Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Senjata Makan Tuan


Blushing, "manis banget sih?" Suci malu dan salah tingkah, pria kaku miliknya ternyata bisa juga mengatakan cinta yang sukses membuat jantungnya berdebar kencang, ia menarik tangannya, membuat Fery tersenyum manis dan kembali berdiri tegak.


"Selama ini kamu pede aja merayu aku ! giliran aku rayu balik, kamu jadi salah tingkah," Fery menggoda sembari membenarkan jam tangannya.


"Siapa yang gak salah tingkah coba? baru kali ini ucapan Kakak manis semanis madu, biasanya cuek banget," Suci yang masih grogi memukul lengan Fery dengan kertas yang sempat digulungnya, tapi Fery menarik pelan ujung kertas yang masih di pegang Suci.


"Jangan heran, aku bisa lebih manis dari ini," Fery sedikit membungkuk seraya terus menarik kertas itu membuat Suci mencondong ke arahnya, "bahkan ... mungkin saja aku tidak bisa mengendalikan diri," ucap Fery dengan lembut saat wajah keduanya sudah semakin dekat, bahkan hembusan napas mereka sudah saling bersentuhan.


Bola mata Fery bergerak cepat seakan mengitari wajah cantik yang sudah diciptakan Tuhan untuknya, Fery berharap Suci memang tercipta untuknya, "sudah jangan dilihatin terus, nanti kamu tidak bisa tidur," ucap Fery sembari mengacak rambut Suci, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya dan segera membenahi rambutnya.


"Hmmm apa sih?" Suci menepis pelan tangan Fery.


"Ya sudah, sekarang kita ada di lingkungan pekerjaan, jangan sampai ada yang curiga dengan kita, mengenai pembangunan proyek itu, hari ini juga kita harus ke luar kota untuk meninjau lokasi di sana, apa kamu bisa ikut?"


"Bisa? berapa lama kita di luar kota, Pak?"


"Mungkin sekitar tiga sampai empat hari, jadi persiapkan semuanya ya?" Fery bebalik arah hendak kembali ke ruangannya," Oh iya," Fery kembali lagi melihat Suci," Apa Ibu sudah kembali lagi ke kampung?"


"Ibu...?"


"Iya, Ibu kandungmu, akan menjadi Ibu mertuaku, apa sudah kembali ke kampung?" tanya Fery lagi.


"Oh Ibu kita ... belum kak! masih nginap di rumah tante Widia." Ibuku, ibu mertuamu akan menjadi ibu kita, begitulah arti senyuman Suci.


"Ya sudah, sebelum ke Bandara kita ke rumah tante Widia ya, saya mau minta izin kepada calon mertua saya untuk membawa calon istri saya ke luar kota," ucap Fery dengan berwibawa.


"Memangnya siapa calon istri Bapak?" Suci melempar balik senjatanya.


"Cuma gadis kecil yang banyak bicara," Fery tersenyum tapi tidak dengan Suci yang sudah cemberut karena, Suci paling tidak suka di panggil anak kecil. Kemudian Fery maju beberapa langkah,"coba lihat itu!" tangannya menunjuk ke arah belakang Suci, sampai Suci memalingkan wajahnya.


"Mana sih? gak ada apa-apa," ucap Suci heran karena ia hanya melihat mesin foto copy di sudut ruangan, tanpa mersa curiga Suci terus memperhatikannya.


"Ada itu!" seru Fery menunjuk lagi, "ada gak? kelihatan gak?" tanya Fery dengan menahan suara tawanya.


"Apa yang kelihatan sih? kakak bisa lihat hantu ya?" Suci mengeraskan suaranya.


"Bukan hantu Ci, oh ya aku lupa, kamu gak bisa lihat, tapi bisa merasakan, coba lihat lagi ke arah sana!" tangannya masih menunjuk dan Suci masih mengikuti perintah Fery.


"Mana sih? gak bisa dilihat, tapi bisa merasakan? angin?" sepertinya Suci sudah mulai kesal, benar-benar tidak masuk akal Kak Fery ini pikirnya.


Senjata makan tuan, Fery yang hanya berniat menggoda ini, sekarang merasa kesal karena mendadak ia tidak bisa mengendalikan diri dengan keadaan, cepat-cepat ia kembali menegakkan punggungnya dan berlalu masuk ke ruangannya begitu saja tanpa bicara apapun lagi, sementara Suci masih memegang pipinya yang terasa dingin.


*****


"Fery, Fery, Fery, umur sudah lebih dari tiga puluh tahun, sementara Suci belum genap 24 tahun, gak, gak mungkin aku pemangsa anak-anak kan? oh tapi Suci sudah bisa punya anak, karena sistem reproduksinya juga sudah memungkinkan untuk itu," Fery bergumam sembari menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya.


"Kenapa dulu aku gak kepikiran untuk mencium Anggun? tapi tadi? kenapa aku jadi panas gini? itu pipinya kenapa terasa lembut? Suci aku benar-benar jatuh cinta," tuk tuk tuk Fery membenturkan pelan kepalanya,"iya, aku gak butuh obat ini lagi," Fery membuka laci ia mengambil botol obat itu dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di ruangannya.


"Aku tidak butuh ini, obatku hanya Cinta Suci, ya Cinta Suci untuk Fery," Fery mengepalkan tangannya ke udara ,seakan dialah juaranya.


"Suci aku mencintaimu," Fery meyakinkan dirinya.


Sementara Suci masih berdiri dengan menatap pintu ruangan Fery yang sudah tertutup rapat.


"Oh jantungku ... tetaplah di tempatmu," ucap Suci dengan mengepalkan tangannya di atas dada yang masih naik turun karena ulah Fery.


****


Hari cepat berlalu Fery dan Suci sudah kembali bersikap biasa seolah tidak ada hubungan asmara yang terjalin diantara mereka. Sore itu Fery dan Suci berkunjung ke rumah Widia untuk meminta ijin membawa Suci ke luar kota. Awalnnya Ibu Suci ragu karena ini untuk pertama kali Suci pergi keluar kota, tapi karena Fery yang memintanya, maka Ibu Suci berlapang dada untuk melepaskan anak semata wayangnya. Bahkan sampai sekarang Ibu Suci masih berharap agar Fery bisa menjadi menantunya.


Fery dan Suci sudah berada di Bandara, keduanya berjalan beriringan, sementara Asisten Fery berjalan di belakang dengan membawa tiga koper mereka.


Tidak menunggu waktu lama, panggilan untuk pesawat mereka sudah terdengar," apa kau sudah memastikan semua kebutuhanku?" tanya Fery kepada asistennya.


"Sudah Pak, bahkan untuk penginapan di sana juga sudah aman, sesuai perintah Bapak, lengkap dengan kamar yang aman dan nyaman Pak," jawabnya dengan sigap.


"Aku tau kau bisa diandalkan!" Fery menepuk halus pundak asistennya.


"Ayo sayang kita berangkat," Fery menggandeng tangan Suci.


"Katanya harus profesional," ucap Suci.


"Kita di luar kantor," Fery menjawab santai dan semakin merangkul Suci sepanjang perjalanan.


"Gini amat jadi jomblo, berasa jadi obat nyamuk," asisten Fery menatapi nasip dengan terus menarik koper berisi keperluan bosnya,"pak Fery, bener-bener jago akting, Suci dipanggil sayang, si Maya juga di panggil sayang, itu di dompetnya dia nyimpan foto perempuan lain," dengan malas ia melanjutkan langkahnya mengejar bos dan sekretaris yang pacaran secara diam-diam.


"Kalau nanti ada masalah sama kisah asmaranya, aku gak mau ikut campur," ia bergidik membayangkan.