jawaban Yusri masih sama seperti dulu, ia beranggapan Yusri juga lebih memilih untuk menjadi sahabatnya.
Keadaan semakin canggung, Endi tau apa yang terjadi diantara mereka. Dan karena ini juga, Ariel mengirim Airin ke luar negri.
"Baiklah, sekarang giliranku," Yusri sudah mulai memutar botol, dan Endi yang terpilih.
"Kenapa harus dia?" kesal Yusri.
"Hey aku juga bagian dari permainan ini! jadi harus adil," Endi tidak terima.
"Yah ok lah! sejak kapan kau mencintai Alisa?"
Endi menggenggam tangan Alisa, ia memamerkan kemesraannya dihadapan para jomblo sejati.
"Tentu saja sejak pandangan pertama, tapi dia lebih memilih Ariel," ucapnya mengenang masa lalu.
"Hahahahaahah pesonamu itu memang kalah dari Ariel, kau kurang memikat," ejek Yusri.
"Hey sudah! sudah! kenapa jadi bahas itu huh?" Alisa kesal menahan malu, ia menggeprak meja, membuat suara tawa Yusri meredup.
Airin dan Suci tersenyum mereka saling melirik. Sedangkan Fery duduk gelisah ia sudah khawatir mendapatkan pertanyaan yang akan menjebaknya, mengingat Endi dan Yusri yang kadang tidak tau aturan.
"Berikan botol itu, biar aku yang memutarnya," Fery sudah mulai memutar botol, dan menunjuk Alisa"kenapa bisa semudah itu kau melupakan Ariel?" tanya Fery mengingat dulu Alisa tidak mau melepaskan Ariel.
"Karena aku sadar, kalau aku hanya terobsesi. Dan aku sadar kalau selama ini ada Endi yang mencintai aku dengan tulus," jawaban Alisa membuat Endi girang, ia mencium tangan Alisa.
"Kalau kalian pamer kemesraan lagi, akan aku lempar kau ke kolam renang itu," kesal Yusri kepada Endi.
"Iri bilang bos...!" ejek Endi.
"Pertanyaan apa itu? dia anak kecil yang tidak tau apa itu cin--
"Melupakannya! aku akan melupakan dia, sama seperti kak Alisa, mungkin saja di luar sana ada orang yang mencintai aku dengan tulus, jadi untuk apa mempertahankan orang yang tidak bisa melihat cintaku untuknya?" jawab Suci.
Semua terdiam dengan jawaban Suci, ternyata umur tidak bisa dijadikan patokan untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang. Fery lebih tercengang saat Suci bicara sambil menatapnya.
"Ayolah! kenapa semua jadi diam? ini'kan cuma permainan..." Suci meraih botol dan memutarnya.
"Wah Kak Fery, giliran kakak nih." kapan lagi dia punya kesempatan emas ini? "Seperti apa calon istri idaman Kakak?" tanya Suci, ia memang selalu apa adanya, lihatlah pertanyaan itu membuat Fery menjadi kesal.
Fery menggelengkan kepala, rubah kecil ini memang licik, sudah berhsil menjebak dengan pertanyaannya"yang pasti dia bukan anak kecil," jawabnya tanpa merasa bersalah.
Suci hanya ber"Oh" saja. kapan kamu tidak klpek-klepek denganku. batin Suci.
"Jadi apa ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Endi.
"Tidak, aku sudah lelah," Fery beranjak, ia berjalan melewati Suci dan meninggalkan semua orang.
"Dasar kepala batu," gumam Suci, ia mengambil Hp Fery yang tertinggal di atas meja" Kak Fery! " teriaknya, namun Fery sudah semakin menjauh sampai melewati kolam renang.
Tanpa pikir panjang, Suci membawa hp Fery dan mengejarnya"Kak Fery tunggu!" teriaknya lagi.
"Suci benar-benar nekat," ucap Airin yang merasa senasip dengan Suci, cintanya bertepuk sebelah tangan, sungguh miris.
Yang lain menggelengkan kepala, menyaksikan drama seru yang disuguhkan seorang gadis polos.
"Kak Fery tunggu akhhhhhhh
Byurrr
Suci terjatuh ke dalam kolam, semua terkejut.
"Suci!!" teriakan itu terdengar di telinga Fery, membuatnya memutar badan, matanya membulat saat melihat Suci di dalam sana.
Byur......
Seperti seorang Pangeran yang datang menjemput kekasihnya, ah dia bukan pangeran berkuda, Fery terus berenang dan berusaha meraih Suci yang hampir tenggelam. Fery membawa Suci ke tepi kolam, namun Suci sudah hampir tidak sadarkan diri. Semua menjadi panik dan mengerumuni Suci.
"Suci! Suci! Suci!" puk, puk, puk. Fery menepuk halus pipi mulus Suci, berusaha menyadarkannya.
Sebagai seorang Dokter, Endi sigap melakukan pertolongan pertama, dengan melakukan RJP guna membuat jantung kembali mendapatkan fungsinya,namun masih belum berhasil juga"CPR" ucapnya.
Semua semakin bingung.
"Nafas buatan,pertolongan disaat keadaan darurat seperti ini," ucap Endi.
Tanpa membuang waktu, Fery melakukannya.
******
Kak Muthi nna
kak Novi Cahyani
Dan semua yang sudah kasih dukungan
Like
komen
Rate 5
vote
Terima kasih😍😍😍😍