Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Masuk perangkap Ariel


Dengan sedikit memar di bagian wajah, Ariel tetap masuk ke dalam rumah sakit, ia menuju lantai tiga tempat mamanya di rawat, saat berada di dalam lift pikiran Ariel masih saja kacau, mengingat ancama Fery yang tidak akan membiarkan dia untuk bertemu Anggun.


Untung saja cuma dia yang ada di dalam lift itu , berkali kali ia menghentakkan kakinya di dalam sana, rasanya ia sudah tidak sabar


mendengar kabar baik dari orang suruhannya.


"Sebentar lagi , sebentar lagi Anggun, kau akan jadi milikku ! " batin Ariel dalam lamunannya.


Ting.....


Bunyi lift mengembalikan kesadarannya, tapi ia enggan keluar ketika melihat Alisa di depan sana, " Sayang kamu sudah datang ! " Alisa menarik lengan Ariel, dan langsung memeluk erat tubuh Ariel, laki laki yang dirindukannya.


"Sayang ! " Alisa masih membenamkan manja wajahnya di dada bidang Ariel yang belum juga membalas pelukannya.


Cup, kecupan singkat yang di berikan Alisa di pipi Ariel, membuat Ariel menatap wajahnya.


Alisa masih bergelayut manja di lengan Ariel.


"Alisa jangan seperti ini ! " Ariel menarik pelan tangannya, tapi Alisa masih menahannya.


"Kenapa? sayang aku kangen!" seru Alisa dengan nada suara yang manja.


"Alisa kita ini di tempat umum, jangan seperti ini, gak enak di lihat banyak orang ! " seru Ariel menunjuk beberapa orang yang duduk di depan ruangan para pasien di rawat.


"Kamu kenapa sih? beberapa hari ini selalu jaga jarak dari aku, dan ini wajah kamu kenapa? " Alisa menyentuh sudut bibir Ariel yang masih merah.


"Hanya luka kecil saja, " Ariel menjauhkan tangan Alisa dari wajahnya," Alisa tolong jangan seperti ini ! " seru Ariel.


"Sebenarnya ada apa sih sama kamu Riel? kamu udah gak sayang lagi sama aku?" Alisa kembali memeluk lengan Ariel.


"Sudahlah, jangan ngelantur, dan jangan menambah beban pikiranku lagi !"


"Beban ? aku beban untuk kamu? kapan aku membebanimu ? memangnya apa yang aku lakukan Ariel?" teriak Alisa, menarik perhatian beberapa orang yang ada disana.


"Alisa kecilkan suaramu, kita ada di rumah sakit , dan kamu tau ' kan apa tujuanku datang kesini? " Ariel benar benar ingin menyudahi pertengkaran yang memuakkan ini.


"Ah sudahlah, kamu selalu seperti ini ! " Alisa menghempaskan tangan Ariel.


Alisa cemberut dan menghentakan kakinya berjalan mendahului Ariel. Ariel berusaha meredam emosinya, Fery dan Alisa benar benar sangat menguji kesabarannya.


Sifat Alisa yang memang manja, dan selalu ingin menang sendiri, membuat Ariel kembali teringat Anggun, ketika dulu mereka masih bersama dan bertengkar, Anggun yang selalu mengalah dan selalu menuruti kemauan Ariel.


Sangat berbeda jauh dengan sifat Alisa.


"Aku terlalu fokus memikirkan cara untuk mendapatkan mu lagi Anggun, sampai aku lupa aku masih terikat hubungan dengan Alisa, tunggulah sampai aku memastikannya sendiri, aku yakin, aku tidak melakukan perbuatan itu dengan Alisa," batin Ariel memandang Alisa yang sudah menghilang di balik pintu yang ia yakini tempat mamanya di rawat.


.


.


.


"Ariel, maafkan Mama hiks hiks " sesal Widia.


Kini bukan lagi Anggun yang menjadi tempat untuk menampung air mata Widia, melainkan dada tegap Ariel. Widia masih tidak berhenti menangisi penyesalannya, kini sebagian dari kemeja Ariel sudah basah karena air mata.


"Kenapa minta maaf? dan kenapa bisa seperti ini Ma? kenapa tidak pakai supir?" terlihat jelas kesedihan di wajah Ariel, melihat infus dan kepala Mamanya yang masih di lilit perban.


" Pasti sangat sakit ya Ma?"


Widia menggeleng, " Ini bukan apa apa Riel, bukan apa apa dibandingkan luka yang sudah Mama ciptakan sendiri hiks,"


Widia melepaskan pelukannya, ia memegang wajah Ariel " Kamu kenapa? apa bertengkar?apa ini sakit? ini pasti sakit ya?"


Ariel tersenyum " Ini bukan apa apa Ma, di banding luka yang Ariel ciptakan sendiri !"


Bug, Widia memukul lengan Ariel, membuat Ariel tersenyum. " Itukan kalimat mama tadi! " seru Widia. "Kapan kalian menikah?" tanyanya lagi.


Ariel melirik Alisa yang sibuk dengan Hp_nya.


"Sudahlah Mama istirahat ya ! "


Ariel membaringkan tubuh Mamanya.


" Ariel , maafkan Mama ya sayang ! "


"Sudahlah Mama istirahat ya ! " Ariel menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Mamanya .


.


.


.


.


Satu Minggu kemudian.


Sudah satu Minggu setelah pertengkarannya dengan Fery, dan selama itu juga Ariel tidak pernah bertemu atau menghubungi Anggun.


Ariel benar benar membuat jarak, dan tetap membiarkan anak buahnya menjalankan perintahnya, selama itu juga Alisa selalu datang ke rumahnya, untuk menjenguk Mama Ariel, yang memang sudah pulang ke rumah, tapi tetap berada dalam pantauan Dokter ahli.


Setelah mengetahui yang sebenarnya, Fery menjadi semakin perhatian dan meminta Anggun untuk menyiapkan sendiri pernikahan mereka, dengan alasan tangung jawab yang selalu di katakan Fery, membuat Anggun luluh dan menyetujui pernikahan yang di percepat.


Siang itu, Farida dan Anggun duduk di taman, menikmati brownis buatan Anggun. Jarang mereka menghabiskan waktu seperti ini, karena biasanya Anggun sibuk dengan butik, dan Farida yang sibuk mengelola restorannya.


Pandangan keduanya, sama sama tertuju pada mobil putih yang baru saja masuk ke halaman rumahnya. Terlihat seorang pria memakai pakaian serba hitam keluar dari pintu bagian supir, di susul dengan 3 pria lain yang baru keluar dari mobil. keempat pria ini terlihat menyeramkan, salah seorang dari mereka memegang amplop, dan berjalan mendekati Anggun dan Farida.


"Kenapa kalian berani masuk tanpa izin terlebih dulu ? " tanya Anggun kepada salah satu pria yang memegang amplop, senyata yang lain terlihat sibuk memperhatikan keadaan sekitar rumah.


"Kami sudah mendapatkan izin, dan kami sedang menjalankan tugas dari pemilik rumah," ucapnya angkuh.


"Pemilik rumah yang mana? saya pemilik rumah ini ! " seru Farida tidak terima, bagaimana bisa rumahnya di akui milik orang lain?


"Mulai hari ini, kalian semua kosongkan rumah ini, karena rumah ini sudah berpindah tangan, dan bukan itu saja, restoran, dan perusahaan yang berada di genggaman Fery, sudah berpindah tangan, "


" Kamu jangan sembarangan bicara ya! " dada Farida terasa sesak.


"Ambil ini, bos kami memberikan waktu 24 jam untuk kalian mengosongkan rumah ini," ucapnya , dan memberikan amplop coklat itu kepada Anggun.


Dengan cepat Anggun membuka dan membacanya, " Surat dari pengadilan? bagaimana bisa?" tanya Anggun tidak percaya.


"Kenapa? ada apa? apa yang terjadi?" Farida merebut surat yang di pegang Anggun .


"Disita? semua ini disita? tidak mungkin, ini tidak mungkin Anggun, " resah Farida" Apa tidak ada jalan keluarnya? jangan sampai perusahaan ini berpindah tangan, Papa yang sudah merintis usaha ini dari nol, lakukan sesuatu Anggun ! " memegang dada yang terasa nyeri.


Anggun menjadi semakin panik, ia takut Mama angkatnya ini kembali terkena serangan jantung, " Ma...tenang ya, Anggun gak akan biarkan mereka mengusir kita Ma,"


"Kami sarankan, hari ini juga temui bos kami, dan bicarakan masalah ini dengannya, siapa tau dia mau mengubah niatnya !" ucap salah seorang di antara mereka.


"Dimana aku bisa bertemu dengannya?" tanya Anggun.


"Nona bisa ikut kami ! "


"Tidak, mungkin saja kalian menyakiti aku, berikan saja alamat itu ! "


"Jangan takut Nona, lihat itu " menunjuk mobil lain yang " Supirnya wanita, ikutlah denganya! "


"Tapi ....


"Kami sudah tidak punya waktu, aku akan menghubungi bos kami, dan mengatakan kalau kalian setuju keluar dari rumah ini,"


"Tunggu ! baiklah aku ikut ," jawab Anggun yakin, membuat lawannya tersenyum puas.


"Bos wanita ini bersedia ikut dengan kami !"


"Bagus, kalian tidak mengecewakan aku, jangan ada yang berani menyentuhnya,tugas kalian hanya mengawalnya, pastikan dia sampai ketempat ini dengan selamat " jawab seseorang di sebrang sana.


Anggun meyakinkan Farida, kalau ia akan berusaha bicara baik baik dengan pemilik rumah mereka yang baru, dengan berat hati Farida melepaskan kepergian Anggun.


.


.


.


.


Kini mobil yang di tumpangi Anggun, sudah mulai memasuki kawasan yang ia sendiri tidak pernah tau ada tempat seperti ini, sepanjang perjalanan di suguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata, terdapat hamparan bunga mawar menghiasi sepanjang jalan, pepohonan rindang, benar benar luar biasa cantiknya.


Ingin rasanya Anggun turun dan duduk di bangku taman yang ada pinggir danau itu, membayangkan kedamaian, kesejukan yang menenangkan hati. Tapi Anggun tersadar, kenapa tidak ada mobil lain yang melintasi tempat ini?


Sampailah mobil itu di depan rumah megah dan mewah, dengan penjagaan ketat dari beberapa Bodyguard yang tersebar di halaman rumah.


"Kalian tidak menculik aku kan? "


Namun sayang, pertanyaan Anggun tidak di jawab, supirnya ini memang seorang wanita


tapi terlihat menyeramkan. Sepanjang perjalanan dia hanya diam saja.


"Silahkan turun Nona ! " serunya membukakan pintu untuk Anggun.


"Ternyata bisa bicara juga dia ! " batin Anggun.


.


.


.


Anggun sudah duduk sendirian di ruang tamu yang sangat mewah, sudah dua puluh menit dia duduk di sini.


Tap tap tap tap


Sampai Anggun mendengar suara langkah kaki yang mulai masuk dan mendekatinya.


Dia menatap penuh pertanyaan pada orang ini.


"Ariel ? "


Anggun sudah masuk kedalam perangkap Ariel.