
Anggun menarik tangannya dari genggaman Ariel dan memukul dada bidangnya, sampai Ariel menghadapnya, kini Anggun kembali sadar, kalau Ariel tidak pernah main main dengan ucapannya. Pantas saja tiga Srikandi yang ada di kamar itu merias dan mengubah penampilannya. " Jadi ini beneran? kita akan menikah ? " Anggun mulai resah, menyesali keputusannya datang ke rumah ini.
Ariel hanya tersenyum, memperhatikan satu persatu wajah wajah yang terlihat bingung tanpa ekspresi , melihat kepanikan Anggun.
" Bisa saya bicara berdua dengan calon istri saya ini Pak ? " tanya Ariel sopan kepada pak penghulu yang memakai kopiah warna hitam.
"Silahkan Mas ! Kalau begitu boleh kami duduk dulu ! " pintanya setelah sedikit merasa lelah, karena sedari tadi Ariel belum juga mempersilahkan mereka duduk, baru datang diajak ngobrol sambil menunggu kedatangan calon istrinya.
"Oh Maaf pak ! saya terlalu antusias dengan pernikahan ini, maklum pak, ini untuk yang pertama kali ! " jawabnya sembari tersenyum malu.
Anggun memukul lengan Ariel.
"Yang pertama kali ? memangnya kamu mau menikah berapa kali? " tanya Anggun tidak suka.
" Satu kali seumur hidup sayang ! cuma sama kamu aja ! kamu gak lihat ini Bapak penghulu sudah siap menikahkan kita ! "
"Saya sudah siap Mas ! bahkan dari kemarin saya sudah siap datang ke rumah ini, tapi yang jadi masalah disini, sepertinya calon penggantinya yang belum siap untuk saya nikahkan, bukan begitu Mbak ? Mbak siapa namanya?" tanya bapak penghulu kepada Anggun.
"Anggun ! Anggun Anggraini ! " jawab Ariel cepat, jangan sampai Anggun buka suara, bisa gagal ini pernikahan yang sudah di depan mata.
"Bapak bapak yang ada di sini, silahkan duduk dan anggap saja ini rumah sendiri, sepertinya istri saya ini terlalu bahagia , jadi biar saya tenangkan dulu! "Ariel meraih tangan Anggun
dan mengajaknya sedikit menjauhi pak penghulu dan kawan kawan.
Tiga pelayan datang dari dapur, membawa troli kecil, berisikan berbagai makanan dan minuman untuk para tamu.
"Ternyata kita tidak dicuekin! " seru salah satu dari mereka setelah para pelayan kembali ke dapur.
" Tidak mungkin, kamu lihat rumah ini begitu besar dan megah, mobilnya juga berjejer di halaman luas itu, tidak mungkin mereka pelit sama makanan ini ! " jawab bapak bapak yang lain, mungkin di tunjuk menjadi saksi.
"Ekhm sudah ! ayo kita cicipi makanannya, jangan dicuekin! " ajak Pak penghulu yang sudah siap menenggak minuman segar yang ada di depan mata.
.
.
.
Tidak jauh dari Bapak penghulu dan kawan kawan, sepasang calon pengantin ini masih saja berdiri dan berdebat, " Apa ini ? " tanya Anggun tidak percaya, dengan lembaran kertas yang baru ia baca.
"Pihak pertama Ariel Erlangga dan pihak kedua Anggun Anggraini ? "
Ariel mengangukkan kepala.
"Pihak kedua setuju menikah dan menjadi istri dari Ariel Erlangga selaku pihak pertama?"
Ariel menganggukkan kepala.
"Kalau pihak kedua menolak, maka pihak pertama berhak menuntut pihak kedua?"
Ariel menganggukkan kepala.
"Disini tertulis, kalau Pihak kedua wajib mengembalikan perusahaan, rumah , mobil, butik, beserta isinya sebanyak lima kali lipat kepada pihak pertama?" suara Anggun sudah tidak bisa di kontrol.
Ariel menganggukkan kepala.
"Kapan aku menandatangani ini? ini tanda tanganku yang ke berapa? " tanya Anggun menyodorkan kertas itu di wajah Ariel.
"Aku tidak menghitungnya, memangnya ada berapa kertas yang kau tanda tangani tadi?"
" kau menjebak aku ya huh? " Anggun merobek kertas itu dan melemparnya di sembarangan tempat.
"Aku masih punya banyak, jadi ayo kita menikah ! " seru Ariel tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Ariel ! kau jangan gila, dan ini tidak mungkin! bagaimana dengan Alisa?"
"Siapa yang kau khawatirkan? Alisa atau Fery calon suami mu itu ? " raut wajah Ariel sudah kembali datar, bahkan suaranya terdengar menakutkan.
"Ariel ! aku....
Ariel meraih kedua tangan Anggun.
"Tapi Ariel...
"Kau tidak bisa menolak, aku tidak akan pernah lagi melepaskanmu ! jadi kita akan tetap menikah ! "
Anggun diam, tidak tau harus dengan cara apa dia menolak pernikahan ini, keduanya saling memandang.
"Maaf Mas ! apa acaranya bisa kita mulai? "
suara Pak penghulu membuat Anggun menarik tangannya dari genggaman Ariel.
"Jadi pak ! "
" Istri saya harus di rayu Pak ! jangan sampai dia kabur di hari pernikahan ini !' batin Ariel.
"Kalau begitu sekarang saja Mas, jangan di tunda lagi, soalnya saya juga harus menikahkan calon pengantin yang lain ! "
" Kenapa banyak sekali yang menikah Pak ? suruh saja mereka menunda pernikahan ya."
"Maklum Mas ! New Normal, banyak pasangan muda mudi yang akan menikah, mereka sudah jauh hari mendatangi KUA dan mendaftarkan pernikahannya, tidak seperti Mas Ariel yang dadakan seperti ini ! "
"Seharusnya Bapak, tidak perlu datang kesini Pak ! " seru Anggun menimpali ucapan Pak penghulu.
"Kalian berdua jadi menikah atau tidak ? " Yusri datang dengan membawa handycamp .
"Baguslah kau sudah datang, ayo Anggun kita menikah." tegas Ariel, sembari membawa Anggun ke ruangan yang sudah di persiapkan
.
.
.
" Saya terima nikah dan kawinnya Anggun Anggraini binti alm. Irmawan dengan mahar tersebut di bayar tunai ! " Suara lantang Ariel menggema di ruangan itu, membuat Anggun meneteskan air mata, ia tidak menyangka pernikahan ini bisa terjadi, Anggun menikah dengan Mantan Tercintanya.
"SAH ! "
Dengan mahar rumah mewah yang menjadi tempat di selenggarakan pernikahan ini, Ariel mempersunting dan menjadikan Anggun istrinya.
Ariel, menghapus air mata yang mengalir di pipi Anggun, bahkan kedua matanya juga memerah, tanpa sadar Anggun meraih tangan Ariel dan mencium punggung tangan Ariel yang gemetar.
"Aku mencintaimu Riel !" batin Anggun.
Sampai Anggun kembali pada posisi semula, ia hanya berani menundukkan kepala di hadapan laki laki yang baru sah menjadi suaminya.
Ariel mengangkat dagu Anggun, sampai pandangan keduanya terkunci, kemudian dengan lembut Ariel mencium kening Anggun.
"Aku mencintaimu Anggun ! maaf kalau harus dengan cara ini aku menikahi mu , aku akan menebus semua kesalahanku Anggun, aku janji, tidak akan pernah menyakiti mu lagi !"
Batin Ariel.
Anggun masih tidak mau melihat Ariel, tapi Ariel terus saja memperhatikan Anggun yang masih malu malu.
"Apa kau tidak mau menciumnya Riel?" goda Yusri yang selalu mengarahkan handycam dan merekam seluruh kegiatan Ariel dan Anggun, kini wajah Anggun terlihat jelas di balik layar, karena ia juga menatap Yusri.
"Kalau soal itu jangan di tanya, sudah lama aku menahannya, tapi kali ini, aku tidak akan melepaskan candku ! "
Blesss
Kedua pipi Anggun, memerah membuat Ariel tersenyum senang dan menang.
"Kalian teruskan saja nanti ya, saya harus pamit undur diri, masih banyak yang harus saya nikahkan !" ujar pak penghulu.
"Silahkan pak ! silahkan saya tau ini New Normal, saya juga tidak mau menjaga jarak dari istri saya ! " seru Ariel.
"Kalau soal itu, New Normal atau tidak, sama saja Mas Ariel, suami dan istri itu tidak akan bisa menjaga jarak, apa lagi kalau sudah di kamar ! " seru bapak bapak yang menjadi saksi.
"Hahhahaahah saya jadi gak sabar pak ! " jawab Ariel merangkul Anggun.