
2 Hari kemudian.
Ku sadari semua jalanku tak berarah kepadamu, mungkin salah diri ini memikirkan mu aku kini telah berdua dan tak seindah cinta yang lalu yang jalan dan jalin tanpa restu, ku akhiri namun tak berakhir, ku hindari hati tak ingin berpisah, bila kau dengan yang lain, sesungguhnya ku tak rela.
Tok ...Tok...Tok...
Anggun menutup buku Diary kecil miliknya begitu mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
"Anggun,!"
Suara bibi terdengar jelas di telinga Anggun,
dia melihat jam yang menempel di dinding tepat di atas lemari pakaiannya, angka menunjukan pukul 08.15 WIB.
"Iya Bi, sebentar." teriaknya dari dalam kamar, karena rumah ini sudah berubah, tidak ada dinding lapuk yang terbuat dari papan , karena Anggun sudah merenovasi semua bagiannya, menjadi lebih kokoh dan permanen, jadi ia sedikit mengeraskan suaranya supaya Bibi bisa mendengar suaranya.
"Cepat sini, ada temen kamu tuh di depan."
cklek
Anggun membuka pintu dengan memakai kaus santai dan juga celana jins selutut ia berdiri di depan bibinya, tangannya sibuk mengikat kuda rambut panjangnya.
"Siapa Bi?" tanya Anggun penasaran.
"Gak tau, Bibi gak pernah lihat, katanya sih dari kota ,iya temen kamu tuh,"
Bibi menyenggol tangan Anggun.
"Cepetan temui sana!" perintahnya lagi.
Anggun masih menerka siapa yang datang ke kampungnya? teman yang mana? tidak ada yang tau alamat kampungnya.
"Oh mungkin kak Fery ya Bi, tapi kenapa kesini? "
"Kakak angkat kamu itu? Bibi gak tau, gak sempet juga tanya namanya, temui sana dia lagi ngobrol sama pamanmu, biar Bibi yang buatkan minum,"
"Gak usah repot repot Bi, biar Anggun aja,"
"Jangan, udah sana, biar Bibi aja,!" ucap Bibi Anggun sembari berjalan ke arah dapur.
Anggun menutup pintu kamarnya, berjalan keruang tamu, terdengar suara tawa paman, dan juga suara yang dikenalnya.
"Ariel?" suara Anggun terdengar jelas di ruang tamu, membuat Ariel yang duduk di kursi melihat ke arahnya, Ariel langsung berdiri ketika melihat Anggun yang terbengong dengan kehadirannya, membuat ia tersenyum simpul.
"Aku datang Anggun," ucapnya santai.
"Ini loh, temen kamu ini hampir nyasar katanya, kesini gak kasih kabar sih?" ucap Paman sambil menepuk punggung Ariel.
"Kenapa kesini?" ketus Anggun, ia memperhatikan penampilan Ariel yang masih memakai kemeja kantornya, belum lagi rambutnya terlihat berantakan.
"Kamu tuh kok berdiri di situ sih, sini duduk
kasian loh Ariel nunggu lama," ucap Paman mengajak Ariel kembali duduk, tapi Anggun masih berdiri di tempatnya.
"Pegang ini,"
Bibi datang membawa nampan kecil berisikan dia gelas Teh hangat dan juga sepiring pisang goreng yang masih panas Bibi menyodorkan nampan itu ke tangan Anggun, terpaksa Anggun meletakannya
di atas meja.
"Mau kemana sini duduk,!" paman menarik tangan Anggun dan mendudukkannya di samping Ariel, membuat Ariel tersenyum senang.
"Jadi Ariel, kamu ada urusan apa datang kesini,? dari tadi kamu belum jawab loh,"
"Mau jumpa Anggun, sudah berapa hari ini Hpnya tidak bisa di hubungi," jawab Ariel santai melirik Anggun yang memasang wajah cemberut.
"Ya sudah Paman mau ke bengkel, tuh lihat ban motor paman kempes," ucap Paman sembari bangkit, ia mengambil kunci motornya di atas meja, dan langsung keluar rumah.
"Paman tehnya gak di minum dulu?" teriak Anggun yang sebenarnya tidak mau paman meninggalkan mereka.
"Sudah biarkan aja Pamanmu itu,btadi siapa namanya?" tanya Bibi penasaran.
"Ariel Bi," jawab Ariel cepat.
"Oh, ini yang pertama kalinya loh ada temen Anggun datang dari Kota, ganteng lagi,"
Ucap Bibi semangat membuat Ariel tersenyum malu.
"Kamu ngapain kesini sih?" kesel Anggun.
"Ya mau ketemu kamu lah," jawab Ariel santai.
"Kurang kerjaan tau gak?"
"Justru aku kesini mau menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda,"
"Gak usah aneh aneh, tau dari mana lagi rumahku ini?"
"Apa sih yang aku gak tau?"
Bibi Anggun yang melihat interaksi antara keduanya dan tersenyum senang, ternyata keponakannya sudah punya calon suami, begitulah yang dipikirkannya.
"Sudah, nanti lagi kangen kangennya" goda Bibi Anggun, membuat Anggun melirik sebal.
"Koper kamu mana?" tanya Bibi celingukan mencari benda itu di sekitar Ariel, tapi tidak ditemukan ada disana.
"Jadi kamu gak bawa apapun juga kesini?" tanya Anggun.
Anggun melihat Ariel.
"Ada, aku tuh kesini bawa cinta untuk kamu,"
"Uhuk..uhuk..."
Anggun tersedak ludahnya sendiri, membuat Ariel tersenyum dan mengusap halus punggung Anggun.
"Lepas ih, " Anggun menepis kasar tangan Ariel.
"Yasudah, kamu bersihkan dirimu, pakai aja itu baju paman, pasti ada yang muat kok"
"Paman ' kan kecil Bi, gak akan cocok untuk Ariel."
"Terus, apa terus terusan Ariel pakai baju itu?"
"Jadi dari kemarin kamu gak mandi?"
"Gak bauk kok, " Ariel mencium aroma tubuhnya sendiri, membuat Anggun semakin jengah.
"Yasudah, Bibi ambilkan baju Pamanmu di kamar, Anggun bawa temen mu ini ke dapur, tunjukan kamar mandinya "
"Kamu itu bikin kerjaan aja sih?"
"Ariel datang jauh jauh untuk Anggun, tapi
malah di marahin terus sih Bi?"
"Anggun, gak boleh gitu Ariel pasti capek,
biarkan dia istirahat, nanti sore kita sama sama ke rumah pak RT."
"Kenapa harus ke rumah pak RT? " tanya Ariel penasaran.
"Tamu wajib lapor, apalagi di rumah ini ada anak gadis, takutnya menimbulkan fitnah."
Bibi masuk ke dalam kamar dan mengambil
kaos dan celana yang ukuranya memang tidak terlalu besar, beda jauh dengan ukuran badan Ariel yang atletis.
"Ini bajunya, sudah sana pergi mandi ,"
"Yasudah ayo," ajak Anggun masih cemberut
ia berjalan ke arah dapur mendahului Ariel.
Di dapur.
Ariel dan Anggun masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Nih bajunya, ini handuknya,"
Anggun menyampirkannya di pundak Ariel.
"Di sini?" tanya Ariel memperhatikan kamar mandi yang ukuranya kecil, beda jauh dengan kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Ya iya lah, udah sana cepetan," Anggun mendorong tubuh Ariel sampai ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Belum siap juga temanmu itu?" tanya Bibi Anggun, sembari meletakan gelas teh yang belum sempat di minum tamunya.
"Belum Bi, " jawab Anggun singkat,
"Bibi mau belanja dulu ya, buat persediaan dapur temen kamu juga pasti udah laper,"
"Anggun ikut Bi,"
"Jangan, ada tamu kok di tinggal," jawabnya sambil keluar dari dapur.
terdengar jelas suara kucuran air dari dalam kran kamar mandi, yang menandakan keberadaan Ariel di dalam sana, sampai beberapa menit kemudian pintu itu terbuka.
"Anggun, apa gak ada yang lain selain ini?"
Anggun menoleh ke sumber suara tanpa sadar Anggun terus melihat Ariel, membuat kedua pipinya merah merona.
Ariel berdiri tegak tidak jauh darinya, rambut basahnya terlihat jelas, Ariel bertelanjang dada, tangan kanannya memegang kaos pamannya yang tidak cocok di tubuh Ariel.
"Anggun," suara Ariel mengagetkan Anggun, membuatnya menjadi salah tingkah.
Bersambung.....
Terima kasih sudah mendukung🤗👍
Maaf baru bisa up ya, aku tuh terjebak sendiri,
gak ada pengalaman menulis sama sekali,
ternyata ada yang merespon dengan baik cerita ini, maaf kalau belum sempurna juga ya...
Terima kasih juga sudah hadir di Cinta Raisa