Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Sepucuk surat


Ariel merasakan lemas di sekujur tubuhnya, ia berdiri dengan kedua tangan tertumpu pada ujung meja, Ariel menunduk dan memejamkan mata, terus berusaha membuang kemungkinan kalau Anggun pergi meninggalkannya.


Ini tidak benar, Anggun tidak mungkin pergi, para penjaga rumah tidak mungkin lalai menjalankan perintahnya, secercah harapan muncul di hati Ariel. Membuatnya kembali duduk di tempatnya.


"Tidak sayang....Aku mohon jagan pergi..." lirih Ariel. Semua pikirannya cuma terfokus untuk istri nya, Ariel benar-benar mengkhawatirkan Anggun di luar sana.


"Anggun...Aku mohon !" Ariel menggeram kesal, karena hp Anggun tidak bisa di hubungi.


Yusri kembali mendekat dan memberikan hp lain untuknya, tiba-tiba saja Ariel menjadi semakin gelisah, ketika melihat nama yang tertera di hpnya " Rumah." kenapa rumah menghubunginya? pikiran Ariel semakin menjadi tidak menentu.


"Ada apa ? " tanya Ariel saat ia sudah menjawab hp nya.


"Tuan...ka-kami kehilangan jejak non Anggun"


"Sial...apa yang kalian lakukan di sana huh !" bentak Ariel mengumpat kepada orang yang dia tugaskan untuk mengawal Anggun, kesal, marah dan kecewa, semua menjadi satu. Ariel terus mengumpat dan memaki, bisa-bisanya orang yang berbadan besar, kehilangan istrinya yang berbadan kecil. Benar-benar memalukan.


Ariel sudah tidak bisa berpikir jernih, ia menjambak rambutnya frustasi, ada di mana Anggun? kemana dia harus mencarinya? hukuman apa ini? kenapa bisa terjadi? Ariel kesal setengah mati.


Dengan gusar Ariel berlari keluar dari ruang meeting ini, tujuannya hanyalah mencari istrinya. Di dalam lift Ariel masih terus saja gelisah, sekali lagi hp Anggun masih belum bisa di hubungi.


"Kemana aku harus mencarinya ?" tanya Ariel hampir putus asa, seakan Anggun memutus semua kontaknya.


"kendalikan dirimu, mungkin saja Anggun berada di rumah mama mu." Yusri menjawab asal berusaha menghibur Ariel.


Ting....(Pintu lift terbuka)


Dengan tergesa-gesa Ariel keluar, tapi sayangnya langkahnya kembali harus terhenti, saat melihat banyak awak media yang berkumpul di berbagai titik Kantornya. Para pemburu berita itu sudah mendekati Ariel dan membombordir Ariel dengan pertanyaan, tapi dengan sigap Yusri dan seorang pengawal lainnya menjauhkan parapemburu berita itu sampai Ariel masuk ke dalam mobil.


Ariel mengemudikan sendiri mobilnya, dengan kecepatan yang tinggi, perasaannya di selimuti ketakutan yang luar biasa, takut kalau Anggun benar-benar pergi meninggalkannya. "Silaaaaan!!" Ariel memaki ketika terjebak di lampu merah. Ariel marah, sangat marah ingin rasanya ia menghajar orang untuk mengalihkan emosinya, Ariel mencengkram kuat kemudinya, saat lampu merah sudah berganti warna..


"Sayang aku mohon...aku mohon jangan pergi..." lirih Ariel.


Sampai juga mobil itu di depan rumahnya, Ariel memarkirkan mobilnya di sembarangan tempat, sementara beberapa orang sudah tampak mendekat dan membuka pintu mobilnya.


"Sialaaaaan...Aku membayar kalian untuk menjaga istri ku, tapi kenapa kalian tidak becus menjaga dia huh! ! kenapa kalian bisa kehilangan istri kecilku huh ! !" bentak Ariel.


"Maafkan kami Tuan...kami mengantarkan nona ke Apotik. Tapi sepertinya nona keluar dari pintu belakang." jawab salah satu dari mereka.


"Aku tidak mau mendengar alasan bodoh ! cepat cari istriku dan bawa kembali ke rumah ini ! !" perintah Ariel.


Ariel berlari masuk ke dalam rumah "Mbok...kalian semua cepat kesini !" mendengar teriakan Ariel membuat para pelayan terkejut dan takut, karena tau Tuan mereka sedang marah, mereka segera berlari mendekati Ariel.


"Sebenarnya apa yang kalian kerjakan di rumah ini huh ! kenapa istriku bisa keluar dari rumah ini? kemana dia...?" Ariel berkacak pinggang, seperti sudah kehilangan akal.


"Maafkan kami Tuan...kami sudah lalai. Tadi non Anggun sempat melihat berita di....


"Arrgggggghhhhhhhh ! ! " teriak Ariel mengeram ia menjambak rambutnya dan merutuki kebodohan sendiri ia lupa kalau istrinya itu seorang wanita pembangkang.


Dengan perasaan yang hancur, Ariel terus berlari menapaki satu per satu anak tangga menuju kamar.


Brakkkkkkk


Ariel membuka pintu kamar secara kasar, matanya terus mengekori setiap sudut ruangan. "Ya Tuhan sayang...dimana aku harus mencarimu!!" Ariel membuka lemari pakaian Anggun, hatinya sedikit meredam saat menyadari Anggun pergi tidak membawa pakaian darinya.


"Bagus sayang...kamu tidak mungkin pergi." Ariel duduk di pinggir tempat tidur, rasanya baru tadi ia memeluk dan mencium istrinya, tapi nyatanya sekarang istrinya pergi entah kemana. Pikiran Ariel menerawang jauh, pandangannya kosong, sampai matanya terkunci pada kotak di atas meja rias Anggun.


Dengan di temani air mata, Ariel mulai membaca dan meraba setiap bagian dari sepucuk surat yang di tinggalkan Anggun untuknya.


Untuk suamiku.....


Kamu suka kan...kalau aku panggil suami. Kamu mau semua orang tahu kalau aku ini istrimu.


"Bodoh...tentu aku suka." lirih Ariel.


Aku gak tau harus mulai dari mana Riel, aku mengambil keputusan ini, setelah memikirkan semuanya, kamu tidak akan mau mendengarkan permintaanku secara langsung, dan kamu juga tidak akan membiarkan aku pergi.


"Sayang..." lirih Ariel.


Aku tidak tau apa yang terjadi dengan diriku sendiri, kenapa aku tidak pernah benar- benar bisa membencimu, setelah apa yang kamu lakukan dulu, setelah kamu pergi bertahun-tahun tanpa kabar, aku masih bisa juga menerima dan bahkan menjadi istrimu.


"Sayang maafkan aku, aku mohon jangan di teruskan..." lirih Ariel.


Tapi sekarang...aku sadar satu hal, kalau kita memang benar-benar berjodoh, kita pasti tetap akan bertemu dan bersatu. Mungkin semua wanita menganggap aku bodoh karena aku memaafkanmu dengan mudah setelah kamu menghina aku dulu.


"Sayang...maafkan aku..." lirih Ariel.


*Tapi sebenarnya mereka tidak tahu, betapa beruntungnya aku mendapatkan cintamu, cinta yang tetap terjaga dan utuh selama bertahun-tahun, meskipun terpisah jarak dan waktu, aku tau dulu kamu menyalahkan aku, karena sifat cemburu dan posesifmu, aku tau itu...karena itulah aku perlahan aku mulai membuka hatiku lagi untukmu.


Ariel suamiku...Aku mencintaimu*.


"Aku juga mencintaimu sayang, sungguh.." lirih Ariel.


Maafkan aku...Aku tidak ada di sampingmu di saat kamu menghadapi masalah ini , aku tidak mau menambah beban untukmu.


"Tidak sayang kamu salah... justru kamu kekuatan ku..." lirih Ariel.


Aku memilih pergi...dan mengalah, mengalah untuk semua, tapi aku akan selalu mengingat dan menyebut namamu di setiap do'a ku.


"Kenapa kamu pergi sayang...kenapa!" teriak Arie.


"Terlepas itu benar atau tidak, kamu harus bertanggung jawab, dan cepat selesaikan masalah ini, aku tahu kamu bisa, aku tau kamu tidak akan lari dari masalah, jadi cepat selesaikan masalah ini.


Jaga dirimu baik-baik ya suamiku, Aku mencintaimu, jangan cari aku, karena kalau kita masih berjodoh, kita pasti akan bertemu dengan sendirinya. Oh iya....Ariel sebenarnya aku tidak suka dengan kebiasaanmu, kamu tau kan apa kebiasaanmu itu ? aku tidak menyukainya...


"Aku tau sayang...pulanglah. Aku tidak akan pernah mengulangi kebiasaanku itu lagi, aku janji..." lirih Ariel.


Ariel berbahagialah....Aku mencintaimu.


"Anggun...!" teriakan Ariel menggema di dalam kamar, ia meremas kuat surat Anggun, tiba-tiba Ariel tertarik pada satu benda di dalam kotak, dengan gemetaran Ariel mengambil dan memperhatikannya, seketika emosinya memuncak.


"Sialaaaannn Brengs*k...Alisa...Aku akan membunuhmu ! ! " teriak Ariel.


Bersambung.......


Maaf ya.....gak bisa Up tepat waktu, ini juga part membosankan😅


Ehhhhhh mau kemana?


jangan lupa jempol di goyang ya👍