
Tadi sebelum keluar rumah, Ariel memang sudah menghubunginya, dan sekarang selang beberapa menit, suaminya sedang di luar kantor menikmati makan siang dengan wanita lain, bahkan wanita itu terlihat cantik dan begitu akrab dengan suaminya, Anggun begitu penasaran, rasanya ingin sekali dia menarik suaminya, sudah lama Anggun tidak cemburu, tapi hari ini bara api sedang berkobar di dalam hatinya.
Anggun sudah melangkahkan kakinya, namun ia teringat Aarick yang mungkin sudah rewel menunggunya, Anggun resah akhirnya ia memutar badan dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Gak mungkin, dia pasti rekan kerja mas Ariel," Anggun resah dan berusaha meyakinkan dirinya di dalam mobil.
"Istrimu cantik ya, aku pernah melihatnya di media, kalau gak salah acara resepsi pernikahan kalian, kenapa sih kamu jarang menunjukan dia di depan umum?" tanya Marissa, jus jeruk yang tinggal setengah gelas itu disingkirkannya, melipat kedua tangan di atas meja dan siap mendengar jawaban Ariel, tapi sayang Ariel hanya diam saja.
Marisa tidak kehabisan akal, sebagai orang yang sudah mengenal Ariel dalam jangka waktu yang lama, ia sudah tau sifat Ariel, sambil mengaduk jus jeruk itu lagi, Marisa kembali lagi bertanya dan bertanya sampai Ariel mau menjawabnya. Kalau kesabaran Ariel sudah hilang, sudah pasti ia akan membuka mulut, pikirnya.
"Yusri apa kabarnya dia? Masih suka menyendiri? Apa dia sudah punya kekasih? Apa adikmu masih mengejar cintanya?" Marisa memprofokasi, tersenyum saat merasa Ariel terpancing dengan ucapannya.
Masa lalu tidak bisa dilupakan begitu saja, sekeras apa pun mencoba melupakannya dan karena hal ini juga, Ariel tidak suka jika Airin dekat dengan Yusri, meskipun Yusri sahabat baiknya, kakak mana di dunia ini yang mau memberikan adiknya kepada laki-laki yang saat itu berduaan di dalam kamar dengan kekasihnya?
"Aku sudah mengabulkan keinginanmu, duduk di sini melihatmu menghabiskan makanan ini," Ariel membuka dompet dan meletakkan lembaran uang di meja, "aku pergi, dan jangan ganggu lagi!"
Marissa merasa kesal, sikap Ariel berubah tidak seperti dulu, Ariel yang sekarang sangat acuh kepadanya, Marisa mengambil uang itu setelah Ariel hilang dari pandangannya, dipanggilnya pelayan dan Marisa membayar semua tagihannya.
Yusri sudah berada di dalam ruangannya, berbaring di atas sofa, tangan itu dijadikan sebagai bantal untuk menumpu kepalanya, menatap langit-langit dengan putus asa, la sejenak memejamkan mata, kenangan kelam itu kembali terlintas, sejak mengetahui kedatangan Marisa membuatnya cemas.
Sekarang Yusri sedang menjalin asmara secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi dibelakang Ariel. Hubungan mereka baru saja dimulai, tapi saat ini mengalami kendala dengan kehadiran Marisa.
Kejadian beberapa tahun yang lalu, kembali terlintas. Saat itu Ariel dan Yusri mati-matian mengikuti semua kemauan Marisa, apa pun itu asalkan Marisa tutup mulut, maklum jiwa kedua pemuda itu masih labil, sangat suka berpetualang mencari kekasih, namun tanpa disadari Yusri merasa semua wanita sama, rela melakukan apapun demi harta semata.
Waktu yang dihabiskan di rumah Ariel, membuatnya jatuh hati kepada Airin, namun Ariel mencium gelagatnya, dan melarangnya mendekati Airin, hingga Ariel mengirim Airin ke luar negri.
Malam itu tangisan Marisa pecah saat Yusri menolak perasaannya, setelah diputuskan Ariel, Marisa menginginkan Yusri menjadi kekasihnya, namun sayang Yusri menolaknya. Marisa memegang dan menarik tangan Yusri dan saat itu Yusri tidak sengaja mendorong marisa hingga terjatuh di tanah.
"Kau apakan adikku!!"
Gilang kakak kandung Marisa salah paham, ia menghajar Yusri disaat yang bersamaan Ariel juga datang menghajar Gilang, terjadilah pertengkaran itu, tanpa ada yang melerai duet antara Gilang dan Ariel, saat itu Yusri hanya bisa menenagkan Marisa yang histeris.
Sejak saat itu Gilang pergi dan membawa Marisa ke luar negri, pergi membawa cerita dendam dan permusuhan diantara mereka, tapi sekarang perempuan itu kembali lagi.
"Apa maumu, Marisa?" gumam Yusri, mambuka mata dan menoleh saat mendengar pintu ruangan itu terbuka, terkejut melihat Airin masuk dan kembali menutup pintu.
"Kajutan...!"
Airin terlihat ceria, mendekati Yusri dengan membawa makanan ringan untuk kekasih hatinya.
"Airin...!" Yusri kembali duduk, menepuk sofa di sampingnya agar Airin duduk di sisinya, "kenapa ke sini?" tanya Yusri setelah melepaskan pelukan kekasihnya. Airin meletakkan makanan itu di atas meja, lalu duduk di samping Yusri.
Yusri gemas, mengacak rambut Airin sampai beberapa suir rambut itu, berantakan. Mengapit kedua sisi pipi Airin dengan satu tangannya, menggoyangkan wajah imut itu kemudian mencium sekilas pipi Airin. Setelah resmi pacaran, Yusri leluasa menuangkan perasaannya, meskipun mereka jarang punya waktu berdua.
"Bukan gak boleh, aku khawatir nanti ketauan sama Ariel, emang kamu mau dikirim ke luar negri lagi hm...?"
Airin menggeleng, memeluk Yusri dengan erat, bertanya saat kepalanya masih bersandar di dada bidang Yusri.
"Aku heran, kenapa sih kak Ariel gak setuju sama hubungan kita, selain jadi sekretaris, kalian juga sahabat sejak dulu, hubungan kalian selalu baik, tapi kenapa kak Ariel gak mau juga kasih restui sama kita? Kenapa sih...?" Airin mendongak, kini netra keduanya saling bertemu.
Yusri terdiam untuk beberapa saat, dikecupnya kening Airin sembari membatin.
Bertahun-tahun lamanya kami menyimpan rahasia ini, dan selama ini semua berjalan sesuai rencana, tapi wanita itu datang lagi, apa kamu masih mau menerimaku, jika nanti kamu tahu rasahsia ini???
"Jawab...!" Airin menggoyangkan tubuh Yusri, yang masih belum bicara.
"Ekhmm! Mungkin aku gak cocok jadi adik ipar untuknya," kilah Yusri, sengaja melepaskan pelukan itu dan membuka bungkus makanan di atas meja, mengunyah makanan itu demi menghindari pertanyaan Airin lagi, ternyata tepat sasaran terbukti Airin mengikuti apa yang dilakukan Yusri, sampai keduanya tertawa bersama.
****
Menjelang petang, mobil Ariel sudah masuk di pekarangan rumah, membuka pintu dan keluar dengan membawa tas hitam miliknya, masuk ke dalam setelah penjaga rumah membuka pintu untuknya, dan Ariel berdiri di ambang pintu setelah pintu itu sudah di tutup. Ada yang tidak biasa di sini, biasa Anggun yang menyambutnya saat pulang kerja, tapi kali ini asisten di rumah itu yang mengambil tas miliknya.
"Ibu kemana?" tanya Ariel sembari membuka jas dan memberikan kepada asisten rumah tangga itu, berjalan dengan mata melirik setiap sudut ruangan, bahkan ia sampai mendongak melihat lantai dua, namun apa yang di carinya tidak ada di sana.
"Ibu baru saja naik ke lantai atas, Pak," tergesa mengikuti langkah kaki Ariel.
"Baru naik?" Ariel terkejut, berarti Anggun tahu kalau dia pulang, tapi kenapa naik ke atas? Bukannya menyambut suaminya seperti biasa.
"Makan malam sudah saya siapkan, Pak," ucapnya.
Tidak seperti biasa yang setiap malam anggun sendiri yangbmenyiapkan makan malam mereka, tanpa menjawab, Ariel menapaki anak tangga menuju kamarnya.
🌸🌸🌸
Di Novel Takdir Cinta Suci, sudah ada bagian Yusri dan Airin menikah, tapi di sana tidak dijelaskan gimana perjalanan cinta mereka, jadi di MANTAN TERCINTA ini akan mengulas cinta mereka, masih ada Claudya yang belum melahirkan, nah pusing si othor labil😅✌
Terus gimana sama rumah tangga Ariel dan Anggun?🤔☺
Terima kasih untuk mentemen semua ya🤗