Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
I LOVE YOU


Bab 113 sudah saya Revisi ya, untuk temen-temen yang belum baca bisa di cek ulang ya😊 terkadang ada gangguan tak terduga jadi harap maklum yes


Suci masih menatap tidak percaya pada tumpukan kertas yang berisikan agenda tahunan, perjanjian dan apapun yang terkait dengan perusahaan Fery. Kalau bisa memilih lebih baik Suci berurusan dengan pola jahitan yang membingungkan dari pada, ia harus belajar menyusun semua ini dengan perasaan yang masih dongkol.


"Denger gak?" Cindy yang tak lain senior di kantor ini melipat kedua tangannya, bibirnya mengerucut dan matanya terlihat sinis melihat Suci, yang sudah berani mengambil posisinya untuk menjadi sekretaris Fery yang sudah lama diincarnya.


Suci menghembuskan napas frustasi, kemudian ia berdiri,"mana yang harus saya selesaikan lebih dulu Mbak?" Suci masih mampu menyunggingkan senyumannya, padahal ia sudah risih melihat rok mini yang dikenakan perempuan bermakeup tebal ini.


"Semuanya! dan hari ini juga kamu harus mehapal setiap tanggal, waktu dan tempat yang berhubungan dengan jadwal pak Fery! ingat ya ... pak Fery tidak suka bekerja dengan orang yang ceroboh dan tidak patuh!" Cindy mengambil secarik kertas dan meletakannya secara kasar di meja Suci, sampai Suci melirik tajam pada telapak tangan Cindy yang sudah kembali lagi menggebrak meja,"cepat kerjakan! kau harus patuh sama semua perintahku!"


"Memangnya Mbak siapa? apa jabatan Mbak disini?" cukup sudah kesabaran Suci sudah mulai menipis, ingin rasanya dia mengacak rambut gelombang perempuan sombong ini.


"Kau memang tidak punya sopan santun ya,"Cindy geram ia meraih ujung rambut Suci dan memainkan dengan jarinya,"aku seniormu di sini, jabatanku lebih tinggi darimu, apa yang aku perintahkan itu adalah perintah pak Fery, jadi ... jangan berani membantahku!" Cindy menarik jarinya kuat sampai Suci meringis merasakan sedikit sakit di kepalanya.


"Cara saya tergantung bagaimana Anda memperlakukan saya. Saya bisa sopan kepada orang yang juga menghargai saya, tapi saya tidak perlu berlaku baik kepada orang yang angkuh seperti Anda!" Suci menunjuk kuat bahu Cindy.


"Kau benar-benar sangat--


ucapan Cindy dipotong oleh Fery yang baru saja keluar dan menutup pintu ruangannya.


"Ada apa ini?" Fery mendekati meja Suci di susul Milla yang berjalan di belakangnya, membuat Suci dan Cindy terdiam dan saling melirik satu sama lain.


"Maaf Pak Fery, sepertinya saya harus segera kembali ke kantor, terima kasih karena Bapak sudah mau menandatangani kontrak kerja sama kita," Milla menghentikan langkah Fery, ia sadar kalau tidak seharusnya ia ikut menyaksikan pertengkaran ini.


"Hm iya, maaf kalau Anda sempat menyaksikan kejadian ini tadi," ucap Fery tidak enak hati.


"Tidak masalah Pak, di kantor saya juga sering terjadi perselisihan seperti ini, kalau gitu saya permisi," Milla kembali berjalan dan sekilas ia melirik Suci saat melewatinya.


"Ada apa? kenapa kalian bertengkar?" Fery mengintimidasi dengan wajahnya yang datar, matanya tertuju pada Suci yang masih menundukkan kepala.


"Jadi, dia tidak mau mendengarkan saya Pak. Saya meminta dengan baik anak baru ini untuk mengerjakan semua ini, tapi justru dia kasar dan menolak bahu saya Pak," Cindy berusaha mencari simpati, membuat Suci mengepalkan tangannya dengan geram, ternyata benar-benar berbisa bibir yang dilapisi warna merah ini.


"Benar begitu?" Fery dan Suci beradu pandang, namun sejurus kemudian Suci memalingkan muka, memutus ikatan mata mereka.


"Benar Pak, saya tidak berbohong dan ju---


"Kalau begitu, kamu bawa lagi semua berkas ini ke ruanganmu, untuk hari ini kamu yang menyusun semua agenda saya!" Fery memberi perintah untuk Cindy, membuat gadis itu gemetar, bukankah ini sama seperti senjata makan tuan? bagaimana bisa dia menyelesaikan semua ini? pikirnya.


Cindy sudah hampir protes dan membuka mulutnya, namun ia mengurunkan itu saat melihat raut wajah Fery yang seakan tidak ingin dibantah, dengan menahan kesal Cindy kembali lagi mengambil tugas yang tadi sempat di limpahkannya untuk Suci.


Setelah memastikan Cindy pergi, Suci kembali duduk di kursinya dan menatap layar laptop untuk mencari kesibukan, ia enggan mengubris Fery yang mungkin saja masih marah kepadanya.


"Maaf, karena tadi aku sudah marah dan membentakmu..." suara Fery terdengar sangat lembut.


Secepat ini minta maaf? padahal tadi udah marah -marah sampai urat lehernya hampir keluar.


"Hey lihat sini," pintanya, namun Suci masih diam tak bergeming. Fery menjauhkan laptop dari jangkauan Suci, membuat Suci melongos melihatnya.


"Apa benda ini lebih menarik dari aku?" dengan satu tangannya Fery mengayunkan laptop itu ke udara, lihatlah wajahnya yang masih merasa tidak bersalah.


Namun lagi-lagi Suci masih diam, bahkan ia sudah menyandarkan punggungnya di kursi dengan terus melihat Fery, beginilah kalau Suci sudah ngambek, ia bisa tahan seharian tidak bicara meskipun dibujuk dengan rayuan maut, tapi rasa penasaran dengan obat itu membuatnya terpaksa melemparkan seutas senyuman.


"Maaf ya, aku cu--


"Obat apa? tadi itu obat apa?" giliran Suci yang mengintimidasi, ia sudah terlanjur mengkhawatirkan keadaan Fery.


Fery membalasnya dengan senyuman, kemudian ia membuka laptop dan berpura membuka file dan terus menggerakan jarinya sengaja menghindari kecurigaan Suci, yang biasanya feeling seorang wanita selalu benar,"cuma obat mag biasa,"jawabnya berbohong.


"Kenapa bisa semarah itu?" tanya Suci yang sudah duduk tegak.


"Ya ... kamu lihat sendiri tadi ada Milla. Aku gak mau dia curiga."


"Alasan," suci menyinyir membuat Fery tersenyum dan kembali menutup laptop.


"Aku 'kan sudah bilang, kamu harus banyak bersabar menghadapi aku," Fery meraih tangan Suci.


"Aku cuma mau Kakak lebih terbuka, jangan sembunyikan apa pun juga dari aku Kak ... kakak tau 'kan kalau aku sayang dan perduli sama Kakak? kenapa aku merasa kalau cuma aku yang menikmati hubungan ini? kenapa cuma aku yang harus bersabar sementara Kakak masih sering acuh?" tanya Suci dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Fery menghembuskan napas secara kasar, kemudian ia menghapus air dari sudut mata Suci,"karena aku gak mau kehilangan kamu ci, percayalah aku sedang berusaha dan berjuang untuk hubungan ini..." lirih Fery.


Suci hampir tidak percaya,"Kakak sayang kan sama aku?" saat ini Suci menuntut jawaban.


"I Love you, more than you know," Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau, Fery mencium punggung tangan Suci, cukup sudah lebih baik menyakiti diri sendiri dari pada harus menyakiti perasaan Suci, lebih baik memendam trauma dan luka yang masih mengaga tanpa harus menyakiti hati Suci yang benar-benar Suci untuknya, lebih baik ia mencoba menerima dan membuka hati seutuhnya untuk Suci.


"Aku mencintaimu Suci Khaidar...."


*****


Suci kemarin mimpi di kejar dan dipatuk ular, terus dia telusuri arti mimpi itu😅 dan sekarang si akang Fery menyatakan cinta untuknya. Kok bisa? jangan-jangan si Suci mimpi lagi🤭 Ci ....coba pastikan ini mimpi atau bukan? itu beneran pangeran berenangmu mencium tangan dan mengatakan cinta☺ aduh Suci kenapa pipiku yang bersemu merah😅 Jangan ditanya apa arti mimpi itu ya😴 katanya mimpi itu cuma bunga tidur🌺 yuhuuu berasa tidur dihamparan bunga syantik🌻🍀


Hiyaaaaaa ada yang siap-siap untuk menafsirkan mimpi dipatuk🐍💃💃💃💃💃