Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Sahabat lama


Yang belum ... pincit bintang lima atau rate ya, terima kasih😊


Update satu hari satu bab ya☺



Sudah hampir satu jam Fery duduk sendiri di cafe yang ramai dikunjungi kalangan anak muda, sedari tadi ia terus saja tersenyum saat memutar vidio yang dikirimkan petugas hotel untuknya, durasinya tidak terlalu lama, namun cukup menghibur dan mengobati rasa rindunya, matanya terus saja menatap lurus melihat Suci yang cemberut sembari mengunyah makanan bahkan sesekali Suci mengangkat sendok dan bibirnya seperti bergumam kearah kamera "kenapa dia bisa selucu ini?" ibu jarinya mengusap benda pipih itu seakan menyentuh wajah wanitanya, Fery terkekeh bahkan deretan giginya yang putih terlihat jelas saat Suci menunjukan piring kosong seakan mengatakan lihatlah kuhabiskan makanan yang kau kirimkan.


"Bos !" asisten Fery datang dan membisikkan sesuatu membuat Fery mengalihkan perhatiannya dan meletakkan benda pipih itu ke atas meja.


"Ada di mana dia?" asistennya mengatakan kalau orang yang sedang ditunggunya saat ini baru saja memarkirkan kendaraannya, Fery tersenyum saat melihat sahabat lamanya baru masuk dan sudah merentangkan kedua tangannya dari jauh, seakan ingin memeluknya.


"Gila ! kau memang gila! semakin tampan dan semakin mapan," Yogi menepuk punggung Fery dan memeluknya dengan erat, jelas saja Fery juga melakukan hal yang sama, padahal baru enam bulan lamanya mereka berpisah dan tidak saling mengunjungi.


"Dasar peraih mimpi ! aku turut bahagia dengan pencapaianmu yang luar biasa, kau sudah menjadi seorang fotografer yang hebat!" Fery melepaskan pelukannya, "duduklah dan ceritakan kenapa kau bisa ada di kota ini?" Yogi meletakan camera andalannya di atas meja.


"Aku sengaja datang ke Kota ini hanya untuk melihat pameran foto, dan kau tau apa yang aku temukan di sana?" Yogi sangat antusias ia sedikit menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Fery , "aku bertemu dengan Bidadari," Yogi mengecilkan suaranya.


"Kau semakin tidak waras, Bidadari tidak tinggal di bumi, gimana ceritanya kau bisa bertemu dengannya haha kau masih suka menghayal," Fery menepuk lengan Yogi, merasa miris melihat nasip temannya, "kau berteman dengan banyak wanita, setiap hari kau mengambil foto mereka, apa salah satu dari mereka tidak bisa mencuri hatimu? sampai-sampai kau berkhayal bertemu dengan bidadari," Fery terlihat meremehkan sahabat lamanya.


Yogi melongos, ia menendang kaki Fery dari bawah meja, dan Fery juga melakukan hal yang sama, "Bidadariku tidak tinggal di Bumi, melainkan tinggal di dalam hatiku !" Yogi menepuk dadanya dengan percaya diri dan itu berhasil membuat Fery melongos melihatnya.


"Ck kau semakin menyebalkan," Fery melirik asistennya yang saat itu sedang menikmati makan malamnya, "kau pulanglah lebih dulu ke hotel, pastikan Suci baik-baik saja, jangan sampai dia berulah seperti tadi siang, aku tidak tau apa yang terjadi antara dia dan Milla, tapi yang pasti Suci sudah berlaku kasar terhadap Milla," tanpa banyak membantah, asisten Fery menyudahi makannya dan pergi ke luar kafe.


"Siapa Suci? Apa kau juga membawa dan menyembunyikan seorang wanita di kamar hotel ?" cetus Yogi dan ia mendapatkan pukulan di kepalanya, "Suci sekretarisku yang baru!" jawab Fery.


"Apa hanya sekretaris? atau dia juga Bidadari di hatimu?" Yogi masih terus menggoda Fery.


"Bidadari hanya ada di dalam khayalanmu," Fery mengambil ponsel miliknya dan mengirimkan pesan untuk Suci, "Kau bermalam di mana?" tanya Fery saat sudah memasukkan ponselnya ke kantung kemejanya.


"Di studio foto yang baru aku dirikan, rencananya dua hari lagi aku akan kembali ke kota, lalu bagaimana denganmu? sampai kapan kau di sini?" tanya Yogi.


"Boleh juga, aku gak nyangka kau bisa berdamai dengan Ariel. Aku masih ingat dulu kalian selalu bertengkar," Yogi terkekeh mengingat kejadian yang sudah lama berlalu, sedangkan Fery tersenyum tanpa membantah apapun, kemudian kedua sahabat lama ini terlibat percakapan yang membuat keduanya semakin lupa bahwa hari sudah semakin larut malam.


*****


Dengan memakai long dress berbahan sifon tanpa lengan, Suci keluar dari kamar dan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja, perasaannya masih saja kesal, apa lagi saat ini Milla juga baru keluar dari kamar, ternyata kamar mereka letaknya bersebelahan. Milla sudah berajalan mendekati Suci.


"Suci, bisa kita bicara sebentar?" Milla lebih dulu menyapanya dan ia tersenyum seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.


"Hmm ada apa?" Suci memasukan kunci kamarnya ke dalam dompet kecil miliknya, lalu memandang Milla dengan wajah yang terlihat bingung dengan sikap Milla yang tadi sudah merendahkan harga dirinya.


"Jangan khawatir, aku janji tidak akan berbuat atau menyakiti hatimu lagi, biar bagaimana pun juga kita ini fatner kerja, jadi aku rasa tidak baik kalau hubungan kita seperti ini," Milla berusaha meyakinkan Suci.


Suci masih diam dan berusaha mencerna ucapan Milla yang usianya lebih dewasa darinya, "Suci, aku janji tidak akan mengusik hubunganmu dengan Fery lagi, percayalah," Milla menggenggam tangan Suci.


"Tidak Bu ... Ibu salah! hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan saja," ucap Suci dengan lirih, hatinya masih sakit mengingat Fery yang pura-pura mencintainya.


"Jadi, kamu sudah tidak marah lagi denganku' kan?" Suci mengangguk, "baiklah, kalau gitu temani aku ke lantai 8 ya, kau belum bertemu dengan Nino kan? dia itu yang ikut merancang Villa ini, bahkan Nino sudah bertemu dengan Fery, ayo lah !" Milla menarik tangan Suci dan membawanya masuk ke dalam lift.


Tepat di lantai delapan, pihak hotel sengaja menyiapkan ruangan khusus menyerupai sebuah bar yang tempatnya tidak jauh dari tempat olahraga, bar ini dipersiapkan untuk mereka yang butuh hiburan, namun masih berada di dalam pengawasan, bahkan untuk persediaan minumannya juga dibatasi oleh pihak management hotel.


Suci mengekori setiap sudut ruangan, seumur hidupnya ini untuk pertama kali Suci menginjakkan kakinya di tempat ini, Milla melepaskan tangan Suci dan berjalan mendekati kumpulan beberapa teman laki-lakinya yang duduk sembari meresapi minumannya.


"Nino, coba kau lihat dia, namanya Suci ... suci sekretaris pribadi Fery, gadis yang aku ceritakan kemarin," Nino menyeringai dan tidak berkedip melihat Suci yang saat ini juga melihat kearahnya.


"Lakukan semaumu, kalau bisa buat dia tidak bisa lagi membanggakan diri bahkan buat dia menyesal karena nama Suci yang dimilikinya, aku mau lihat apakah dia masih berlagak sok Suci setelah kehilangan kesuciannya?" Milla tersenyum licik.


*****


Terima kasih sudah mendukung Mantan Tercinta☺