
Ariel masih berdiri dihadapan Claudya
yang terus berlutut, suara tangisannya masih terdengar jelas di telinga setiap orang yang ada di dalam ruangan itu. Tangan Ariel mengepal kuat di dalam saku celananya ia terus berusaha meredam emosinya yang masih membuncah.
"Berdiri....!" perintahnya pada Claudya.
Claudya menengadah melihat mata Ariel
yang masih memerah, tanpa di perintah untuk kedua kali, Claudya berdiri walaupun kedua lututnya masih gemetaran.
Claudya masih saja tertunduk takut karena
Ariel menjadi orang yang mengerikan ketika sedang marah, walaupun begitu Ariel
bisa melihat dengan jelas kening Claudya yang memerah karena terbentur lantai.
"Karena tingkahmu, aku menghinanya,
aku membencinya, aku juga meninggalkan Anggun."
Ariel masih menyalahkannya, Claudya
cuma bisa menangis, sesekali dia telapak tangannya menghapus air mata di pipinya.
"Kalian urus mereka.!" perintah Ariel yang berlalu pergi meninggalkan rumah Dana.
****
Ariel bangun menjelang siang, hampir
semalaman dia tidak bisa tidur banyak yang mengganggu pikirannya, dia memikirkan
hubungannya dan Alisa, dan memikirkan hubungan Anggun dengan Fery.
"Sayang bangun..."
Alisa datang danpa di undang dengan wajah yang ceria dia masuk kedalam kamar Ariel.
"Sayang lihat sudah jam berapa ini?
gak biasanya kamu bangun jam segini...."
Alisa menarik selimut Ariel membuat Ariel terkejut dan langsung duduk di ranjangnya.
"Kenapa dari kemarin kamu gak bisa dihubungi,?" tanya Alisa yang sudah
duduk di samping Ariel.
Ariel hanya diam, dia mengusap wajahnya dan mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Kamu lagi ada masalah ya?" Alisa masih memperhatikan raut wajah Ariel yang datar.
"Tidak.." jawab Ariel dengan suara khas orang bangun tidur.
"Terus kenapa kelihatan lelah gitu?"
"Aku cuma bangun siang Alisa,"
Ariel bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati kamar mandi dan masuk kedalam meninggalkan Alisa yang masih melihatnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Seharusnya kita tidak pernah berpisah dulu Anggun,"
"Apa yang sudah aku lakukan dengan Alisa?"
"Apa benar kami sudah melakukannya? "
"kalau saja itu tidak terjadi, aku pasti sudah mengakhiri hubungan ini, tidak Anggun aku harus menjadikanmu milikku secepatnya,"
Ariel sudah bertekad akan menjadikan Anggun miliknya lagi, dia membasuh wajahnya di wastafel.
*****
"Sayang kamu sudah selesai?"
Alisa kembali masuk kedalam kamar Ariel dengan membawa nampan berisi makanan, ketepatan dengan Ariel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Dengan handuk kecil ditangannya Ariel mengeringkan rambutnya dan berjalan mendekati Alisa yang sudah duduk di ranjangnya.
Alisa menyiapkan satu persatu makanan untuk Ariel, seakan akan dia sudah menjadi istrinya.
"Sini duduk, ayo makan biar aku temani."
Alisa menarik tangan Ariel mengajaknya
duduk dia meraih piring dan memegang sendok " Buka mulut mu," ucapnya
Ariel menepis halus tangan Alisa.
"Aku tidak nafsu makan,!"
tolak Ariel dengan wajah datarnya.
"Kamu sakit?" Alisa memegang kening Ariel memastikan keadaan calon suaminya.
"Tidak...."
"Lalu? sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"
"Tinggalkan aku Alisa !"
Alisa mengerutkan keningnya, dia tidak paham dengan apa yang baru diucapkan Ariel.
"Maksudnya?"
tanya Alisa heran, dia kembali meletakan piring yang ada di pangkuannya di atas meja, dan kembali duduk disamping Ariel.
"Maksudnya apa....?"
Ariel memandang wajah Alisa yang terlihat sendu, tidak ada senyuman manja yang tadi menghiasinya, Ariel menjadi sedikit ragu,
Ariel memegang tangan Alisa dan menatap kedua bola matanya.
"Alisa, dengarkan aku baik baik, ada yang ingin aku tanyakan kepada kamu," ucapnya dengan nada suara yang halus.
"Kamu membuat aku penasaran...."
Ariel menarik nafasanya dalam.
"Apa yang sebenarnya terjadi malam itu Alisa?"
Pertanyaan Ariel membuat Alisa terkejut,
dia menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya, dia menatap sembarang
arah, tubuhnya yang tadi menghadap Ariel, kini saudah menyamping sehingga
Ariel tidak leluasa melihat wajah Alisa.
Ariel kembali bertanya, dia bisa melihat kegelisahan Alisa.
"Kamu meragukan aku, kamu mau bilang kalau aku membohongi kamu?"
"Alisa bukan itu maksudnya, aku hanya ingin memasatikan saja, aku tau kamu perempuan baik Alisa, dari dulu kamu tidak pernah mencoba untuk menggoda aku, hanya saja...
"Apa ? kamu berniat untuk kembali ke
mantan tercintamu itu ?"
Alisa menaikan suaranya, dia sudah kembali berani menatap wajah Ariel sehingga Ariel bisa melihat mata Alisa yang sudah memerah karena berusaha menahan air matanya.
"Kamu masih mencintai mantan kamu itu?"
Pertanyaan Alisa membuat Ariel kembali terdiam.
"Jadi benar? kenapa diam saja?"
"Alisa aku tidak mau ada yang tersakiti diantara kita, aku tidak mau mengulang kesalahan untuk yang kedua kali, jadi Alisa coba mengertilah,"
Alisa menggeleng kepala.
"Tidak Ariel, kamu akan menyakiti perasaanku
kalau kamu meninggalkan aku," tegas Alisa.
"Apa kamu masih mencintai dia?" tanya Alisa.
"Kamu sudah bertemu dengannya?
apa aku mengenal mantanmu itu?"
tanya Alisa dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Apa kamu tidak pernah mencintai aku?"
Alisa meraih tangan Ariel." jawab...."
"Aku tidak tau, tapi aku harus jujur Alisa,
dari awal aku sudah menolak perasaanmu,
dari dulu aku tidak menerima cintamu,
tapi kamu terus datang, begitu saja
sampai sekarang hubungan kita seperti ini."
"Apa karena Anggun? "
Mendengar nama Anggun disebut membuat darah Ariel mendidih, dari mana dia tau soal ini?
"Itu sudah lama Alisa,"
Alisa menggeleng pelan .
"Semenjak kita kembali ke sini,
kamu kembali ke didirimu yang dulu Ariel,
aku tau ini semua karena Anggun itu,
aku tidak akan membiarkan Anggun
merusak hubungan kita Ariel."
"Ini bukan kesalahannya, ini salahku sendiri ini tentang perasaanku, perasaan kita jadi jangan salahkan dia." tegas Ariel.
"Aku akan memastikannya sendiri Ariel,
aku tau sekarang Anggun itu menggoda kamu, ingat Ariel dia sudah melukaimu,
dan aku yang menyembuhkan luka itu."
"Anggun bukan wanita penggoda,
jadi jaga bicaramu itu,!"
Melihat raut wajah Ariel yang memerah membuat Alisa sedikit takut.
"Ariel....Dengarkan aku, kamu harus tau
dan ingat ini baik baik, malam itu kita sudah melakukanya, dan aku sempat mendengar kamu menyebut nama Anggun,
kalau saja kamu berani meninggalkan aku,
maka aku akan mencari Anggun,"
Keduanya saling menatap, tidak ada yang
mau mengalah.
"Kau tau siapa Anggun itu?"
"Aku akan mencarinya, cobalah kalau
kamu mengakhiri hubungan ini, aku tidak akan melepaskan Anggun begitu saja,"
Ancaman Alisa bukanlah main main, apa yang menjadi miliknya, akan tetap menjadi miliknya, Alisa tidak akan melepaskan Ariel.
Alisa berdiri dengan cepat Ariel
meraih tangannya.
"Jangan sakiti Anggun,!" tegas Ariel.
" Kita lihat saja...."
Alisa menghempaskan tangan Ariel
dan keluar begitu saja.
prank.....
Ariel menghempaskan piring makanan
yang dibawa Alisa tadi, dia menjambak kasar rambutnya.
"Apa ini karma untukku Anggun.?
Batinnya frustasi.
Bersambung.......
Maaf belom maksimal juga sudahlah Ariel
relakan Anggun untuk orang lain.