Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Pelarian semata


Fery masih membuang wajahnya kesembarang arah, berusaha menghindari Milla yang masih asik dengan gerakan kecil pada leher jenjangnya, Fery merasa sangat tidak nyaman melihat Mila bahkan walaupun hanya dari pantulan cermin saja. Saat ini Fery sudah berniat untuk meninggalkan tempat ini, namun tepat di depan pintu ia melihat satu per satu orang sudah mulai berdatangan. Fery menghembuskan napas lega dan perlahan berjalan mendekati alat fitness yang digunakan untuk mengencangkan ototnya yaitu lat pull down dan mengabaikan Milla begitu saja.


Milla sama sekali tidak merasa keberatan dengan sikap Fery yang terkesan acuh kepadanya, justru sikap dan sifat Fery yang terkesan tertutup ini semakin membuatnya penasaran dan tertantang untuk mendapatkan laki-laki tampan ini, dan dengan santainya Milla mendekati treadmill yang ada tepat di samping Fery, saat ini wajah keduanya sudah terpantul di cermin.


"Fery, emm maksudku ak---


"Tidak masalah panggil Fery saja," Fery memotong ucapan Milla namun tetap fokus pada gerakannya.


"Oh baiklah, ehm aku tidak melihat siapapun di sini, asisten dan perempuan itu juga tidak ada, apa mereka tidak ikut ?" saat ini Milla sudah mengatur alat itu membuatnya bisa berjalan santai.


"Perempuan yang mana? Kalau yang kamu maksud itu Suci, saat ini dia sedang tidur, aku tidak mau mengganggu mimpinya," Fery menjawab seraya tersenyum, hanya menyebut nama Suci saja sudah membuatnya bahagia.


"Oh begitu, tapi kenapa aku merasa kalau dia sangat mengagumimu ya? Apa kamu tidak merasa risih dan keberatan?"


"Apa terlihat jelas? Wajahnya itu memang tidak bisa berbohong, tapi aku tidak keberatan, karena dia memanglah kekasihku, jadi aku rasa hal itu wajar,"


"Kekasih...?" Milla begitu terkejut, jelas saja dia yang sudah lama mengejar Fery, tapi anak kecil itu yang sudah berhasil mendapatkannya.


"Kamu tenang saja, kami bisa bersikap profesional, jadi tidak perlu khawatir kalau ini akan menganggu kerja sama kita," Fery sengaja mengungkap status hubungannya dengan Suci agar Milla bisa menjaga jarak darinya.


Milla tersenyum kecut dan mulai mengatur tombol untuk mengencangkan jalannya pada alat tersebut.


***


Matahari sudah mulai menampakan wujudnya, setelah membersihkan diri, Fery bergegas menuju restoran untuk memesankan sarapan Suci, yang mungkin saja saat ini masih berada di alam mimpi.


"Fery ? " Maya yang tak lain psikiater pribadinya ini menepuk punggung Fery, membuat Fery melongos melihatnya, "kamu nginap di hotel ini juga? sejak kapan? kok aku gak tau sih?" tanya Maya antusias.


"Maya, kamu buat aku kaget aja! kebetulan aku ada proyek disekitar sini, jadi untuk beberapa hari kedepan, hotel ini akan menjadi rumahku," ucapnya dengan wajah yang ceria.


"Kita duduk dulu di sini, sepertinya ada topik yang menarik untuk kita bahas," Maya menarik tangan Fery dan mengajaknya duduk di tempat yang sudah di persediakan.


"Kamu mau pesan apa May?" tanya Fery saat sudah membuka buku menu.


"Tidak perlu repot, " Maya menarik buku menu yang dipegang Fery "ada hal yang lebih menarik dari itu," ucapnya lagi.


"Misalnya?"


"Aku lihat ... saat ini kamu sudah lebih baik ! lebih tenang, lebih happy, seakan sudah tidak ada beban berat yang kamu pikul selama ini, aku benarkan?"


"Bahas apa sih May?" Fery mendadak jadi malu.


"Jangan bohong, aku tahu. Siapa sih orang yang ada dibalik kebahagiaan kamu ini?" Maya mulai mencari informasi.


Fery mulai melipat kedua tangannya di atas meja, dan memandang Maya dengan wajah yang serius.


"Kamu benar May, tidak salah jika aku membuka hatiku untuknya, aku sudah melakukan dan mengikuti semua saranmu, aku sudah menerima Suci menjadi kekasihku dan mengisi hari-hariku," ucapan Fery menerawang jauh.


" Aku tidak tahu ini cinta atau pelarian semata, cuma kamu yang tahu perasaanku Maya, cuma kamu yang tau rasa sakitku, bayangan Tasya yang pergi meninggalkanku, bayangan Anggun yang lebih memilih kembali kepada Ariel, semua itu sangat menyakiti aku, sampai akhirnya aku mencoba menerima Suci, aku berharap dia bisa menyembuhkan sakit hati yang selama ini aku rasakan, dan kamu lihat aku sudah berhasil sembuh, bahkan aku sudah buang jauh obat yang selama ini bisa menenangkan aku dan semua ini karena aku mengikuti saranmu!"


"Aku ikut bahagia Fery , akhirnya kamu kembali seperti dulu, akhirnya kamu tidak membutuhkan obat itu lagi!" Maya bicara sembari terus memegang erat tangan Fery.


"Terima kasih Maya, kalau bukan karena saran dan kesabaranmu, mungkin saat ini aku belum juga bisa menerima cinta Suci, dan ternyata memang tidak sia-sia aku menerimanya," Jawab Fery.


Tanpa mereka sadari Suci sudah menangis dalam diam, karena mendengar percakapan mereka, awalnya Suci mengira Fery masih berada di dalam kamarnya, ia sengaja datang ke restoran untuk hunting makanan lezat, namun tanpa diduga dari jauh Suci melihat Fery dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya, karena penasaran secara diam-diam Suci mendekat dan duduk di belakang Fery yang memang dalam posisi yang memunggunginya.


Kamu jahat kak ... ternyata selama ini aku cuma jadi bahan percobaan saja! aku cuma jadi pelarianmu semata, seharusnya dari awal aku sudah tau kak, kamu tidak mungkin secepat ini menerima dan mencintai aku, Suci bodoh! kamu jahat kak ... padahal aku begitu tulus mencintaimu, tapi apa yang kamu lakukan kak? aku benar -benar cuma sebagai pelarianmu semata....


Suci membatin dengan terus meremas dadanya yang sudah terasa sangat sesak, dan secara perlahan Suci berdiri dan pergi meninggalkan Fery, sebelum Fery menyadari kehadirannya.


Dengan menahan rasa sakit hati dan berderai air mata, Suci berjalan tergesa-gesa keluar dari hotel, ia terus berjalan tanpa tujuan dan menghentikan taxi yang saat itu sedang melintas di sekitarnya.


"Jalan Pak...."


"Kita mau kemana Neng?"


"Kemana saja Pak, jauh dari tempat ini," Suci bicara dengan suara yang lirih, supir taxi yang terlihat kebingungan ini, hanya diam dan mulai menghidupkan mesin kendaraannya, sampai perlahan ia mulai memainkan stir kemudinya.


"Sudah lebih dari tiga puluh menit kita keliling tanpa tau arah dan tujuan, apa masih mau dilanjutkan juga Neng?" tanya supir saat sudah menghentikan taxi nya di taman yang terletak tidak jauh dari pusat kota.


"Sa-saya turun di sini saja Pak, " Suci merogoh uang dari kantung celananya, " Terima kasih ya Pak," ucapnya sembari memberikan lembaran uang kertas sebelum keluar dari taxi.


****


Suci sudah duduk sendiri di bawah pohon rindang, setelah memastikan keadaan di sekitarnya sepi, Suci berteriak dan menumpahkan semua kekesalannya.


"Jahat ... Kakak jahat! aku benci, aku benci! benci ! heuhuhuhu," akhirnya tangisan yang sedari tadi ditahan pecah juga.


"... lebih baik aku ditolak dengan cara kakak selama ini, lebih baik kakak tetap menjaga jarak dariku, lebih baik kakak acuh dan mengabaikanku hiks hiks hiks itu lebih baik dari pada kakak berpura-pura mencintaiku huhuhuhu jahat, aku cuma jadi pelarianmu semata hiks hiks jahat! aku benci! BENCI! ! !".


Suci terus saja menangis, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, saat ini hatinya sangat hancur.


"Dia jadikan aku bahan percobaan, dia masih belum bisa melupakan mbak, dia belum bisa melupakan kekasihnya yang lain hiks hiks hiks bodoh, aku memang bodoh, bodoh," Suci terus memukul-mukul kepalanya, mengutuk kebodohannya sendiri.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri!"


Suci terdiam saat tangannya dipegang laki-laki yang sudah duduk di sampingnya.


"Le-lepas!" Ucap Suci dengan wajah yang sendu, namun laki-laki ini masih enggan melepaskan tangannya.


"Ambil ini, hapus air matamu," ucapnya menyerahkan sapu tangan berwarna biru, namun Suci terlihat ragu.