
Widia masih memeluk erat Anggun yang sudah duduk di ranjang pasien tempatnya di rawat, penyesalannya semakin dalam ketika merasakan belayan halus tangan Anggun di punggungnya.
"Tante ! "
Suara lembut Anggun, semakin membuat tangisan Widia pecah, dia dapat merasakan
ketulusan dari perempuan kampung yang dulu dihina dan diusir dari rumah mewahnya.
Widia masih saja memeluk erat Anggun, padahal air matanya sudah membasahi sebagian baju Anggun.
"Sudahlah Tante , jangan seperti ini ! " Anggun mencoba melepaskan pelukannya ,tapi Widia masih enggan melepaskan Anggun.
"Aku sudah sangat bersalah hiks, aku sangat berdosa padamu Anggun, jangan maafkan aku, jangan maafkan perbuatan jahat yang sudah aku lakukan Anggun, hiks hiks "
" Anggun susah bernafas Tante ! " ucap Anggun sedikit bercanda.
Seketika Widia melepaskan pelukannya,
tapi dia tidak ada nyali untuk menatap mantan calon menantu, yang pernah dia tolak dengan cek kosong yang di abaikan Anggun.
Anggun meraih jari jemari Widia, membuat Widia semakin canggung, kesombongan, kedudukan , kebanggaan dengan panggilan
Nyonya yang dia perintahkan, luntur begitu saja di depan gadis belia yang biasa saja.
"Kenapa Tante menangis? " tanya Anggun sembari menghapus air mata di pipi Widia dengan satu tangannya.
"Apa kau tidak membenci aku ?"
Widia sudah mulai menatap wajah Anggun.
Anggun menggeleng sambil tersenyum.
" Apa boleh Anggun membenci Tante ?"
" Kau berhak mebenci aku ,"
"Lalu sampai kapan kita saling membenci?"
" Kenapa ? kenapa kau tidak membenci aku, padahal aku sudah sangat membenci dan menyakitimu ! "
" Anggun tidak punya alasan apapun," Anggun turun dari ranjang pasien dan mencoba membaringkan tubuh Widia. " Tante isitrahat ya, Tante belum benar benar pulih ,"
" Biarkan aku seperti ini, duduk lah Anggun,"
Widia meraih tangan Anggun, sampai duduk kembali di tempatnya.
"Kalau aku tau, hatimu setulus dan sebersih ini, aku tidak akan melakukan kesalahan itu,"
Widia sudah mulai membuka suara lagi, dia bisa mengingat kejahatan yang sudah dia lakukan, ternyata benturan keras di kepala Widia, tidak menyebabkan dia menderita Demensia atau hilang ingatan.
"Anggun, setelah ini kau pasti akan membenci
aku, setelah ini kau pasti menyesal telah mendonorkan darahmu untukku." Widia kembali menangis .
" Maksud Tante apa ?" tanya Anggun ragu.
"Anggun, setelah ini aku akan menerima semua keputusanmu, aku akan menerimanya"
"Sudahlah Tante, lupakan semuanya, Anggun sudah memaafkan Tante, jadi jangan merasa bersalah seperti ini ,"
Widia menggenggam erat tangan Anggun.
"Dengarkan aku Anggun, aku dan Claudya yang sudah membuat Ariel membencimu."
"Claudya ?" Nama orang yang sudah menjadi sejarah, kini kembali terdengar.
Widia mengangguk pelan.
"Aku memanfaatkan Claudya, aku lah yang memintanya untuk merusak hubunganmu dan Ariel hiks hiks hiks " sesal Widia.
"Tante ! kenapa harus dengan cara itu ?"
Anggun menarik tangannya ketika mengingat Foto yang sudah membuat Ariel murka.
"Awalnya, aku sama sekali tidak tau kalau Claudya melakukan cara itu Anggun,"
Widia kembali meraih tangan Anggun.
"Anggun, aku ini seorang wanita biasa, aku ini seorang istri, aku ini seorang ibu, aku juga
memiliki satu anak perempuan, kalau aku tau dari awal Claudya melakukan cara itu , aku pasti akan menolaknya."
"Kenapa harus dengan cara terhina seperti itu? kenapa kalian tega menghancurkan kehormatan yang selama ini aku jaga ?"
Tanpa sadar Anggun meninggikan suaranya.
" Aku baru mengetahuinya, setelah Claudya memberikan Foto itu, melihat Ariel murka semakin membuat aku takut, aku tidak siap kalau Ariel membenci aku, aku ini ibunya aku sangat menyayangi Ariel hiks hiks hiks."
"Tapi aku juga sangat menyayangi Ariel Tante. bahkan sampai sekarang aku masih sangat mencintai Ariel . " batin Anggun memandang sendu Mama Ariel yang mulai menyesali perbuatannya.
Widia mendekap erat tangan Anggun.
"Anggun , aku mohon kembalilah pada Ariel, aku akan mengatakan yang sebenarnya hiks, Mama yang selama ini dia banggakan yang sudah menolak mu hiks, Mama Ariel sendiri yang sudah menghina gadis yang dia cintai, aku akan mengakui semua kesalahanku , aku sudah siap kalau dia membenci aku, asalkan kalian bisa bersama lagi Anggun hiks hiks,"
Widia dan Anggun sama sama menangisi masa lalu, menyesali waktu yang terbuang
secara percuma, Anggun menarik tangannya, dia menggeleng dan menghapus air matanya.
"Tidak Tante, jangan lakukan itu ," jawab Anggun tersedu, membuat Widia heran.
"Kenapa? apa karena kau masih belum bisa memaafkan aku? atau karena kau tidak lagi mencintai Ariel ?"
Lagi lagi Anggun menggeleng dan tersenyum.
Dia menarik dalam nafasnya, dan berusaha menetralkan semua perasaanya.
"Bukan karena itu Tante, ini bukan lagi tentang aku dan Ariel, sekarang ada banyak hati yang harus di jaga, dan aku tidak ingin menyakiti hati siapapun."
"Aku tidak mengerti Anggun ! " seru Widia.
Anggun kembali menggenggam tangan Widia dan mencoba untuk tersenyum.
"Tante ! Alisa dan Ariel akan segera menikah, jadi kita sudahi semua sampai disini, jangan pernah bahas masa lalu kita, biarkan seperti ini, jangan katakan apapun lagi pada Ariel."
"Tapi Anggun....
"Tante Anggun mohon, jangan pernah lakukan kesalahan yang kedua , Alisa gadis yang baik, dia tulus mencintai Ariel, cinta Alisa untuk Ariel lebih besar, daripada cintaku untuk Ariel,"
"Anggun....
"Tante harus tau, hubunganku dan Ariel sudah membaik, entah kenapa akhir akhir ini sikap
Ariel berubah, dia sudah tidak membenci aku lagi , itu sudah cukup untukku Tante."
"Anggun hiks hiks hiks tolong maafkan Tante,
kalau Tante tau hatimu sebaik ini, Tante tidak akan memisahkan kalian hiks hiks hiks,"
Widia sudah mengubah panggilannya, dari Nyonya menjadi Tante, dari aku menjadi Tante, akankah dari Tante menjadi MAMA?
"Anggun tidak pernah membenci siapapun,
bahkan dulu aku tidak ada niat sedikitpun, untuk mengadukan perbuatan Tante sama Ariel, aku memaklumi Tante yang sangat menyayangi Ariel, begitupun sebaliknya, aku tidak mau ada jarak diantara Tante dan Ariel."
"Tapi riel sudah meninggalkanmu, apa kamu tidak pernah membencinya ? "
"Awalnya aku benci, tapi semakin lama aku memakluminya, Ariel itu sangat posesif, jadi aku bisa mengerti dengan kemarahannya"
Anggun tersenyum, mengenang masa masa indahnya dengan Ariel.
"Tante harus janji, jangan pernah bahas ini sama Ariel ya, lagipula sebentar lagi Anggun juga akan menikah,"
"Menikah? jadi kamu akan segera menikah?"
"Seperti yang Anggun bilang, ada hati yang harus dijaga Tante, Alisa, Kak Fery, dan Mama Farida, mereka orang orang baik, dan aku sangat menyayangi mereka."
"Anggun....
"Tante Anggun mohon, berjanjilah !" pinta Anggun penuh harap.
"Iya Tante janji hiks ! "
Keduanya mencoba berdamai dan kembali tersenyum, Anggun menghapus sisa air mata di pipi Widia.
ceklek.....
Pintu di buka dari luar, seseorang masuk dan berjalan mendekati Anggun yang sudah berdiri di samping tempat tidur Widia.
Bersambung.........