
Promosi novel baru.
Judul : Dalam Dekapan Rindu.
"Shafa! Kamu lihat sepatuku, nggak?" pekik Inggit dari dalam kamar.
"Ada di rak sepatu kamu!" jawab Shafa.
"Nggak ada ... cepetan cari! Aku udah telat!" pekik Inggit marah.
Shafa yang saat itu tengah membilas piring kotor buru-buru menutup kran air, ia berjalan tergesa-gesa menuju kamar sepupunya Inggit.
"Astaghfirullah ... kenapa kamarnya berantakan?" Shafa terkejut melihat pakaian dan beberapa pasang sepatu milik Inggit berserak di lantai.
"Makanya lain kali kalau nyimpan barang-barangku yang bener jangan asal tumpuk biar aku gampang nyarinya," jawab Inggit tanpa merasa bersalah, ia merapikan penampilannya di depan cermin.
Shafa melirik sepatu yang dicari Inggit sudah membalut kakinya, ia bisa menebak kalau Inggit pasti sengaja mengerjainya, "tapi bisa 'kan kamu carinya tanpa membongkar isi lemari, kalau seperti ini aku kerja dua kali...." lirih Shafa.
"Udahlah Sha, aku nggak punya waktu untuk debat sama kamu. Mending kamu rapikan kamarku dan jangan banyak mengeluh!" Inggit tersenyum sinis dan keluar dari kamar.
Shafa yang sudah merasa lelah hanya bisa menghembuskan napas pasrah, ia tidak bisa melakukan apapun selain menuruti perintah pemilik rumah. Bangun pagi menyiapkan segalanya dan tengah hari harus mengantar bekal makan siang untuk paman dan bibinya di toko sembako mereka.
Siang itu matahari cukup terik saat Shafa keluar dari toko pamannya. Shafa yang memang sudah terbiasa membawa mukena di dalam tasnya memilih sholat di masjid yang ia lewati. Shafa merasa begitu tenang saat mendengar suara adzan yang masih berkumandang, ntah dapat dorongan darimana, ia menyingkap sedikit tirai yang menjadi pembatas antara laki-laki dan perempuan.
Tampak seorang laki-laki berkemeja hitam berdiri tegak melantunkan adzan, sementara di belakangnya ada beberapa orang tengah duduk bersila kaki menunggu waktunya komat. Shafa memandang kagum pemilik punggung yang kokoh itu. Namun, setelah sadar dengan kekhilafannya ia cepat-cepat menutup lagi tirai hijau sebelum terlalu jauh mengaguminya"Astaghfirullah...." gumam Shafa sembari memegang dadanya yang terasa berdebar kencang.
***
Usai sholat zhuhur Shafa kembali mengayuh sepeda menuju toko kue milik bu Midah yang letaknya tidak jauh dari masjid, rencananya ia akan melamar kerja di sana. Sebenarnya, Shafa masih ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi seperti Inggit yang saat ini kuliah di salah satu Universitas ternama di kota.
Tetapi itu hanya menjadi angan-angan saja karena ia tidak punya biaya untuk mewujudkannya, semenjak ayahnya meninggal Shafa tinggal bersama keluarga Inggit dan tidak pernah punya kesempatan untuk mencari uang.
Dalam perjalana Shafa merasa ada motor yang melaju pelan mengikutinya dari belakang, Shafa berinisiatif menepi agar motor sport itu mendahuluinya. Tetapi diluar dugaan Shafa karena saat ini motor yang dikemudikan laki-laki berkemeja hitam itu sudah berhenti tepat di sampingnya.
"Kamu ngikuti saya?" tanya Shafa ketus saat laki-laki ini sudah membuka kaca helm yang dipakainya. Shafa yakin kalau dia yang tadi mengumandangkan adzan, Shafa buru-buru menundukkan kepala.
"Assalamu'alaikum ... saya Raka. " Raka mengambil sesuatu dari kantong kemejanya dan mengangsurkan tangannya. "Punya kamu 'kan? Ketinggalan di mesjid," imbuhnya lagi.
Shafa meraba ujung jilbab yang dipakainya, benar saja tidak ada lagi bros mini yang menghiasi jilbabnya, dengan masih tertunduk Shafa meraihnya dari tangan Raka.
"Terima kasih," jawab Shafa singkat, ia bersiap untuk kembali mengayuh sepeda. Tetapi ucapan Raka menghentikannya.
"Menjawab salam hukumnya wajib," ucap Raka mengu lum senyum, padahal dalam hati menertawakan diri sendiri karena sudah merasa tertarik sejak melihat perempuan ini menuntun sepeda keluar dari halaman masjid.
"Wa'alaikumsalam...."
Shafa berlalu pergi begitu saja mengabaikan Raka yang masih memanggilnya.
"Saya belum tau siapa namamu!" teriak Raka dan kembali melajukan motornya mengikuti Shafa sampai ke deretan ruko yang berada di tepi jalan raya.
Dua puluh menit sudah berlalu saat Raka melihat Shafa keluar dari toko kue, perempuan itu tampak lebih sumringah dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
"Sengaja ngikutin aku?" Shafa terkejut melihat Raka duduk santai di atas motor yang terparkir di halaman toko.
"Nggak, aku mau masuk!" Raka menunjuk pintu yang seluruhnya terbuat dari kaca.
"Oh ...Shafa. Nama yang cantik," gumam Raka.
Shafa mendengus kesal karena tadi sempat mengagumi laki-laki yang ternyata menyebalkan ini.
"Kamu lagi ada masalah, ya?" tebak Raka saat Shafa terkesan mengabaikannya.
"Maaf ... kita tidak sedekat itu!" jawab Shafa sekilas menatap mata Raka.
Raka melihat ada guratan kesedihan di mata Shafa, ia hanya diam melihat Shafa berlalu pergi.
Raka masih menatap punggung gadis sederhana yang tadi sudah menghindarinya. Shafa ... sesuai namanya, Raka bisa melihat kepolosan, ketenangan, ketulusan dari wajah Shafa. Tetapi sinar mata Shafa menyiratkan kepedihan yang terpendam dan butuh pengobatan, ini pertama kali baginya begitu tertarik dengan seseorang yang baru dilihatnya.
"Mungkin Allah sudah mengatur pertemuan ini, jika nanti kita bertemu lagi aku berharap kamulah takdirku," harap Raka.
***
Usai makan malam Inggit kembali masuk ke kamar sementara Shafa merapikan meja dan mencuci piring kotor. Setelah memastikan dapur sudah bersih ia mendekati paman dan bibiknya yang sedang berbincang di ruang tamu.
"Bik, mulai besok Shafa udah mulai kerja di toko roti buk Midah dan---
"Kurang kerjaan, di rumah ini kerjaan kamu numpuk! Kalau kamu nggak ada di rumah siapa yang mau masak, bersih-bersih rumah, ngantar makan siang bibik, siapa kalau bukan kamu?" hardik bibik memotong ucapan Shafa.
"Sudah, Bu ... biarkan aja Shafa kerja. Biar punya pengalaman," ucap Paman membela Shafa, hanya paman yang perduli kepadanya.
"Keponakan kamu ini sudah numpang tinggal di sini tanpa dipungut biaya, jadi semua pekerjaan di rumah ini menjadi tugas dia! Enak saja mau keluyuran di luar rumah!" Bibik semakin mengeraskan suaranya.
"Ada apa sih, teriak-teriak?" Inggit keluar dari kamar dan berdiri di samping Shafa. "Buat ulah apa lagi?" Inggit menuding bahu Shafa.
"Shafa mau kerja!" jawab bik Ija.
Inggit membulatkan matanya. "Terus siapa yang nyiapin keperluanku? Nyuci baju, nyetrika, nyiapin sarapan sebelum kuliah. Lagian tamatan SMA kayak kamu ini bisa kerja apa, sih?"
"Aku kerja di toko kue buk Midah. Kamu jangan khawatir aku bisa bangun lebih awal untuk nyiapin keperluan kamu sebelum pergi kerja," jawab Shafa.
"Toko kue buk Midah itu tempat tongkronganku sama anak-anak yang lain. Aku bisa malu kalau mereka tau kamu ini sepupuku! Penampilanmu aja kampungan begini!" ejek Inggit.
"Tapi aku butuh pekerjaan ini. Aku butuh uang untuk memenuhi kebutuhanku, aku nggak mungkin selamanya nyusahin kalian. Aku janji mereka nggak akan tau kalau aku ini sepupumu. Kita bisa pura-pura untuk nggak saling kenal!" seru Shafa.
"Biarkan aja Shafa kerja."
Inggit berdecak kesal karena ayahnya membela Shafa.
"Ok! Tapi kamu harus nurutin semua yang aku perintahkan!" Inggit menatapnya tajam.
"Iya, aku janji ..." lirih Shafa tanpa merasa keberatan karena ia sudah terbiasa menerima perlakuan Inggit yang semena-mena.
***
Suara alarm pukul 4 pagi membangunkan Shafa dari tidurnya. Shafa sengaja bangun lebih awal dari biasa karena tidak mau terlambat kerja. Saat semua penghuni rumah masih terlelap dalam mimpi, Shafa justru harus melakukan aktifitasnya di dapur.
Satu mangkuk sup ayam, sambal kecap, tempe goreng dan satu toples kerupuk sudah tersedia di atas meja, rumah juga sudah lebih bersih, kini tiba saatnya untuk Shafa menyiapkan diri sendiri memilih mandi air hangat untuk menghilangkan lelahnya.