
"Sayang kamu hamil? kamu beneran hamil? jadi ada anak kita di dalam sini?" Ariel meraba perut Anggun yang masih datar, rona bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Ak-aku ti-tidak tau," Anggun lebih terkejut mendengar ucapan Endi, karena selama ini ia tidak merasa ada yang berubah di dalam tubuhnya, memang ia sudah terlambat menstruasi, Anggun merasa itu hanyalah gangguan hormon karena beberapa waktu lalu ia terus memikirkan masalah Ariel dan Alisa.
"Aku sudah membuat janji untuk kalian, temuilah dokter wina, dia dokter kandungan terbaik dan sudah berpengalaman." Endi menepuk lengan Ariel. "Semoga dugaanku tidak salah, selamat ya," ucapnya dengan tulus.
Ariel memeluk Endi dengan erat"Terima kasih,aku harap itu benar dan aku sangat bahagia," ucapnya.
*****
Di rumah sakit
Setelah melakukan serangkain cek darah dan mengetahui bukti kehamilan melalui testpack, Dokter menyarankan USG pertama dilakukan saat usia kehamilan sudah lebih dari tujuh minggu, agar pemeriksaan dapat memberikan hasil yang lebih jelas mengenai kesehatan, ukuran dan perkiraan janin. Sedangkan saat ini usia kehamilan Anggun baru memasuki 3 minggu.
"Pada awal kehamilan plasenta akan berkembang. Dalam minggu pertama kehamilan, janin akan mengbangkan struktur yang nanti akan membentuk wajah dan lehernya, semua organ tubuh juga berkembang dalam bulan ini, dan pada akhir pertama yakni 4 minggu kehamilan panjang janin sekitar 6 mm atau lebih kecil dari sebutir beras." Dokter memberikan penjelasan kepada calon orang tua yang menanti anak pertama.
"Lebih kecil dari sebutir beras? apa itu normal Dok...? akhir-akhir ini istri saya nafsu makannya meningkat, jadi kenapa anak kami lebih kecil dari sebutir beras?" Dibanding Anggun yang sedang mengandung, Ariel yang lebih antusias mendengarkan penjelasan Dokter.
"Tidak...itu wajar Pak, ini masih diawal kehamilan nanti setelah itu janin akan lebih cepat berkembang dan terbentuk secara sempurna,"
Ariel mengangguk dan lebih tenang, sementara Anggun masih tidak menyangka ada mahkluk kecil yang tumbuh di dalam tubuhnya.
"Apa ibu Anggun ada keluhan lain?"
"Tidak Dok, saya juga tidak mengalami mual, jadi karena itu saya tidak tahu kalau sedang hamil,"
"Memang setiap wanita mengalami gejala kehamilan yang berbeda, tapi nanti Ibu akan mengalaminya juga, tapi tidak perlu khawatir saya akan menuliskan beberapa resep vitamin untuk memperkuat kandungan Ibu ya..."
"Iya Dok..."
Dokter mulai aktif menggoreskan pena di atas kertas, sementara Ariel mulai aktif menghujani wajah Anggun dengan ciuman, meskipun Anggun sudah menepis wajah Ariel, tapi Ariel terus melakukannya ia terlihat sangat berterima kasih dengan istrinya.
"Baiklah...ini resepnya,"
Ariel menhentikan aksinya ia membaca tulisan Dokter yang memiliki ciri khas tersendiri itu.
"Lalu bagaimana dengan makanan pedas yang tadi dimakan istri saya Dok?" Ariel melirik Anggun, urusan pecel ulek yang pedas belum selesai, itulah arti lirikan matanya.
"Kalau rasanya masih normal saya rasa tidak masalah, tapi perlu diingat untuk kedepannya usahakan menghindari makanan pedas dan yang mengandung bahan pengawet, pewarna makanan yang berlebihan, dan saya rasa Ibu Anggun tau apa yang terbaik untuk kandungannya,"
"Iya Dok,"
"Bagaimana dengan aktifitas malam? apa kami masih bisa melakukannya? aduuhhhh sakit kok dicubit sih yank?" Ariel meringis mendapatkan cubitan dipinggangnya.
Anggun membulatkan matanya menahan malu, sedangkan Dokter tersenyum sebagai seorang Dokter ia terbiasa dan mengerti apa yang dimaksud pasiennya.
"Tentu masih bisa dilakukan, tapi harus tetap hati-hati dan Pak Ariel tidak boleh memaksakan kehendak sendiri ya..."
"Beres Dok," ucapnya tersenyum senang.
*****
"Yakin nih kita langsung pulang kerumah?" tanya Ariel dan terus melajukan mobilnya.
"Iya kita pulang aja,"
"Gak ada yang mau dibeli?"
"Ehmmm gak ada,"
"Mau makan sesuatu gitu? biasanya orang ngidam gitu kan yank?"
"Tapi aku gak mau makan apapun, kayaknya aku gak ngidam,"
"Ngidam dong yank, jangan ditahan aku janji akan menuruti semua kemauan kamu,"
"Aneh ih...ngidam gak bisa dipaksakan,"
"Yasudah, kita pulang ke rumah, nanti kalau mau sesuatu kamu bilang sama aku ya!"
"Iya...." anggun mengecup pipi Ariel.
"Hmmmm jangan mancing-mancing kamu yank, kita masih ada di jalan," Ariel berusaha mengendalikan diri.
"Hahahah mesum sama istri sendiri gak masalah yank..."
"Iya terserah kamu lah...fokus nyetirnya jangan lihatin aku terus,"
"Habis kamu manis, gak ngebosenin," Ariel menecup sekilas tangan Anggun, dan kembali fokus mengarahkan kemudinya.
*****
"Hamil...? Mama mau punya cucu?" mama Widia terlihat bahagia bahkan air mata keluar dari sudut matanya.
"Cucu pertamaku akan lahir," mama Farida tidak mau kalah.
"Tapi jeng, ini cucu pertamaku," kedua besan ini mulai berdebat, memperebutkan gelar nenek pertama.
"Aku yang pertama,"
"Sudah'lah Ma...gak ada yang pertama dan kedua, semua punya hak yang sama," Ariel mulai gusar setelah pulang dari rumah sakit, dia mengundang keluarga ke rumahnya, dan ternyata itu keputusan yang salah, terbukti sedari tadi semua orang mengambil Anggun darinya.
"Benar juga ya...ayok jeng kita buat makanan enak untuk malam ini," mama Farida menarik besannya ke dapur.
Selepas mereka pergi Ariel beranjak tapi belum sempat ia duduk disamping Anggun, suci sudah datang dan lebih dulu menempatinya.
"Maaf ya mbak, Suci baru datang tadi Butik rame Mbak, jadi beneran Mbak Anggun hamil? sudah ada keponakan Suci didalam sini?" Suci mengelus perut Anggun.
"Udah ih geli tahu," Anggun menepis tangan Suci, sedangkan Ariel masih terlihat cemberut.
"Pelit banget sih Mbak...? awas ya kalau nanti Suci udah hamil," ucapnya asal.
"Hus...kamu tuh masih kecil. Suami aja belum punya, udah bahas ini,"
"Suci udah besar Mbak udah 23 tahun, lagi pula udah ada kok calon suaminya,"
"Apa makaud kamu kak ffmmmmppppp
Suci menutup mulut Anggun yang hampir menyebut nama Fery, sudah jelas cintanya bertepuk sebelah tangan, bakalan malu dia kalau Ariel tau kisah cintanya yang menyedihkan.
"Hey Suci lepaskan tanganmu!" Ariel tidak terima.
"Iy-iya kak maaf," Suci menjadi takut mendapatkan tatapan tajam dari suami orang yang posesif.
"Kamu apaan sih?"
"Jangan sebut namanya Mbak," bisik Suci, Anggun hanya mengangguk.
"Kamu beneran suka sama dia ?"
"Iya Mbak, tapi hatinya kayak belut licin tak tersentuh, susah digenggam,"
"Jangan nyerah, pepet terus !" Anggun memberi semangat.
"Ah susah Mbak...Suci sudah berusaha tapi gak bisa juga. Mbak ada kandidat lain gak? Suci udah nyerah mau menutup hati sebelum tersakiti lebih dalam lagi, Suci mau melabuhkan hati untuk orang lain, ada gak kandidatnya?" tanya Suci antusias seakan tidak ada Ariel di depannya.
"Ehkhmmmmm"
Fery berdehem ia datang dari belakang Suci, Fery duduk di samping Ariel dan meletakan artikel tentang kehamilan di atas meja, dan Suci menjadi canggung orang yang dia sukai dan yang ingin dia lupakan ada di depan mata.
"Itu artikel tentang kehamilan, kamu harus rajin membacanya," ucap Fery kepada Anggun.
Suci melirik benda yang ada di atas meja.
Bahkan disaat Mbak Anggun sudah menikah dan hamil Kak Fery masih perhatian, kapan aku mendapatkan perhatian seperti itu?
***************
Tinggalkan like, komentar dan rate 5 ya.......
Itu sangat berharga untuk Ariel dan Anggun.
🤗🤗🤗